Read OBSTETRI%20PATOLOGI.pdf text version

KELAINAN LAMANYA KEHAMILAN By : DR. Nuky Rusianto, A.Md., SE., drh., WR., Lc., ISI., MBO., OIE Seperti telah diterangkan, lamanya kehamilan yang normal 280 hari atau 40 minggu dihitung dari hari pertama haid yang terakhir. Kadang ­ kadang kehamilan berakhir sebelum waktunya dan ada kalanya melebihi waktu yang normal. Berakhirnya kehamilan menurut lamanya kehamilan berlangsung dapat dibagi sebagai berikut : Lamanya Kehamilan < 22 Minggu 22 ­ 28 Minggu 28 ­ 37 Minggu 37 ­ 42 Minggu > 42 Minggu 1. ABORTUS Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar disebut abortus. Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. Ada juga yang mengambil sebagai batas untuk abortus berat anak yang kurang dari 500 gram. Jika anak yang lahir beratnya antara 500 dan 999 gram disebut partus immaturus. Abortus dapat dibagi sebagai berikut : I. Abortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) ; merupakan ± 20% dari semua abortus, II. Abortus provocatus (disengaja, digugurkan), 80% dari semua abortus, a. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeuticus, b. Abortus provocatus criminalis. Abortus provocatus artificialis ialah pengguguran kehamilan, biasanya dengan alat ­ alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan dan membawa maut bagi ibu, misalnya karena ibu berpenyakit berat. Abortus provocatus pada hamil muda (di bawah 12 minggu) dapat dilakukan dengan pemberian prostaglandin atau curettage dengan penyedotan (vakum) atau dengan sendok curet. Pada hamil yang tua (di atas 12 minggu) dilakukan hysterotomi, juga dapat disuntikkan garam hypertonis (20%) atau prostaglandin intra ­ amnial. Indikasi untuk abortus therapeuticus misalnya : penyakit jantung (rheuma), hypertensi essentialis, carcinoma dari cervix. Abortus provocatus criminalis adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum. Klinis masih ada istilah ­ istilah sbb : Abortus Imminens (keguguran mengancam). Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya. Abortus Incipiens (keguguran berlangsung). Abortus ini sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. Abortus Incompletus (keguguran tidak lengkap). Sebagian dari buah kehamilan telah Berat Anak < 500 gram 500 ­ 1000 gram 1000 ­ 2500 gram > 2500 gram (sampai 4500 gram) Istilah Abortus Partus Immaturus Partus Praematurus Partus A'terme (Maturus) Partus Serotinus

dilahirkan tapi sebagian (biasanya jaringan placenta) masih tertinggal di dalam rahim. Abortus Completus (keguguran lengkap). Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap. Missed Abortion (keguguran tertunda). Missed abortion ialah keadaan di mana janin telah mati sebelum minggu ke 22, tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati. Abortus habitualis (keguguran berulang ­ ulang). Ialah abortus yang telah berulang dan berturut ­ turut terjadi ; sekurang ­ kurangnya 3 x berturut ­ turut. Abortus Spontan. Kejadian : 10 ­ 20% dari semua kehamilan (Amerika). Sebab ­ sebab : pada hamil muda abortus selalu didahului oleh kematian janin. Kematian janin ini dapat disebabkan oleh : 1. Kelainan telur (kelainan chromosom ; trisomi, polyploidi), 2. Penyakit ibu (infeksi akut, kelainan endokrin, trauma, kelainan alat kandungan). Pada kehamilan yang lebih tua anak sering lahir masih hidup maka rupa ­ rupanya sebab ­ sebabnya juga berlainan. Kelainan Telur : Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedemikian rupa hingga janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen, seperti kelainan chromosom (trisomi dan polyploidi). Kelainan pertumbuhan selain oleh kelainan benih dapat juga disebabkan oleh kelainan lingkungan atau faktor exogen (virus, radiasi, zat kimia). Penyakit Ibu : Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus misalnya : 1. Infeksi akut yang berat : pneumoni, typhus dll, dapat menyebabkan abortus atau partus praematurus. Janin dapat meninggal oleh toxin ­ toxin atau karena penyerbuan kuman ­ kuman sendiri. Akan tetapi keadaaan ibu yang toxis dapat menyebabkan abortus walaupun janin hidup. 2. Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau dysfungsi kelenjar gondok. 3. Trauma misalnya laparotomi atau kecelakaan dapat menimbulkan abortus. 4. Kelainan alat kandungan : 4.1. Hypoplasia uteri. 4.2. Tumor uterus. 4.3. Cervix yang pendek. 4.4. Retroflexio uteri incarcerata. 4.5. Kelainan endometrium dapat menimbulkan abortus. Patologi : Kelainan yang terpenting ialah pendarahan dalam decidua dan nekrose sekitarnya. Karena pendarahan ini ovum terlepas sebagian atau seluruhnya dan berfungsi sebagai benda asing yang menimbulkan kontraksi. Kontraksi ini akhirnya mengeluarkan isi rahim. Sebelum minggu ke 10 telur biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan karena sebelum minggu ke 10 villi chorialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam decidua, hingga telur mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke 10 ­ 12 chorion tumbuh dengan cepat dan hubungan villi chorialis dengan decidua makin erat, hingga mulai saat tersebut sisa ­ sisa chorion (placenta) tertinggal kalau terjadi abortus.

Kadang ­ kadang telur yang lahir dengan abortus mempunyai bentuk yang istimewa, misalnya : 1. Telur kosong (blighted ovum) yang berbentuk kantong amnion berisi air tuban tanpa janin, 2. Mola cruenta adalah telur yang dibungkus oleh darah kental. Mola cruenta terbentuk, kalau abortus terjadi dengan lambat laun hingga darah berkesempatan membeku antara decidua dan chorion. Kalau darah beku ini sudah seperti daging disebut juga molacarnosa. 3. Mola tuberosa ialah telur yang memperlihatkan benjolan ­ benjolan disebabkan haematom ­ haematom antara amnion dan chorion. 4. Nasib janin yang mati bermacam ­ macam, kalau masih sangat kecil dapat diabsorbsi dan hilang. Kalau janin sudah agak besar, maka cairan amnion diabsorbsi hingga janin tertekan : foetus coimpressus. Kadang ­ kadang janin menjadi kering, mengalami mummifikasi hingga menyerupai perkamen : foetus papyraceus. Foetus popyraceus lebih sering terdapat pada kehamilan kembar : pada abortus biasa, jarang terjadi. Mungkin juga janin yang sudah agak besar mengalami macerasi. KLINIK ABORTUS. Abortus Imminens. Jika seseorang wanita yang hamil muda mengeluarkan darah sedikit per vaginum maka ia diduga menderita abortus immenens. Pendarahan yang sedikit pada hamil muda mungkin juga disebabkan oleh hal ­ hal lain dari abortus, misalnya ; 1. Placental sign (gejala placenta) ialah pendarahan dari pembuluh ­ pembuluh darah sekitar placenta. Gejala ini selalu terdapat pada kera Macacus Rhesus yang hamil. 2. Erosio portionis juga mudah berdarah pada kehamilan. 3. Polyp. Sebab No. 2 dan No. 3. dapat kita bedakan dengan pemeriksaan inspeculo tapi sebab No. 1 tidak dapat dibedakan. Secara ikhtisar abortus imminens kita diagnosa kalau pada kehamilan muda terdapat : 1. Pendarahan sedikit, 2. Nyeri memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali, 3. Pada pemeriksaan dalam belum ada pembukaan, 4. Tidak diketemukan kelainan pada cervix. Pada abortus imminens masih ada harapan bahwa kehamilan masih berlangsung terus. Abortus Incipiens. Tanda ­ tandanya ialah : 1. Pendarahan banyak, kadang ­ kadang keluar gumpalan darah. 2. Nyeri karena kontraksi rahim kuat. 3. Akibat kontraksi rahim terjadi pembukaan. Abortus incipiens biasanya berakhir dengan abortus. Abortus Incompletus. Jika sebagian telur lahir tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan placenta) maka kita hadapai abortus incompletus.

Gejala ­ gejala yang terpenting ialah : 1. Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, pendarahan berlangsung terus, 2. Sering cervix tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap corpus allienum, maka uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi. Tetapi kalau keadaan ini diberikan lama, cervix akan menutup kembali. Abortus Completus. Kalau telur lahir dengan lengkap maka abortus disebut komplit. Maka hendaknya pada abortus kita selalu periksa jaringan yang dilahirkan. Pada abortus completus pendarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat ­ lambatnya dalam 10 hari pendarahan berhenti sama sekali, karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Cervix juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10 hari setelah abortus masih ada pendarahan juga, maka abortus incompletus atau endometritis post abortum harus dipikirkan. Abortus Febrilis. Ialah abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai infeksi. 1. Demam kadang ­ kadang menggigil, 2. Iochia berbau busuk. Abortus ini dapat menimbulkan endotoxin shock. Missed Abortion. Kalau janin muda yang telah mati tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih, maka keadaan itu disebut missed abortion. Sekitar kematian janin kadang ­ kadang ada pendarahan per vagina sedikit hingga menimbulkan gambaran abortus imminens. Gejala ­ gejala selanjutnya ialah : 1. Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorpsi air tuban dan macerasi janin, 2. Buah dada mengecil kembali, 3. Gejala ­ gejala lain yang penting tidak ada, hanya ammenorhoe berlangsung terus. Biasanya keadaan ini berakhir dengan abortus yang spontan selambat ­ lambatnya 6 minggu setelah janin mati. Kalau janin mati pada kehamilan yang masih muda sekali maka janin lebih cepat dikeluarkan, sebaliknya kalau kehamilan lebih lanjut retensi janin lebih lama. Sebagai batas maksimal retensi janin diambil 2 bulan : kalau dalam 2 bulan belum lahir disebut missed abortion (abortus tertunda). Pengobatan. Abortus Imminens. Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat berlangsung terus, pasien disuruh : 1. Istirahat rebah, 2. Diberi sedativa, misalnya luminal, codein atau morphin, 3. Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan untuk mengurangi kerentanan otot- otot rahim (misalnya gesranon), Istirahat rebah tidak usah melebihi 48 jam. Kalau telur masih baik. Pendarahan dalam waktu ini akan berhenti. Kalau pendarahan tidak berhenti dalam 48 jam maka kemungkinan besar terjadi abortus

dan istirahat rebah hanya menunda abortus tersebut. Jika pendarahan berhenti, pasien harus menjaga diri. Jangan banyak bekerja dan coitus dilarang selama 2 minggu. Jika pendarahan disebabkan erosi, maka erosi diberi nitras argentil 5 ­ 10%; kalau sebabnya polyp, maka polyp diputar dengan cunam sampai tangkainya terputus. Selanjutnya kita perhatikan apakah janin masih hidup dengan menentukan apakah rahim terus membesar. Jika janin telah mati, maka rahim tidak membesar dan reaksi Galli Mainini menjadi negatif, tapi baiknya dilakukan sekurang ­ kurangnya 2 x berturut ­ turut. Baru kalau Galli Mainini 2 x berturut ­ turut negatif ada artinya. Abortus Incipiens. Karena boleh dikatakan pasti terjadi abortus, maka pengobatan berlainan dengan pengobatan abortus imminens. Untuk mempercepat pengosongan rahim diberi axytocin 2 ½ satuan tiap ½ jam sebanyak 6 kali. Untuk mengurangi nyeri karena his boleh diberi sedativa. Jika pitocin tidak berhasil, dapat dilakukan curettage asal pembukaan cukup besar. Abortus Incomletus. Abortus incompletus harus segera dibersihkan dengan curettage atau secara digital. Selama masih ada sisa ­ sisa placenta akan terus terjadi pendarahan. Abortus Febrilis. Abortus Incompetus yang telah disertai infeksi tidak segera dicuret, kecuali kalau pendarahan banyak sekali. Jika abortus febrilis dicuret, pagar leucocyt yang menghalangi invasi kuman rusak dan pembuluh ­ pembuluh darah terbuka, hingga kuman dapat memasuki pembuluh darah tersebut dan terjadilah sepsis. Sedapat ­ dapatnya penderita diberi antibiotica dulu, curretage baru dikerjakan setelah suhu tenang selama 3 hari. Missed Abortion. Dulu sikap kita menghadapi missed abortion konservatif mengingat : 1. Kesukaran teknik dalam melakukan dilatasi dan curattage, 2. Kemungkinan infeksi besar. Sekarang kecenderungan untuk menyelesaikan missed abortion lebih aktif karena adanya axytocin dan antibiotica. Segera setelah kematian janin dapat dipastikan, diberi pitocin misalnya 10 satuan dalam 500 cc glucose. Kalau tidak terjadi abortus dengan pitocin infus ini, sekurang ­ kurangnya terjai pembukaan yang memudahkan curettage. Dilatasi dapat juga dihasilkan dengan pemasangan laminaria stift. Abortus Habitualis. Yang dinamakan abortus habitualis ialah keadaan dimana telah terjadi 3 x abortus yang berturut ­ turut. Karena abortus ini berulang ­ ulang dan berturut ­ turut, etiologinya bersifat tetap dan terapinya ditujukan terhadap sebab ini. Sebab ­ sebab abortus habitualis dapat dibagi dalam 2 golongan. 1. Sel benih yang kurang baik ; pada saat ini kita belum tahu bagaimana mengobatinya, 2. Lingkungan yang tidak baik ; hal ­ hal yang dapat mempengaruhi lingkungan ialah : 2.1. Dysfungsi glandula Thyreoidea : hypofungsi kelenjar ini dapat diobati dengan pemberian thyreoid hormon.

2.2. Kekurangan hormon ­ hormon corpus luteum atau placenta. Kekurangan hormon diatasi dengan terapi substitusi misalnya sering diberi progesteron. 2.3. Defisiensi anatomis dari uterus yang kadang ­ kadang dapat koreksi secara operatif : uterus duplex. 2.4. Cervix yang incompetent : cervixs yang incompetent sudah membuka pada bulan 4 ke atas : akibatnya ketuban mudah pecah dan terjadi abortus. Cervix dapat menjadi incompetent setelah partio amputasi atau karena robekan cervix yang panjang. Abortus karena cervix yang incompetent dapat dicegah dengan operasi Shirodkar atau Mac Donald. 2.5. Hypertensia essentialis. 2.6. Golongan darah suami istri yang tidak cocok, sistem ABO atau faktor Rh. 2.7. Toxoplasmosis. Penyulit Abortus. Kebanyakan penyulit dari abortus disebabkan abortus criminalis walaupun dapat timbul juga pada abortus yang spontan. 1. Pendarahan yang hebat. 2. Infeksi kadang ­ kadang sampai terjadi sepele, infeksi dari tuba dapat menimbulkan kemandulan. 3. Renal failure (faal ginjal rusak) ; disebabkan karena infeksi dan shock. Pada pasien dengan pembatasan cairan dan pengobatan infeksi. 4. Shock bakteriil : terjadi shock yang berat, rupa ­ rupanya oleh toxin ­ toxin. Pengobatannya ialah dengan pemberian antibiotica, cairan, corticosteroid dan heparin. 5. Perforasi : Ini terjadi waktu curettage atau karena abortus criminalis. 2. PARTUS PRAEMATURUS Partus praematurus merupakan sebab kematian neonatal yang terpenting. Kejadian ± 7% dari semua kelahiran hidup. Rupa ­ rupanya ada pengaruh ekonomis karena partus praematurus lebih sering terjadi pada golongan dengan penghasilan yang rendah. Sebab ­ sebab yang terpenting ialah : 1. Hypertensio essentialis. 2. Solutio placentae. 3. Placenta Praevia. 4. Syphilis. 5. Preeklampsi. 6. Kehamilan kembar. 7. Kelainan Congenital. 8. Bakteriuria. 9. Penyakit Ibu dan lain ­ lain. Pimpinan partus praematurus : Tujuan ialah untuk menghindarkan trauma bagi anak yang masih lemah : 1. Partus tidak boleh berlangsung terlalu lama tapi sebaliknya jangan pula terlalu cepat. 2. Jangan memecahkan ketuban sebelum pembukaan lengkap. 3. Buatlah episiotomi medialis. 4. Kalau persalinan perlu diselesaikan, pilihkah forceps di atas ekstraksi vakum, 5. Jangan mempergunakan narcose.

6. Tali pusat secepat mungkin digunting untuk menghindarkan icterus neonatorum yang berat. 3. PARTUS SEROTINUS Yang dinamakan partus serotinus ialah persalinan setelah kehamilan 42 minggu atau lebih. Tanda ­ tanda serotinus : Tak adanya lanugo, kuku panjang, rambut kepala banyak, kulit berkeriput, mengelupas sering berwarna kekuningan, kadang ­ kadang anak agak kurus, air tuban sedikit dan mengandung meconium. Bahaya yang dikemukakan ialah : 1. Kemungkinan kematian anak di dalam rahim tambah. 2. Besarnya anak yang berlebihan dapat menimbulkan kesukaran pada persalinan. Sebaiknya anak dapat kecil disebabkan penurunan fungsi placenta. Sekarang dianggap bahwa bahaya ­ bahaya tersebut di atas terlalu dibesar ­ besarkan. Terutama di Indonesia diagnosa kehamilan serotin sangat sulit karena kebanyakn ibu tidak mengetahui tanggal haid ang terakhir dengan tepat. Diagnosa atas dasar besarnya anak sering mengecewakan. Diagnosa hanya dapat dibuat kalau pasien diperiksa sejak permulaan kehamilan. Di samping itu amnioskopi dapat membantu menentukan sikap kita (air tuban sedikit, adanya meconium). Kalau kehamilan serotin dijadikan indikasi untuk induksi persalinan (persalinan anjuran) maka syaratnya ialah bahwa cervix harus matang. Indikasi persalinan tidak boleh dilakukan pada cervix yang belum matang karena hasilnya kurang baik. Kehamilan serotin merupakan indikasi untuk Sectio Caesarea pada primitua terutama kalau umurnya lebih dari 40 tahun. Malahan sering sectio sudah dilakukan pada minggu ke 41. Partus serotinus sering terjadi pada anencephalus.

PSM Group 1724

(Clinic of Health Terapy) Mau Curhat / Konsultasi GRATIS (OPEN 24 Jam / 24 Hours) d./a. : GRAHA GAYATRI Jl. Dharmahusada Dalam No. 18 ­ 20, Surabaya 60132 ­ East Java - INDONESIA d./l. : 031.33.1724.97 / 031.60.515.610 Fax. : 031.867.32.97 CCI. : 08880.300.6468 Email GO : [email protected] Email Info : [email protected] Email CCI : [email protected] WebBlogs : http://psmgroup.blogspot.com

Information

7 pages

Find more like this

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

630754