Read MENYELAM text version

MENYELAM

PENGERTIAN, JENIS DAN SEJARAH SINGKAT 1. Pengertian Menyelam adalah kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan air, dengan atau tanpa menggunakan peralatan, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. 2. Jenis Kegiatan menyelam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung antara lain kepada, kedalaman, tujuan dan jenis peralatan yang digunakan. Jika kedalaman yang dijadikan tolok ukur, penyelaman dapat dibedakan menjadi : a. Penyelaman dangkal Yaitu penyelaman dengan kedalaman maksimum 10 m b. Penyelaman sedang Yaitu penyelaman dengan kedalaman < 10 m s/d 30 m. c. Penyelaman dalam Penyelaman dengan kedalaman > 30 m. Jika didasarkan kepada tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan itu, penyelaman bisa dibedakan menjadi : a. Penyelaman untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara, antara lain : - Tactical (Combat) diving yaitu penyelaman untuk tugas-tugas tempur - Submarine Rescue, penyelamatan kapal selam - Search & Rescue (SAR) - Inspection & Repair (inspeksi dan perbaikan) - Ship Salvage Penyelaman-penyelaman jenis ini pada umumnya dilaksanakan oleh para penyelam Angkatan Bersenjata b. Penyelaman komersial Yaitu penyelaman professional antara lain untuk kepentingan konstruksi dibawah permukaan air, penambangan lepas pantai (Off shore drilling). Salvage, dll. c. Penyelaman Ilmiah (Scientific Diving) Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan ilmiah, antara lain : penelitian biologi, geologi, arkeologi dan kelautan pada umumnya. d. Penyelaman Olah Raga (Sport Diving) Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan mempertahankan atau meningkatkan kondisi kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga. Penyelaman olah raga (sport diving) ini dapat dibedakan berdasarkan peralatan yang digunakan yaitu : - Skin Diving : penyelaman yang dilakukan dengan menggunakan peralatan dasar selam (masker, snorkel dan fins).

1

-

Scuba Diving : penyelaman menggunakan peralatan Scuba.

Pada umumnya seseorang harus terlebih dahulu mahir dalam skin diving sebelum menjadi penyelam scuba (Scuba Diver). Meskipun pada uraian-uraian selanjutkan pembahasan lebih dititikberatkan pada hal penyelaman olah raga, namun juga berlaku bagi semua jenis penyelaman yang lain, karena hampir semuanya menggunakan media/peralatan yang sama yaitu : SCUBA. 3. Sejarah Singkat Kapan manusia pertama kali menyelam ? Wallahualam ! tak seorangpun dapat memastikannya. Tapi menyelam dapat dipastikan sebagai profesi yang sudah tua usianya dalam sejarah peradaban umat manusia. Dunia pewayangan kita misalnya, mengenal Raden Jayakatwang, salah seorang putra dari Aria Bima, spesialisasinya adalah menyelam di laut. Penyelaman mutiara sudah dilaksanakan oleh masyarakat Maluku berabad-abad yang lalu. Sayang, tak ada catatan-catatan tentang kepiawaian bangsa Indonesia dalam soal menyelam. Dari literature asing, sejarah penyelaman diuraikan secara ringkas dan kronologis sebagai berikut : 415 S.M. Para penyelam Yunani menghancurkan boom/Dermaga bekas di Sirakusa. Th. 1837. Augustus Siebe"s menciptakan pakaian selam dengan system saluran udara dari permukaan, yang kemudian dikenal sebagai ASK (Alat Selam Klasik). Th. 1959. J.Y. Cousteau melaksanakan eksplorasi bawah air dengan kapal Calypso. Penyelaman-penyelaman untuk tugas-tugas penelitian ilmiah terus berkembang untuk mencapai dan menguak misteri dasar-dasar bumi yang terdalam dan penuh misteri, untuk kemakmuran hidup semua makhluk ciptaan-Nya.

STANDAR JENJANG PENYELAMAN OLAH RAGA 1. Pengertian Pelaksanaan Pendidikan Selam Olah Raga dilakukan secara bertahap yang mewajibkan setiap calon penyelam mempelajarinya setingkat menurut jenjangjenjang yang telah dibakukan dan berlaku di Indonesia. 2. Tujuan Dengan mengadakan penjejangan, diharapkan setiap penyelam akan menyelam dalam batas-batas kewajaran dan keamanan sesuai dengan tingkat kemahiran yang telah dicapainya.

2

3. Jenjang Selam Olah Raga di Indonesia terdiri atas : 3.1. Untuk Olahragawan : Sertifikat Lama Skin Diver ­ A1 Scuba Diver 3 ­ A2 Scuba Diver 2 ­ A3 Scuba Diver 1 ­ A4 Master Scuba Diver 2 ­ A5 Master Scuba Diver 1 ­ A6 Sertifikat Baru Skin Diver Scuba Diver * - A1 Scuba Diver ** - A2 Scuba Diver ** - A2 Scuba Diver *** - A3 Master Scuba Diver ­ A4

x)

x) ada tambahan materi yang diberikan oleh instruktur

Bagi pemegang sertifikat lama masih tetap berlaku, tetapi bila akan naik jenjang maka yang keluar adalah sertifikat baru. Atau pemegang sertifikat lama dapat menukar sertifikatnya (cross) dengan sertifikat baru yang sama jenjangnya dengan sertifikat lama. 3.2. Untuk Instruktur : a. One Star Instruktur Klab 2 ­ B1 b. Instruktur Klab 1 ­ B2 c. Instruktur Regional ­ B3

4. Keterangan 4.1. Skin Diver Merupakan jenjang bagi seorang pemula yang mempunyai kemampuan atau kemahiran selam bebas, dasar-dasar P.A.P. dan penggunaan peralatan dasar selam. 4.2. One Star (A1) Jenjang bagi seorang penyelam yang telah mampu menyelam dilingkungan terbatas dengan kondisi perairan yang baik, jernih dan tidak terlalu dalam (maks. 30 feet) dan diawasi oleh mitra selam yang berpengalaman. Penyelaman wajib 3 x penyelaman dengan maksimum kedalaman 30 feet. Two Star (A2) Jenjang bagi penyelam Scuba Diver 3 yang sudah lebih berpengalaman, tenang dan secara naluriah mampu mengendalikan peralatan selamanya. Penyelaman wajib 15 x penyelaman, 5 penyelaman diantaranya kedalaman 60 feet. Penyelam yang telah lebih tinggi baik kemampuan pengalaman maupun ketrampilannya dan telah memiliki sertifikat selam Scuba Diver 2 (A3) selama minimal 1 tahun. Penyelaman wajib 25 x penyelaman, 10 diantaranya pada kedalaman 90 feet. Three Star (A3) Jenjang bagi penyelam yang telah dianggap layak bertindak sebagai pemandu bawah air, dive master dan safety diver.

4.3.

4.4.

3

Penyelaman wajib 30 x penyelaman, 10 x diantaranya pada kedalaman 130 feet. Disamping hal-hal tersebut diatas, mereka juga harus memiliki pengalaman : a. Aktif sebagai asisten instruktur. b. Minimal 2 kali menghasilkan karya tulis ilmiah aspek-aspek penyelaman. c. Pernah bertindak sebagai asisten dive master dalam suatu LPT (Latihan Perairan Terbuka). 4.5. Master Scuba (A4) Jenjang olah raga selam tertinggi yang memberikan hak pada pemegangnya untuk dapat mengikuti Pendidikan Instruktur Selam Olah Raga. Penyelaman wajib 30 x penyelaman, 10 x diantaranya pada kedalaman 130 feet atau lebih, dan sekurang-kurangnya menguasai 3 macam ketrampilan khusus dari 3 daftar di bawah ini : · · · · · · · · · · · · 4.6. Decompression Dive (tiruan) Wreck Dive Night Dive Deep Dive (lebih dari 130 feet) Recovery Dive Drift Dive Survey and Search Dive Zero Visibility Dive Working Dive Mereka juga harus memiliki pengalaman : Sebagai asisten instruktur Minimal 2 x menulis karya ilmiah aspek-aspek penyelaman Pernah bertindak sebagai Dive Master dalam LPT.

Instruktur Khusus untuk jenjang instruktur persyaratan kemampuan dapat dibaca di buku PPDSI dan buku standard Instruktur Selam Olah Raga.

5. PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SELAM OLAH RAGA Hampir sebagian besar orang sepakat bahwa menyelam merupakan aktivitas yang beresiko tinggi baik bagi kesehatan maupun keselamatan pribadi pelakunya. Karena itu, pendidikan dan pelatihan selam harus dikelola sebagai suatu kegiatan belajarmengajar yang bersistem dalam arti mempunyai program yang jelas, terukur dan terorganisir penyelenggaraannya, sehingga memungkinkan diadakan monitoring, supervisi dan evaluasi guna mencapai tingkat keberhasilan yang optimal. Dari pengertian tersebut di atas sistem pendidikan dan pelatihan selam harus diekspresikan dalam bentuk program-program yang baku dan terwujud dalam jenjang kurikulum yang berorientasi pada mutu sebagai salah satu komponen utama yang menjamin keselamatan si penyelam.

4

Adapun program pendidikan & pelatihan selam ini disusun dalam tahapan-tahapan sebagai berikut. 5.1. Pre-test Untuk menjajaki pengetahuan dan kemampuan awal siswa, sebelum masuk ke dalam proses pendidikan & pelatihan yang sebenarnya. Sedang tujuannya adalah sebagai pembanding untuk mengukur dan mengevaluasi kemampuan & pengetahuan siswa pada akhir diklat. Adapun materi yang diujikan dalam kegiatan ini antara lain adalah : 5.1.1. Kesehatan Fisik : a. mengisi riwayat kesehatan b. mengikuti uji kesehatan, yang seyogyanya dilakukan oleh tenaga medis hiperbarik. 5.1.2. Kemampuan renang : a. Berenang sejauh 200 m (minimal dengan 2 gaya); b. Berenang di bawah permukaan air sejauh 12 m. c. Berada di permukaan air selama 15 menit. d. Terapung dengan bantuan kaki saja selama 5 menit. e. Menyelam ke kedalaman 3 m dan mengambil benda seberat 2,5 kg serta membawa benda tersebut ke permukaan air. 5.1.3. Kemampuan Selam Dasar (Skin + Scuba Diving) : 5.1.3.1. Skin Diving : a. entry; b. snorkling sejauh 50 m; c. surface dive dengan kepala terlebih dahulu; d. snorkel clearing;ascent 5.1.3.2. Scuba Diving : a. merakit Scuba b. entry; c. mask clearing; d. buddy breathing; e. ascent/exit 5.1.4. Pengetahuan Akademis Penyelaman untuk jenjang Scuba Diver 3 (A2). 5.2. Pengetahuan Akademis Penyelaman (PAP) Menyelam mirip dengan terjun payung. Keduanya mengandung derajat bahaya yang tinggi, terutama bila dilakukan dengan ceroboh tanpa ditunjang oleh stamina, mental dan fisik yang memadai, serta pendidikan dan latihan yang tekun. Pengetahuan Akademis Penerangan merupakan bekal teoritis yang harus dimiliki oleh setiap penyelam agar ia belajar memahami baik piranti yang digunakan, batas kemampuan fisik manusia dalam arti cara kerja tubuh terhadap pengaruh-pengaruh yang timbul dari aktivitas selam, penerapan hukum-hukum fisika dalam penyelaman, daerah dan kondisi penyelaman, dan sebagainya, yang akan membantunya menjadi penyelam yang kompeten dan dapat melakukan penyelaman dengan aman dan penuh percaya diri.

5

5.3. Latihan Ketrampilan Kolam Latihan ini bertujuan untuk membekali siswa dengan ketrampilan-ketrampilan praktek selam setahap demi setahap, dari manuver yang paling sederhana sampai pada yang paling sulit dan rumit, dengan metode yang tertib, konsisten dan sederhana, di perairan tertutup, sedemikian rupa sehingga pada akhirnya ketrampilan tersebut dapat dikuasai oleh siswa sebagai perilaku yang bersifat naluriah. 5.4. Latihan Perairan Terbuka Latihan praktek di medan penyelaman yang sesungguhnya yang merupakan perwujudan dari perpaduan hasil penguasaan teori dan ketrampilan teknis penyelaman dari latihan sebelumnya, baik di kelas maupun di perairan terbuka. Semakin intensif berlatih di perairan terbuka, diharapkan akan menjadi semakin tangguh dan semakin sadar akan kemampuan dan keterbatasan diri terhadap lingkungan bawah permukaan air, serta semakin mampu menghayati kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas tersebut. 5.5. Post-test Pada akhir proses pendidikan dan pelatihan diselenggarakan evaluasi berupa test-test, baik untuk bidang PAP, LKK, maupun LPT, sehingga pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan tentang tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh siswa selama mengikuti proses belajar-mengajar dalam pendidikan dan pelatihan tersebut.

6. PENGETAHUAN AKADEMIS PENYELAMAN 6.1. Peralatan Dasar Selam Penyelaman olah raga pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu : Skin Diving dan Scuba Diving. Skin Diving adalah penyelaman olahraga yang hanya menggunakan peralatan dasar selam (Skin Diving Equipment), antara lain : Mask, Snorkel, Fins, Wet Suit, Weight belt dan Buoyancy Vest. 6.1.1. M a s k Pengertian mask/face mask adalah peralatan selam yang menutupi sebagian wajah terutama mata dan hidung yang berfungsi : a. menciptakan kantong udara antara mata penyelam dan air, sehingga memungkinkan si penyelam melihat benda di bawah air. b. mask mencegah air masuk ke hidung dan mata, sekaligus mencegah timbulnya iritasi, mask haruslah nyaman, pas dan kedap air. Ia harus sedemikian rupa mengikuti bentuk wajah si pemakai. Untuk menguji kedepannya, kenakan mask tersebut di wajah tanpa mengenakan tali kepala, tarik napas sedikit melalui hidung dan lepaskan tangan yang memegang mask tersebut. Jika tidak jatuh berarti mask itu cocok untuk anda. Jika jatuh carilah yang lain.

6

Ciri-ciri : Jika memilih masker, perhatikan ciri-ciri sebagai berikut : a. Safety tempered glass; b. Frame terbuat dari bahan anti karat; c. Memiliki double seal yang lentur untuk wajah; d. Dilengkapi dengan ikat kepala yang memiliki buckles/gesper pengencang Pemeliharaan dan penyimpanan : a. Jangan dibiarkan kena panas matahari terlalu lama; b. Cuci bersih dengan air tawar selesai dipakai; c. Jangan sampai tergencet saat menyimpan; d. Untuk penyimpanan jangka lama, berikan silicon spray/talk dan masukkan dalam kantong plastik. 6.1.2. Snorkel Snorkel merupakan alat survival penting yang digunakan oleh seorang Skin maupun Scuba Diver, sebab berfungsi : a. membantu penyelam bernafas di permukaan air tanpa mengangkat kepalanya. b. Membantu penyelam berenang menuju sasaran penyelaman tanpa harus menggunakan udara dari tabung scuba; c. Memungkinkan penyelam melihat pemandangan bawah air dengan cara berenang dan menelungkupkan muka di permukaan air. Cara memilih snorkel : Jika memilih snorkel, perhatikan cirri-ciri sebagai berikut : a. pas dan nyaman di mulut; b. panjang antara 12 s/d 14 inci; c. semi fleksible;tidak dilengkapi alat penutup apapun pada ujung atas, misalnya bola pingpong. 6.1.3. F i n s Fin yang diindonesiakan dengan istilah "sirip selam" atau "kaki katak" diciptakan untuk memberi kekuatan pada kaki dan merupakan piranti penggerak. Fins bukan dibuat demi menambah kecepatan berenang namun menambah daya kayuh. Dengan bantuan fins kemampuan renang kita bertambah 10 kali lebih besar disbanding tanpa menggunakan fins. Ada tiga macam jenis fins : · Jenis Foot Pocket Cocok untuk kegiatan skin diving atau fins swimming, biasanya lebih fleksible, dengan letak lempeng lebih menyudut, yang menyebabkan kaki tidak mudah lelah. Ukuran besar-kecil merupakan hal yang lebih menentukan; lebih repot untuk dikenakan maupun mencopotnya untuk kegiatan scuba diving.

7

·

Jenis Open Heel Cocok untuk kegiatan scuba diving, biasanya berlempeng lurus, semi kaku dengan lempengan lebih panjang. Jenis ini memberikan kekuatan lebih besar, namun membutuhkan waktu penyesuaian bagi otot-otot kaki. Open heel fins mempunyai kelebihan dalam hal kemudahan waktu mengenakan dan melepasnya. Adjustable Open Heel Jenis ini paling cocok/sesuai untuk scuba diving di perairan karena dibuat mempunyai kantong yang cukup besar untuk kaki kaki yang memakai boots (semacam kaos kaki terbuat dari karet), mempunyai lempengan yang lebih lebar untuk menghasilkan tenaga besar dan biasanya terdapat lobang-lobang alur air di bagian atas lempengan tersebut. Lobang alur air ini mengurangi kelelahan kaki yang disebabkan oleh daerah negatif pada lempengan. Boots Pelindung kaki merupakan keharusan, terutama digunakan untuk daerah-daerah berkarang dan batu-batuan juga perlindungan terhadap kejang kaki disebabkan kedinginan dan kemungkinan kaki lecet. Boots dari karet busa dengan sol keras adalah jenis perlengkapan pelindung kaki yang umum dipakai penyelam, kaos kaki yang umum dipakai penyelam, kaos kaki tebalpun dapat digunakan sebagai pencegah lecet sewaktu latihan. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pemilihan ukuran fins agar cocok dan pas jika menggunakan pelindung kaki.

·

6.1.4. Wet Suit Pakaian pelindung penyelam yang kini umum dipakai adalah FOAM NEOPRENE WET SUIT, terbuat dari karet neoprene yang mempunyai gelembung-gelembung busa berudara. Bahan ini tidak menyerap air dan dibuat dalam berbagai ukuran ketebalan bahan. Fungsi dari Wet Suit adalah untuk melindungi penyelam dari goresan karang dan pengurangan panas badan di bawah permukaan air. Namun Wet Suit sama sekali tidak membuat penyelam menjadi hangat, hanya mencegah penyelam dari kedinginan, dan bukan berarti penyelam tidak basah. Selain Wet Suit, ada juga pakaian selam yang bernama DRY SUIT terbuat dari bahan kanvas dan dilapisi dengan wool dan atau memakai T-shirt. 6.1.5. Weight Belt Weight belt atau sabuk beban diperlukan guna mengatur daya apung (buoyancy). Setiap penyelam mempunyai daya apung yang berbeda. Seorang penyelam di air laut tanpa menggunakan wet suit memerlukan berat antara 4 s/d 6 pounds untuk mengimbangi daya apung positifnya, sedang bila menggunakan wet suit memerlukan tambahan pemberat antara 10 s/d 12 pounds di atas daya apung normal, sehingga jumlah total yang diperlukan oleh seorang penyelam berkisar antara 14 s/d 16 pounds. Sebagai pedoman untuk mempermudah penentuan berapa 8

berat yang diperlukan adalah 1/10 dari berat badan normal untuk wet suit dengan ketebalan 3/16 inchi. Weight belt harus dilengkapi dengan QUICK RELEASE BUCKLE yaitu suatu gesper pengancing yang dapat dilepas secara cepat. Cara pemakaian weight belt dipasang paling terakhir dan paling pertama dilepas, jika dalam keadaan darurat. 6.1.6. Buoyancy Vest Buoyancy vest adalah perlengkapan penting bagi seorang penyelam. Fungsi dari peralatan tersebut adalah : · Untuk memberikan daya apung positif selama berenang di permukaan air, dengan demikian seorang penyelam dapat bergerak tanpa banyak mengeluarkan tenaga; · Untuk memberikan daya apung agar dapat beristirahat atau menyangga penyelam yang mengalami keadaan darurat; · Untuk memberi daya apung netral (neutral buoyancy) terkendali di dalam air. Ada beberapa jenis Buoyancy Vest yang digunakan : a. Standard Safety Vest b. Buoyancy Compensator (BC) Catatan : Disamping alat-alat tersebut diatas biasanya masih ditambah lagi dengan peralatan keamanan tambahan, yang diperlukan untuk menambah dan mempertinggi tingkat keamanan dan keselamatan seorang penyelam antara lain : o Pisau, berfungsi untuk membantu melepaskan seorang penyelam jika terjerat tali atau jaring, juga sebagai piranti pengungkit, palu dan lain-lain; o Sarung tangan, di setiap penyelaman pada lokasi manapun sebaiknya seorang penyelam menggunakan sarung tangan. Tangan penyelam akan menjadi lembut jikalau terendam dalam air dan apabila tergores sangat sulit untuk menghentikan pendarahan. o Tas Selam (Gear Bag), untuk menyimpan piranti selam agar tidak tercecer, serta melindungi peralatan dari panas matahari. 6.2. Peralatan Scuba SCUBA : Self Contained Underwater Breathing apparatus Penyelam harus yakin akan kemampuan dan keahliannya sendiri untuk memakai SCUBA. Jadi scuba adalah peralatan pernafasan di bawah permukaan air yang dapat dibawa sendiri oleh si penyelam. Pada saat ini ada 4 macam sistem dasar SCUBA yang dipakai : 6.2.1. Sistim Sirkuit Tertutup Suatu sistim yang menggunakan zat asam/oksigen murni dilengkapi penyerap kimia untuk menghalau zat asam arang/CO2 yang keluar dari paru-paru. Unit ini pada hakekatnya meniupkan kembali O2 tanpa membuang udara ke dalam air. Ini merupakan suatu sistem tertutup sama sekali. Unit ini digunakannya terbatas hingga kedalaman 33 feet.

9

Penggunaan SCUBA jenis ini dituntut keahlian tertentu karena sangat berbahaya. 6.2.2. Sistem Sirkuit Terbuka Terdiri dari Demand Regulator dan Tabung Udara yang dimampatkan (Compressed Air Tank) adalah jenis alat scuba yang pada saat ini merupakan alat yang paling aman dipergunakan. Udara yang dimampatkan disalurkan melalui regulator ke penyelam, dan udara yang telah dihisap dibuang langsung ke air tanpa dipergunakan lagi. 6.2.3. Sistem Sirkuit Semi Tertutup Dipakai untuk operasi militer dan merupakan kombinasi dari sistim-sistim sirkuit terbuka dan tertutup. Sistem ini mempunyai kantong udara, kotak kimiawi, regulator dan tabung udara yang dimampatkan. Sistem ini memungkinkan penyelam militer untuk bekerja pada kedalaman dan jangka waktu yang lama. Sistim ini memerlukan pemanasan yang khusus serta membutuhkan peralatan pendukung yang khusus pula, hingga unit ini jarang dipakai umum. 6.2.4. Sistem Sirkuit Tertutup Gas Campuran Sistem ini sangat rumit, memerlukan pemeliharaan khusus dan cukup mahal. Unit ini mempunyai kantong pernafasan, kotak kimiawi dan suatu alat elektronis penyaring oksigen yang dapat mengontrol jumlah O2 pada kedalaman lebih dari 1.000 feet, yang memberikan cukup udara untuk turun dan naik kembali ke permukaan untuk pekerjaan-pekerjaan ilmiah dalam penggunaannya memerlukan latihan yang sangat khusus. Tabung Selam / Aqualung Sebuah tabung selam atau botol udara yang bertekanan tinggi dibuat untuk menampung udara yang dimampatkan secara aman. Tabungtabung masa kini dibuat dari bahan Baja atau Campuran Aluminium, dan dapat diperoleh dalam beberapa ukuran. Sidik-sidik tabung buatan Amerika Semua tabung bertekanan tinggi buatan Amerika diharuskan mempunyai sejumlah tanda khusus, yang tertera di sekeliling bahu tabung untuk memperlihatkan pemenuhan persyaratan peraturan yang dikeluarkan oleh Department of Explosive and Department of Transportation (DOT) atau Canadian Transport Commission (CTC). Tabung-tabung lama kadang-kadang menggunakan tanda Interstate Commerce Commission (ICC). CONTOH : DOT 3 AA 2250 H 456709 9 + 72 + Keterangan : DOT : Department of Transportation 3 AA : Kelas dan macam bahan penahan tekanan tinggi (Chromenolybdenum stell-4130).

10

2250 : Tekanan kerja maksimum (PSI) H 456709 : Nomer seri tabung 9 + 72 + : Tanggal pengujian Tanda A Plus (+), yang mengikuti tanggal ini berarti bahwa tabung dapat diisi lebih 10% dari tekanan maksimum (Working Pressure). Suatu tekanan maksimum sebesar 2250 Psi, dapat diisi hingga 2475 Psi. Tabung udara tekanan tinggi buatan negara-negara Continental mempunyai sedikit perbedaan daripada buatan Amerika. Semua tabung tekanan tinggi harus diuji/di tes kembali setiap 5 tahun sekali, dan dibubuhi tanggal testing terakhir. Tes ini dilakukan pada stasiun pengujian Hidrostatis. Di Indonesia pengujian tabung dapat dilakukan di JATAS, Jl. Minangkabau No.25, Jakarta Selatan. Macam-macam jenis tabung : Tabung Baja 71,2 Cuft Tabung Aluminium 71,2 Cuft Tabung Aluminium 3000 Psi 72,0 Cuft Unit Tabung Ganda Tabung Baja 71,2 Cuft Standard tabung baja adalah 25 inch panjang, mempunyai berat kirakira 30 Lbs dalam keadaan kosong dan dirancang sedemikian rupa sehingga dapat melayang di air laut. Bila udara dimampatkan atau dipompakan ke dalam tabung sampai tekanan maksimum sebesar 2250 Psi itu berarti kira-kira 65 Cuft udara bebas yang ditampungnya. Dan apabila diisi hingga melampaui 10%, yaitu 2475 Psi, berarti tabung ini biasanya disebut Tabung Selam Standar 71 kubik feet (71 Cubic Feet Standard Diving Tank). Berat Udara Udara yang kita mampatkan ke dalam tabung mempunyai volume 71,2 Cuft. Udara beratnya kira-kira 5 ¾ Lbs, ini berarti selama penyelaman kita lebih ringan 5 ¾ Lbs. Tabung ini sendiri berbobot netral hingga kira-kira separuh penjelajahan ke kedalaman sewaktu penyelaman. Dengan Buoyancy Vest (rompi Apung), kita dapat menyesuaikan berat tambahan udara pada permulaan penyelaman sehingga menjadi tidak memiliki berat sepanjang seluruh penyelaman. Exterior Coating / lapisan Luar Tabung baja harus menggunakan pelapis luar, yaitu lapisan "GALVANIZED ZINC" yang berfungsi melindungi dari karat. Dengan cara ini air laut akan menyerang Zinc lebih dulu daripada baja dibawahnya. Mungkin inilah cara pelapisan yang paling praktis dan tahan lama yang dapat digunakan dalam air laut. Bila suatu lapisan akhir yang lebih cemerlang diinginkan, tersedia tabung-tabung yang berlapiskan Vinyl atau Epoxy. Lapisan ini penggunaannya harus di atas lapisan Galvanized untuk menghindari karat. Sedang untuk 11

perlindungan bagian dalam dari tabung baja, tersedia tabung dengan atau tanpa lapisan dalam epoxy, hal ini tergantung selera. Suatu tabung tanpa lapisan akan lebih mudah diperiksa bila berkarat. Sedang tabung berlapis memberi perlindungan lebih, tapi kelembaban dapat meresap dibalik lapisannya, yang menyebabkan pemeriksaan karat lebih sukar. Tindakan pencegahan demi keamanan Suatu tabung baja tidak boleh terdapat uap air didalamnya, kelembaban/uap air dapat dengan mudah dikeluarkan dengan penyerapan pembersih pad sistim Compressor. Sebuah tabung janganlah dikosongkan sama sekali pada waktu penyelaman, air dapat mengalir kembali kedalam tabung kosong melalui regulator, katup tabung yang dibiarkan terbuka juga memungkinkan air masuk. Berusahalah untuk selalu menyimpan udara bertekanan lebih kurang 100 Psi di dalam tabung anda. Selama ada tekanan tinggi didalamnya tak ada uap air, debu, kotoran atau pencemaran yang dapat menembus masuk. Air di dalam tabung dapat merusak bagian alam tabung tersebut, dan dalam waktu kurang dari 1 tahun menjadikan tabung anda sebuah "bom berjalan". Air asin 50 kali lebih merapuhkan/menyebabkan karat dari pada air tawar, hingga perawatan intensif dan khusus sangat diperlukan pada lingkungan tersebut. Periksalah tabung anda secara visual sekali satu tahun. Penanganan dan penyimpanan Letakkan tabung anda selalu pada posisi mendatar, sebab apabila tabung pada posisi berdiri akan lebih mudah terjatuh yang akan merusakkan katup tekanan tingginya. Jangan sampai tabung terbentur, karena ketebalan tabung hanya kira-kira 1/8 inchi saja, goresan yang dalam bisa membahayakan. Bila membawa tabung dengan tangan sebaiknya angkatlah pada katupnya, sebab bila mengangkut pada penyandang tabung/harness dapat meleset. Sebuah tabung apabila disimpan untuk waktu yang lama, sebaiknya didirikan pada posisi tegak dan diberi penahan, sehingga memungkinkan kelembaban dapat berkumpul pada dasar tabung yang lebih tebal. Apabila anda akan membawa tabung dengan mobil, letakkan dasar tabung menghadap kemuka untuk menghindari cedera pada saat berhenti mendadak dan berikan penahan agar tabung tidak terguling. Pemeliharaan Cucilah tabung bersih-bersih setiap kali selesai dipakai. Sebuah baskom plastik besar berisi air kira-kira 2/3 nya sangatlah ideal untuk mencuci semua alat-alat. Perendaman yang lama akan melepaskan garam yang mengering dan mengendap daripada hanya penyiraman saja.

12

Tabung Aluminium 71,2 Cuft Silinder aluminium 71,2 cuft, panjang 28 inchi dan mempunyai berat kira-kira 27 Lbs dalam keadaan kosong. Tabung ini 3 inchi lebih panjang dan 3 Lbs lebih ringan daripada tabung baja dengan ukuran yang sama. Tekanan maksimum tabung adalah 2475 Psi. Tanda A Plus (+) untuk pengisian lebih 10% tidak diperlukan. Silinder aluminium dijamin anti karat dan proses perapuhan tidak perlu dikhawatirkan lagi. Tabung ini tidak melayang didalam air laut, tetapi jelas mempunyai daya apung 5 pounds bila penuh dan 9 pounds bila kosong. Ini berarti penyelam sangat memerlukan timah beban yang dapat diikatkan pada back pack/penyandang atau harness dan atau langsung pada sabuk beban weight belt. Sampai saat ini tabung scuba aluminium dibuat di Amerika oleh Luxver USA Ltd. Tabung Aluminium 3000 Psi 72,0 Cuft Tabung ini panjangnya 26 inc, beratnya 30 Lbs dan berbobot netral dalam air laut. Kapasitas tabung adalah 72,0 Cuft pada tekanan maksimum 3000 Psi ada tekanan 2475 Psi tabung akan berisi lebih kurang 60 kubik feet udara bebas. Unit Tabung Ganda Unit tabung ganda ini disediakan untuk persediaan yang lebih lama. Ini dapat disatukan dengan katup ganda atau dua tabung tunggal yang digabungkan dengan pipa penyambung. Pipa penyambung memungkinkan anda untuk menggunakan tabung tunggal tersebut secara terpisah. Penyandang yang berbeda diperlukan untuk masing-masing tabung tunggal maupun tabung unit ganda. Tabung ganda 71 Cuft sangat berat diluar air, hal ini sangat memerlukan latihan serta daya tahan tubuh yang besar dalam pemakaiannya. Tipe unit ini sangat cocok untuk penyelaman air dalam, fotografi bawah air atau penyelaman penyelamatan yang memerlukan bottom time yang lama. Unit ini sering digunakan bila menyelam dari kapal daripada penyelaman dari pantai. Untuk penyelaman yang membutuhkan persediaan udara yang banyak, tabung ganda 53 merupakan suatu unit kompak yang baik dan tidak terlalu berat. Katup Tabung / Valve Ada 2 jenis katup standar yang dipakai pada tabung selam, yaitu : A. Type Non Reserve / "K" Valve Katup "K" tanpa cadangan adalah katup yang mudah ditutup dan dibuka. Tabung dengan katup ini mengharuskan penyelam menggunakan alat tambahan untuk memonitor seberapa banyak udara yang masih ada dalam tabung. Alat itu disebut "Submersible Pressure Gauge".

13

B. Type Constant Reserve / "J" Valve Katup ini hampir sama dengan katup "K" Valve, adapun perbedaannya adalah Type Constant Reserve/ (J) Valve ini dilengkapi dengan perlengkapan mekanisme cadangan pada tekanan 300 Psi. Jadi apabila tekanan tabung turun sampai kira-kira 300 Psi, pegas akan menutup katup dan menimbulkan kontraksi dalam pengadaan udara untuk pernapasan, dan dengan menarik ke bawah batang penghubung yang tersambung pada katup cadangan disisi kiri tabung, dapat melepaskan kembali katup yang tertutup, maka mengalirlah sisa udara terakhir pada tabung. Katup cadangan menyediakan udara cukup untuk penyelam segera naik ke permukaan. Batang penarik katup cadangan harus selalu pada posisi naik (up position) walaupun tabung dalam keadaan kosong, hal ini untuk mengendorkan pegas pada katup cadangan tersebut. Katup cadangan dapat dengan mudah ditarik ke bawah selama melakukan penyelaman dan hal ini tidak mempengaruhi supply aliran udara, hanya bila isi tabung dibawah 300 Psi akan ada penghentian aliran udara. Unit tabung ganda mempunyai cadangan sebesar 600 Psi. Ini hanya diisikan pada satu tabung saja yang mana akan disebarkan merata pada tabung lainnya bila tangkai cadangan ditarik, sehingga tersedia 300 Psi cadangan udara pada setiap tabung. Penanganan dan perawatan Bila membuka suatu katup, putarlah kearah buka sampai habis, kemudian putar kembali kearah tutup setengah putaran, hal ini untuk menghindari kemacetan atau kerusakan pada katup tabung. Bila akan menutup katup tabung, lakukanlah secara halus namun rapat dan tidak perlu keras-keras., sebab kebanyakan katup menggunakan nilon yang dapat rusak bila ditutup secara paksa dan kuat-kuat. Apabila ingin melakukan pengujian visual, maka tabung harus dikosongkan perlahan-lahan untuk menghindari pengembunan di sekeliling katup dan leher tabung bila kosong. "Jangan sekali-kali membubuhi lemak atau pelumas apapun pada katup anda. Bengkel perbaikan dan pemeliharaan hanya menggunakan minyak pelumas silikon anti meledak". O-Ring seal O-ring karet (gelang karet berbentuk O) yang kecil terletak pada permukaan katup membuat suatu kedap tekanan tinggi antara regulator dengan katup tabung. Bawalah selalu persediaan O-ring dalam tas perlengkapan selam anda, sebab apabila o-ring tersebut hilang maka regulator anda tidak dapat dipakai. Pipa partikel Semua katup tabung mempunyai pipa partikel yang menggantung ke dalam tabung, gunanya untuk mencegah pencemaran butiran-butiran besar tertiup masuk ke dalam regulator.

14

Pelat Keamanan/Savety disc Letak pelat ini belakang katup tabung, berfungsi mencegah kerusakan pada saat pengisian udara yang berlebihan atau apabila terjadi kebakaran. Contoh tekanan pengisian yang dapat merusakkan pelat pengaman : 1800 Psi ­ akan pecah pada tekanan 2800 Psi 2250 Psi ­ akan pecah pada tekanan 3400 Psi 3000 Psi ­ akan pecah pada tekanan 3900 Psi Pada keadaan tertentu pelat (lempengan tipis) dapat pecah pada tekanan yang rendah. Hal ini terjadi akibat pengisian yang terlalu cepat atau pengisian panas tanpa merendam tabung dalam air. Pelat-pelat pengaman ini dapat diganti pada fasilitas bengkel perbaikan alat selam. Pengisian tabung Semua tabung harus diisi secara perlahan-lahan, direndam dalam bak air apabila mengisinya dengan kompresor tekanan tinggi atau sistim tabung gudang udara, maka tabung yang diisi akan panas, Hal ini mengikuti hukum gas yang dikenal dengan "Hukum Charles" yang berbunyi : "jika volume tetap konstan (sama), maka tekanan akan berbanding sama/lurus dengan suhu". Dengan kata lain jika suhu naik maka tekanan akan naik pula. Pada tabung standard (71,2 Cuft) kenaikan tekanan ini berkisar kira-kira 4 Psi untuk setiap derajat Fahrenheit (1o F). Tabung yang diisi dengan tidak didinginkan maka suhunya akan menjadi 130o F dan tekanan mencapai 2250 Psi. Jika tabung tadi dimasukkan dalam air maka suhunya akan turun menjadi 50o F. berarti suatu penurunan suhu sebanyak 80 o F. Telah diketahui bahwa jika terjadi penurunan tekanan sebesar 4 Psi maka akan terjadi penurunan satu derajat F, tabung tersebut kehilangan sebesar 320 Psi (4 Psi x 80 = 320 Psi). Tabung yang semula diisi dengan tekanan 2250 Psi sesungguhnya kini hanya mempunyai tekanan sebesar 1930 Psi saja, berarti jauh berkurang dari tekanan normal. Hal serupa akan berbahaya jika suatu tabung diisi secara perlahan-lahan hingga mencapai tekanan 2475 Psi. Jika tabung demikian dibiarkan terjemur matahari, maka suhu dengan mudah dapat naik antara 170 o sampai 180o F. Tabung yang semula mempunyai tekanan 2475 Psi pada suhu 50o F kemudian naik menjadi 130o F, akan mendapat tambahan tekanan 520 Psi, maka tekanannya akan menjadi 3000 Psi (2995 Psi). Tekanan tersebut sudah cukup untuk memecahkan pelat pengaman oleh karena itu "Letakkan tabung yang diisi tekanan maksimum di tempat yang rindang atau tempat yang tidak langsung terkena matahari". Back Pack / Penyandang Tabung Untuk menahan tabung anda pada tempatnya, maka diperlukan "Penyandang Tabung" atau Backpack. Peralatan masa dulu dilengkapi dengan penyandang yang biasanya dihubungkan pada tabung dan sabuk dari logam. Macam 15

penyandang ini masih memungkinkan tabung bergerak atau terguling di punggung penyelam. Untuk menahan tabung agar tidak bergerak, suatu pengikat yang melalui selangkangan kaki dianggap perlu. Backpack yang dirancang akhir-akhir ini memungkinkan letak tabung pada ketinggian yang cocok bagi setiap penyelam. Dengan adanya lengkungan keping pada type ini mencegah tabung bergeser serta pengikat selangkangan tidak diperlukan lagi. Semua Unit Backpack dan sabuk penyandang harus mempunyai gesper luncur cepat pada ikat bahu kiri ikat pinggang. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan penyelam melepas maupun memasang kembali tabung di dalam air. Regulator Ada beberapa macam Regulator, yaitu : a. Two Hose / Pipa Ganda Regulator Demand yang biasa dikenal di Amerika sejak tahun 1949 terdiri dari satu bagian yang dipasang di atas katup tabung dengan sebuah pipa penyalur udara napas, mouthpiece dan sebuah pipa buang udara. Pada saat ini biasanya disebut Two Hose Regulator. Mouthpiece atau Genggam Mulut adalah suatu bagian yang dimasukkan ke dalam mulut. b. Two Stage / 2 Tingkatan Tekanan tabung dibagi dalam 2 tingkatan. Dari tekanan tinggi pada tingkat pertama (first stage) ke tekanan lebih rendah kira-kira 140 Psi pada tingkat kedua (second stage). Hal ini diatur di dalam ruang kecil pada regulator. Bila penyelam menarik napas ia akan menciptakan keadaan Vacum (hampa udara) dalam pipa pernapasan dan juga pada ruang regulator. Sekat karet (membran) yang terkena langsung dengan air menekan pengungkit tingkat kedua dan menyebabkan udara bertekanan rendah mengalir ke penyelam. Apabila penyelam berhenti bernapas, aliran udara secara cepat menjadi seimbang dalam pipa dan ruang regulator, lalu sekat akan kembali ke letak biasa dimana pengungkit tingkat kedua menutup jalannya aliran udara. Oleh karena tekanan air yang mengatur aliran udara, maka dengan sendirinya tekanan disesuaikan dimana penyelam berada. Suatu Demand Regulator sebenarnya merupakan suatu mekanisme sederhana, dimana udara mengalir hanya bila penyelam menarik napas dan langsung menyesuaikan secara otomatis dengan tekanan air pada kedalaman tersebut melalui cara equalization yang sederhana.

16

Single Stage / Tingkat Pertama Salah satu jenis regulator dengan pipa ganda yang menggunakan sistem pengungkit sederhana, yang merubah tekanan langsung pada First Stage. Unit regulator ini sudah tidak diproduksi lagi di Amerika. Single Hose / Selang Tunggal Regulator yang paling umum digunakan pada saat ini adalah Regulator Single Hose, yang terdiri dari : 1. First Stage / Tingkat Pertama dengan tekanan tinggi yang dikembangkan ke katup tabung. 2. Pipa bertekanan antara. 3. Second Stage / Tingkat Kedua yang terdiri dari Sekat Karet Pengungkit Tingkat Kedua, Katup Buang Udara dan Genggam Mulut / Mouthpiece. Regulator Single Hose / selang tunggal bekerja dengan dua (2) tahap sama halnya Regulator Two Hose / Selang Ganda. Perbedaan utamanya adalah bahwa kedua tingkatannya terpisah. Dimana Second Stage terletak dekat mulut penyelam untuk memudahkan bernapas, oleh karena itu sekat karet berada pada permukaan yang sama dengan paru-paru dalam posisi berenang biasa. Gelembung udara yang dihembuskan / dibuang keluar melalui saluran pembuang yang terbuat dari karet, yang letaknya di bawah tingkat kedua. Regulator Two Hose untuk perbandingan, membuang udara buangan kembali melalui bagian badan regulator yang terletak di belakang dan agak di atas penyelam melalui pipa pembuang yang terpisah. Regulator ini menimbulkan suara terlalu banyak serta tidak menghalangi pandangan penyelam, tetapi pengambilan napas agak lebih sukar, disebabkan letak regulator yang berada di belakang. Tombol Kuras Regulator Single Hose adalah unit yang terpadu, mudah dipakai, mudah dikuras dan sebagai tambahan mempunyai tombol kuras yang terletak di bagian depan tingkatan kedua, yang menempel ke sekat karet demi melancarkan pengurasan. Katup Pembuang Udara dan air keduanya dapat dibuang keluar melalui katup pembuang yang terbuat dari karet, yang terletak di bagian dalam regulator.

17

Tolok Ukur Tekanan Tinggi (High Pressure Port Submersible Pressure Gauge) Terletak pada tingkat pertama adalah "High Pressure Port", ini biasanya ditandai dengan huruf HP. Di sinilah "Submersible Pressure Gauge" anda dipasang untuk dapat melihat langsung tekanan tabung anda pada waktu menyelam. Alat ini merupakan salah satu bagian yang penting digunakan bersama regulator hingga penyelam dapat mengetahui secara langsung berapa banyak udara yang tersisa di dalam tabung pada setiap saat. Alat ini merupakan alat ukur anda selama penyelaman. Anda dapat merencanakan seluruh penyelaman dengan mengetahui kapan harus kembali ke kapal atau ke pantai untuk mengadakan penyelaman berikutnya, atau untuk memperhitungkan naik yang aman pada waktu penyelaman yang lebih dalam. Submersible Pressure Gauge dapat digunakan dengan atau tanpa katup cadangan pada tabung Scuba, katup cadangan hanya berfungsi sebagai unit penunjang bila anda lupa melihat Gauge pada saat yang beraturan. Adaptor Kebanyakan First Stage juga mempunyai "Low Pressure Port" yang dapat dipergunakan untuk piranti (tool) yang memakai udara bagi penyelam pekerja, atau pemasangan "Second Stage Regulator" dan pipa untuk patungan atau sebagai unit pendukung untuk penyelaman. Octopus Rig / Pipa untuk Patungan dan Bouyancy Compensator Vest dapat disambungkan dengan Low Pressure Hose dan Adaptor untuk pengisian udara langsung dari regulator. Alat-alat tersebut merupakan sebagian dari alat yang digunakan untuk Advanced Diving. Memasang Regulator pada tabung Bila anda sudah siap untuk memasang regulator ke katup tabung, bukalah tutup pelan-pelan untuk menghembuskan kotoran debu pada O-ring yang melindungi inlet tekanan tinggi dan tempatkanlah Yoke pada tingkatan pertama melingkupi katup tabung berkedudukan pada O-ring. Tempatkanlah selalu pipa regulator ke arah kanan melewati bahu kanan penyelam. Keraskanlah pemutar sekuat tangan saja, kemudian bukalah perlahan-lahan katup tekanan tingginya dengan penuh, lalu putar kembali setengah putaran. Ingatlah selalu untuk menguji dengan menarik dan menghembuskan napas, kadang-kadang katup pembuang tersangkut bila kering, dengan menyiram bagian mulut dengan air dan meniup keras-keras maka akan membuka kembali. "Periksalah selalu tekanan udara di tabung" Bila Submersible Pressure Gauge pada regulator tidak dipergunakan atau tidak memiliki peralatan tersebut untuk 18

memeriksa tekanan tabung, maka sebuah tank Pressure Gauge dapat dipergunakan. Melepas regulator Setelah selesai penyelaman, biarkanlah air terlebih dulu menetes hingga kering dari katup sebelum dibuka. Tutuplah katup sekuat kewajaran tangan. Semua regulator masih mempunyai tekanan udara pada tingkat pertama dan tingkat kedua, udara ini harus dikeluarkan sebelum melepaskan regulator dari katup. Hal ini dapat mudah dilakukan dengan menekan tombol kuras pada single house regulator"s atau dengan meniup keluar udara sisa pada Two House Regulator. Bila regulator dilepas tanpa mengeluarkan udara sisa, maka dapat mengakibatkan terjadinya sentakan pada O-ring yang kadang-kadang mengakibatkan Oring tersebut pecah. 6.3. Fisika penyelaman (Physics of Diving) Pengetahuan terapan hukum-hukum fisika yang berhubungan dengan penyelaman adalah persyaratan terpenting bagi tehnik penyelaman yang aman. Banyak masalah kesehatan penyelaman yang secara langsung diakibatkan oleh pengaruh-pengaruh fisiologis dari hukum-hukum tersebut terhadap manusia. Suatu ikhtisar dari hukum-hukum fisika yang penting berkenaan dengan kegunaan pengobatan secara klinis, perlu diketahui. 6.3.1. Satuan tekanan Tekanan udara di permukaan laut pada suhu OoC pada dasarnya adalah tekanan yang disebabkan oleh berat atmosfir di atasnya. Tekanan ini konstan yaitu sekitar 760 mm Hg (14.7 Psi) dan dijadikan dasar ukuran satu atmosfir. Persamaan tekanan 1 Atmosfir = 10.07 (10) *meter air laut = 33.05 (33) * kaki air Laut = 33.93 (34) * kaki air tawar = 1.033 kg/cm2 = 14.696 (14.7) * Lbs/ins2 = 1.013 bars = 101 kilopascals = 760 mm air raksa ( mm Hg) = 760 torr Tekanan akan menurun pada ketinggian karena atmosfir diatasnya berkurang, sehingga berat udarapun berkurang. Demikian sebaliknya tekanan akan meningkat bila seorang menyelam dibawah permukaan air. Hal ini disebabkan karena berat dari atmosfir dan berat dari air diatas penyelam. Ukuran-ukuran tekanan dari berbagai kedalaman mengungkapkan bahwa tekanan 760 mm Hg (yaitu sama dengan standard atmosferik pressure) akan terasa pengaruhnya kira-kira pada

19

kedalaman 10 m dari air laut (33 kaki). Berdasarkan Hukum Pascal yang menyatakan bahwa tekanan yang terdapat di permukaan cairan akan menyebar ke seluruh arah secara merata dan tidak berkurang pada setiap tempat dibawah permukaan laut, tekanan akan meningkat sebesar 760 mm Hg (1 atmosfir) untuk setiap kedalaman 10 m. Tekanan yang terdapat pada suatu titik menunjukkan tekanan 1 atmosfir (tekanan di permukaan + tekanan yang disebabkan oleh kedalaman air laut). Satuan-satuan dari jumlah tekanan adalah Atmosfir Absolut (ATA) yaitu : Kedalaman (depth) Di permukaan 10 meter 20 meter 30 meter Tekanan Absolut 1 ATA 2 ATA 3 ATA 4 ATA (Gauge Pressure) 0 ATG 1 ATG 2 ATG 3 ATG

Ukuran tekanan (Gauge Pressure) menunjukkan tekanan yang terlihat pada alat pengukur dimana terbaca 0 pada tingkat permukaan. Karenanya tekanan ini selalu 1 atmosfer lebih rendah dari pada tekanan absolut. 6.3.2. Hukum-hukum Gas Udara yang kita hirup mengandung komponen-komponen sebagai berikut : - 78 % Nitrogen (N2) - 21 % Oksigen (O2) - 0,93 % Argon (Ar) - 0,04 % Carbon Dioxide (CO2) - Gas-gas mulia (Ne, He, dsb.) Gas yang umumnya digunakan untuk tujuan penyelaman adalah : - Udara (bebas kotoran) - Campuran oksigen - Campuran O2 dan Helium (He), kadang-kadang + N2 Hukum-hukum gas yang berlaku terhadap gas-gas di dalam ronggarongga tubuh seperti paru-paru, saluran yang menghubungkan hidung dengan sinus dll., serta gas-gas di dalam larutan antara lain adalah : a. Hukum Boyle (Hukum Perubahan Tekanan dan Volume) Hukum ini menegaskan hubungan antara tekanan dan volume dari suatu kumpulan gas akan berbanding terbalik dengan tekanan absolut, yaitu : V = 1/P Jadi : PV = K atau P1V1 = P2V2 P = Tekanan V = Volume K = Konstan Ini berarti bahwa bilamana tekanan meningkat, volume dari suatu kumpulan gas akan berkurang atau sebaliknya. Selama tekanan sebanding dengan kedalaman, maka volume akan menjadi setengah volume dari semula. 20

Hubungan ini berlaku terhadap semua gas-gas di dalam ruanganruangan tubuh sewaktu penyelam masuk ke dalam air maupun sewaktu naik ke permukaan.

Hukum Boyle pada penyelaman tahan napas Seorang penyelam yang menghirup napas penuh di permukaan akan merasakan paru-parunya semakin lama semakin tertekan oleh air di sekelilingnya sewaktu ia turun. Contoh : Bila seorang penyelam Scuba menghirup napas penuh (6 liter) pada kedalaman 10 meter ( 2 ATA), menahan nafasnya dan naik ke permukaan (1 ATA), udara di dalam dadanya akan berlipat ganda volumenya menjadi 12 liter, maka ia harus menghembuskan 6 liter udara selagi naik untuk menghindari agar paru-parunya tidak meledak. P1V1 P1 V1 P2 V2 = P2V2 = 2 ATA = 6 liter = 1 ATA =? P1V1 2x6 V2 = ----------- = ---------P2 1 V2 = 12 liter

Semua gas yang berada di dalam rongga tubuh akan terpengaruh oleh hubungan tekanan volume ini. Dalam hal mengenai telinga bagian tengah, tekanan air yang berperan di dalam tubuh akan dihantar oleh cairan-cairan tubuh ke rongga udara di dalam telinga bagian tengah. Selama tekanan meningkat volume akan berkurang, karena telinga bagian tengah ada di dalam rongga tulang yang kaku, rongga yang sebelumnya terisi oleh udara akan diisi jaringan yang membengkak dan menonjol ke dalam gendang telinga. Rangkaian kejadian yang menjurus ke perusakan jaringan dapat dicegah dengan menyeimbangkan tekanan (Equalizing). Udara

21

ditiupkan ke dalam saluran Eustachius dari tenggorokan untuk menjaga agar volume gas yang ada di telinga bagian tengah tetap konstan, sehingga tekanannya menyamai tekanan air. Proses serupa dapat terjadi di dalam rongga-rongga sinus, akan tetapi disini dapat diseimbangkan sendiri (self equalizing) dalam keadaan normal, karena rongga sinus punya hubungan terbuka dengan rongga hidung. Perubahan terbesar volume gas yang mengikuti perubahan air terjadi dekat permukaan. Sebagai contoh : 1 liter gas di permukaan akan menyusut sampai ½ liter pada kedalaman 10 meter ( 1 ATA sampai 2 ATA), sedang perubahan volume antara 30 meter dan 40 meter (4 ATA sampai 5 ATA) hanya akan kembali sebesar 5 % yaitu dari ¼ sampai 1/5 liter. Ini menjelaskan mengapa tidak mungkin menghindari resiko-resiko pada penyelaman dangkal. Gambar :

b. Hukum Dalton (Tekanan Partial dari Campuran Gas). Hukum ini berhubungan udara (suatu campuran Nitrogen dan Oksigen) dan dengan pernafasan gas campuran. Dinyatakan bahwa jumlah tekanan dari suatu campuran gas-gas adalah jumlah dari tekanan secara tersendiri menempati seluruh ruang (volume), selama tekanan secara menyeluruh meningkat, tekanan partial dari tiap-tiap gas akan meningkat. Karena udara adalah suatu campuran yang terdiri dari kurang lebih 80% bagian N2 dan 20% bagian O2, maka udara di permukaan terdiri dari : N2 = 80% dari 1 ATA (760 mm Hg). = 0,8 ATA (608 mm Hg). O2 = 20 % dari 1 ATA (760 mm Hg) = 0,2 ATA (152 mm Hg) 22

Tekanan partial dari suatu gas di dalam campuran diperoleh dengan mengkalikan persentasi gas dengan tekanan total. Dengan kedalaman tertentu, peningkatan tekanan partial yang terjadi adalah sebagai berikut : Permukaan = 1 ATA = 0,8 ATA N2 + 0,2 ATA 02 (PP O2 = 20% x 1 ATA) 10 meter = 2 ATA = 1,6 ATA N2 + 0,4 ATA O2 (PP O2 = 20% x 2 ATA) 30 meter = 4 ATA = 3,2 ATA N2 + 0,8 ATA O2 (PP O2 = 20% x 4 ATA) 40 meter = 5 ATA = 4,0 ATA N2 + 1,0 ATA O2 (PP O2 = 20% x 5 ATA) Dari tabel tersebut diatas dapat dilihat bahwa pada kedalaman 40 meter (tekanan 5 ATA), penyelam yang bernafas dengan udara biasa akan menghirup oksigen dengan tekanan partial yang sama (0,1 ATA) seperti saat ia sedang menghirup 100% O2 di permukaan air. Hukum ini penting untuk mengetahui efek Toksik Gas Pernafasan pada kedalaman, Penyakit Dekompresi dan Penggunaan Oksigen maupun Campuran Gas untuk tujuan pengobatan. Sebagai contoh : Seorang penyelam yang menghirup suatu campuran 60% / 40% Oksigen dan Nitrogen, resiko menderita keracunan Nitrogen terjadi pada kedalaman sekitar 30 meter (4 ATA). c. Henry (Larutan Gas dan Cairan) Hal ini berhubungan dengan penyerapan gas di dalam cairan. Dinyatakan bahwa pada suhu tertentu jumlah gas yang terlarut di dalam suatu cairan berbanding lurus dengan tekanan partial dari gas tersebut di atas cairan.

23

Di permukaan laut (1 ATA) dalam tubuh manusia terdapat kira-kira 1 liter larutan Nitrogen. Apabila seorang penyelam turun sampai kedalaman 10 meter (2 ATA) tekanan partial dari Nitrogen yang dihirupnya menjadi 2 kali lipat dan akhirnya yang telarut dalam jaringan juga menjadi 2 kali lipat (2 liter). Waktu sampai terjadinya keseimbangan tergantung pada daya larut gas di dalam jaringan dan pada kecepatan suplai gas ke jaringan oleh darah. Pengaruh fisiologis dari hukum ini terhadap seorang penyelam berlaku untuk Penyakit dekompresi, keracunan gas dan pembiusan gas Lembam (Inert Gas Narcosis). Bilamana tekanan yang terdapat dalam larutan terlarut cepat berkurang, gas akan keluar dari larutan dalam bentuk gelembung-gelembung gas. Pada penyelam, pelepasan gelembunggelembung ini dapat menyumbat pembuluh darah atau merusakkan jaringan-jaringan, hal ini menyebabkan berbagai pengaruh dari penyakit dekompresi atau "Bends". Kita dapat melihat pengaruh yang sama pada karbon dioxide di dalam larutan. Bila kita membuka botol bir dengan tiba-tiba, maka akan terlihat gelembung-gelembung gas yang naik ke permukaan botol. d. Hukum Charles (Perubahan Suhu dan Volume) Hukum ini menyangkut hubungan antara suhu, volume dan tekanan. Dinyatakan bahwa bila tekanan tetap konstan, volume dari sejumlah gas tertentu adalah berbanding lurus dengan suhu absolut. Hukum ini ada hubungannya dengan kompresi dan dekompresi dari gas-gas dan pengaruhnya terhadap silinder, regulator, chamber dan lain-lain, serta menerangkan bahwa perubahan tekanan dapat dilihat bilamana silinder yang berisi udara tekan terjemur di matahari. Bila volume tetap konstan dan suhu meningkat, tekanan akan meningkat. Hukum Charles dapat dilihat bila seorang yang secara tidak sengaja melubangi tabung semprot (Spray Can) dan melihat gas yang menguap di udara. 6.3.3. Daya Apung / Buoyancy Hukum Archimedes menyatakan bahwa setiap benda yang dibenamkan seluruhnya atau sebagian ke dalam cairan mendapat tenaga dorong sebesar bobot cairan yang digantikan. Semakin padat cairan itu semakin besar daya apungnya. Dengan demikian penyelam dan kapal-kapal mengapung lebih tinggi di air laut daripada di air tawar. Dengan paru-paru mengembang sepenuhnya, orang biasanya akan mengapung di atas permukaan air laut, hal ini karena orang mempunyai daya apung positif. Apakah penyelam dapat mengapung secara positif atau negatif merupakan ciri dari setiap penyelam. Manfaat mengetahui apakah anda termasuk memiliki daya apung positif atau negatif adalah untuk : Upaya yang diperlukan untuk penyelaman, daya apung positif memberikan kesulitan pada saat turun, tetapi membantu saat naik; Kemungkinan hilangnya orientasi di bawah air. Bilamana perasaan posisi penyelam sudah terganggu, seperti halnya pada daya apung 24

netral (Netral Buoyancy) yaitu tidak tenggelam atau mengambang, pengurangan lebih lanjut pada setiap rangsangan pancaindra (Sensory Stimulation) seperti berkurangnya penglihatan di dalam air yang suram, dapat mengakibatkan disorientasi yang parah dengan kemungkinan akibat-akibat yang berbahaya. Tingkat daya apung setiap penyelam dipengaruhi oleh beberapa faktor, berat alat-alat yang dipakai dapat menyebabkan penyelam tenggelam. Silinder berisi udara tekan akan menjadi lebih terapung bila udara dipakai hingga menjadikannya ringan. Pakaian selam (wet suit) yang terdiri dari sel-sel karet busa berisi udara, bila kedalamannya bertambah, volume udara di dalam sel-sel tersebut berkurang dengan demikian mengurangi daya apung. Rompi-rompi yang dapat mengembang (Buoyancy Compensator's) dapat diisi udara untuk mendapat daya apung positif. Bila penyelam menghirup nafas volume di dada akan meningkat, yang cenderung membuatnya mengapung, sedang bila ia menghembuskan akan cenderung tenggelam. Maka sering seorang penyelam menghembuskan nafasnya pada saat meninggalkan permukaan untuk memanfaatkan pengaruh tersebut dan hal itu membantunya untuk turun. 6.3.4. Suhu / Temperatur Suhu air di sekeliling menentukan kenyamanan penyelam secara maksimal. Hampir semua suhu perairan lebih dingin dari suhu badan yang normal (37o C atau 98o F) dan karena itu seorang penyelam akan kehilangan panas terhadap air karena konduksi. Lapisan-lapisan dari lemak atau baju selam akan mengurangi pengaruh itu. Pada penyelaman, pemeliharaan suhu badan penyelam menjadi suatu kebutuhan utama. Suhu air makin berkurang secara nyata bersamaan dengan bertambahnya kedalaman dan perubahan suhu terbesar terjadi setelah kira-kira 10 meter pertama. Hal itu disebabkan karena hilangnya sebagian besar panas matahari pada kedalaman yang lebih dalam. Air dingin dapat menyebabkan gangguan-gangguan fisiologis yang gawat seperti pusing/vertigo dan sakit kepala. 6.3.5. Penglihatan dan Cahaya Penglihatan tanpa bantuan (cahaya) di bawah air akan buruk, yang diakibatkan oleh perbedaan-perbedaan dalam pembiasan sinar di bawah air. Masalah ini sebagian dapat diatasi dengan memakai suatu masker dimana terdapat suatu lapisan udara antara mata kita dengan air. Pemakaian suatu mask meskipun memperbaiki penglihatan di bawah air dapat menyebabkan suatu kesan palsu akan jarak, menjadikan bendabenda terlihat kurang lebih ¼ lebih besar dan lebih dekat dari jarak sebenarnya. Ini menerangkan mengapa penyelam yang daya penglihatannya kurang baik akan meningkat sedikit di bawah air. Lensa yang dapat memperbaiki penglihatan (corrective lens) dapat dipasang pada mask untuk mereka yang memakai kacamata. Pemakaian lensa kontak (contact lens) di bawah air telah berhasil baik untuk digunakan pada face mask maupun pemakaian langsung. Ketajaman penglihatan di

25

bawah air sangat rendah, ini dikarenakan oleh penyebaran cahaya yang membentuk bayang-bayang dari benda halus yang mengambang di dalam air dan apabila kontras berkurang, penglihatan akan terganggu. Kejernihan air, cuaca yang terang dan cahaya buatan akan membantu menanggulangi masalah ini. Di bawah air warna-warna tidak akan tampak seperti pada permukaan, hal ini disebabkan penyerapan terhadap panjang gelombang tiap warna yang tidak sama besarnya.

Alat-alat ini masih sedang diuji di Luar Negeri. Biaya pembuatan dan kurangnya perlindungan terhadap dingin dan air yang masuk ke hidung mungkin akan membatasi pemakaian lensa-lensa selam.

Merah Orange Kuning Hijau Biru Indigo Ungu

-----------------

Paling banyak diserap

-------------------------------

Sedikit kurang diserap Kurang banyak diserap

---------------

Paling sedikit diserap

26

Di kedalaman sinar matahari yang merupakan kombinasi warna-warna merah, orange, biru, indigo dan ungu akan lebih terlihat sebagai warna biru tua. 6.3.6. Suara di bawah air sangat dipengaruhi oleh penghantarnya yaitu melalui media cairan. Kecepatan suara di bawah permukaan air kira-kira 4 kali lipat lebih cepat daripada di udara. Suara di udara akan cepat kehilangan energinya bila dipancarkan ke dalam air, dengan demikian di dalam air akan sukar mendengarkan suara yang dibuat di udara dekat permukaan air. Pendengaran seseorang di bawah air akan berkurang akibat pengaruh air terhadap gendang telinga dan beberapa frekwensi suara lebih terpengaruh dari yang lain. Memakai penutup kepala akan lebih mengurangi ambang pendengaran, akanlah sukar bagi penyelam melokalisir arah suara di dalam air. Telinga manusia telah diciptakan untuk melokalisir arah suara di udara. Mekanisme ini akan terganggu karena suara berjalan 4 kali lebih cepat di dalam air. Lokalisasi suara lebih dipersulit lagi oleh karena di bawah air suara akan dihantar ke organ pendengaran lebih baik melalui tulang kepala daripada melalui gendang telinga. 6.4. Fisologi Penyelaman Pengertian tentang cara kerja tubuh yang normal dapat membantu untuk memahami pengaruh-pengaruh penyelaman terhadap manusia. 6.4.1. Pernapasan Bernapas itu perlu sekali supaya dapat mensuplai oksigen (O2) ke semua jaringan tubuh dan untuk mengeluarkan karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh darah melalui paru-paru. Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang makin menyempit (Bronchi dan Bronchioles) yang bercabang di kedua belah paru-paru dari saluran udara utama (Trachea). Pipa ini berakhir di gelembung-gelembung paru-paru (Alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir dimana oksigen dan karbon dioksida dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari 300 juta kantong serupa di dalam paru-paru manusia. Ruang udara ini dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia semacam deterjen yang dapat menetralkan kecenderungan Alveoli untuk mengempis.

27

G a m b a r

Permukaan bagian luar paru-paru ditutup oleh selaput (Pleura) yang licin dan selaput serupa membatasi permukaan bagian dari dinding dada. Kedua selaput tersebut terletak dekat sekali dan hanya dipisahkan oleh lapisan cairan yang tipis, karenanya dapat dipisahkan dan terdapat suatu rongga di antara selaput-selaput itu yang diberi nama ruang antar rongga selaput dada (Intra Pleural Space). Sewaktu menarik napas (inspirasi), dinding dada secara aktif tertarik keluar oleh pengerutan dinding dada, dan sekat rongga dada (Diafragma) tertarik ke bawah. Berkurangnya tekanan di dalam menyebabkan udara mengalir ke paruparu. Dengan upaya yang maksimal pengurangan ini dapat mencapai 60100 mm Hg di bawah tekanan atmosfir. Hembusan napas keluar (ekspirasi) disebabkan karena mengkerutnya paru-paru dan dinding yang mengikuti pengembangan. Tekanan yang meningkat di dalam dada memaksa gas-gas keluar dari paru-paru. Ini terutama terjadi tanpa upaya otot tetapi dapat dibantu oleh hembusan napas yang kuat. Pengukuran fungsi pernapasan ada banyak dan bermacam-macam, tetapi hanya beberapa hal yang penting saja yang ada hubungannya dengan penyelaman yang akan diterangkan. a. Kapasitas Total Paru-paru (Total Lung Capacity / TLC) Merupakan jumlah volume gas yang dapat ditampung oleh kedua paru-paru bila terisi penuh. Ini biasanya kurang lebih 5 liter. b. Kapasitas Vital (Vital Capacity / VC) Merupakan volume gas maksimal yang dapat dihembuskan keluar setelah dihirup secara maksimal. Ini biasanya kurang lebih 4-5 liter. Kadang-kadang juga disebut Daya Tampung Vital yang dipaksa (Forced Vital Capacity / FVC). c. Volume Sisa (Residual Volume / RV) Adalah jumlah gas yang tertinggal dalam paru-paru setelah dihembuskan secara maksimal. Ini biasanya kurang lebih 1,5 liter, dan dapat dihitung sebagai berikut : TLC ­ VC = RV. Perhatian, bahwa RV adalah kurang lebih 25 % dari TLC.

28

d. Tidal Volume / TV Merupakan volume gas yang bergerak masuk dan keluar dari paruparu selagi suatu putaran pernapasan sedang istirahat secara normal. Biasanya kurang lebih 0,5 liter. e. Volume Pernapasan Permenit (Respiratory Minute Volume / RMV) Merupakan jumlah gas yang bergerak masuk dan keluar dari paruparu dalam satu menit, yaitu TV x frekwensi pernapasan = RMV. Ini biasanya kurang lebih 6 liter permenit dalam keadaan istirahat (5 x 12), tetapi dapat melebihi 100 liter dengan latihan berat. f. Kapasitas Vital Sewaktu (Time Vital Capacity / TVC) Merupakan bagian dari Vital Capacity / VC, yang dapat dihembuskan dalam waktu tertentu (biasanya satu detik). Ini sering disebut Volume Ekspirasi yang dipaksakan (Forced Expiratory Volume / FEV 1). Pada orang dewasa yang sehat ini harus melebihi 75 % dari FVC tetapi biasanya berkurang pada penyakit-penyakit seperti Asma, Bronchitis, Emphysema dan lain-lain, dimana gerakan udara melalui saluran-saluran udara menjadi lemah karena penyempitan saluran udara atau kekenyalan dari paru-paru yang berkurang disebabkan oleh pengerasan, goresan dan lain-lain. Hal ini membantu untuk menghindari mereka yang akan menjadi cenderung terkena penyakit Pulmonary Barothauma (Burst Lung). Parameter-parameter mekanis ini penting untuk memahami fisiologi pernapasan, karena secara relatif akan dapat memungkinkan ramalan tentang : · · · · · · Resiko Barotrauma paru-paru sewaktu naik, Kecepatan dimana penyediaan udara tekan akan terpakai habis, Kedalaman maksimal untuk penggunaan pipa udara (snorkel) yang aman, Terjadinya kelelahan napas dikarenakan alat-alat pernapasan dari peralatan selam yang kurang lengkap dan kurang berdaya-guna, Terjadinya kekurangan oksigen (Hypoxia) yang dikarenakan ventilasi paru-paru yang tak cukup, Dan masih banyak lagi.

Alveoli paru-paru / kantong udara merupakan kantong kecil dan tipis yang melekat erat dengan lapisan pembuluh darah halus (kapiler) yang membawa darah yang bebas oksigen (deoxygenated) dari jantung. Molekul oksigen dapat disaring melalui dinding pembuluh darah tersebut untuk masuk ke aliran darah. Sama halnya dengan karbondioksida yang dilepaskan dari darah ke dalam kantong udara untuk dikeluarkan melalui pernapasan, menentukan jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah dan jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari darah.

29

G a m b a r

Darah dari jantung kanan melewati arteri-arteri yang memisahkan ke dalam jaringan pembuluh-pembuluh darah halus (capilair) yang melingkupi Alveolus. Jaringan ini menyebarkan darah ke sekeliling daerah yang luas dan memungkinkan terjadinya pertukaran gas antara Alveolus dan darah. Gas buang cenderung untuk berdifusi dari daerah dengan tekanan partial tinggi ke daerah lain dimana tekanan partialnya lebih rendah yaitu dikarenakan selisih tekanan (Pressure Gradient). Selisih tekanan oksigen dari Alveoli ke aliran darah dan sebaliknya selisih tekanan karbondioksida dari saluran darah ke Alveoli menentukan pertukaran gas-gas tersebut di dalam paru-paru. Keseimbangan terjadi dengan masuknya oksigen ke aliran darah dari paru-paru dan dengan dikeluarkannya karbondioksida dari aliran darah masuk ke paru-paru. Selisih tekanan yang sama terdapat pada tingkatan jaringan darah, dimana CO2 dilepas oleh jaringan masuk ke aliran darah dan O2 berdifusi ke dalam jaringan-jaringan. Ini terjadi pada setiap pernapasan dan pertukaran peredaran darah. Pertukaran gas terjadi karena difusi, dan ini ditentukan sampai tingkat tertentu di udara oleh berat jenis gas yang bersangkutan. Di Alveoli paru-paru, O2 berdifusi lebih cepat daripada CO2 karena berat jenisnya lebih rendah. Difusi gas dalam jaringan tubuh sangat dipengaruhi oleh daya larutnya di dalam cairan-cairan jaringan dan darah, dan oleh karena CO2 kurang lebih 24 kali lebih mudah larut dalam darah dibanding O2, maka keseluruhan kecepatan difusi CO2 melebihi kecepatan O2 sekitar 20 kali lipat. Difusi gas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : · · Kelainan pada dinding Alveoli (Alveolar Walls). Peredaran pembuluh darah halus (Capillair) yang tak sempurna dapat mengurangi suplai darah ke Alveoli.

30

·

Mengecilnya Alveoli yang dapat mengurangi daerah pemindahan gas.

Salah satu dari semua itu dapat menyebabkan kurangnya O2 dalam darah atau berkurangnya pengeluaran CO2 dari darah. Jadi Hypoxia (kekurangan O2) atau Hipercapnia (kelebihan CO2) dapat terjadi. 6.4.2. Peredaran Darah Peredaran atau suplai darah diberikan pada jaringan-jaringan tubuh, darah beroksigen dari paru-paru dan mengalirkan sisa berupa CO2 ke paru-paru untuk dikeluarkan. Sistem ini terdiri dari suatu pompa sentral (jantung) dimana darah vena yang tidak mengandung O2 dipompakan ke paru-paru. Darah dibawa dari jantung ke jaringan melalui suatu saluran seperti pipa yang disebut arteri. Arteri ini akan bercabang-cabang dan menjadi lebih kecil (arteriol), kemudian di jaringan dan paru-paru akan menjadi pembuluh-pembuluh yang halus (kapiler). Pertukaran di paruparu dan jaringan terjadi melalui kapiler ini. Kapiler-kapiler meninggalkan jaringan membawa darah yang tanpa O2 dan masuk ke pembuluhpembuluh darah kecil yang akan bergabung membentuk pembuluh darah balik yang lebih besar yang disebut dengan Vena. Vena-vena membawa darah kembali ke jantung. Istilah pada sirkulasi darah di paru-paru berbeda dengan jaringan lain, karena disini arteri paru-paru membawa darah yang tanpa O2, sedangkan vena paru-paru membawa darah yang mengandung O2 dari paru-paru menuju ke jantung. Diagram skematis berikut ini menjelaskan hal-hal yang perlu tentang peredaran darah. Gambar

31

Diagram tersebut secara skematis menunjukkan bagaimana darah mengalir dari seluruh jaringan tubuh lewat serambi kanan, melalui pembuluh nadi (arteri), Pulmonalis ke paru-paru. Darah ini dating dari pembuluh balik (vena) tubuh dan mengambil O2 dari paru-paru dan melepaskan CO2. Darah yang kaya O2 ini dipompakan ke seluruh tubuh melalui vena pulmonalis, serambi kiri, bilik kiri serta arteri. Arteri membawa darah pada tekanan tertentu dan memiliki dindingdinding otot yang tebal. Dinding vena cenderrung menipis dan tidak elastis karena tekanan darah di dalamnya rendah. Dinding-dinding kapiler terdiri dari hanya satu lapisan tunggal dari sel-sel untuk mempermudah difusi gas. Jantung itu sendiri merupakan satu unit yang terbagi dalam dua bilik (vertical) dan dua serambi (atrium). Katup-katup (valves) menjaga agar darah tidak mengalir ke dalam atrium bila ventrikel mengkerut. Setiap sisi jantung bebas daripada yang lainnya, tetapi masing-masing mengkerut secara bersamaan pada setiap putaran. Kecepatan mengkerut jantung atau denyut nadi berbeda pada setiap orang, tetapi rata-rata kecepatan normal adalah : Istirahat : 60 - 80 permenit Bekerja : 80 - 150 permenit Pada umumnya di dalam tubuh terdapat kurang lebih 6 liter darah yang terdiri dari cairan-cairan serum, zat pembeku darah (plasma), sel-sel darah merah yang mengandung O2 dan CO2 serta sel-sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Volume darah biasanya konstan selama hidup, tetapi kecepatan peredaran sangat berbeda tergantung kebutuhan O2 oleh jaringan. Oleh karena itu pada waktu bekerja denyut nadi atau denyut jantung meningkat agar dapat mensuplai lebih banyak darah dan dengan demikian lebih banyak CO2 yang dapat dikeluarkan dari jaringan-jaringan. Pengisian jantung juga mengikat sebelum setiap siklus dengan demikian meningkatkan pengadaan darah. Jantung mampu memompa kurang lebih 4-5 liter darah per menit pada waktu istirahat, dan bisa mencapai 20 liter pada waktu latihan. Tekanan dan volume darah harus tetap berada pada batas tertentu agar jaringan-jaringan tidak kekurangan oksigen, atau untuk mencegah pecahnya arteri. Tekanan darah tergantung pada kecepatan dan kekuatan pengerutan jantung dan juga pada daya tahan arteri terhadap aliran darah. Faktor-faktor ini ada di bawah pengawasan susunan syaraf yang pada gilirannya dipengaruhi oleh alat-alat tubuh yang peka terhadap tekanan. Tekanan darah saat istirahat normal adalah 120-140 mm Hg sewaktu jantung mengkerut (sistolik).

32

Bila tekanan darah turun, peredaran darah ke jaringan tidak cukup hingga menyebabkan kekurangan oksigen. Ada beberapa sebab dimana hal itu terjadi, seperti kalau kita berdiri terlalu lama yang menyebabkan darah berkelompok di kaki hingga aliran darah yang kembali ke jantung menjadi lemah dan mengakibatkan turunnya tekanan darah. Pendarahan yang terlalu banyak akan mengurangi volume darah, dengan demikian dapat menurunkan tekanan darah. Penurunan sirkulasi darah yang hebat disebut "shock". Bila shock ini tidak segera diatasi dapat mengakibatkan kematian karena kekurangan suplai darah membawa oksigen ke jaringan yang sangat diperlukan seperti otak. Shock sering diatasi dengan jalan memberikan cairan cairan melalui pembuluh darah (intra vena) untuk meningkatkan volume darah dan menaikkan tekanan darah.

G a m b a r

6.4.3. Pengawasan Pernapasan Untuk mempertahankan kadar oksigen dan karbondioksida, volume pernapasan semenit (adanya ventilasi dari paru-paru) harus seimbang dengan pemakaian oksigen dan kecepatannya menghasilkan karbon dioksida. Pernapasan diatur oleh pusat pernapasan terutama dalam hal terjadinya perubahan kadar karbondioksida darah, tapi juga sedikit

33

dipengaruhi oleh sensor di dalam aorta dan arteri katoris yang mengamati perubahan-perubahan kadar oksigen di dalam darah. Hal ini menerangkan mengapa ketidak-sadaran dapat terjadi bila melakukan hyperventilasi sebelum penyelaman tahan napas. Pusat pernapasan tidak dirangsang oleh karbondioksida, yang telah berkurang oleh hyperventilasi dan gagal untuk bereaksi dengan baik terhadap bahaya berkurangnya kadar oksigen selama penyelaman dan sewaktu naik ke permukaan. 6.4. Keadaan Darurat pada Penyelaman Keadaan darurat selalu dimungkinkan terjadi pada setiap penyelaman, betapapun sempurnanya persiapan untuk itu telah dilakukan. Cukup banyak variabel yang dapat diidentifikasikan sebagai faktor penyebabnya. Kondisi penyelaman, panik, cuaca, kedalaman, kerusakan peralatan dan seterusnya. Keadaan ini bila tidak segera ditanggulangi secara tepat dan cepat sangat potensial menjadi penyebab terjadinya kecelakaan penyelaman. Ironisnya sebagian besar kecelakaan penyelaman justru terjadi pada saat seorang penyelam sudah mulai merasa berpengalaman (kawakan), merasa cukup mampu menangani masalah penyelaman. Suatu keadaan yang cenderung membuat orang menjadi lengah dan ceroboh. Kelengahan dan kecerobohan di sini mencakup fisik maupun mental. Kelengahan mental menyebabkan "human error", atau kekhilafan manusiawi yang bila dihadapkan pada kondisi rawan dapat berakibat fatal. Human error / kekhilafan manusiawi, itulah sebab utama terjadinya kecelakaan penyelaman. Karena itu tetap relevan untuk dianjurkan agar para penyelam senantiasa bersedia melatih diri, mempersiapkan diri, briefing, de-briefing, dive planning, check dan re-check peralatan sebelum menyelam, mempelajari kembali prosedur-prosedur baku dalam penyelaman dan sebagainya. Filosofinya, lebih baik belajar mengenali dan menghindari bahaya sebelumnya daripada mengatasi bahaya setelah terjadi, karena hasilnya sangat spekulatif. 6.5.1. Keadaan Tanpa Udara Dari sekian banyak keadaan darurat yang dapat terjadi setiap kali menyelam, situasi "tanpa udara" merupakan hal yang paling riskan penanggulangannya. Bertahun-tahun orang memperdebatkan jalan atau cara apa yang terbaik untuk dilakukan jika menghadapi keadaan "kehabisan udara". Pada kenyataannya, tidak ada satu carapun yang dapat disepakati sebagai cara yang memuaskan dan memberikan jaminan keselamatan bagi pelakunya. Persatuan Olah raga Selam Seluruh Indonesia, menawarkan beberapa cara atau prosedur yang dianggap "layak" untuk mengatasi keadaan darurat tersebut. Cara menghadapi keadaan darurat dapat dibedakan dalam 2 kategori, yaitu : a. Dengan "bantuan" Menghadapi keadaan darurat penyelaman dengan bantuan dibagi menjadi 2 ialah :

34

1. Octopus Assisted Ascent (OAA) OAA dapat dilakukan dalam hal seorang penyelam memberikan bantuan udara kepada mitranya yang kehabisan udara, melalui "extra second stage" yang lazim disebut "octopus". Cara ini relatif aman dan mudah pelaksanaannya karena masing-masing penyelam bernapas melalui sebuah "second stage" tersendiri. 2. Buddy Breathing (BB) Dilakukan dengan cara bergantian bernapas melalui satu "Second Stage" dari satu regulator dari si penolong (Donor). Hendaknya terus menerus dilakukan sambil naik ke permukaan secara terkendali, karena itu BB sering juga disebut buddy breathing ascent (BBA). b. Dengan "Berdikari" Cara menghadapi keadaan darurat yang terjadi dalam penyelaman, khususnya kehabisan udara, mungkin harus dilakukan sendiri oleh si penderita, dalam hal tidak ada lagi mitra yang bisa dimintai bantuan. Ada dua macam cara "berdikari" yang bisa dilakukan yaitu : 1. Emergency Swimming Ascent (ESA) Ini adalah cara menghadapi keadaan darurat secara berdikari yang terpenting, dimana si penyelam yang kehabisan udara berenang ke permukaan secara terkendali sambil terus menerus menghembuskan udara keluar, untuk menjaga agar tidak terjadi pengembangan paru-paru yang berlebihan. 2. Buoyancy Ascent (BA) Adalah prosedur "Berdikari" pilihan terakhir. Dilakukan dengan cara membuang weight belt dan menggunakan daya apung positif yang diperoleh dengan mengembangkan BC di kedalaman. Buoyancy ascent dipraktekkan jika penyelam serius meragukan bahwa ia tidak mungkin dapat mencapai permukaan dengan berenang. Buoyancy ascent dari kedalaman sangat berbahaya karena ada kemungkinan gerak laju ke permukaan menjadi tidak terkendali. Buoyancy ascent ini sering disebut pula emergency / exhaling buoyancy ascent. Apabila anda sungguh-sungguh menghadapi keadaan darurat dalam arti kehabisan udara, cobalah mengikuti prosedur di bawah ini melalui urutan teratas yaitu : 1. Berhenti dan berpikir. Hentikan manuver anda dan berpikir secara wajar tentang situasi yang sedang anda alami; 2. Hembuskan udara lambat-lambat (kalau masih ada) dan perhatikan SGP anda;

35

3. Jika SGP masih menunjukkan : - adanya tekanan udara, maka tekanlah tombol kuras; - tidak ada tekanan udara, cek katup tabung, mungkin tombol katup masih dalam posisi "off" yang biasanya terjadi pada awal penyelaman. 4. Usahakan untuk menarik napas lagi kalau masih ada hantaran udara, beri isyarat pada mitra anda dan jelaskan keadaannya. Bila tekanan udara pada posisi cadangan, hentikan penyelaman dan naik saja ke permukaan. 5. Bila tidak ada hantaran udara, mintalah mitra anda untuk melakukan OAA / BB. Bila mitra telah jauh, pilih manuver ESA / EBA (sebagai alternatif terakhir). 6. Bila mitra anda tidak bisa diajak komunikasi dan tidak mengerti siatuasi yang anda hadapi, maka lakukanlah ESA / EBA sebagai alternatif terakhir. Catatan : Latihan naik ke permukaan dalam keadaan darurat (apapun teknik / prosedurnya) merupakan bagian vital dalam pendidikan dan pelatihan selam, demi menghasilkan penyelam yang kompeten. Khusus tentang ESA perhatikanlah beberapa prinsip di bawah ini : 1. Buang weight belt anda untuk memperoleh / meningkatkan daya apung anda. 2. Anda sedang melaju ke permukaan dengan menggunakan upaya renang kendali. 3. Hembuskan udara keluar selagi melaju ke permukaan (karena menarik napas juga tidak dimungkinkan). 6.5. Lingkungan Penyelaman Kenalilah medan penyelaman Bagaimanapun juga (perencanaan penyelaman) dan latihan yang betul membantu penyelaman menjadi aman, tidak perduli apakah penyelaman ini dilakukan di laut, di danau besar/kecil, sungai, lubang galian (quarries), daerah karang, dermaga, oil rig's di laut. Jika anda berada di daerah yang asing, sebaiknya berkonsultasi dengan penduduk setempat. Mereka biasanya akan dengan senang hati memberikan keterangan tentang lokasi penyelaman yang menarik serta tentang hal-hal yang mungkin harus anda hadapi. Penyelaman dari pantai Jika memungkinkan periksa dahulu daerah-daerah penyelaman dari suatu ketinggian. Anda dapat mengamati kondisi air, menentukan daerah entry dan exit yang baik dan aman. Persiapkan alat sebaik mungkin karena bisa jadi anda harus melewati jalan setapak. Jika jarak diving area yang dituju dekat,

36

anda bisa memakai pakaian separuh lengkap dan mengangkat peralatan selam sekali jalan. Ground Pad / Tikar Alas Alas yang diletakkan di tanah merupakan sarana yang baik untuk meletakkan tas perlengkapan dan jika anda terpaksa harus memakai pakaian selam di pantai pasir yang basah. Alas ini dapat berupa terpal dari bahan ringan dengan ukuran kira-kira 4 x 5 feet. Setelah selesai digunakan alat ini dapat dengan mudah dilipat dan disimpan dalam tas. Letakkan perlengkapan yang berat dekat dengan tepian air, tapi jauh dari garis batas pencapaian ombak, siapkanlah peralatan hingga siap pakai. Berpakaian dan pengecekan peralatan hendaknya dilakukan secara team. Diving dapat diadakan dari pantai maupun dari kapal, untuk penyelaman dari pantai memerlukan perencanaan lebih matang. Ombak dan Gelombang Jika anda hendak menyelam di laut yang mempunyai dasar berpasir dan bergelombang, maka amati tinggi gelombang dan frekuensi (kekerapan ombak besar). Gelombang besar sangat berbahaya dan membuat jarak pandang / Visibility sangat kurang. Jangan sekali-kali mencoba menyelam pada saat gelombang besar. Rangkaian Gelombang Ombak yang ditimbulkan di daerah yang berbeda letaknya dapat bertemu dan membentuk satu alun yang besar dan menghasilkan gelombang lebih besar. Inilah perlunya mengamati rangkaian ombak. Rangkaian ini dapat terdiri dari pasangan tiga atau empat ombak normal dan kemudian disusul oleh satu ombak yang lebih besar. Memilih waktu yang tepat adalah unsur terpenting dalam upaya Entry Undertow (Arus bawah). Aliran air kembali ke laut akibat gelombang yang memecah di pantai dinamakan Undertow dapat dengan mudah menjatuhkan seorang penyelam yang berperlengkapan berat. Undertow ini mengalir kembali ke laut dengan jarak pendek dan melalui bawah gelombang yang sedang menuju ke pantai. Dengan sendirinya pantai yang agak curam mempunyai aliran Undertow lebih besar. Foot Pocket Fins dengan mudah dapat terlepas di dalam Undertow jika penyelam berdiri lama di garis gelombang (Surf line). Gunakanlah Heel Strap Retainer (Ikat Tumit Khusus) untuk mencegah Fins jenis ini terlepas. Sand Entry Jika anda telah siap masuk ke air, adakan Equipment Check terakhir dalam rangka Buddy Team. Air On, Reserve Up, Vest Infletor Ok, Fins dapat dipakai dengan menopang Buddy untuk menjaga keseimbangan, Mask ­ Snorkel ­ Sarung Tangan Ok. Dalam air tenang, penyelam dapat masuk ke air dengan saling berpegangan tangan untuk menjaga keseimbangan. Berjalan mundur, Mask terpasang dan dipegangi baik, snorkel berada dalam mulut, Vest dikembangkan sebagian untuk positive buoyancy selagi berenang di permukaan. Jika air sudah mencapai mulut, balikan badan, tengkurap dan bersama-sama memulai snorkeling. Dalam keadaan air bergelombang, Entry dengan Buddy Team dapat dilakukan dengan bersamaan. Sedang dalam 37

keadaan laut bergelombang besar, maka rekan Buddy yang memegangi apungan (Floot), masuk ke air terlebih dahulu, dengan memperhitungkan waktu yang tepat, yaitu menghitung timing untuk Entry pada saat redanya diantara rangkaian gelombang-gelombang. Jangan sesaatpun berdiri di garis gelombang sambil membetulkan atau menyetel perlengkapan. "Sekali anda siap ................................... Langsung Go !!!" Usahakanlah secepatnya anda lepas landas dan disangga air. Ikuti arah air yang menuju ke laut lepas, memecah gelombang dengan cara menyelam di bawahnya. Ingatlah "Kekuatan terbesar gelombang adalah terletak di bagian pucuk/ujungnya. Begitu anda berada di daerah aman terbesar dari gelombang, tambahkan udara ke B.C. anda agar daya apungnya bertambah serta perhatikan rekan / Buddy anda yang kini giliran untuk Entry. Kekuatan dari sistem ini adalah penyelam setiap waktu memperhatikan rekan / Buddynya saat Entry dan selalu siaga jika Buddy nya memerlukan pertolongan. Medan Berbatu Daerah berbetu-batu (Rock Areas), biasanya merupakan daerah penyelaman yang lebih mempesona dan beragam panorama keindahannya. Namun perlu diperhatikan beberapa langkah pengamanannya. Perhatikanlah terutama jalan setapak yang biasanya hanya selebar jalan tikus, apalagi anda sedang menggendong peralatan selam melalui daerah ini. Batu-batu yang terdapat di pinggir garis air, biasanya akan licin karena tumbuhan lumut, renik-renik kerang yang tajam dan algae. Pelindung kaki harus dipergunakan dan Entry dari daerah batu-batuan, boots yang baik akan melindungi kaki anda. Sarung Tangan Setiap penyelaman harus menggunakan sarung tangan. Hal ini menyebabkan anda harus berlatih dan mampu menangani masalah perlengkapan selam selagi memakai sarung tangan. Dive Planning Sebelum penyelaman dimulai, tentukan siapa diantara Buddy yang menjadi petunjuk jalan, kemana arah yang dituju, kedalaman berapa yang akan dicapai serta dimana exit yang direncanakan. Hal ini sangat perlu karena akan dapat diketahui berapa waktu yang aman untuk kegiatan penyelaman. Navigasi Jika menggunakan kompas sebaiknya anda menyelam menyusuri dasar dan terus menuju ke kedalaman. Menyusuri dasar yang landai untuk memudahkan usaha Equalizing, dibandingkan menukik turun ke kedalaman dengan mengalami perubahan tekanan air dengan cepat. Mengendalikan arah di bawah air adalah hal yang amat penting, kompas digunakan untuk menentukan arah dari dan ke pantai, sehingga menghindari setiap kali muncul ke permukaan air untuk mengecek arah. Letakkan kompas di muka anda sedatar mungkin jika mengecek arah. Jarum kompas datar dipengaruhi oleh kumpulan logam, maka jangan menggunakan kompas terlalu dekat 38

dengan tabung buddy. Jarak kompas tidak terpengaruh oleh logam adalah minimum 2 ­ 3 feet. Deviasi (kesalahan) kompas dapat terjadi, hal ini tergantung dari kekuatan magnetis dari jarum kompas itu sendiri. Tabung Scuba yang terbuat dari aluminium tidak mempengaruhi kompas. Ada 3 jenis kompas yang digunakan untuk navigasi : a. Dome Type merupakan kompas yang penunjuk arahnya menghadap terdekat kepada penyelam. b. Flat atau Horizontal Type adalah kompas yang mempunyai jarum petunjuk arah utara, dibaca melintasi muka kompas dan juga dilengkapi dengan "garis bidik lurus" yang digunakan untuk mengendalikan arah dengan cara mempertahankan jarum kompas tetap menunjukkan pada arah kompas yang dituju. c. Jenis ini merupakan kompas yang paling efisien untuk navigasi karena dilengkapi dengan lingkaran tepi yang dapat diputar (rotating bezel). Lingkaran ini diberi tanda dan tanda ini dapat disetel sedemikian rupa hingga ditempatkan di atas jarum kompas sebagai pengendali arah. Setiap saat arah penyelaman dapat dicek dengan kompas jenis ini. Dengan memutar lingkaran tepi kompas atau membalik arah penyelaman 180o, penyelam dapat berenang kembali pada starting point semula. Sudut tubuh merupakan faktor terpenting. Berenanglah selurus mungkin jika menggunakan kompas yang dipakai di pergelangan tangan. Selain dengan kompas navigasi dapat dilakukan dengan melihat bentuk dasar laut. Belajarlah mengenal pola umum suatu dasar laut. 6.6. Mengunakan Tabel Selam 6.7.1. Konsep Haldane Pada tahun 1900, Haldane seorang dokter Inggris yang banyak berkecimpung dalam kegiatan penyelaman menemukan bahwa gas yang diserap oleh tubuh dapat ditahan di dalamnya bila penurunan tekanan adalah 2 banding 1. Seorang penyelam dapat bekerja pada kedalaman 33 feet (10 m) untuk waktu yang lama, tanpa terjadi pembentukan gelembung-gelembung bila dia kembali ke permukaan. Pada kedalaman lebih dari 33 feet penyerapan gas bertambah besar melebihi 2 : 1, maka semakin besar kedalamannya makin singkat waktu di dasarnya (Bottom time). Dari tabel selam dapat dilihat sampai seberapa lama kita dapat tinggal di kedalaman tertentu untuk kembali ke permukaan secara langsung dan aman. 6.7.2. Tabel U.S. Navy No. 1-10 Tabel selam US Navy diberi nomor 1-9 sampai dengan 1-13. Tabel No.1-9 mencakup petunjuk umum. Tabel No.1-10 merupakan tabel dekompresi standart. Sedang Tabel No.1-11 sampai dengan 1-13 untuk penyelaman ulang, yaitu penyelaman lebih dari satu kali yang dilakukan dalam kurun waktu kurang dari 12 jam. Pada tabel No. 1-10 ada 6 (enam) kolom

39

vertikal. Pada kolom pertama tertulis kedalaman mulai dengan 40 feet. Penambahan kedalaman sebesar 10 feet bagi seorang penyelam harus menjadi patokan untuk penentuan kedalaman selam. Bila kedalaman sebesar 62 feet maka harus dihitung menjadi 70 feet, dan bila kedalamannya 75 feet maka dihitung menjadi 80 feet dan seterusnya. Selalu harus dihitung kedalaman paling besar yang dicapai. Misalnya bila kedalaman penyelaman 60 feet tetapi karena sesuatu hal tiba-tiba harus turun ke 80 feet untuk beberapa saat saja, maka kedalaman penyelaman harus dihitung menjadi 80 feet. Pada kolom kedua ditulis waktu di dasar (Bottom time) dalam menit. Arti waktu di dasar (BT) ialah waktu antara saat permukaan ditinggalkan sampai saat akan naik ke permukaan. Bila waktu penurunan sampai kedalaman yang hendak dicapai 5 menit dan waktu yang digunakan sebelum naik adalah 20 menit, maka waktu BT adalah 25 menit. Permukaan Turun 5 menit 20 menit penyelaman Pada kolom ini setiap kedalaman dimulai dengan angka yang menunjukkan waktu maksimal pada kedalaman tersebut yang belum memerlukan dekompresi, artinya muncul sampai di permukaan dapat dilakukan tanpa perlu berhenti untuk membiarkan kelebihan gas yang diserap oleh tubuh dapat lepas secara wajar. Laju kecepatan naik adalah 60 feet / menit atau 1 feet / detik. Waktu maksimal ini disebut "Batas Tanpa Dekompresi" atau lazim disebut "No Decompressi Limit" atau "Waktu Nol". Pada penyelaman pertama batasan-batasan aman sebagai berikut : Kedalaman (feet) 40/12 m 50/17 m 60/20 m 70/24 m 80/28 m 90/30 m NDL (menit) 200 100 60 50 40 30 Kedalaman (feet) NDL (menit) 25 20 15 10 10 5 Naik Permukaan

100/33 m 110/35 m 120/40 m 130/43 m 140/47 m 150-190 / di atas 50 m

Bila melampaui batasan tersebut maka harus dilihat BT yang bersangkutan dan perlu berhenti untuk dekompresi. Kolom ketiga adalah waktu sampai pemberhentian dekompresi pertama (dalam menit dan detik). Kecepatan naik 1 feet/detik harus diambil sebagai patokan. Kolom keempat adalah kedalaman pemberhentian dekompresi (dalam feet).

40

Seorang penyelam scuba harus selalu berusaha agar jangan melampaui batas tanpa dekompresi (NDL). Pada kolom ini dapat dilihat bahwa pemberhentian dekompresi dapat dimulai pada kedalaman 500 feet. Biasanya pemberhentian dekompresi dibuat pada 10 feet. Ingat tabel ini disusun untuk kegiatan selam "Hardhat", dimana persediaan udara bukan merupakan masalah. Bila perlu dilakukan pemberhentian dekompresi maka letak posisi paru-paru harus pada kedalaman yang ditentukan, bukan pinggang atau kepala. Kolom kelima menjelaskan waktu total yang dibutuhkan untuk naik ke permukaan dengan kecepatan 1 feet/detik ditambah waktu pemberhentian dekompresi. Pada kolom terakhir tercatat kode grup kelompok ulang atau "Repetitive Group (GR) yang harus dipakai bila dilakukan penyelaman ulang. Tanpa faktor keamanan Tabel ini disusun untuk penyelam-penyelam AL. Amerika yang terlatih dengan kondisi fisik yang prima. Sebagai penyelam tempur maka tidak ada faktor keamanan, oleh karena itu bila melakukan penyelaman sampai batas "Tanpa Dekompresi", maka tetap ada kemungkinan akan terjadi gejala pembentukan gelembung, oleh karena itu janganlah sampai mencapai pada batas tersebut. Ambillah toleransi sedikit, kurangi BT sampai kira-kira 5 menit lebih kecil dari waktu "Tanpa Dekompresi" supaya aman. Demikian pula bila dilakukan penyelaman yang lama dan atau dalam, berhentilah untuk beberapa menit pada kedalaman 10 feet demi keamanan anda sendiri. Muncul Darurat Jikalau tidak ada tabung reserve hingga penyelam harus timbul di permukaan, maka ia harus mengikuti prosedur darurat Angkatan laut Amerika. Penyelam harus dalam waktu 3 menit muncul, mamakai tabung baru dan segera turun kembali ke kedalaman 40 feet. Pada kedalaman ini penyelam harus membuat "Decompression Stop" selama ¼ waktu dekompresi yang seharusnya ia buat pada 10 feet. Lalu naik ke 30 feet dalam waktu tepat 1 menit, kemudian melakukan dekompresi stop selama 1/3 waktu dekompresi yang seharusnya pada 10 feet, naik lagi ke 20 feet dalam waktu 1 menit tepat dan melakukan dekompresi stop 1 waktu dekompresi 10 feet, dan terakhir naik ke 10 feet dalam waktu 1 menit tepat untuk melakukan dekompresi stop selama 1,5 waktu dekompresi stop kedalaman 10 feet, kemudian muncul ke permukaan. Prosedur ini harus diikuti apabila tidak ada "Recompression Chamber" didekatnya. Maka dari itu sediakanlah selalu tabung untuk reserve. "Harap diingat !!!" ¼ pada 40 feet; 1/3 pada 30 feet; ½ pada 20 feet; 1/5 pada 10 feet Dengan kecepatan 10 feet / menit.

41

Contoh : Waktu dekompresi seharusnya 3 menit pada 10 feet. Maka bila mengikuti prosedur di atas adalah sebagai berikut : 0,75 menit pada 40 feet 1 menit pada 30 feet 1,5 menit pada 20 feet 4,5 menit pada 10 feet Total 7,75 + 4 menit untuk naik Total di bawah air : 11,75 menit Dari contoh sebelumnya dapat ditarik kesimpulan bahwa, suatu penyelaman memerlukan perencanaan secara baik dan benar untuk menghindari timbulnya persoalan/masalah. Penjelasan tentang prosedur penggunaan tabel selam untuk keperluan praktek akan diberikan oleh instruktur pada saat dilaksanakan PAP dengan menggunakan format-format terlampir.

7. LATIHAN KETRAMPILAN KOLAM 7.1. Masuk ke air (Entry) Ada 4 macam cara yang lazim digunakan oleh seorang penyelam untuk masuk ke bawah permukaan air, yaitu : 7.1.1. Standing Front Entry Seorang penyelam dapat masuk ke air dari geladak kapal, perahu dan dermaga dengan menggunakan posisi masuk berdiri.Ini cara yang paling aman untuk digunakan.Penyelam akan masuk dengan kaki terlebih dahulu, dengan posisi "Melangkahkan kaki (Giant Step)".Pada waktu kaki menyentuh air, kedua kaki dikatupkan kembali untuk menjaga posisi penyelam agar tetap di permukaan.Satu tangan memegang mask dan regulator agar tidak lepas pada saat bersentuhan dengan air, sedangkan satu tangan lagi memegang bagian bawah B.C. untuk menjaga supaya tabung tidak mengenai tengkuk seandainya tabung tidak terikat pada B.C. secara sempurna, kemudian kepala menunduk.Jika sudah siap, langkahkan kaki ke depan tanpa adanya gerakan lompatan.Jangan miringkan ke belakang ataupun ke depan. Biarkan kaki tetap terentang hingga menyentuh permukaan air. 7.1.2. Sitting front entry Cara ini akan sangat berguna jika akan masuk air dari dermaga yang rendah ataupun plat form. Dalam posisi duduk, fins berjuntai keluar, tempatkan tangan di kedua sisi, berputarlah dan masuk ke air, kedua kaki mengayuh agar tidak menyembul ke permukaan.

42

7.1.3. Back Roll Entry Jika akan masuk ke air dari kapal kecil atau perahu karet, maka back roll entry adalah cara yang terbaik dan termudah. Dengan cara duduk di pinggir perahu karet, posisi kaki rapat, satu tangan di mask dan regulator sedang yang lain di B.C. Gulingkan badan ke belakang. 7.1.4. Said Roll Entry Cara lain untuk masuk ke air dari perahu karet adalah dengan dengan said roll entry. Baringkan badan di pinggiran perahu karet kemudian bergulir ke air. Cara ini lazim digunakan oleh under water demolation team (UDT) atau regu penghancur bawah air, yang harus masuk ke air sementara perahu karet tetap melaju cepat. 7.2. Muncul ke permukaan (safety ascent) Untuk menghindari cedera pada waktu muncul ke permukaan penyelam harus selalu melihat ke atas, menggapai dan kemudian muncul perlahan-lahan berputar 360o sambil tetap mengawasi permukaan. Manufer ini penting sekali, terutama pada tahap 10 feet terakhir untuk sampai di permukaan. 7.2.1. Tehnik muncul terkendali (slow ascent) Penyelam harus selalu naik ke permukaan dengan lambat. Kecepatan aman untuk naik adalah 60 feet per menit. Cara mengetahui kecepatan yang paling mudah adalah melihat gelembung udara yang paling kecil dan tidak boleh mendahului. 7.2.2. Tehnik muncul bebas Penyelam melakukan surface dive, berenang ke dasar kemudian melepaskan snorkel dan naik ke permukaan secara perlahan-lahan sambil menghembuskan nafas terus-menerus hingga muncul ke permukaan. Posisi kepala menengadah, pandangan dan tangan mengarah ke atas. 7.2.3. Tehnik muncul darurat (esa) Pada saat terjadi udara pada tabung habis, seorang penyelam harus melakukan tehnik muncul darurat dengan cara melepaskan regulator dari mulut, naik ke permukaan secara vertikal dengan perlahan-lahan dan menghembuskan nafas secara terus-menerus hingga mencapai kedalaman 10 feet, pada kedalaman tersebut posisi badan berubah menjadi horizontal, kepala menengadah keatas, tangan mengembang, hingga sampai ke permukaan. Pada keadaan tertentu weight belt dapat dilepas untuk mendapatkan tambahan daya apung positif. 7.3. Menjelajah di bawah permukaan air Penyelam harus dapat menguasai peralatan dengan baik dan benar. Peralatan dasar selam dan peralatan scuba merupakan alat bantu kita melakukan kegiatan penyelaman. Latihan yang rutin di kolam sangat membantu agar kita familier dengan semua peralatn tersebut seperti melakukan skin diving, scuba diving, regulator clearing, mask clearing equalization muncul secara lambat (slow ascent) dan bongkar pasang peralatan scuba. 43

7.4. Menguras kaca muka (mask clearing) Tujuan mask clearing adalah untuk menghilangkan pengembunan pada mask saat penyelaman di kedalaman. Pengembunan akan terjadi karena adanya perbeedaan suhu dalam air. Dengan cara mengisi air ke dalam mask pengembunan akan hilang, dan dengan menekan bagian atas mask serta menghembuskan udara melalui hidung, maka air akan terdorong keluar melalui sela-sela mask, sehingga pandangan akan menjadi jelas kembali. 7.5. Menguras mouthpiece Pada saat melakukan penyelaman kadang terjadi regulator terlepas dari mulut kita. Sering dari kita melakukan kecerobohan dengan segera measukkan mouthpiece ke dalam mulut dan menghisapnya. Akibatnya bukan udara yang kita peroleh melainkan air, sehingga kita mengalami tersedak dan panik. Cara yang benar untuk menguras mouthpiece adalah dengan menghembuskan udara terlebih dahulu untuk menguras air yang ada di dalam mouthpiece kemudian menghisapnya. 7.5.1. Pada snorkel a. Popping Cara menghilangkan air dari snorkel dengan cara menghembuskan udara ke dalam snorkel sehingga air di dalam snorkel hilang dan kita dapat bernafas lagi. b. Water displacing method Cara snorkel clearing dengan metode ini sangat membantu, karena tidak perlu meniup udara dengan keras. Pada saat penyelam mendekati permukaan dengan tangan ke atas tengadahkan kepala sehingga ujung atas snorkel mengarah ke bawah dengan menghembuskan secara perlahan dan terus-menerus akan mengakibatkan udara yang dihembuskan menahan air masuk ke snorkel sewaktu penyelam menuju ke atas. Setelah penyelam sampai di permukaan dan posisi berenang, maka ia akan dapat menghirup udara tanpa harus meniup snorkel karena snorkel telah bersih dari air. 7.6. Sistim mitra selam dan patungan udara Menyelam adalah kegiatan yang berisiko tinggi, terlebih-lebih bila penyelaman itu dilakukan seorang diri. Bila terjadi suatu keadaan darurat yang membahayakan keselamatan jiwa dan raga, tidak akan ada orang yang mengetahui dan membantu kesulitan tersebut. Oleh karena itu dunia penyelaman menganut dan mempraktekan prinsip penyelaman yang mengatakan never dive alone. Jadi menyelamlah selalu dalam suatu team dengan sitim mitra (buddy sistim). Keadaan darurat pada penyelaman lazim diidentikkan dengan keadaan tanpa atau kehabisan udara. Salah satu cara yang paling efektif mengantisipasi situasi ini adalah dengan melakukan "buddy breathing" (patungan udara). Jika keadaan masih dapat dikendalikan dan

44

buddy berada di dekat, udara dapat dipakai bersama (patungan) di dalam air atau ketika naik ke atas. 7.7. Pengendalian romphi apung di permukaan dan di kedalaman Di permukaan Penyelam berada di tempat dalam dengan posisi berdiri dengan mulut meniup penuh BC nya melalui oral inflator. Pengendalian romphi apung dengan cara mengatur udara di BC sampai batas permukaan air berada di mata. Di kedalaman Penyelam di kedalaman mengatur netral buoyancy dengan cara mengisi udara ke BC baik lewat oral inflator maupun mekanikal inflator. 7.8. Menghadapi masalah di bawah permukaan air Tehnik penyelamatan dengan vest sangat penting dikuasai. Hal ini sangat berguna apabila terjadi masalah di bawah permukaan air pada saat melakukan penyelaman. Dengan tambahan daya apung dari vest tersebut kita dapat mengangkat korban dari dasar menuju ke permukaan dan segera memberikan bantuan pernafasan dari mulut ke mulut sebelum sampai di pantai. 7.9. Weight belt Setiap penyelam harus mahir mengambil dan memasang kembali peralatan weight belt di bawah permukaan air. Hal ini dikarenakan bisa saja terjadi weight belt terlepas pada saat penyelam melakukan manuver-manuver di bawah air. 7.10. Renang snorkel dengan peralatan lengkap Pada saat penyelam sudah berada di permukaan, namun jauh dari kapal maka penyelam dapat berenang menuju ke kapal. Berhubung penyelam masih menggunakan peralatan selam lengkap, maka cara yang terbaik dan tidak melelahkan adalah dengan mengisi udara ke BC untuk mengurangi beban tersebut dan berenang dengan menggunakan snorkel menuju ke kapal. 7.11.Penanganan peralatan di dasar Seorang penyelam harus dapat secara mudah menangani peralatannya di bawah permukaan air apabila mengalami kesulitan. Maka seorang bpenyelam dituntut untuk mampu membongkar pasang peralatan secara benar di bawah air. Cara membongkar peralatan Melepaskan ikat pinggang Angkat lewat atas kepala Atur regulator agar tidak terjepit

45

Cara memasang peralatan : Raih regulator, pasang mouth piece ke dalam mulut dan hembuskan udara agar air terkuras; Angkat tabung melewati atas kepal, usahakan agar regulator tidak terbelit; Atur ikat pinggang/gesper supaya BC terpasang dengan nyaman.

8. LATIHAN PERAIRAN TERBUKA (LPT) Pengertian Latihan yang diselenggarakan di perairan terbuka misalnya laut, danau dan lain-lain) dan merupakan urutan dari manuver yang sederhana sampai kepada manuver yang paling sulit, yang dilakukan secara berangsur-angsur di kedalaman yang semakin meningkat. LPT harus merupakan latihan ketrampilan lapangan yang wajar, masuk akal dan penerapannya berlaku bagi kondisi medan penyelaman yang aman. Pada dasarnya LPT dibagi dalam 3 (tiga) kategori : a) Latihan awal Berlaku bagi para pemula dengan jenjang / tingkat kemahiran scuba diver 3 (A2) dan scuba diver 2 (A3). b) Latihan pengembangan kecakapan Khusus dilatihkan untuk meningkatkan kemampuan dan pengalaman penyelam dengan jenjang scuba diver 1 (A4). c) Latihan untuk kecakapan khusus Latihan yang dititik beratkan kepada prosedur penanganan keadaan darurat dan memimpin suatu kegiatan selam. Ini berlaku bagi pemegang sertifikat jenjang master scuba diver, sebagai persiapan untuk memasuki kegiatan keinstrukturan. Latihan awal 8.1. Latihan ketrampilan menggunakan peralatan dasar selam di perairan terbuka. Pada hakekatnya merupakan penerapan lebih lanjut dari latihan menggunakan peralatan selam di kolam (LKK) yang antara lain meliputi : 8.1.1. Berenang di permukaan (Fins swimming) Berenang di permukaan air dengan peralatan dasar selam 8.1.2. Surface dive Yang dilakukan menukik ke kedalaman dengan kepala lebih dahulu, kemudian mengayuh dengan kaki sampai ke dasar pada kedalaman 10 s/d 15 kaki dan muncul kembali ke permukaaan sambil membawa benda yang dipungut dari dasar. 8.1.3. Turun terkendali Masuk ke bawah permukaan air dengan menelusuri : - lengkung landas 46

-

tali jangkar kapal / perahu tali yang dijulurkan dari pantai sampai ke dasar tali pemandu vertikal

8.1.4. Mask Clearing 8.1.5. Snorkel Clearing 8.1.6. Muncul ke permukaan (Ascent) 8.2. Latihan ketrampilan menggunakan pperalatan scuba di perairan terbuka. Sebagai bagian terakhir dari rangkaian proses pendidikan dan pelatihan. Latihan ini ditujukan untuk menciptakan seorang penyelam scuba yang berdaulat (mandiri), percaya diri, aman serta mampu secara santai manikmati kenikmatan penyelaman. Yang penting disini adalah, latihan ini mewujudkan tingkat penguasaan ketrampilan selam dalam pengertian : mahir, bukan sekedar selasai mengikuti semua mata acara latihan secara lengkap. Oleh karena itu dalam latihan ini setiap peserta dituntut untuk mampu melaksanakan tehnik dan prosedur penyelaman scuba di medan yang sebenarnya secara urut, lugas dan tepat, yang antara lain meliputi : 8.2.1. Persiapan perlengkapan Kemampuan melaksanakan pemeriksaan kelengkapan, pengaturan dan penyetelan peralatan masing-masing untuk selalu berada dalam kondisi "siap pakai" sebelum dimulainya penyelaman. 8.2.2. Suiting Up Kemampuan mengenakan peralatan selam dengan lengkap tanpa harus menjadi kelelahan dan kepanasan. Dalam hal ini prinsip ke-mitraan (Buddy System) sudah harus membudaya. 8.2.3. Pre Dive Safety Drill Mitra yang telah lengkap mengenakan peralatan selam (kecuali mask, snorkel, fins dan sarung tangan) saling berhadapan dan secara bergantian melakukan pemeriksaan antara lain : · BC : terpsang dengan sempurna/tidak, Berfungsi dengan baik/tidak · Weight belt pastikan bebas dari hambatan sehingga dalam kondisi "Quick Release" · Ketahui dan pastikan "Gesper Luncur" berfungsi normal. · Tabung : supplay udara; Katup terbuka sempurna; Regulator berfungsi sempurna; SPG berfungsi sempurna · Pemeriksaan diakhiri dengan memberikan isyarat OK. 8.2.4. Buoyancy control Melatih penyelam agar mampu memenetukan beberpa pemberat yang ia perlukan, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk turun dan naik dari kedalaman. Latihan ini masih dipraktekkan di kolam.

47

8.2.5. Briefing Sebelum atau sesaat suatu penyelaman akan dimulai, hendaknya diberikan penjelasan atau pengarahan tentang segala aspek yang bersangkutan dengan kegiatan selam yang akan dilakukan agar penyelaman itu dapat berlangsung dengan aman, selamat, menyenangkan, berhasil guna dan berdaya guna. 8.2.6. Entry dan Exit Pada waktu "entry" Tehnik entry senantiasa berbeda-beda tergantung pada lokasi/daerah penyelamannya. Yang penting dalam entry adalah hindari "bertabrakan" dengan air, karena air : a. Selalu pegang mask; b. Maouthpiece selalu ditempatnya; c. Hindarkan tehnik entry dengan berguling, karena dapat menyebabkan disorientasi; d. Jangan mengadakan penyetelan peralatan pada titik entry. e. Usahakan daya apung yang benar, periksa posisi peralatan, istirahat sejenak baru melanjutkan latihan. Pada waktu "exit" a. Berhenti dan istirahat sejenak sebelum exit; b. Saling memperhatikan antara sesama mitra; c. Dalam situasi exit ke kapal / daerah berbatu, terlebih dahulu, lepaskan perlengkapan yang berat-berat. 8.2.7. Manuver-manuver di bawah permukaan, antara lain meliputi : - equalzing; - mask clearing; - buddy breathing; - trimming 8.2.8. Adaptasi Setiap penyelam harus mampu beradaptasi baik secara fisiologis maupun pskologis terhadap lingkungan bawah air yang sedang diselaminya, sehingga ia merasa betah dan nyaman waktu melakukan penyelaman itu. 8.2.9. De-briefing Latihan perairan terbuka diakhiri dengan acara de-briefing di dekat lokasi penyelaman dengan tujuan : a. Menyimpulkan dan evaluasi atas proses dan detail latihan selagi masih segar dalam ingatan; b. Merupakan tambahan pengalaman melalui pembahasan bersama atas acara latihan. 8.2.10. Perawatan peralatan Membiasakan dan menumbuhkan kesadaran penyelam untuk merawat perlengkapan/peralatannya setiap selesai dari suatu penyelaman, sehingga awet dan selalu siap pakai. 48

8.2.11. Logging penyelaman Membiasakan penyelam membuat catatan setelah selesai acara latihan, secara cermat tentang : a. kedalaman; b. bottom time; c. jarak pandang; d. temperature; e. repetitive dive Catatan tersebut ditulis pada sebuah buku yang wajib dimiliki oleh setiap penyelam yang lazim disebut "Diver Log Book".

KEPUSTAKAAN Jacques-Yves Cousteau, The Ocean World of Jacques Cousteau,Vol. 20, Revised Edition, The Danbury Press, Santa Anna, 1975. Jeppesen, Sport Diver Manual, Vol. II, Jeppeson-Sanderson, Inc., Denver, Colorado, 1980. P.B. Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia, Persyaratan & Persatuan Dasar Selam Olahraga Indonesia, Jakarta, 1980. -----------, Standart Instruksi Selam Olahraga Indonesia, Jakarta, 1979 Robert W. Smith, New Science of Skin and Scuba Diving, Sixth Edition, New Century Publishers, Inc., 1980. Santosa, Kesehatan Kelautan, Jakarta, 1983.

49

ISYARAT TANGAN STANDART PENYELAMAN

50

ISYARAT TANGAN STANDART PENYELAMAN

51

ISYARAT TANGAN STANDART PENYELAMAN

52

DIVE PROVILE

SIT SIT

Group

Group

Group

Group

Group

Time down

Time Up

Time down

Time Up

Time down

Time Up

10 Ft Stop Stop

10 Ft Stop

10 Ft

Dive Number Planned Depth : NDL : ft Actual Depth : ABT : ft

Dive Number Planned Depth : ft NDL : RNT : Actual Depth : TBT :=

Dive Number Planned Depth : ft NDL : RNT : ANDL : = Actual Depth : TBT :=

ft

ft

RNT : + ABT :

RNT : + ABT :

ABT : Actual Bottom Time TBT : Total Bottom Time SIT : Surface Interval Time NDL : No ­ Decompression Limit RNT : Residual Nitrogen Time ANDL : Adjusted No-Decompression Limit

ANDL : =

Substract Down NDL Less RNT = ANDL TBT

Add Up ABT Plus RNT =

Substract Down

Add Up

53

Information

MENYELAM

53 pages

Find more like this

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

164504


You might also be interested in

BETA
MENYELAM