Read Microsoft Word - JBM-Januari KOMPLIT-.doc text version

BISNIS & MANAJEMEN

Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 3 No.2, Januari 2007 ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. Ahmad Faisol KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Novita Tresiana Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Rinaldi Bursan, Susni Herwanti PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan

JURNAL BISNIS dan MANAJEMEN Bandarlampung Januari 2007 ISSN 1411 - 9366

Jurnal

Vol. 3

No.2

Hal. 129 -257

Volume 3 No. 2, Januari 2007

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

TIM REDAKSI

Penanggung Jawab Pembina : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc. (Pembantu Rektor I Universitas Lampung) : Dr. John Hendri, M.S. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung) : Toto Gunarto, S.E., M.S. (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung) : Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung : Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si. : Dr. Wispandono, S.E.. S.Si. Iban Sofyan, S.E., M.Si. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M. Asep Unik, S.E., M.Si. M. Syatibi Ch., S.E. : : : : : : : Habibullah Djimat, S.E., M.Si. Rinaldi Bursan, S.E., M.Si. Muslimin, S.E. Aida Sari, S.E., M.Si. Nasir Teguh Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1 Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145 Telp. (0721)704622

Pemimpin Umum Dewan Editor Ketua Anggota

Redaksi Pelaksana Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Tata Usaha dan Kearsipan Distribusi dan Sirkulasi Alamat Redaksi

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Volume 3 No. 2, Januari 2007

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI

ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. Ahmad Faisol .............................................................................. KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Novita Tresiana ................................................................................................... Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Rinaldi Bursan, Susni Herwanti ...................................................... PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty ....................................................................... PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari ..........................................................................................

129

171

187

205

225

Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan .....................................................................................

233

ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk.

Ahmad Faisol 1

ABSTRAK Bank Muamalat Indonesia (BMI) merupakan bank syariah pertama di Indonesia yang tunduk pada peraturan Bank Indonesia (BI). Sebagaimana Bank pada umumnya, BMI menjalankan operasionalnya dalam usaha untuk memperoleh laba di bawah perlindungan dan pembinaan Bank Indonesia yang beroperasi secara syariah, memiliki prinsip-prinsip yang harus ditaati, yaitu larangan untuk menggunakan instrumen bunga. Melalui alat analisis rasio liquiditas, rentabilitas, solvabilitas, diperoleh hasil bahwa untuk Rasio Liquiditas, yang diwakili oleh rasio Liquiditas Wajib Minimum atau Reserve Requirement (RR), diperoleh hasil pada tahun 2004, 2005, dan 2006 sebesar 7,85%, 16,48%, dan 17,21%, yang berarti telah memenuhi standar yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 5%, sehingga rasio Reserve Requirement dapat dikatakan baik. Rasio Rentabilitas yang diwakili rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE), diperoleh ROA tahun 2004, 2005, dan 2006, sebesar 0,93%, 1,86%, dan 1,93%, sedangkan ROE tahun 2004, 2005, dan 2006 diperoleh hasil 14,26%, 18,09%, dan 20,49%, yang berarti kedua rasio tersebut meningkat setiap tahunnya dan mengalami kecenderungan membaik. Rasio Solvabilitas diwakili oleh rasio kecukupan modal atau Capital Adquecy Ratio (CAR) memperlihatkan pada tahun 2004, 2005, dan 2006, sebesar 14,58%, 47,58%, dan 40,90%, yang berarti telah memenuhi standar Bank Indonesia sebesar 8% sehingga dapat dikatakan baik. Melalui perhitungan di atas dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia (BMI) belum baik adalah tidak terbukti. Keys word : analisis rasio, Bank Indonesia, syariah PENDAHULUAN Latar Belakang

1

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung

Perlombaan antar bank dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit oleh bank-bank komersil, dalam prakteknya banyak yang kurang berhati-hati ataupun menyimpang dari aturanaturan yang berlaku dalam dunia bisnis perbankan seperti tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking) dengan memberikan kredit tak terbatas pada nasbah satu grup dengan perbankan tersebut, sehingga seringkali merugikan para deposan dan investor serta berdampak pada perekonomian negara, yang diakibatkan kecenderungan meningkatnya kredit bermasalah/ macet. Akibatnya pada pertengahan 1997 industri perbankan akhirnya terpuruk sebagai imbas dari terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Penggunaan bunga ini, meskipun awalnya mampu mendorong bergeraknya sektor perbankan secara dinamis, namun telah menjadikan perekonomian Indonesia mengalami efek pertumbuhan semu (buble growth effect), yang menyebabkan beberapa Bank konvensional akhirnya kritis (collapse) dan tidak layak beroperasi, sehingga pada 13 Maret 1999 dunia perbankan harus mengalami kejadian yang menyedihkan dengan dikeluarkannya keputusan pemerintah yang melakukan tindakan membekukan/meliquidasi 38 Bank (BBO), mengambil alih manajemen 7 Bank (BTO), dan merekapitulasi 9 Bank. (Lukman Dendawijaya, 2001 : 194). Keberadaan bank syariah di tengah-tengah perbankan konvensional adalah untuk menawarkan system perbankan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan layanan jasa perbankan tanpa harus khawatir atas persoalan bunga (riba). Bank syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis yang terkait. Prinsip utama yang diikuti oleh bank syariah adalah: a. Larangan riba (bunga) dalam berbagai bentuk tradisi.

b. Melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan perolehan pendapatan dan keuntungan yang sah (revenue sharing atau profit sharing). c. Memberikan zakat sebagai salah satu instrumen dalam perhitungan pembagian keuntungan dan laporan keuangan. (Zainul Arifin, 2002 : 3)

Pemberlakuan UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan telah memberi kesempatan luas untuk pengembangan jaringan perbankan Syariah. Selanjutnya pemberlakuan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, menegaskan bahwa BI mempersiapkan perangkat peraturan dan fasilitas penunjang yang mendukung operasional bank syariah. Kedua undang-undang tersebut menjadi dasar hukum penerapan dual banking 130

system di Indonesia. Dual Banking system yang dimaksud adalah terselenggaranya dua system perbankan (non syariah dan syariah) secara berdampingan, yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bank syariah dalam operasionalnya tetap mengadopsi pola pengoperasian dan prosedur dari bank konvensional selama hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariahk. Jika terdapat pola pengoperasian yang bertentangan, maka bank syariah akan membentuk prosedur pengoperasian tersendiri guna menyesuaikan aktivitas perbankan mereka. Untuk itu bank syariah membentuk Dewan Syariah yang berfungsi untuk memberikan masukan (advise) kepada perbankan Syariah guna memastikan bahwa bank tidak terlibat Dallam unsur-unsur yang tidak disetujui oleh Islam. PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk, didirikan pada tahun 1991 dan memulai kegiatan operasionalnya pada bulan Mei 1992. Pendirian Bank Muamalat diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kemudian didukung oleh sekelompok pengusaha dan cendekiawan muslim. PT Bank Muamalat (BMI), Tbk merupakan bank pertama di Indonesia yang mengoperasikan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Sebagai suatu bank, BMI tetap melaksanakan operasionalnya sama dengan bank-bank konvensional lainnya selama tidak bertentangan dengan syariah. BMI tidak terlepas dari usaha-usaha untuk mencapai keuntungan yang akan dibagi hasilkan kepada para nasabahnya. Selain itu, BMI juga tetap harus berpegang pada prinsip prudential Banking, yaitu prinsip kehati-hatian Bank dalam mengoperasikan usahanya agar tetap dalam kondisi kinerja yang baik dan memenuhi kriteria bank sehat. Bank syariah dalam memenuhi kecukupan modalnya menghimpun modal dan dana-dana pihak ketiga, sehingga masuk kedalam rekening modalnya. Zainul Arifin, (2002 : 54-55 dan 162-163) menggolongkan modal bank syariah sebagai berikut: a. Modal Inti, yaitu modal milik sendiri yang diperoleh dari modal disetor oleh pemegang saham, cadaangan yaitu sebagian laba bank yang tidak dibagi yang disisihkan untuk menutup timbulnya resiko kerugian di kemudian hari, dan laba ditahan yaitu sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham, tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui rapat umum pemegang saham) diputuskan untuk ditanam kembali pada Bank. Modal inti ini terdiri atas: 1. Modal Disetor, yaitu modal yang disetor secara kolektif oleh pemilik (bisa dalam bentuk kepemilikan saham).

131

2.

Agio Saham, yaitu selisih lebih dari harga saham dengan nilai nominal saham, apabila terjadi selisih negatif maka selisih tersebut menjadi pengurang. Modal Sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham atau uang oleh pihak lain, termasuk selisih nilai yang tercatat dengan harga apabila saham dijual kembali. Cadangan Umum, yaitu caadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan. Cadangan Tujuan, yaitu bagian laba setelah pajak yang disisihkan untuk ttujuan tertentu atas ppersetujuan RUPS Laba ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah pajak yang RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan. Laba Tahun Lalu, yaitu laba bersih tahun lalu setelah pajak yang belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS. Penggunaannya sebagai modal inti hanya 50% dari saldo yang ada. Apabila terdaapat keruugian maka 100% menjadi pengurang modal inti. Laba Tahun Berjalan, yaitu laba sebelum pajak yang diperoleh dalam tahun berjalan. Laba yang diperhitungkan hanya 50% sebagai modal inti. Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan.

3.

4. 5. 6. 7.

8.

9.

10. Bila dalam pembukuan Bank terdapat Goodwill, maka jumlah modal inti harus dikurangkan dengan nilai Goodwill tersebut. Bank syariah dapat mengikuti sepenuhnya pengkatagorian unsur-unsur tersebut di atas sebagai modal inti, karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. b. Kuasi Ekuitas (Mudharabah Account), dana-dana yang dihimpun ke dalam rekening bagi hasil atas dasar prinsip akad bagi hasil (mudharabah). Akan tetapi karena rekening ini hanya dapat menanggung resiko atas aktiva yang ibiayai dari rekening bagi hasil itu sendiri, dan juga pemillik rekening bagi hasil dapat menolak menanggung resiko atas aktiva yang dibaiayainya apabila terbukti kerugian yang timbul disebabkan karena salah urus, kelalaian dan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen bank, maka 132

sumber dana ini terkadang tidak dapat sepenuhnnya berperan dalam fungsi permodalan Bank. c. Modal Pelengkap (jika ada). Modal pelengkap terdiri atas cadangancadangan yang dibentuk bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. Secara terinci modal pelengkap dapat berupa: 1. Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan, yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan. Hal ini dimaksudkan untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif. Modal pinjaman, yang mempunyai ciri-ciri: 4. Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan dipersamakan dengan modal dan telah di bayar penuh. Tidak dapat dilunasi atas inisiatif pemilik, tanpa persetujuan BI Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal memikul kerugian Bank Pembayaran bunga dapat ditangguhkan bila Bank dalam keadaan rugi.

2.

3.

Pinjaman Subordinasi yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Ada perjanjian tertulis antara pemberi pinjaman dengan Bank Mendapat persetujuan dari BI Tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan Minimal berjangka waktu 5 tahun Pelunasan pinjaman harus dengan persetujuan BI Hak tagih dalam hal terjadi liquidasi berlaku paling akhir (kedudukannya sama dengan modal) Bank syariah dalam menghimpun dana selalu berusaha berhati-hati agar tidak tercampur dengan hal-hal yang dianggap terlarang 133

(haram), maka penggunaan modal pelengkap, khususnya modal pinjaman dan subordinasi karena menggunakan bunga, pada bank syariah sedapat mungkin dihindari. Perkembangan jumlah modal yang mampu dihimpun oleh Bank Muamalat Indonesia tahun 2004-2006 dapat dilihat pada tabel 1. Table 1. Perkembangan Jumlah Modal Bank Muamalat Indonesia, Berdasarkan Komponen Pembentukan Modal Inti Tahun 2004-2006 Jumlah Setiap Komponen (Dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 269.694 492.791 492.791 806 132.498 132.498 14.769 24.277 45.560

Keterangan

Modal Disetor Agio Saham Cadangan Umum Modal Sumbangan Rugi tahun-tahun lalu (100%) (5.055) Laba Tahun Berjalan (50%) 24.178 52.719 53.075 Jumlah Modal Inti 309.447 697.230 723.924 Sumber: Laporan Keuangan Bank Muamalat yang dipublikasikan lewat internet, 2007. Selain total modal yang mampu dihimpun oleh Bank, faktor lain yang ikut diperhitungkan dalam memperhitungkan rasio kecukupan modal adalah besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) yang dibiayai dari modal yang diihimpun tersebut. Besarnya ATMR yang dimiliki oleh BMI, dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Besarnya ATMR Bank Muamalat Indonesia, yang Terdiri Atas ATMR Neraca Tahun 2004-2006

NOMINAL (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 73.026 89.442 133.340 263.998 287.122 382.108 0 0 0 545.000 51.255 3.993.587 6.802 87.905 662.000 7.908 2.678.590 6.677 104.399 915.000 7.072 3.232.781 6.677 126.308 BOBOT RESIKO 0% 0% 0% 0% 20% NILAI ATMR (dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10.251 0 1.581,6 0 1.414,4

KETERANGAN Kas Giro Pada BI Tagihan pada Bank lain Surat Berharga (SBI) Kredit kepada pihak terkait Kredit kepada pihak lain* Penyertaan* Aktiva tetap

50% 1.996.793,5 50% 100% 3.401 87.905

1.339.295 1.616.390,5 3.338,5 104.399 3.338,5 126.308

134

KETERANGAN Aktiva lainnya

NOMINAL (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 24.299 16.746 22.625 TOTAL ATMR

BOBOT RESIKO 100%

NILAI ATMR (dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 24.299 16.746 22.625 2.122.649,5 1.465.360,1 1.770.076,4

Ket* = dibiayai oleh rekening mudharabah Sumber : Laporan Bank Muamalat yang dipublikasikan melalui situs internet Bank Indonesia, 2007. Nilai ATMR itu diperoleh dengan cara mengalikan nominal ATMR dengan bobot resiko. Penilaian ATMR tersebut di atas merupakan perhitungan ATMR dengan menggunakan metodelogi Basle commite, dengan beberapa penyesuaian sehingga sesuai dengan prinsip dan operasional Bank Muamalat Indonesia. Diantara penyesuaian itu antara lain pada perhitungan di atas ATMR yang digunakan adalah ATMR neraca ditambah dengan ATMR administratif, yang terdiri dari: jaminan Letter of Credit (L/C), fasilitas kredit yang belum digunakan dengan menggunakan jaminan surat berharga, kewajiban kembali membeli aktiva bank dengan menggunakan kontrak pembelian kembali (repurchase agreement), dan posisi netto kontrak berjangka pasar uang. Tidak digunakannya ATMR administratif dalam perhitungan disebabkan karena sebagian besar ATMR administratif tersebut di atas masih menggunakan instrumen bunga dan untung-untungan (gharar), sedangkan Bank Muamalat berusaha sedapat mungkin untuk menghindari penggunaan bunga dan gharar dalam operasionalnya. Selain itu, tidak diperhitungkannya instrumen L/C dalam perhitungan ATMR administratif, karena padaa saat itu masalah L/C masih dalam penilaian oleh Dewan Syariah Bank Muamalat Indonesia, untuk ditentukan boleh atau tidaknya instrumen itu digunakan. Penyesuaian yang lain adalah dalam hal penyediaan kredit dan penyertaan. Pada dua hal ini, kredit dan penyertaan dilakukan dengan menggunakan dana dari rekening mudharabah ditambah dengan dana dari modal inti. Menurut Zainal Arifin (2001:171), aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil (rekening mudharabah) dan modal inti, maka bobot resikonya 50% dari yang seharusnya 100%. Tabel 3. Perkembangan Posisi Keuangan Bank Muamalat Indonesia Tahun 2004-2006 (Dalam Milyar Rupiah)

Instrumen Total Aktiva Total Dana Pihak Ketiga Total modal disetor Total Ekuitas 2004 5.209.804 4.294.755 269.694 339.113 2005 7.427.047 2.285.459 492.791 763.415 2006 8.370.595 2.994.859 492.791 786.441

135

Instrumen Laba Operasional Laba (rugi) bersih Total pembiayaan yang diberikan

2004 74.631 48.355 4.182.224

2005 159.183 138.126 3.239.853

2006 174.771 161.152 2.686.498

Sumber: Kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia, Tbk yang dipublikasikan melalui internet, 2007 Faktor lain, yang juga digunakan dalam perhitungan kinerja Bank, adalah seberapa jauh Bank mampu mengelola alat-alat liquid yang dimilikinya, berkaitan dengan kemampuan Bank untuk membayar hutang-hutang jangka pendek dengan alat-alat liquid tersebut. Selain itu perlu juga diperhatikan kemampuan bank dalam membentuk giro wajib minimum yang dipelihara oleh Bank pada Bank Indonesia (Reserve Requirement), dimana giro wajib minimum ini diperoleh Bank dari penyisihan dana simpanan Pihak Ketiga. Besarnya alat-alat liquid yang mampu dihimpun oleh Bank Muamalat Indonesia, yang terdiri kas Bank dan Giro pada Bank Indonesia, dari tahun 2004-2006 dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Jumlah Alat Liquid Bank Muamalat Indonesia, Tahun 2004-2006

Alat-alat Liquid 2004 (dalam Jutaan Rupiah) 2005 (dalam Jutaan Rupiah) 2006 (dalam Jutaan Rupiah)

Kas Giro pada BI

Jumlah

73.026 263.998

337.024

89.442 287.122

376.564

133.340 382.108

515.448

Sumber: Laporan keuangan Bank Muamalat Indonesia yang dipublikasikan lewat internet, 2007 Tabel 5. Perkembangan Total Hutang Bank Muamalat Indonesia, Tahun 2004-2006 (Dalam Jutaan Rupiah)

Jenis Hutang Kewajiban Segera Simpanan: Giro Wadiah Tabungan Mudharabah Deposito berjangka Jumlah Simpanan Simpanan dari Bank lain Pinjaman yang diterima Estimasi kerugian komitmen kontinjensi Hutang Pajak Kewajiban lain-lain Jumlah Kewajiban 2004 33.445 413.683 1.187.269 2.693.803 4.294.755 31.098 215.267 629 24.787 4.599.981 2005 70.361 679.248 1.606.211 2.285.459 380.721 201.298 654 40.299 2.978.792 2006 60.903 514.102 2.480.757 2.994.859 214.458 179.581 2.776 74.870 3.527.447

dan

Sumber: Laporan Keuangan Bank Muamalat Indonesia yang dipublikasikan melalui internet, 2007. 136

Segala kriteria penilaian kinerja Bank pada dasarnya berpegang pada prinsip prudential Banking bagi Bank umum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku pengawas dan pembina bank nasional yang menetapkan ketentuan tentang penilaian tingkat kesehatan Bank dengan surat edaran BI no. 26/BPPP/1993 tanggal 29 Mei 1993, yang kemudian disempurnakan melalui keputusan Direksi BI No. 31/11/Kep/Dir tanggal 30 April 1997. Didasarkan pada peraturan tersebut maka langkah untuk menilai performance atau kinerja suatu Bank dapat menggunakan alat-alat anaalisa sebagai berikut: a. Analisa Rasio Liquiditas, yaitu analisa yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo.

b. Analisa Rasio Solvabilitas, yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan Bank untuk memenuhi kewajiban jika terjadi liquidasi Bank. c. Analisa Rasio Rentabilitas adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha atau profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang bersangkutan. (Lukman Dendawijaya, 2001 : 116 ­ 124).

Tujuan penelitian Berdasarkan pada latar belakang diatas, terlihat bahwa terdapat perbedaan penetapan ATMR menurut teori dan menurut ketentuan Bank Indonesia. Pada Tabel 2 tentang perhitungan ATMR, menurut teori pemberian bobot resiko ATMR pada rekening-rekening kredit kepada pihak lain dan penyertaan dalam bank syariah adalah sebesar 50%, karena dibiayai oleh rekening simpanan mudhaarabah. Akan tetapi dalam kenyataannya Bank Indonesia masih menerapkan bobot resiko 100% pada rekening-rekening tersebut, sehingga memperbesar tanggungan resiko yang dihitung oleh Bank Muamalat. Perbedaan perhitungan ini dapat memperkecil angka rasio kecukupan modal yang dimiliki oleh bank syariah, yang berarti bank akan cenderung tidak baik kinerjanya. Dalam menghimpun modal, Bank Muamalat mengusahakan untuk tidak mengimpun dari modal-modal pinjaman atau subordinasi yang menggunakan bunga. TELAAH KEPUSTAKAAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Perbankan syariah dikembangkan atas dasar yang tidak mengijinkan pemisahan antara masalah dunia dan masalah agama. Dasar tersebut mengharuskan kepatuhan terhadap syariah sebagai dasar bagi semua aspek kehidupan. Dasar 137

itu tidak hanya mencakup ibadah saja, tetapi juga meliputi transaksi bisnis yang harus sesuai dengan prinsip syariah. Misalnya, salah satu aspek yang paling menonjol dari prinsip-prinsip syariah adalah pelarangan riba dan persepsi mengenai uang sebagai alat tukar dan sarana untuk membayar kewajiban keuangan, bukan komoditas. Uang berdasarkan prinsip syariah tidak mempunyai sisi time value terlepas dari nilai-nilai barang yang dipertukarkan melalui penggunaan uang, sesuai dengan syariah. Oleh karena itu bank syariah didirikan berdasarkan konsep Islam mengenai "keuntungan adalah bagi siapa yang menanggung resiko." Beradasarkan konsep ini, bank syariah menolak (mengusahakan tidak menggunakan) penggunaan bunga dalam setiap transaksinya. Adiwarman Karim ("Modul: Warkshop on Islamic banking", 2003 : 6) menggolongkan transaksi-transaksi yang saat ini biasa dilakukan oleh bank syariah terdiri atas: a. Natural incertaintycontracts, yaitu kontrak atau akad dalam bisnis perbankan yang tidak memberikan kepastian pendapatan (return), baik dari segi jumlah (amount) maupun waktunya (time). Tingkat return bisa positif, negative, atau nol. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrakkontrak investasi atau Musyarakah (partnership, project financing participation), yaitu akad dua pihak atau lebih untuk suatu usaha dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai perjanjian (M. Syafei Antoni, 2001 : 90). Jenis kontrak Musyarakah dalam bank syariah terbagi atas: (1) Musyarakah Mufawadhah, yaitu jenis musyarakah dimana bank memberikan pembiayaan sebesar 50% dari jumlah modal yang dibutuhkan nasabah, dan bank turut serta dalam mengelola (manajemen) usaha, sehingga setiap kerugian dan keuntungan akan dibagi sama rata. (2) Musyarakah Inan, yaitu jenis musyarakah, dimana bank memberikan pembiayaan kepada suatu proyek nasabah, namun besarnya pembiayaan tidak tepat 50% dari kebutuhan dana, akan tetapi bisa melebihi atau malah kurang tergantung pada kebutuhan nasabah. Biasanya Bank memberikan pembiayaan kurang dari 50%, sehingga besarnya proporsi pembagian keuntungan tergantung pada kesepakatan dan pertanggungan kerugian tergantung pada proporsi modal yang disetor bank.

138

(3) Musyarakah Mudharabah. Jenis kontrak inilah yang banyak dilakukan oleh bank syariah, baik dalam hal pembiayaan. Secara teknis, mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shohibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola (mudharib). Keuntungan usaha secara mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola (Syafi'I Antoni, 2001 : 95). Dalam hal ini simpanan, kontrak mudharabah ini berarti pihak nasabah menyediakan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito untuk dikelola oleh bank sehingga menghasilkan keuntungan. Apabila bank memperoleh keuntungan (laba) operasional maka pihak deposan berhak memperoleh bagian laba tersebut (profit sharing). Namun untuk mengantisipasi kecurangan (moral hazard) dunia perbankan terhadap kontrak i9ni, maka berdasarkan perkembangan terakhir yang dibagi kepada nasabah bukanlah laba (profit) yang diperoleh bank, akan tetapi pendapatan (revenue) bank atas kegiatan operasional, dan setiap biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional tersebut sepenuhnya ditanggung oleh bank, sehingga apabila bank tidak memperoleh pendapatan sekalipun, saldo rekening nasabah tidak akan berkurang. Demikian pula halnya dengan pemberian pembiayaan, untuk mengantisipasi moral hazard nasabah (debitur), bank memberlakukan kontrak revenue sharing dalam hal perolehan pendapatan bank dan semua biaya proyek ditanggung oleh debitur yang bersangkutan, sehingga bank tidak mengalami kehilangan dana meskipun proyek yang dijalankan merugi. Secara umum, sebenarnya kontrak musyarakah masih terdapat dua jenis lagi yaitu jenis Musyarakah wujuh dan musyarakah `abdan. Akan tetapi yang biasa dilakukan oleh dunia perbankan adalah ketiga jenis musyarakah di atas. b. Natural Certainty contracts, kontrak atau akad dalam bisnis perbankan yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah maupun waktu. Pada jenis kontrak ini cash flow bank dapat diprediksi relative pasti, karena sudah disepakati kedua belah pihak yang bertransaksi di awal akad. Objek pertukaran (baik barang) maupun jasa sudah ditetapkan di awal akad dengan pasti, baik dalam jumlahnya (quantity), mutunya (quality), harganya (price), dan waktu penyerahan (time delivery). Yang termasuk dalam kategori ini adalah kontrak-kontrak jual beli, upah-mengupah, sewa-menyewa, dll. Jenis kontrak ini terbagi atas:

139

(1) Mudharabah (deferred payment sale), adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam dunia perbankan, kontrak ini berupa pembiayaan (finance) pada barangbarang modal maupun barang-barang konsumsi. Dalam hal ini, bank membeli barang-barang yang dibutuhkan nasabah dari supplier secara tunai sesuai dengan harga yang berlaku. Selanjutnya, nasabah membeli kembali barang tersebut dari bank (biasanya secara kredit) sesuai dengan harga barang ditambah dengan keuntungan jual-beli bagi bank. (2) Salam (Infront payment sale), adalah kontrak jual beli dimana pembayaran dilakuakn dimuka dan barang diserahkan dikemudian hari. dalam hal ini, yang menjadi syarat terlaksananya salam adalah kejelasan modal, kejelasan harga, kejelasan fisik barang, dan kejelasan waktu penyerahan. (3) Istishna (purchase by order or manufacture), transaksi ini merupakan kontrak antara pembeli dan bank. Dalam kontrak ini, bank menerima pesanan dari pembeli (nsabah). Bank lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang sesuai dengan spesifikasi pesanan dan menjualnya kepada pembeli akhir (nasabah yang memesan). Kedua belah pihak sepakat atas harga dan sistem pembayaran, melalui cicilan atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang. (M. Syafi'i Antonio, 2001 : 113). (4) Ijarah (Operational leas), adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri (M. Syafi'I Antonio, 2001 : 117). Meskipun secara operasional bank syariah mempunyai sedikit perbedaan dengan bank-bank konvensional lainnya, namun dalam beberapa hal seperti pengukuran kesehatan dan pengukuran kinerja bank tetap mengacu kepada Undang-undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, pasal 29menyebutkan beberapa ketentuan sebagai berikut: 1. 2. Pembinaan dan pengawasan Bank dilakukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia menetapkan ketentuan Kesehatan/kinerja bank dengan memperhatikan aspek permodalan, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.

140

3.

Bank wajib memelihara kesehatan Bank sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

Berdasarkan ketentuan di atas, maka setiap bank wajib memelihara kesehatan dan kinerja Bank berdasarkan prinsip kehati-hatian. Untuk mengukur kinerja suatu bank maka pemahaman mengenai latar belakang keuangan sangat diperlukan sebelum seseorang dapat menganalisa kinerja/kesehatan atau melakuakan perubahan dalam portofolio aktiva dan pasiva untuk memperbaiki laba. Secara sederhana, bank mempunyai laporan keuangan pokok yang terdiri atas Neraca dan Laporan Rugi/Laba. Neraca Bank Umum Berdasarkan Undang-Undang RI No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, pasal 34 menyebutkan "Setiap bank umum diwajibkan menyampaikan laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi/laba berdasarkan waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia." Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, neraca bank umum dapat dilihat sebagai berikut: Contoh Neraca Bank Umum 1. 2. 3. AKTIVA Kas Giro di Bank Indonesia Tagihan pada Bank lain a. Giro b. Call money c. Deposito berjangka d. Kredit yang diberikan Surat berharga dan tagihan lainnya Kredit yang diberikan Penyertaan Cadangan aktiva yang diklasifikasikan Rupa-rupa aktiva PASIVA Giro call money Tabungan Deposito berjangka Kewajiban lainnya Surat berharga Pinjaman yang diterima: Bank Indonesia Subordinasi dan lainnya Rupa-rupa passive Modal: a. Modal disetor b. Agio saham c. Cadangan d. Laba di tahan 10. Laba/rugi tahun berjalan Jumlah Pasiva 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. a. b. 8. 9.

4. 5. 6. 7. 8.

Jumlah Aktiva

Metode di atas meskipun berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bukanlah satu-satunya metode yang digunakan untuk menampilkan neraca bank umum. 141

Untuk bank syariah terdapat beberapa perbedaan sedikit instrumen di dalam neraca bank. Perbedaan tersebut ditekankan pada perbedaan sistem dalam hal pemberian pinjaman, pembiayaan, dan pengelolaan dana pihak ketiga. Pada Bank syariah, karena tidak menggunakan instrumen bunga baik dalam hal kredit maupun simpanan nasabah, maka untuk hal-hal tersebut di atas digunakanlah kontrak mudharabah dan musyarakah seperti yang sudah dijelaskan di atas. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini ditampilkan bentuk neraca bank syariah (diambil dari bentuk neraca Bank Syariah Mandiri, tahun 2002)

Contoh Neraca Bank Syariah

AKTIVA 1. Kas 2. Penempatan di Bank Indonesia 3. Penempatan pada Bank lain 4. Piutang penjualan a. Piutang mudharabah b. piutang salam c. piutang Istishna 5. Investasi dalam surat berharga 6. Pembiayaan yang diberikan a. pembiayaan mudharabah b. pembiayaan musyarakah c. pembiayaan lain-lain 7. Penyertaan 8. Investasi aktiva Ijarah 9. Aktiva tetap dan inventaris 10. Aktiva lain-lain Total Aktiva Giro Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah Kewajiban kepada BI Surat berharga yang diterbitkan Pembiayaan yang diterima Kewajiban lainnya Setoran jaminan Pasiva lain Modal disetor Selisih penilaian kembali aktiva tetap 12. Cadangan 13. Laba/rugi d. Tahun lalu e. Tahun berjalan Total Pasiva PASIVA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Perlu diperhatikan, bentuk diatas bukanlah satu-satunya bentuk neraca pada Bank Syariah. Bentuk-bentuk lain untuk neraca bank syariah dapat ditampilkan sesuai dengan posisi keuangan bank syariah bersangkutan. Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia No. 23 / 19 / BPPP tanggal 28 Februari 1991, neraca suatu bank umum terdiri atas pos-pos yang ada pada sisi aktiva dan pos yang ada pada sisi pasiva.

142

Aktiva Pos-pos yang terdapat di sisi aktiva secara umum adalah sebagai berikut: 1. Kas

Yang dimasukkan ke pos ini adalah uang kas, baik rupiah maupun valuta asing, yang dimiliki oleh bank, termasuk kantornya yang ada di luar negeri, yang menjadi alat pembayaran yang sah di Indonesia maupun uang asing lainnya yang masih berlaku. 2. Giro di Bank Indonesia

Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik bank pada Bank Indonesia. Posisi pada pos ini tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank yang bersangkutan dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui oleh Bank Indonesia yang belum dipergunakan. 3. Tagihan pada bank lain

Tagihan pada bank lain adalah semua tagihan bank pelapor dalam rupiah dan valas kepada bank lain, baik bank dalam negeri maupun bank luar negeri. Pos ini terdiri atas pos-pos sebagi berikut: a. Giro Yang dimasukkan ke pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik bank, termasuk kantornya diluar negeri, baik kepada bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri (tidak termasuk Bank Indonesia). Pos ini tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan bank lain kepada bank yang bersangkutan dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui bank lain yang belum digunakan. Pada bank syariah pendapatan bunga dari giro yang tidak menggunakan kontrak mudharabah di bank lain disisihkan ke dalam pos dana-dana tidak hala (tidak dilaporkan) untuk kemudian digunakan untuk kepentingan sosial. b. Call Money Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana dalam rupiah dan valuta asing yang dipinjamkan oleh bank, termasuk kantornya di luar negeri, baik kepada bank lain di dalam negeri maupun diluar negeri. Pada bank syariah,

143

pos ini masih digunakan, sehingga terkadang masih menggunakan bunga dalam pelaksanaannya. c. Deposito berjangka Yang dimasukkan ke pos ini adalah penanaman dana dalam rupiah dan valuta asing oleh bank, termasuk kantornya diluar negeri, pada bank lain dan atau lembaga keuangan lain dalam bentuk deposito berjangka, sertifikat deposito, deposito in call, dan simpanan lain yang sejenis. d. Kredit yang diberikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua kredit yang berdasarkan akad dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank, termasuk kantornya di luar negeri, baik yang diberikan kepada bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri. 4. Surat berharga dan tagihan lainnya

Yang dimasukkan ke pos ini adalah surat berharga yang dimiliki oleh bank, termasuk kantornya di luar negeri, seperti surat-surat berhargta pasar uang dan pasar modal dalam rupiah dan valuta asing. 5. Kredit yang diberikan

Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank, termasuk kantornya di luar negeri, kepada pihak ketiga bukan bank, baik dalam negeri maupun di luar negeri. 6. Penyertaan

Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank, termasuk kantornya di luar negeri, pada bank, lembaga keuangan, serta perusahaan lain. 7. Cadangan aktiva yang diklasifikasikan

Yang dimasukkan ke pos ini adalah cadangan-cadangan dana dalam rupiah dan valuta asing. Cadangan ini dibentuk untuk menampung resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat bank tidak dapat menarik kembali sebagian atas seluruh aktiva produktifnya. Aktiva produktif mencakkup kredit, surat-surat berharga, penanaman pada bank lain, serta penyertaan dan penanaman pada

144

aktiva lainnya yang mengandung resiko dari bank, termasuk kantornya di luar negeri. Pos ini merupakan pengurang aktiva pada neraca. 8. Aktiva tetap dan inventaris

Yang dimasukkan ke pos ini adalah nilai buku dari tanah, gedung, kantor, rumah, dan perabot milik bank, termasuk kantornya di luar negeri, dalam rupiah dan valuta asing. Jumlah tersebut telah dikurangi dengan penyusutan nilai aktiva tetap dan inventaris sampai dengan akhir bulan laporan. 9. Rupa-rupa aktiva

Yang dimasukkan ke pos ini adalah saldo rekening-rekening aktiva lainnya dalam rupiah dan valuta asing yang tidak dapat dimasukkan ke salah satu pospos di atas. Dalam pos ini dimasukkan pula hasil kompensasi (set off) antara saldo debet dan saldo kredit rekening antar kantor, termasuk kantornya di luar negeri, sepanjang hasilnya debet bagi bank yang berbadan hokum Indonesia. Pasiva Pos-pos yang ada pada sisi pasiva adalah sebagai berikut: 1. Giro

Yang dimasukkan ke pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik pihak ketiga dan bank lain pada bank yang bersangkutan, termasuk kantornya di luar negeri, yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, pemindah bukuan, dan surat perintah membayar lainnya. Dalam pos ini dimasukkan pula pinjaman yang diberikan dalam rupiah yang bersaldo kredit. 2. Call money

Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana dalam rupiah dan valuta asing yang diterima oleh bank, termasuk kantornya diluar negeri, baik dari bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri. 3. Tabungan

Yang dimasukkan ke pos ini adalah simpanan-simpanan dalam rupiah dan valuta asing milik pihak ketiga bukan bank pada bank yang bersangkutan, termasuk kantornya di luar negeri, yang penarikannnya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. Dalam pengertian ini termasuk pula simpanan 145

yang pengambilannya harus diberitahukan beberapa hari sebelumnya dan hanya dapat dilakukan dengan buku tabungan atau kwitansi. 4. Deposito berjangka

Yang dimasukkan ke pos ini adalah deposito berjangka, deposts one call, sertifikat deposito, dan deposito sejenis lainnya yang diterima bank, termasuk kantornya di luar negeri, baik dalam rupiah maupun valuta asing, milik pihak ketiga dan bank lain yang penarikannya dapat dilakukan tertentu sesuai perjanjian antara bank yang bersangkutan dan penyimpannya. 5. Kewajiban lainnya

Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua kewajiban bank, termasuk kantornya di luar negeri, baik dalam rupiah maupun valuta asing, yang setiap waktu dapat ditagih oleh pemiliknya dan harus segera dibayar oleh bank yang bersangkutan. Pada pos ini dimasukkan pula kiriman uang, kupon yang sudah jatuh tempo, dan semua kewajiban yang berjangka waktu kurang dari 15 hari. 6. Surat berharga

Yang dimasukkan ke pos ini adalah surat berharga yang diterbitkan oleh bank, termasuk kantornya diluar negeri, yang menyebabkan kewajiban membayar bagi bank, baik dalam rupiah maupun valuta asing. 7. Pinjaman

Yang dimasukkan ke pos ini adalah pinjaman yang diterima oleh bank, termasuk kantornya di luar negeri, baik dalam rupiah maupun valuta asing, dari pihak ketiga, bank lain, dan Bank Indonesia. Dalam pengertian ini termasuk pinjaman kelolaan dan two step loan yang diterima dari pemerintah atau lembaga-lembaga Internasional. 8. Rupa-rupa pasiva

Yang dimasukkan ke pos ini adalah saldo rekening pasiva lainnya, baik dalam rupiah maupun valuta asing, yang tidak dapat dimasukkan atau digolongkan ke dalam salah satu dari pos neraca ini dalam rupiah, misalnya selisih kurs dari rekening-rekening yang diblokir karena suatu perkara. Dalam pos ini dimasukkan pula hasil kompensasi (set off) antara saldo debet dan saldo kredit rekening antar kantor, termasuk kantornya diluar negeri, sepanjang hasilnya kredit bagi bank yang berbadan hokum Indonesia.

146

9.

Modal a. Modal bank yang berbadan hokum Indonesia

Yang dimasukkan ke pos ini adalah jumlah modal atau simpanan pokok dan wajib (bagi bank-bank yang berbadan hokum koperasi) yang benarbenar telah di setor atau selisih antara modal dasar dan modal yang belum di setor. b. Modal kantor cabang bank asing Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana bersih kantor pusat dan cabangnya di luar negeri. c. Agio saham

Yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya. d. Cadangan Yang dimasukkan ke pos ini adalah cadangan-cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba bersih setelah atau sebelum dikurangi pajak dan mendapat persetujuan pemilik melalui rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai dengan anggaran dasar masing-masing bank. e. Laba/rugi

Yang dimasukkan ke kolom ini adalah sisa laba / rugi tahun-tahun buku lalu yang belum dibagikan dan atau dipindah bukukan ke rekening lain dan ditambah laba / rugi dalam tahun buku berjalan. Rugi yang diderita tahuntahun lalu dan tahun berjalan tidak boleh dicantumkan pada sisi aktiva, tapi pada sisi pasiva dengan tanda negative (-/-). Laporan Laba-Rugi Bank Laporan perhitungan laba rugi (profit and loss statement) atau lebih dikenal juga dengan income statement dari suatu bank umum adalah suatu laporan keuangan bank yang menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan non operasional bank serta keuntungan bersih suatu bank untuk suatu periode tertentu (Lukman Dendawijaya, 2001 : 111).

147

Laporan perhitungan laba rugi bank harus disusun berdasarkan ketentuan tentang bentuk yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, laporan keuangan bulanan harus dilaporkan setiap bulan, sedangkan untuk laporan keuangan triwulanan dilakukan untuk posisi akhir bulan, yaitu 31 Maret, 30 Juni, 30 September, dan 31 Desember tahun yang bersangkutan. Keterlambatan penyampaian serta bentuk laporan yang tidak mengikuti standarisasi yang telah dikenakan sanksi. Penyusunan perhitungan laba rugi bank dilakukan dengan menganut konsep konservatisme. Konsep ini menekankan bahwa pendapatan yang diperhitungkan adalah pendapata yang benar-benar yang telah diterima secara efektif. Dalam akuntansi, konsep ini disebut cash basis. Sebaliknya, perlakukan akuntansi terhadap biaya operasional dan non operasional dilakukan dengan menggunakan prinsip accrual basis. Dalam prinsip ini, biaya yang akan dibayar di masa yang akan datang sudah diperhitungkan sebagai bagian komponen biaya yangdikeluarkan. Bentuk laporan laba-rugi bank syariah, secara umum hampir sama dengan bentuk laba-rugi bank konvensional, hanya untuk pendapatan-pendapatan bunga di bankkonvensional, pada bank syariah merupakan pendapatan murabahah, mudharabah, salam, istisna, dll, sedangkan beban atau pendapatan bunga yang terpaksa diterima oleh bank syariah, di masukkan ke dalam pos pendapatan/beban dana-dana tidak halal atau dimasukkan ke adalam pos operasional lain-lain. Bentuk laporan laba-rugi Bank Syariah dapat dilihat dari tabel di bawah ini (contoh bentuk laporan keuangan Bank Syariah Mandiri tahun 2002): Perhitungan Laba/Rugi Periode:.................. (dalam jutaan rupiah)

No. 1. Pos-pos PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN INVESTASI 1.1 Pendapatan Margin dari Jual-beli a. Murabahah/jual-beli b. Istisna/jual-beli atas pesanan c. Salam/jual-beli atas pembayaran dimuka d. Lainnya 1.2 Pendapatan bagi hasil dari investasi a. Musyarakah/penyertaan b. Mudharabah/tabungan bagi hasil c. Lainnya 1.3 Pendapatan Bonus Sertifikat Wadiah Bank Indonesia JUMLAH PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN INVESTASI Jml ....... ....... ....... ....... ....... ....... ........ ........ ........

148

2.

3. 4.

5.

6. 7.

PENGELUARAN/DISTRIBUSI BONUS DAN BAGI HASIL INVESTASI 2.1 Pengeluaran Bonus Wadiah 2.2 Pengeluaran bagi hasil mudharabah JUMLAH PENGELUARAN BONUS DAN BAGI HASIL ATAS INVESTASI -/PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN BERSIH INVESTASI BAGIAN BANK PENDAPATAN LAINNYA 4.1 Pendapatan administrasi pembiayaan 4.2 Pendapatan jasa-jasa bank 4.3 Pendapatan operasional lainnya 4.4 Pendapatan non operasional JUMLAH PENDAPATAN LAINNYA JUMLAH PENDAPATAN BANK PENGELUARAN LAINNYA 5.1 Pengeluaran administrasi dan umum 5.2 Pengeluaran personalia 5.3 Pengeluaran penyusutan/amortisasi/penghapusan aktiva produktif 5.4 Pengeluaran non operasional JUMLAH PENGELUARAN LAINNYA -/LABA (RUGI) BERSIH SEBELUM ZAKAT DAN PAJAK ZAKAT DAN PAJAK 7.1 Zakat -/7.2 Pajak -/LABA (RUGI) BERSIH

....... ........ ....... ....... ....... ....... ........ ...... ....... ....... ....... ....... ....... ....... ....... ....... .......

Analisis Rasio Keuangan Untuk membuat keputusan rasional yang sesuai dengan tujuan bank, manajerial bank haruslah mempunyai alat-alat analisa tertentu. Analisa keuangan dilakukan baik oleh pihak luar bank, seperti kreditur, investor, nasabah, dan Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan, maupun pihak bank sendiri. Jenis analisa bervariasi tergantung pada kepentingan pihak-pihak yang melakukan analisa. Seorang yang memberikan kredit (pinjaman) jangka pendek dan nasabah tabungan, akan tertarik pada likuiditas bank. Yaitu kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi (jangka pendek). Sedangkan para pemegang saham dan nasabah deposito, mungkin akan tertarik pada rasio rentabilitas bank, yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh laba. Para pemegang surat berharga bank, seperti pemegang obligasi, dan para pemberi kredit jangka panjang, mungkin akan tertarik pada struktur modal perusahaan, sumbersumber dana dan penggunaan dan, profitabilitas selama beberapa periode dan proyeksi profitabilitas di masa datang, serta rasio solvabilitas bank, yaitu kemampuan bank dalam membayar hutang-hutang jangka panjang atau kemampuan bank dalam melunasi semmua hutangnya apabila dilikuidasi. Bagi Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan di Indonesia, mungkin akan tertarik pada rasio kecukupan modal bank, rasio kualitas aktiva produktif, rasio-rasio rentabilitas bank, dan rasio-rasio likuiditas bank. 149

Rasio keuangan menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematic relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dalam laporan keuangan, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu peusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angnka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. (Drs. S. Munawir, Akt, 1990 : 64) Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat kinerja suatu bank dan kesehatannya dengan menggunakan perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas, serta rentabilitas suatu bank. Perhitungan rasio untuk menilai posisi kinerja suatu bank, akan memberikan gambaran yang jelas tentang baik atau tidaknya operasional suatu bank, yang dilihat dari posisi keuangannya dalam neraca dan laba-rugi. Macam-macam rasio keuangan untuk mengukur kinerja bank Seperti yang sudah dijelaskan dimuka, maka pengukuran rasio keuangan dapat juga digunakan untuk mengetahui kinerja suatu bank. Pengukuran kinerja bank digunakan untuk mengetahui tentang baik-buruknya operasional bank serta seberapa sehatkah bank bersangkutan untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi perbankan. Umumnya berbagai rasio yang dihitung untuk menilai kinerja suatu bank dikelompokkan ke dalam tiga (3) tipe dasar: 1. Rasio Likuiditas, yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya atau kewajiban yang telah jatuh tempo. Beberapa rasio likuiditas yang sering digunakan dalam menilai kinerja suatu bank antara lain sebagai berikut: a. Cash Ratio, yaitu Likuiditas minimum yang harus dipelihara oleh Bank dalam membayar kembali pinjaman jangka pendek bank. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan, namun dalam prakteknya akan dapat mempengaruhi profitabilitas. Rasio ini merupakan perbandingan antara jumlah alat liquid yang dimiliki bank dengan pinjaman yang harus segera dibayar.

b. Reserve Requirement (RR), yaitu likuiditas wajib minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk Giro pada BI. Reserve requirement merupakan ketentuan bagi setiap bank umum untuk menyisihkan sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam bentuk giro wajib minimum yang berupa rekening bank yang bersangkutan pada Bank 150

Indonesia. Menurut surat edaran BI tahun 1997, besarnya RR minimal 5%. c. Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemapuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Rasio LDR ini merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar antara 85%-100%.

d. Loan to Asset Ratio (LAR), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memenuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank. Semakin tinggi rasio ini, tingkat likuiditasnya semakin kecil karena jumlah asset yang diperlukan untuk membiayai kreditnya menjadi semakin besar. 2. Rasio Rentabilitas, yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang bersangkutan. Selain itu, rasio-rasio dalam kategori ini dapat pula digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank. Dalam perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini biasanya dicari hubungan timbale balik antar pos yang terdapat pada laporan laba-rugi bank dengan pos-pos pada neraca bank guna memperoleh berbagai indikasi yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efesiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan. Rasio-rasio rentabilitas terdiri atas: a. Return On Asset (ROA), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dalam penggunaan asset.

151

Dalam rangka mengukur tingkat kesehatan bank ada perbedaan sedikit antara ROA berdasarkan teoritis dan cara perhitungan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Secara teoritis, laba yang diperhitungkan adalah laba setelah pajak, sedangkan dalam sistem CAMEL laba yang diperhitungkan adalah laba sebelum pajak. b. Return On Equity (ROE), yaitu perbandingan diantara laba bersih bank dengan modal sendiri. ROE ini merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembagian deviden. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. Selanjutnya, kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham. Perlu diperhatikan, bahwa dalam penentuan tingkat kesehatan bank, Bank Indonesia lebih mementingkan penilaian besarnya ROA dan tidak memasukkan unsure ROE. Hal ini dikarenakan Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang dananya sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat c. Rasio Beban Operasional (BOPO), yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Untuk bank syariah, pendapatan operasional bank terdiri atas pendapatan bagi hasil, keuntungan atas kontrak jual-beli, fee, biaya administrasi, dll.

d. Net Profit Margin (NPM), adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bank, dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Sebagaimana halnya dengan perhitungan rasio sebelumnya, rasio NPM pun mengacu kepada pendapatan operasional bank yang terutama berasal dari kegiatan pemberian kredit yang dalam prakteknya memiliki berbagai resiko seperti resiko kredit (kredit bermasalah dan kredit macet), serta Kurs Valas (jika kredit diberikan dalam bentuk valas). 3. Analisa Solvabilitas. Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya, atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi likuiditasi Bank. Disamping itu, rasio ini digunakan untuk mengetahui perbandingan antara

152

volume (jumlah) dana yang diperoleh dari berbagai hutang (jangka pendek dan jangka panjang) serta sumber-sumber lain diluar modal bank sendiri dengan volume penanaman dana tersebut pada berbagai jenis aktiva yang dimiliki bank. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas: a. Capital Adequacy Ratio (CAR), adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (hutang), dll. Dengan kata lain CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko, misalnya kredit yang diberikan. CAR merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko. Berdasarkan Deregulasi BI tertanggal 29 Februari 1993, bank yang dinyatakan termasuk bank sehat (berkinerja baik) apabila memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlements (BIS). b. Debt to Equity Ratio (DER), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh hutanghutangnnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Dengan kata lain, rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya hutang. Dalam bisnis perbankan, sebagian besar dana yang ada pada suatu bank berasal dari simpanan masyarakat, baik berupa simpanan giro, tabungan ataupun deposito. Dengan demikian, hanya sebagian kecil saja dana yang berasal dari modal sendiri. Selain memperoleh hutang (kewajiban) dari deposan (penyimpanan dana), pada umumnya bank juga bisa meperoleh pinjaman dari lembaga-lembaga perbankan, baik dalam maupun luar negeri, serta pinjaman dari Bank Indonesia (KLBI, BLBI, dan fasilitas lainnya). Metodologi Penelitian Menurut Lukman Dendawijaya (2001: 116-124) alat analisis yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan bank (secara teori) adalah: 153

1.

Analisis Rasio Liquiditas

Yaitu analisa yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. Rasio Liquiditas ini terdiri atas: a. Cash Ratio, yaitu Liquiditas minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam membayar kembali dana pihak ketiga yang dihimpun bank yang harus segera dibayar. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula kemampuan liquiditas bank yang bersangkutan, namun dalam prakteknya akan dapat mempengaruhi profitabilitas. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Alat Liquid Cash Ratio = Pinjaman yang harus segera dibayar Alat liquid dalam rasio diatas, terdiri dari: 1. Kas 2. Giro pada Bank Indonesia b. Reserve Requirement (RR), yaitu liquiditas wajib minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk Giro pada BI. Menurut surat edaran BI tahun 1997, besarnya RR minimal 5%. Rumus rasio ini adalah: Jumlah alat liquid RR = Jumlah dana simpanan pihak ketiga Komponen dana pihak ketiga pada rasio diatas adalah: Giro, Deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan kewajiban jangka pendek lainnya. c. Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh bank. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diterima oleh bank yang bersangkutan. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan liquiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Rasio LDR ini merupakan indicator kerawanan dan kemampuan dari suatu X 100% X 100%

154

bank. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 80%. Namun batas toleransi berkisar antara 85% - 100%. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut:

Jumlah pembiayaan yang diberikan LDR = Jumlah dana yang diterima oleh bank Yang termasuk jumlah dana yang diterima oleh bank pada kriteria ini adalah, terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kredit Liquiditas Bank Indonesia (jika ada), Giro/Deposito dan tabungan masyarakat Deposito dan pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu lebih dari 3 bulan, Surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari 3 bulan, Modal pinjaman Modal inti. X 100%

d. Loan to Asset Ratio (LAR), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat liquiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memnuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank. Semakin tinggi rasio ini, tingkat liquiditasnya semakin kecil karena asset yang diperlukan untuk membiayai kreditnya menjadi semakin besar. Rumus untuk rasio ini adalah sebagai berikut: Jumlah pembiayaan yang diberikan LAR = Jumlah Asset X 100%

2.

Rasio Rentabilitas, yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Rasio ini terdiri atas: a. Return On Asset (ROA), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula

155

posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. Perhitungan rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih ROA = Total aktiva b. Return On Equity (ROE), yaitu perbandingan diantara laba bersih bank dengan modal sendiri. ROE ini merupakan indicator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembagian deviden. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih ROE = x 100% Modal sendiri c. Rasio Beban Operasional (BOPO), yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Untuk bank syariah, pendapatan operasional bank terdiri atas pendapatan bagi hasil, keuntungan atas kontrak jual-beli, serta fee, biaya administrasi, dll. Rasio BOPO dirumuskan sebagai berikut: Beban Operasional BOPO = Pendapatan operasional d. Net Profit Margin (NPM), adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bank, dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih NPM = Pendapatan Operasional 3. Analisis Solvabilitas X 100% X 100% x 100%

Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya, atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi liquidasi bank. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas:

156

a.

Capital Adequacy Ratio (CAR), adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dll. Dengan kata lain, CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko, misalnya kredit yang diberikan. Perhitungan rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Modal Bank CAR = Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, Modal Bank terdiri dari modal inti, yaitu: modal disetor, agio saham, cadangan umum, dan laba di tahan. Ditambah dengan Modal pelengkap yang terdiri antara lain: cadangan revaluasi aktiva tetap. Sedangkan ATMR terdiri atas ATMR neraca ditambah ATMR rekening administrative (jika ada). Berdasarkan Deregulasi BI tertanggal 29 Februari 1993, bank yang dinyatakan termasuk bank sehat (berkinerja baik) apabila memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlements (BIS). X 100%

b. Debt to Equity Ratio (DER), yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh utang-utangnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Dengan kata lain, rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya utang. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Jumlah utang DER = Jumlah modal sendiri HASIL PENELITIAN Analisa Rasio Liquiditas 1. Cash Ratio X 100%

Dengan membagi jumlah alat liquid yang terdiri atas Kas dan Giro pada Bank Indonesia di tahun 2004, 2005 dan 2006 seperti yang terlihat pada tabel 4, dengan pinjaman yang harus segera di bayar (pinjaman jangka pendek) untuk 157

tahun 2004, 2005, dan 2006 seperti terlihat di tabel 5, kemudian mengalikannya dengan bilangan 100% maka diperoleh besarnya Cash Ratio tahun 2004, 2005, dan 2006. 337.024 Cash Ratio2004 = 215.267 376.564 Cash Ratio2005 = 201.298 515.448 Cash Ratio2006 = 179.581 Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil Cash Ratio tahun 2004, sebesar 156,56%. Cash Ratio tahun 2005 sebesar 187,07% dan Cash Ratio tahun 2006 sebesar 287,03%. Dapat dilihat Cash Ratio Bank Muamalat dari tahun 2004 hingga tahun 2006 mengalami kenaikan. Ini berari liquiditas bank mengalami kenaikan. Hal ini kemungkinan disebabkan bank kurang melakukan investasi atau memberikan pembiayaan/pinjaman kepada nasabah, sehingga semakin banyak dana yang menganggur. Besarnya dana yang menganggur ini, sebenarnya dapat merugikan bank sebab pendapatan bank sebagai akibat dari penggunan dana menjadi menurun. Akan tetapi, meskipun pendapatan bank menurun, bank tidak mengalami beban dana (cost of loanable fund) yang tinggi, sebab cost of loanable fund biasanya timbul sebagai beban bunga yang harus dibayarkan bank pada para nasabah penabung, akan tetapi Karena BMI tidak menanggung beban bunga tabungan nasabah, maka beban dana BMI juga kecil, walaupun manfaat bagi hasil yang biasa dibagikan kepada nasabah mengalami penurunan. 2. Reserve Requirement (RR) x 100% = 287,03% x 100% = 187,07% x 100% = 156,56%

Pada tabel 4, dapat dilihat besarnya total alat-alat liquid yang dimiliki bank pada tahun 2004, 2005, dan 2006. sedangkan pada tabel 3, dapat dilihat besarnya total dana pihak ketiga yang mampu dihimpun bank untuk tahun 2004, 2005, dan 2006, maka besarnya Reserve Requirement (RR) bank adalah sebagai berikut: 337.024 RR2004 = 4.294.775 X 100% = 7,85%

158

376.564 RR2005 = 2.285.459 515.448 RR2006 = 2.994.859 Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rasio RR tahun 2004, 2005, dan 2006, sebesar 7,85%, 16,48%, dan 17,21% yang berarti mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, dapat dikatakan bahwa kinerja bank cukup baik. 3. Loan to Deposit Ratio (LDR) X 100% = 17,21% X 100% = 16,48%

Dengan memasukkan jumlah pembiayaan yang diberikan bank untuk tahun 2004, 2005, dan 2006 seperti terlihat pada tabel 3 ke dalam persamaan, kemudian membaginya dengan jumlah dana yang diterima bank yang terdiri dari: Total dana pihak ketiga (Tabel 3), dan Modal Inti Bank (Tabel 1), maka akan diperoleh besarnya LDR tahun 2004, 2005, dan 2006. Jumlah dana yang diterima bank tahun 2004 (dalam jutaan rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 4.182.224 LDR2004 = 4.604.202 Jumlah dana yang diterima bank tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 3.239.853 LDR2005 = 2.982.639 X 100% = 108,62% Rp2.285.459 Rp 697.180 Rp2.982.639 X 100% = 90,83% Rp4.294.755 Rp 309.447 Rp4.604.202

159

Jumlah dana yang diterima bank tahun 2006 (dalam jutaan rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 2.686.498 LDR2006 = 3.718.783 Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh LDR2004 sebesar 90,83%, LDR2005 sebesar 108,62%, dan LDR2006 sebesar 72,24%, yang berarti LDR mengalami peningkatan persentase dari tahun 2004 ke tahun 2005, kemudian turun kembali di tahun 2006. Meningkatnya persentase LDR ini memberikan indikasi makin rendahnya kemampuan likuiditas Bank Muamalat. Namun berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang menetapkan titik rawan LDR sama dengan 110% atau lebih, maka LDR bank masih berada dalam tahap yang aman/berkinerja baik. Namun apabila digunakan standar para praktisi perbankan yang menetapkan titik aman LDR tidak lebih dari 80% dengan batas toleransi antara 81%-100%, maka LDR Bank Muamalat tampaknya masuk ke dalam tahap yang aman/berkinerja baik, dan cenderung kritits di tahun 2006. 4. Loan to Asset Ratio (LAR) Berdasarkan data pada tabel 3, tentang jumlah pembiayaan yang diberikan dan tentang total Aktiva yang dimiliki Bank, maka LAR yang dimiliki Bank untuk tahun 2004, 2005, dan 2006, dapat dihitung sebagai berikut: 4.182.224 LAR2004 = 5.209.804 3.239.853 LAR2005 = 7.427.047 2.686.498 LAR2006 = 8.370.595 Dari perhitungan LAR diatas, dapat dilihat bahwa LAR mengalami penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2006, penurunan LAR ini menandakan tingkat liquiditas bank semakin besar. X 100% = 32,09% X 100% = 43,62% X 100% = 80,28% X 100% = 72,24% Rp2.994.859 Rp 723.924 Rp3.718.783

160

Analisis Rasio Rentabilitas 1. Return On Asset (ROA)

ROA digunakan untuk mengukur kemampuan bank untuk menghasilkan laba dengan menggunakan Asset yang tersedia. Bertdasarkan data taoatal aktiva pada tabel 3, dan data laba bersih pada tabel 3. Dipeoleh perhitungan ROA tahun 2004, 2005, dan 2006, sebagai berikut: 48.355 ROA2004 = 5.209.804 138.126 ROA2005 = 7.427.047 161.152 ROA2006 = 8.370.595 Dari hasil perhitungan di atas, dapat dilihat bahwa ROA bank mengalami peningkatan dari tahun 2004, sebesar 0,93%, menjadi 1,86% di tahun 2005, dan meningkat lagi di tahun 2006 hingga mencapai 1,93%. Meskipun dalam gambaran umum kemampuan bank untuk menghasilkan laba dengan mengandalkan aktivanya masih terlalu kecil, akan tetapi kecenderungan naiknya ROA dari tahun ke tahun menandakan bahwa bank berusaha untuk memperbaiki kinerjanya, terutama dalam hal meningkatkan perolehan laba, dan mengurangi terjadinya dana-dana menganggur dari total aktiva yang dimiliki bank. Perlu dicatat, bahwa untuk mengukur tingkat kesehatan bank, Bank Indonesia biasanya menggunakan perhitungan ROA dengan mengandalkan laba sebelum pajak (laba kotor), akan tetapi berdasarkan teori dan agar tidak terjadi peningkatan laba semu (mark up laba) pada perhitungan ROA ini digunakan laba setelah pajak (laba bersih). Perhitungan ROA ini menggambarkan kemampuan Bank Muamalat untuk melakukan bagi hasil (mudharabah) terhadap deposan dengan mengandalkan laba yang diperolehnya. x 100% = 1,93% x 100% = 1,86% x 100% = 0,93%

161

2.

Return on Equity (ROE)

ROE merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih dengan mengandalkan Equity (modal sendiri), yang dikaitkan dengan pembagian deviden. Berdasarkan data pada tabel 3 tentang total laba bersih dan tentang ekuitas, maka besarnya ROE dapat dihitung sebagai berikut: 48.355 ROE2004 = 339.113 138.126 ROE2005 = 763.415 161.152 ROE2006 = 786.441 Berdasarkan hasil perhitungan ROE 2004, 2005, dan 2006 di atas, dapat dilihat bahwa bank mampu meningkatkan tingkat ROE nya setiap tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa bank mampu meningkatkan tingkat laba bersihnya dengan mengandalkan Modal Sendiri (Ekuitas) yang dimiliki bank, yang berarti bahwa mampu memperbaiki kinerja keuangannya dalam hal perolehan laba dari tahun ke tahun. 3. Rasio Beban Operasional (BOPO) X 100% = 20,49% X 100% = 18,09% X 100% = 14,26%

Rasio beban operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Berdasarkan data pada lampiran 2 (laporan rugi laba), dapat kita hitung besarnya beban operasional bank dan pendapatan operasional bank untuk tahun 2004, 2005, dan 2006. Beban operasional tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2004 Rp255.477 Rp200.815 Rp456.295

Pendapatan Operasional tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah):

162

Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2004 456.295 BOPO2004 = 560.960

Rp502.148 Rp 58.812 Rp560.960

x 100% = 81,34%

Beban operasional tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2005 Rp383.387 Rp261.806 Rp645.193

Pendapatan Operasional tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2005 645.193 X 100% = 74,61% 864.781 Beban operasional tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2006 Rp570.047 Rp345.853 Rp915.900 BOPO2005 = Rp785.139 Rp 79.642 Rp864.781

Pendapatan Operasional tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah): Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2006 915.900 BOPO2006 = 1.141.480 Berdasarkan hasil perhitungan rasio BOPO tahun 2004, 2005, dan 2006, dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 besarnya rasio adalah 81,34%, kemudian di tahun 2005 besarnya rasio menurun hingga mencapai 74,61%. Hal ini mengindikasikan bahwa bank pada tahun 2005 melakukan inefisiensi dalam hal 163 X 100% = 80,24% Rp1.049.309 Rp 92.171 Rp1.141.480

pengelolaan beban operasionalnya. Inefisiensi yang dimaksud adalah meningkat pesatnya beban operasional bank, tidak diimbang secara proporsional terhadap peningkatan pendapatan operasional bank, yang kemungkinan disebabkan menurunnnya pendapatan operasional lainnya pada bank, khususnya disebabkan kerugian investasi bank di valuta asing yang mengalami penurunan. Pada tahun 2006, tampaknya bank mampu memperbaiki kondisi rasio Beban Operasional, sehingga rasio BOPO mengalami peningkatan menjadi sebesar 80,24%, meskipun kenaikannya tidak sesignifikan penurunannya di tahun 2005. 4. Net Profit Margin (NPM) Ratio

NPM adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Dalam hal ini dapat dihitung keoptimalan pendapatan operasional bank dalam membentuk laba bersih bank. Pendapatan operasional bank ini perlu dihitung keoptimalannnya, Karena dalam prakteknya pendapatan operasional banyak mengandung resiko, seperti resiko kredit/pembiayaan macet (bermasalah), kerugian valas, atau kegagalan investasi lainnya, yang harus ditanggung oleh pendapatan operasional bank. Berdasarkan hasil perhitungan pendapatan operasional pada perhitungan rasio di atas, dan data laba bersih yang diperoleh pada tabel 3, maka besarnya rasio NPM dapat dihitung. . NPM2004 = 560.960 138.126 NPM2005 = 864.781 161.152 NPM2006 = 1.141.480 Dari hasil perhitungan di ketahui, NPM Bank tahun 2004 tercatat sebesar 8,62%, hal ini berarti keoptimalan pendapatan operasional dalam membentuk laba bersih relative rendah, dan pembentuk laba bersih terbesar kemungkinan disumbangkan dari pendapatan non operasional bank. Tahun 2005, bank tampak mulai memperbaiki kinerjanya, sehingga rasio NPM meningkat menjadi 15,97%. Rasio NPM pada tahun 2005 telah mencapai 10%, bank mulai dapat mengoptimalkan pendapatan operasionalnya, yang berarti kinerja operasional 164 X 100% = 14,12% X 100% = 15,97% 48.355 X 100% = 8,62%

bank sudah mulai membaik. Selanjutnya di tahun 2006, rasio NPM tercatat sebesar 14,12%, yang berarti bank masih mampu memperbaiki kinerja operasionalnya, walaupun mengalami penurunan dari tahun 2005, namun tidak signifikan, sehingga sumbangsih pendapatan operasional dalam membentuk laba bersih masih lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Analisis Rasio Solvabilitas 1. Capital Adequacy Ratio (CAR)

CAR merupakan salah satu rasio yang dianggap cukup penting dalam penentuan Kinerja dan Kesehatan Bank. CAR memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan modalnya. CAR merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko, CAR juga menjadi indicator untuk melihat tingkat efisiensi dana modal bank yang digunakan untuk investasi. Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat, namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (idle fund). Menurut ketentuan Bank Indonesia, CAR minimum yang harus dimiliki oleh sebuah bank adalah sebesar 8%. Tabel 3 memperlihatkan besarnya modal ekuitas yang dimiliki oleh Bank Muamalat Indonesia, sedangkan tabel 2 memperlihatkan besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan data-data pada kedua tabel di atas, maka besarnya CAR untuk tahun 2004, 2005, dan 2006, dapat dihitung sebagai berikut: . CAR2004 = 2.122.649,5 697.180 CAR2005 = 1.465.360,1 723.924 CAR2006 = 1.770.076,4 Secara umum hasil perhitungan CAR di atas telah mampu memenuhi standar minimal yang ditetapkan BI sebesar 8%, sehingga rasio kecukupan modal Bank Muamalat telah memenuhi kriteria, dan masuk ke dalam jajaran Bank yang berkinerja baik dan sehat. Akan tetapi besarnya CAR di tahun 2005 yang 165 X 100% = 40,90% X 100% = 47,58% 309.447 X 100% = 14,58%

mencapai 47,58%, menandakan bahwa terlalu banyak dana yang menganggur besarnya dana mennganggur ini apabila dimiliki oleh bank-bank konvensional dapat mendatangkan permasalahan tersendiri, karena bank konvensional harus menanggung biaya dana (cost of loanable fund) yang besar yang didominasi oleh biaya bunga kepada nasabah. Akan tetapi karena Bank Muamalat merupakan bank syariah yang tidak menggunakan instrumen bunga sebagai kompensasi dana nasabah, maka besarnya dana menganggur yang dimiliki oleh Bank Muamalat tidak mempengaruhi kinerja keuangan bank, khususnya kinerja solvabilitas. Besarnya dana menganggur yang dimiliki oleh Bank Muamalat sebenarnya berdampak pada perolahan laba bersih yang dihasilkan oleh bank. Tahun 2006, besarnya CAR mengalami penurunan menjadi sebesar 40,90%. Turunnnya CAR yang masih dalam batas aman CAR minimum (8%), memperlihatkan dampak positif dari kinerja bank. Pada tahun 2006 ini, bank berhasil menekan besarnya dana-dana menganggur, sehingga rasio cadangan modalnya menurun. 2. Debt to Equity Ratio (DER)

Berdasrkan data pada tabel 5 tentang total hutang yang dimiliki oleh Bank Muamalat Indonesia, dan data pada tabel 3 tentang modal ekuitas, maka besarnya DER dapat dihitung sebagai berikut: . DER2004 = 339.113 2.598.071 DER2005 = 763.415 3.312.989 DER2006 = 786.441 Berdasarkan hasil perhitungan DER di atas, dapat kita ketahui bahwa Debt Equity Ratio (DER) mengalami penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2005, kemudian naik di tahun 2006. tingginya rasio DER ini menandakan bahwa kemampuan bank untuk menutupi seluruh hutang-hutangnya dengan mengandalkan Ekuitas yang ia miliki sangat kecil. Dengan kata lain, bila mengandalkan Ekuitas bank sebagai alat pembayar hutang, maka hanya sebagian kecil saja hutang yang mampu di lunasi. Untuk itu, tampaknya bank harus berusaha untuk memperbesar cadangan Ekuitasnnya secara bijak (melakukan manajemen permodalan secara cermat), agar selain dapat 166 X 100% = 421,26% X 100% = 340,32% 2.999.029 X 100% = 884,37%

memperbesar kemampuannya dalam membayar hutang, profitabilitas bank yang merupakan konsekuensi penggunaan ekuitas bank tidak akan terganggu secara signifikan. Pengujian Hipotesis Berikut ini disajikan tabel ringkasan hasil perhitungan analisa rasio Liquiditas, Rasio Rentabilitas, dan Rasio Solvabilitas, berikut penilaiannya dengan menggunakan standar Bank Indonesia, maupun analisa historisnya, pada PT Bank Muamalat Indonesia, tahun 2004 sampai dengan 2006: Tabel 6. Ringkasan Hasil Perhitungan Analisis Rasio Liquiditas, Rentabilitas, dan Solvabilitas pada PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk Tahun 2004-2006

Alat Analisis 1. Analisis Liquiditas: a. Cash Ratio b. RR c. LDR d. LAR 2. Rasio Rentabilitas: a. ROA b. ROE c. BOPO d. NPM 3. Rasio Solvabilitas: a. CAR b. DER 2004 Hasil Perhitungan 2005 2006 187,07% 16,48% 108,02% 43,62% 1,86% 18,09% 74,61% 15,97% 47,58% 340,32% 287,03% 17,21% 72,24% 32,09% 1,93% 20,49% 80,24% 14,12% 40,90% 421,26% Metode Penilaian Historis Standar BI : 5% BI : max 110% Historis Historis Historis Historis Historis Standar BI : 8% Historis Hasil Penilaian Liquiditas meningkat Baik Baik Liquiditas meningkat Membaik Membaik Cenderung efisien Membaik Baik Cenderung Unsolven

156,56% 7,85% 90,83% 80,28% 0,93% 14,26% 81,34% 8,62% 14,58% 884,37%

Berdasarkan hasil penilaian diatas, terlihat bahwa kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia untuk rasio Liquiditas cenderung baik, meskipun jika dilihat secara histories untuk rasio Loan to Deposit Ratio pada tahun 2006 menurun dan dibawah standar yang telah di tetapkan Bank Indonesia, maka dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa rasio liquiditas Bank Muamalat Indonesia cenderung liquid dan berkinerja baik. Untuk analisis rasio Rentabilitas Bank, dimana diukur kemampuan bank dalam melakukan efisiensi dan menghasilkan laba, maka secara histories dapat dilihat bahwa rasio Rentabilitas bank cenderung naik dari tahun ke tahun, yang berarti kemampuan bank dalam menghasilkan laba cenderung naik, kecuali untuk rasio BOPO, dimana besarnya rasio cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan dan mendekati 100%, maka hasil penilaian untuk Rasio BOPO adalah cenderung efisien. Penilaian rasio Solvabilitas yang mengukur 167

kecukupan modal dan kemampuan bank dalam melunasi hutang-hutangnya, dapat dilihat bahwa untuk CAR Bank Muamalat telah memenuhi standar Bank Indonesia yang mensyaratkan minimal 8% bagi CAR suatu bank, oleh karena itu CAR Bank Muamalat telah cukup baik. Akan tetapi jika dilihat kemampuan bank dalam melunasi hutang-hutangnya dengan mengandalkan ekuitasnya yang tergambar dalam perhitungan DER, maka terlihat bahwa keadaan Bank Muamalat cenderung memburuk atau tidak Solven (Unsolven), sehingga kinerjanya buruk. Dari hasil analisa di atas yang memperlihatkan sebagian besar kinerja Bank Muamalat Indonesia berkwalitas baik, maka hipotesis yang menyatakan bahwa "Bank Muamalat Indonesia mempunyai kinerja atau performance yang belum baik bila ditinjau dari rasio Liquiditas, Rentabilitas, dan Solvabilitas" ditolak. PENUTUP Kesimpulan Dengan melihat kembali tujuan penelitian ini di awal tulisan, penulis memberikan kesimpulan hasil penelitian ini sebagai berikut. 1. Analisa rasio Liquiditas Bank Muamalat Indonesia yang terdiri dari Cash Ratio, Reserve Requirement (RR), memperlihatkan kecenderungan angka rasio yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini didasarkan pada nilai kas dan giro pada Bank Indonesia yang dimiliki BMI meningkat secara drastic dari tahun 2004 ke tahun 2005, sehingga jumlah alat-alat liquid bank mengalami peningkatan. Loan to Deposit Ratio (LDR), mengalami peningkatan persentase dari tahun 2004 ke tahun 2005. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang menetapkan titik rawan LDR sama dengan 110% atau lebih, maka LDR bank berada dalam tahap yang aman/berkinerja baik. Namun kemudian turun lagi pada tahun 2006. Maka dilihat dari standar yang digunakan para praktisi perbankan yang menetapkan titik aman LDR tidak lebih dari 80% dengan batas toleransi antara 80%-100%, maka LDR Bank Muamalat tampaknya masuk kedalam tahap aman dan cenderung kritis di tahun 2006. Loan to Asset Ratio (LAR) memperlihatkan kecenderungan angka rasio yang meningkat. Karena alatalat liquid bank kembali naik. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja Keuangan Bank Muamalat Indonesia untuk rasio Liquiditas cenderung baik. Hasil perhitungan rasio Solvabilitas BMI menunjukkan hasil yang beragam. Pada perhitungan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) kinerja Solvabilitas BMI menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil CAR bank yang selalu memenuhi ketentuan

2.

168

minimum yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 8%. Akan tetapi, jika kita melihat Debt to Equity Ratio (DER) bank, yang memperlihatkan kemampuan bank untuk melunasi semua hutangnya dengan mengandalkan modal milik sendiri (Ekuitas) bank, maka dapatlah kita lihat bahwa kemampuan bank ini buruk. Rasio-rasio DER yang begitu besar memperlihatkan ketidakmampuan bank untuk melunasi semua hutangnya dengan mengandalkan Ekuitas Bank. 3. Hasil perhitungan rasio Rentabilitas Bank Muamalat Indonesia (BMI) memperlihatkan kecenderungan yang cukup baik, artinya bank mampu meningkatkan laba dari tahun ke tahun, baik dengan mengandalkan aktiva atau modalnya sebagai pembentuk laba (diperlihatkan pada nilai Ratio On Asset dan Rasio On Equity). Selain itu margin keuntungan bersih bank yang dipelihatkan oleh rasio marjin keuntungan bersih (Net profit Margin), juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini berarti bank cukup baik dalam mengelola operasionalnya sehingga mampu mengoptimalkan pendapatan operasional dalam pembentukan laba bersih. Dalam hal melakukan efisiensi pendapatan operasional dibandingkan dengan beban operasional (diperlihatkan pada rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional), meskipun tidak terlalu besar penghematan (efisiensi) yang mampu dilakukan oleh bank, namun pendapatan operasional bank masih di atas beban operasional yang ada, sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) bank cenderung baik. Secara keseluruhan dapat dilihat dalam hal pengukuran rasio rentabilitas bank, maka kinerja keuangan bank sudah cukup baik. Melihat hasil perhitungan rasio-rasio di atas, yang terdiri atas rasio Liquiditas, Solvabilitas, dan Rentabilitas, meskipun ada beberapa hasil perhitungan rasio yang memperlihatkan kinerja bank yang buruk (contohnya rasio DER), namun dapatlah ditarik kesimpulan bahwa secara umum bahwa kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia tahun 2004 sampai 2006 cenderung baik.

4.

Saran 1. Besarnya Debt Equity Ratio (DER) Bank Muamalat, yang merupakan bagian dari rasio Solvabilitas menunjukkan bahwa bank sebaiknya memperbaiki kinerja Solvabilitasnya. Besarnya angka DER ini menunjukkan kelemahan bank apabila Bank Muamalat dituntut untuk segera melunasi hutanghutangnya. Untuk memperbesar DER bank dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan Ekuitas Bank yang berarti menambah jumlah saham yang beredar atau memperbesar jumlah laba ditahan yang bisa menambah ekuitas bank. Langkah lain yang bisa dilakukan oleh bank adalah 169

memperkecil jumlah pinjaman bank dan melakukan efisiensi dana bank dengan melakukan perhitungan ulang terhadap investasi-investasi yang kurang menguntungkan, sehingga laba yang diperoleh bisa dgunakan untuk menambah Ekuitas Bank. DAFTAR PUSTAKA Antonio, Muhammad Syafi'i. 2006. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Gema Insani Press. Jakarta. Arifin, Zainul. 2002. Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah. Alvabet. Jakarta Dendawijaya, Lukman. 2006. Manajemen Perbankan. Ghalia Indonesia. Jakarta. Karim, Adiwarman. 2003. Modul: Workshop on Islamic Banking. Karim Business Consulting. Jakarta. Muhammad. 2006. Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah. UII Press. Yogyakarta. Munawir. S. 1990. Analisa Laporan Keuangan. Liberty. Yogyakarta. Universital Lampung. 1998. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

170

KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung).

Novita Tresiana2

ABSTRACT The research is based on the research question, how satisfied order of PDAM's consument in group R2A, R2B and R1 in which PDAM takes the services, especially performance services of PDAM Way Rilau relationship and technical unit. This question is worth forwarding considering in some public institutions, especially BUMD's services is less quality and in business perspective PDAM Way Rilau is low contribution to PAD Kota Bandar Lampung. In line with the study problem, this study aimed at knowing the order of public satisfaction as performance of PDAM Way Rilau. The Survey research method was used on unit of relationship and technical unit as research setting. It is concluded that: a) the order of public satisfaction to PDAM Way Rilau technical unit is 1.58 that indicates D category; b) the order of public satisfaction to PDAM Way Rilau relationship unit is 2.10 that indicates C category. It means that public response is not satisfied and PDAM's services is worse; c) totally, the order of public satisfied is 1.84 that categories C. It means that public response is worse.

Keyword: Public satisfaction, service quality and performance. PENDAHULUAN Perubahan yang terjadi dewasa ini dirasakan semakin cepat, makin bertambah akselerasinya didukung perkembangan teknologi, sistem informasi dan komunikasi yang makin menyebabkan proses globalisasi bergerak semakin cepat. Dalam kondisi perubahan seperti itu, institusi publik bila ingin tetap

2

Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara, FISIP Unila

`survive' harus mampu merespon perubahan-perubahan melalui peningkatan kinerja dan kualitas layanannya (Brynson, 1995). Ada lima hal yang menjadi tuntutan masyarakat terhadap institusi publik dalam pelayanan yang diberikannya, yaitu: a) Derasnya tuntutan agar pemerintah mampu menumbuhkan adanya `good governance', berupa pemerintahan yang bersih, bertanggungjawab dan profesional; b) Semakin tajamnya kritik masyarakat atas semakin rendahnya kualitas pelayanan publik; c) Semua aparat pemerintahan dituntut untuk memiliki `sense of crisis', dibutuhkan aparat pelayanan yang mampu `to do more with less'.; d.) Aparat pemerintah dituntut agar bekerja lebih profesional,memiliki `public accuntability and responsibility'; e) Masyarakat sebagai pihak yang harus dipenuhi dan dilindungi kepentingannya (public interest), menuntut agar pemerintah memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi mereka sejauh bisa memenuhinya. (Islamy, 2000). Senada dengan hal diatas, beberapa hasil riset yang telah dilakukan oleh beberapa pakar (dalam Islamy,2001) tentang peran institusi publik, khususnya garis depan dalam memberikan pelayanan publik di Indonesia menunjukkan adanya patologi dan stigma birokrasi pelayanan publik. Kondisi di atas, kiranya juga membelenggu organisasi publik, khususnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai akibat dari manajemen yang dikembangkan mengarah pada sistem monopolistik dan birokratis-sentralistik ketimbang berorientasi manajemen profesional wirausaha yang lebih bersifat profit oriented. Sebagai suatu lembaga usaha-meski tidak dapat dilepaskan dari label milik pemerintah daerah yang berkonotasi memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service provider), maka yang harus juga dikejar adalah mencari keuntungan (profit), sehingga disamping dapat digunakan untuk mengembangkan organisasinya juga dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pendapatan negara. PDAM Way Rilau Kota Bandarlampung sebagai salah satu BUMD yang memberikan pelayanan publik kiranya juga tidak terlepas dari kondisi-kondisi diatas. Sebagai perusahaan yang memegang monopoli dalam penyediaan air,menurut Wahab (1999) `menyebabkan munculnya pelayanan publik (konsumennya) amat tidak kompetitif dan tidak sensitif pada persoalan perbaikan kualitas secara menyeluruh. Monopoli (secara tersembunyi atau terang-terangan) atas penyediaan pelayanan publik ternyata juga menyebabkan perilaku para birokrat mulai dari pimpinan puncak hingga pegawai rendahan berlagak seperti `administrator kolonial'. Mereka menjadi arogan, tidak responsif dan tidak akuntabel kepada publik'. Alhasil, akhirnya mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pokok dari PDAM sebagai salah satu bagian dari BUMD. Ditinjau dari segi pelayanan, maka kualitas pelayanan yang diberikan 172

oleh PDAM kepada pelanggannya menjadi sangat rendah. Sedangkan dari perspektif usaha, PDAM Way Rilau belum mampu memberikan kontribusi yang profit yang cukup signifikan bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Untuk mengantisipasi hal di atas, ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan, mulai dari Keputusan MENPAN No.81/1993, Keputusan MENPAN No.63/2003, Keputusan MENPAN No.25/2004 Tentang Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah dan terakhir Keputusan MENPAN No.26/2004. Harapannya tentu saja selain dapat mendongkar PAD, juga optimalisasi pelayanan pada masyarakat dapat terwujud. Kajian dalam riset difokuskan pada tanggapan masyarakat terhadap mutu pelayanan PDAM Way Rilau (utamanya Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik), khususnya tanggapan kelompok pelanggan R2, R2A dan R1 terhadap 14 unsur-unsur pelayanan (Kepmenpan No.25/2004) sebagai kompas kepuasan masyarakat/pelanggan dan kinerja PDAM Way Rilau Kota Bandarlampung. Penelitian ini merumuskan permasalahan berupa: Berapa besar tingkat kepuasan masyarakat, khususnya kelompok pelanggan R2, R2A dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung?. Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Besarnya Tingkat kepuasan masyarakat, khususnya kelompok pelanggan R2, R2A dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung, dengan mengetahui besar , maka akan didapat besarnya kinerja PDAM Way Rilau. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Jenis Penelitian Survei. Proses pengumpulan data/ informasi dilakukan terhadap sejumlah masyarakat kelompok pelanggan R2A, R2B dan R1 terhadap 14 unsur-unsur pelayanan (Kepmenpan No.25/2004). Responden dipilih secara acak (secara sampel). Untuk memenuhi akurasi hasil penyusunan indeks, responden terpilih ditetapkan minimal 150 orang pelanggan dari jumlah populasi penerima layanan masing-masing kategori konsumen dengan dasar: (`jumlah unsur pelayanan'+1) x 10 = Jumlah Responden (14+1) x 10 = 150 Responden Sedangkan tehnik pengumpulan data untuk penelitian ini melalui kuesioner (pengisian angket), wawancara dan observasi. Khusus untuk angket, bentuk 173

jawaban pertanyaan responden atas masing-masing unsur pelayanan diklasifikasi sesuai jenjang kualitas pelayanan, yaitu dari yang sangat baik sampai dengan tidak baik. Untuk kategori tidak baik diberi nilai persepsi 1, kurang baik diberi nilai persepsi 2, baik diberi nilai persepsi 3, sangat baik diberi nilai persepsi 4. Lokasi pengumpulan data (Kuesioner, wawancara, observasi) dilakukan di lokasi masing-masing unit pelayanan pada saat jam sibuk dan dilingkungan perumahan kelompok pelanggan pada saat responden ada di rumah. Selanjutnya, informasi (data) yang dikumpulkan adalah berupa pandangan, pendapat, jawaban tertulis dan bukti empiris lainnya dari berbagai narasumber terhadap 14 unsur pelayanan. Dengan demikian, data yang dikumpulkan sifatnya bukan hanya kuantifikasi atau pasti tapi juga dalam bentuk naratif deskriptif. Data yang dikumpulkan diolah/dianalisis dengan menggunakan Analisis Indeks/Tingkat Kepuasan Masyarakat (IKM). Nilai IKM dihitung dengan menggunakan `nilai rata-rata tertimbang' masingmasing unsur pelayanan. Dalam penghitungan indeks kepuasan masyarakat (IKM) terhadap 14 unsur pelayanan yang dikaji, setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama dengan rumus sebagai berikut : Bobot nilai rata-rata = Jumlah bobot = 1 Tertimbang Jumlah unsur 14 = 0,071

Untuk memperoleh nilai indeks kepuasan masyarakat (IKM) unit pelayanan digunakan pendekatan nilai rata-rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut: IKM = Total dari Nilai Persepsi Per Unsur Total Unsur Terisi X Nilai Penimbang

Data isian kuesioner dari setiap responden akan dimasukkan dalam formulir mulai dari unsur 1 sampai dengan unsur 14 yang selanjutnya dicari nilai ratarata per unsur pelayanan melalui jumlah nilai rata-rata per unsur pelayanan dikalikan dengan 0,071 sebagai nilai bobot rata-rata tertimbang dan nilai indeks unit pelayanan dengan cara menjumlahkan 14 unsur dari nilai rata-rata tertimbang. Kemudian data pendapat masyarakat yang telah dimasukkan kedalam masingmasing kuesioner, dilakukan pengujian kualitas data melalui penyusunan dengan mengkompilasikan data responden yang dihimpun berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir dan pekerjaan utama. Ini 174

tentunya berguna untuk mengetahui profil responden dan kecenderungan jawaban yang diberikan, sebagai bahan analisis objektivitas. Proses penafsiran atau interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100, maka hasil penilaian tersebut di atas dikonversikan dengan nilai dasar 25, dengan rumus sebagai berikut : I. IKM UNIT PELAYANAN X 25

Sehingga interpretasi atau penafsirannya akan nampak dalam tabel sebagai berikut : Tabel 1. Nilai persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan

NILAI INTERVAL IKM 1,00-1,75 1,76-2,50 2,51-3,25 3,26-4,00 NILAI INTERVAL KONVERSI IKM 25-43,75 43,76-62,50 62,51-81,25 81,26-100,00 MUTU PELAYANAN D C B A KINERJA UNIT PELAYANAN Tidak baik Kurang baik Baik Sangat baik

NILAI PERSEPSI 1 2 3 4

Penyimpulan dilakukan berdasarkan hasil penghitungan indeks kepuasan masyarakat, jumlah nilai dari setiap unit pelayanan diperoleh dari jumlah nilai rata-rata setiap unsur pelayanan. Nilai indeks komposit (gabungan) untuk setiap unit pelayanan, merupakan jumlah nilai rata-rata dari setiap unsur pelayanan dikalikan dengan penimbang yang sama, yaitu 0,071. Dari Hasil nilai indeks unit pelayanan disimpulkan sebagai berikut : a) Nilai IKM setelah dikonversi = Nilai Indeks X Nilai Dasar; b) Hasil nilai IKM setelah konversi disesuaikan dengan angka mutu pelayanan (A,B,C,D); dan c) Kinerja Unit Pelayanan (Sangat baik, baik, kurang baik dan tidak baik) HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana telah ditetapkan, yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah masyarakat sebagai pelanggan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung, utamanya kelompok pelanggan R2A, R2B dan R1, yang mendapat pelayanan oleh Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau. Sehubungan dengan hal ini, maka analisis kepuasan pelanggan dan kinerja 175

PDAM Way Rilau akan dipilah kedalam kategorisasi kelompok pelanggan dan unit PDAM Way Rilau yang dijadikan subyek kajian riset ini. TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DAN KINERJA UNIT PELAYANAN MASYARAKAT PDAM WAY RILAU KOTA BANDAR LAMPUNG Kepuasan pelanggan memiliki hubungan yang equivalen dengan kinerja yang ditunjukkan oleh suatu lembaga, karena pada dasarnya kepuasan pelanggan muncul sebagai selisih (perbedaan) antara harapan (kepentingan) pelanggan dengan kinerja PDAM Way Rilau sebagai sesuatu yang dirasakan oleh pelanggannya. Tabel 2. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R1 (RSS) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Jumlah Pelanggan Nilai rataKelompok R1 rata Masyarakat PDAM Way Rilau Pada Saat Observasi perunsur Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 125 60 15 200 1.45 73 58 37 79 20 125 55 69 83 61 64 101 28 978 81 50 60 49 57 55 83 79 84 41 61 44 33 837 32 61 68 52 95 10 25 37 18 82 57 30 98 680 14 31 35 20 28 10 37 15 15 16 18 25 41 305 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2,800 1.94 2.33 2.51 2.07 2.66 1.53 2.22 1.99 1.83 2.27 2.15 1.90 2.76 2.11

Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.10 0.14 0.17 0.18 0.15 0.19 0.11 0.16 0.14 0.13 0.16 0.15 0.13 0.20 2.10

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

176

Dari perhitungan Tabel 2 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang tingkat kepuasan masyarakat kelompok R1 (RSS) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.10.; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.10 x 25 = 52.5; (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau terkategori `C'; (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik Tabel 3. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2A (RS) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Nilai rata-rata Jumlah Nilai rata- tertimbang Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Pelanggan rata per Kota Bandar Lampung Kelompok R2A perunsur Pada Saat unsur 1 2 3 4 Observasi pelayanan 89 58 15 38 200 2.01 0.14 37 96 82 77 21 121 47 115 91 55 66 103 45 1,045 70 61 60 69 56 63 97 48 84 47 67 47 49 876 77 20 40 41 98 12 24 24 11 83 56 30 60 591 16 23 18 13 25 4 32 13 14 15 11 20 46 288 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2,800 2.36 1.85 1.97 1.95 2.64 1.50 2.21 1.68 1.74 2.29 2.06 1.84 2.54 2.04 0.17 0.13 0.14 0.14 0.19 0.11 0.16 0.12 0.12 0.16 0.15 0.13 0.18 2.03

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 3 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang indeks kepuasan pelanggan kelompok R2A (RS) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.03; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan 177

nilai dasar 2.03 x 25 = 50.75; (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori `C'; (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik Tabel 4. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2B (RT. Menengah) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 78 60 59 3 71 59 48 69 19 102 45 66 80 59 76 97 29 898 90 55 55 49 55 54 91 79 81 44 59 43 35 850 27 59 60 57 96 23 29 39 23 78 50 31 91 722 12 27 37 25 30 21 35 16 16 19 15 29 45 330 Jumlah Nilai rata-rata Pelanggan Nilai rata-rata tertimbang per Kelompok R2B perunsur unsur Pada Saat pelayanan Observasi 200 1.94 0.14 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2,800 1.90 2.27 2.43 2.19 2.69 1.82 2.27 2.03 1.88 2.29 2.02 1.96 2.76 2.17 0.13 0.16 0.17 0.16 0.19 0.13 0.16 0.14 0.13 0.16 0.14 0.14 0.20 2.16

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 4 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang indeks kepuasan pelanggan kelompok R2B (RT. Menengah) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.16; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.16 x 25 = 54; (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori `C'; (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik

178

Tabel 5.

Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 292 178 89 41 181 213 167 225 60 348 147 250 254 175 206 301 102 2,921 241 166 175 167 168 172 271 206 249 132 187 134 117 2,563 136 140 168 150 289 45 78 100 52 243 163 91 249 1,993 42 81 90 58 83 35 104 44 45 50 44 74 132 923

Unit

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Nilai rata-rata Jumlah Nilai ratatertimbang per Pelanggan rata Pada Saat unsur perunsur Observasi pelayanan 600 1.80 0.13 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 8,400 2.07 2.15 2.30 2.07 2.66 1.61 2.23 1.90 1.81 2.28 2.08 1.90 2.69 2.11 0.15 0.15 0.16 0.15 0.19 0.11 0.16 0.13 0.13 0.16 0.15 0.13 0.19 2.10

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 5 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.10; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.10 x 25 = 52.5; (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori `C'; (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik

179

TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DAN KINERJA UNIT TEHNIK PDAM WAY RILAU KOTA BANDAR LAMPUNG Tabel 6. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R1 (RSS) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Jawaban Jumlah Pelanggan Unit Teknik PDAM Pelanggan Way Rilau Kota Bandar Kelompok Lampung R1 Pada Saat 1 2 3 4 Observasi 124 70 5 1 200 117 5 107 111 21 121 177 180 25 163 180 180 195 1,706 75 100 88 86 22 72 20 17 1 25 17 9 5 607 409 78 3 81 4 2 115 3 1 3 171 7 3 11 3 5 5 14 1 1 42 4 2 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2,800 Nilai rata-rata Nilai ratatertimbang per rata unsur perunsur pelayanan 1.42 1.48 2.52 1.50 1.47 2.89 1.45 1.14 1.12 2.76 1.27 1.12 1.16 1.03 1.59 0.10 0.11 0.18 0.11 0.10 0.21 0.10 0.08 0.08 0.20 0.09 0.08 0.08 0.07 1.58

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan

Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 6 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R1 (RSS) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.58; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.58 x 25 = 39.5; (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori `D'; (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau mengindikasikan tidak baik.

180

Tabel 7. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2A (RS) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan

2 69 81 101 85 98 21 70 31 15 3 23 15 12 6 630

3 2 1 77 3 3 120 2 3 4 166 6 2 15

4 2 1 11 1 42 3 1 2 2 4 1 1

127 117 11 111 99 17 125 165 179 29 167 182 173 193 1,695

Nilai rataJumlah rata Pelanggan Nilai ratatertimbang Kelompok R2A rata per Pada Saat perunsur unsur Observasi pelayanan 200 1.40 0.10 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2,800 1.43 2.44 1.47 1.52 2.94 1.42 1.20 1.15 2.71 1.24 1.11 1.21 1.05 1.59 0.10 0.17 0.10 0.11 0.21 0.10 0.09 0.08 0.19 0.09 0.08 0.09 0.07 1.58

404

71

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 7 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R2A (RS) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.58; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.58 x 25 = 39.5p; (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori `D'; (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan kelompok R2A mengindikasikan tidak baik.

181

Tabel 8. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2B (RT. Menengah) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan

2 79 83 99 85 97 23 65 24 8 14 20 16 11 5 629

3 1 3 75 2 2 119 2 4 3 155 12 3 13 1 395

4 1 14 0 43 3 1 3 4 8 2 0 79

119 114 12 113 101 15 130 171 186 27 160 179 176 194 1,697

Jumlah Pelanggan Kelompok R2B Pada Saat Observasi 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2,800

Nilai ratarata perunsur 1.42 1.45 2.46 1.45 1.51 2.95 1.39 1.18 1.12 2.68 1.34 1.14 1.19 1.04 1.59

Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.10 0.10 0.17 0.10 0.11 0.21 0.10 0.08 0.08 0.19 0.10 0.08 0.08 0.07 1.58

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 8 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R2B (RT. Menengah) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.58; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.58 x 25 = 39.5; (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori `D'; (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan kelompok R2B mengindikasikan tidak baik.

182

Tabel 9. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyarakat/Pelanggan Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 370 218 8 4 348 28 331 311 53 376 513 545 81 490 541 529 582 5,098 239 300 258 281 66 207 75 40 18 68 48 32 16 7 233 9 7 354 7 8 10 492 25 8 39 1 6 39 2 1 127 10 4 5 9 17 3 0 1 228

Jumlah Pelanggan Pada Saat Observasi 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 8,400

Nilai rata-rata Nilai ratatertimbang per rata unsur perunsur pelayanan 1.41 0.10 1.45 2.47 1.47 1.50 2.93 1.42 1.17 1.13 2.72 1.28 1.12 1.18 1.04 1.59 0.10 0.18 0.10 0.11 0.21 0.10 0.08 0.08 0.19 0.09 0.08 0.08 0.07 1.58

1,866 1,208

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 9 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan kepuasan masyarakat/ pelanggan terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.58; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.58 x 25 = 39.5; (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way Rilau terkategori `D'; (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan mengindikasikan tidak baik. Tabel 10. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyakat/Pelanggan Terhadap Unit Pelayanan dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Klasifikasi Jawaban Pelanggan Jumlah Unit Teknik PDAM Way Rilau Pelanggan Pada Saat Kota Bandar Lampung Observasi 1 2 3 4 662 396 97 45 1200 Nilai ratarata perunsur 1.60 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.11

183

Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan

*Sumber:

Klasifikasi Jawaban Pelanggan Jumlah Unit Teknik PDAM Way Rilau Pelanggan Kota Bandar Lampung Pada Saat Observasi 1 2 3 4 529 480 143 48 1200 241 498 536 113 724 660 795 335 665 747 830 684 8,019 466 433 448 234 379 346 246 267 200 235 166 133 4,429 373 177 157 643 52 86 110 544 268 171 130 250 3,201 120 92 59 210 45 108 49 54 67 47 74 133 1,151 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 16,800

Nilai ratarata perunsur 1.76 2.31 1.89 1.78 2.79 1.52 1.70 1.51 2.26 1.78 1.60 1.54 1.86 1.85

Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.12 0.16 0.13 0.13 0.20 0.11 0.12 0.11 0.16 0.13 0.11 0.11 0.13 1.84

Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004

Dari perhitungan Tabel 10 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM, maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.84; (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.84 x 25 = 46; (c) Mutu pelayanan PDAM Way Rilau terkategori `C'; (d) Kinerja Pelayanan PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan mengindikasikan kurang baik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan a) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 1.58 dengan mutu pelayanan terkategori `D', yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau mengindikasikan tidak baik. b) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 2.10 dengan mutu pelayanan terkategori `C' yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja 184

Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik c) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan secara keseluruhan terhadap Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 1.84 dengan mutu pelayanan terkategori `C' yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja Pelayanan PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik.

Saran-saran PDAM Way Rilau bukan semata-mata lembaga milik pemerintah yang hanya menjalankan fungsi sosial, akan tetapi lebih pada aspek profit oriented seperti prinsip bisnis yang dijalankan sektor privat, maka PDAM Way Rilau harus membenahi sistem manajemen secara keseluruhan ke arah perbaikan kinerja dan kualitas pelayanan agar tidak ditinggalkan pelanggannya. Hal ini bisa dimulai dengan langkah-langkah mendasar, yaitu: a) Reformasi manajemen stratejik melalui restrukturisasi dan revitalisasi. b) Peningkatan sarana dan prasarana yang memadai sesuai standar badan usaha. DAFTAR PUSTAKA Alam,Arif dan Basirun. 2002. Pelayanan Publik Pemerintah Lokal: Hak Dasar Warganegara. Jurnal PSPK, Edisi April-Juni 2002 Hughes, O.E., (1994). Public Management and Administration: An Introduction. New York: St. Martin Press Inc. Kotler,Philip.1994. Marketing Jersey:Prentice-Hall Inc. Management. Seventh Edition. New

McCallum, B. (1984). The Public Service Manager. Melbuorne: Long Man Chesire. Potter, J., (1988). Consumerism and The Public Sector: How well does The Coat fit? In McKevitt, D., and Lawton, A., (eds). Public Sector Management: Theory, Critique and Practice. London: Sage Publication.

185

Wibawa, S., dan Purbokusumo, Y., (1998). Peningkatan Kualitas Pelayanan Administrasi. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik, Vol. 2, Nomor 1, Pebruari 1998. Wahab, S. A., (1999).Reformasi Pelayanan Publik: Kajian dari Perspektif Teori Governance. Disampaikan pada Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Kebijakan Publik pada FIA-UNIBRAW. Kepmenpan No. 63/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Kepmenpan No.25/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Kepmenpan No. 26/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

186

Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman

Rinaldi Bursan, S.E., M.Si.3 Susni Herwanti, S.Hut. 4

ABSTRACT Total Quality Management plays an important role in customer to visit Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura War). Tahura War has faced competitive with other tourism object e.g Pasir Putih, National Park Way Kambar and others. This paper has objective that how to know to check correlation between top management commitment, customer focus, human resources focus with performance. This paper found that top management commitment, customer focus, human resources focus have positive correlation with performance. Key words: total quality management, correlation, performance, customer focus, and top management commitment. I. Pendahuluan Tahura WAR adalah salah satu kawasan pelestarian di Propinsi Lampung seluas 22.249,31 hektar yang ditetapkan melalui SK Menteri kehutanan No. 804/KPTS-II/1993 tanggal 10 Agustus1993. Sebelumnya kawasan itu merupakan Hutan Lindung Register 19 Gunung Betung, Gunung Pesawaran dan Gunung Ratai. Secara administratif lokasi kawasan Tahura WAR berada di wilayah kabupaten Lampung Selatan dan kotamadya Bandar Lampung, Propinsi Lampung. Bagi masyarakat Lampung, khususnya masyarakat kota Bandar Lampung keberadaan Tahura WAR sungguh amat vital sebagai penyangga kehidupan ekonomi, sosial dan ekologi. Karakteristik bentang alam yang spesifik menjadikan kawasan tersebut sebagai penyedia berbagai jasa lingkungan untuk wilayah sekitarnya. Kejenuhan dari rutinitas kerja, adanya waktu luang, kebutuhan akan rekreasi dan mampu berwisata merupakan aspek-aspek yang

3 4

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung Dosen Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

mendorong untuk melakukan rekreasi. Tahura WAR yang berlokasi di Padang Cermin, Lampung Selatan ini menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat wisata. Perbaikan produktivitas terus-menerus tidak bisa dihindarkan dari pihak pengelola yang menginginkan kemajuan industri wisatanya. II. Permasalahan Tahura WAR merupakan taman hutan rakyat yang keberadaannya tidak hanya penting untuk mempertahankan keselestarian hutan, tetapi juga dapat menjadi sarana rekreasi dan pariwisata bagi masyarakat Lampung serta hutan pendidikan bagi masyarakat Lampung. Mengingat industri wisata yang semakin beragam di daerah tersebut dan penuh dengan persaingan, maka Tahura WAR perlu mengadakan suatu evaluasi terhadap pengelolaan yang sudah dilakukan selama ini. Tahura WAR dihadapkan pada persaingan tempat rekreasi lainnya seperti wisata pantai Pasir Putih dan wisata-wisata yang sedang marak lainnya seperti water park yang belakangan banyak bermunculan di Lampung. Untuk itu maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: bagaimanakah hubungan antara faktor manajemen, konsumen dan kinerja karyawan terhadap kepuasan pengunjung Tahura WAR. III. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Memeriksa korelasi antara variabel komitmen manajemen puncak, fokus pada pelanggan, fokus pada konsumen, benchmark dan fokus pada karyawan dengan variabel TQM. Memeriksa korelasi antara variabel TQM dengan variabel Kinerja. Memeriksa variabel yang paling berpengaruh terhadap penerapan TQM Di Tahura WAR.

2. 3.

IV. Rerangka Pemikiran Program perbaikan terhadap mutu yang terus menerus dapat dilaksanakan dengan menerapkan Total Quality Management (TQM). (Samson & Terziovski, 1999). TQM merupakan strategi organisasi yang digunakan untuk memperbaiki kepuasan pengunjung di Tahura WAR dengan mengembangkan prosedur dan mengelola kualitas hasil. TQM telah menjadi strategi global dengan beberapa 188

keuntungan yaitu memperbaiki kepuasan pengunjung, fokus dan motivasi pada karyawan, menurunkan sampah/limbah, dan memperbaiki kinerja secara keseluruhan. Pendekatan TQM diharapkan tercapainya kinerja perusahaan secara keseluruhan. Menurut Harvey & Brown (2001) dalam Agus (2004) TQM merupakan sebuah strategi organisasi untuk memperbaiki service performance dan kepuasan konsumen dengan mengembangkan prosedur untuk secara bijak mengelola kulitas. TQM mengacu pada sebuah penekanan kualitas yang meliputi keseluruhan organisasi dari pemasok sampai konsumen. TQM menekankan sebuah komitmen melalui manajemen umtuk keberlangsungan organisasi secara luas dalam menggerakkan secara tepat semua aspek produk dan jasa yang penting bagi konsumen (Render, B., dan Heizer, J.2005). TQM adalah pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus-menerus terhadap proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Proses TQM bermula dari pelanggan dan berakhir pada pelanggan pula. Proses TQM memiliki input yang spesifik (keinginan, kebutuhan dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses input dalam organisasi untuk memproduksi barang atau jasa) yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan (output). Lima variabel TQM dianalisis dengan menggunakan analisis reliabilitas untuk menentukan analisis item, konsistensi internal dan stabilitas dari pengukuran, uji korelasi antara praktik-praktik TQM dan uji korelasi antara TQM, service performance dan kepuasan pengunjung,. Peneliti berpendapat bahwa keseluruhan model hipotesis mempunyai kesesuaian terhadap performance secara keseluruhan. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah: H1 : Komitmen manajemen puncak mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM H2 : Fokus pada pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H3 : Benchmarking mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H4 : Pelatihan mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H5 : Service performance mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H6 : Kepuasan pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H7 : Kualitas Pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja. H8 : Kepuasan pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja. H9 : Total Quality Management mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja

189

V. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini dibatasi pada lima variabel TQM yang meliputi: 1. Komitmen manajemen puncak : Kualitas membutuhkan sepenuhnya komitmen dari manajemen puncak. Manajemen puncak bertindak sebagai pengendali dalam penerapan TQM, menciptakan nilai, tujuan dan sistem untuk memuaskan harapan pelanggan dan untuk memperbaiki kinerja organisasi. Fokus pada konsumen : Kesuksesan suatu organisasi salah satu indikatornya terdapat pada kepuasan konsumennya. Benchmarking : melibatkan standar dari suatu produk, jasa, biaya atau praktik-praktik lainnya yang mewakili kinerja paling baik. Pelatihan : Pencapaian kesuksesan dalam budaya kualitas harus dimulai dengan program pendidikan, yang dimulai dari manajemen senior, dan kemudian diikuti oleh seluruh karyawannya. Fokus karyawan : TQM membutuhkan komitmen dari manajemen puncak untuk meyakinkan karyawan dalam hal quality work culture dan menciptakan kesehatan citra organisasi dengan membuat pelayanan kualitas terhadap konsumen.

2.

3.

4.

5.

Menurut Saraph et al, 1989 dalam Kaynak, 2003, identifikasi praktik-praktik TQM dalam studi pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Identifikasi praktik-praktik TQM dalam studi pengukuran TQM

PRAKTIK-PRAKTIK TQM Management Leadership DESKRIPSI Dukungan dari kualitas yang bertanggung jawab oleh manjemen puncak. Evaluasi manejemen puncak terhadap kualitas. Partisifasi manjemen puncak dalam usaha perbaikan kualitas. Spesifikasi dari tujuan kualitas. Pentingnya mengarahkan kualitas terhadap biaya dan jadwal. Perencanaan kualitas yang komprehensif. Visibility dan otonomi dari department kualitas. Akses department ke manajemen puncak. Menggunakan staf untuk konsultasi. Koordinasi antara department kulitas dengan departemen lainnya. Keefektifan dari department kualitas. Provisi dari pelatihan statistik, trade training, dan training yang berhubungan dengan kualitas untuk semua karyawan.

Peranan Quality Department Training

190

PRAKTIK-PRAKTIK TQM EmployeeRrelation

DESKRIPSI Implementasi dari keterlibatan karyawan dan lingkaran kualitas. Partisipasi karyawan yang terbuka dalam hal pengambilan keputusan terhadap kualitas. Tanggung jawab karyawan terhadap kualitas. Keefektifan supervisi dalam menangani isu-isu kulitas Penggunaan data biaya kualitas. Umpan balik dari data kulitas kepada karyawan dan manajer untuk problem solving.Pengukuran kulitas tepat waktu. Evaluasi manajer dan karyawan berdasarkan quality performance. Ketersediaan data kulitas. Sedikit tergantung pada pemasok. Ketergantungan yang kuat dari pemasok dan pelanggan. Pembelian kebijakan yang menekankan pada kualitas dari pada harga. Kontrol kualitas pemasok Melalui proses scrub-down. Keterlibatan semua departement yang berpengaruh dalam design review. Kejelasan spesifikasi. Penekanan pada produksi, kulitas bukan jadwal roll out. Hindari desain ulang. Kejelasan kepemilikan proses, tahap dan langkah.

Quality Data and Reporting Supplier Quality Management Product/ServiceDdesign Process Management

Studi hubungan antara elemen-elemen TQM terhadap dua indikator kinerja telah dilakukan oleh A. Agus (2004). Penelitian tersebut menggunakan A Null Model yang memperlihatkan hubungan antara lima elemen TQM dengan kinerja perusahaan ( Gambar 1).

d1

Mdtopm

d2 d3 d4

Mdcust

Mdperf

e1

TQM Perform

Mdbench

Zeta 1

Mdcsatis

Mdtrain

e2

d5

Mdemploy

Gambar 1. Model struktural menunjukkan hubungan struktural antara TQM dan keseluruhan kinerja (A Null Model)

191

VI. Model Penelitian Model penelitian yang digunakan diadopsi dari hasil sebuah model struktural pada Gambar 1.

Mdtopmgt

Mdcust TQM

Mdperf

Mdbench

Perform

Mdtrain

Mdcsatis

Gambar 2. Model HUBUNGAN antara TQM dengan keseluruhan kinerja Keterangan: Mdtopmgt Mdbench Mdperf Mdemploy

Mdemp1oy

= top mangement commitment Mdcust = benchmarking Mdtrain = service performance Mdcsatis = employee wealth focus

= customer focus = training =customer satisfaction

VII. Metode Penelitian Populasi yang akan diteliti adalah pengunjung pengunjung yang berusia antara 15-60 tahun dengan anggapan usia tersebut merupakan usia yang bisa diandalkan dalam pengisian kuisioner), stakeholder dan masyarakat sekitar. Sampel diambil secara acak terhadap para pengunjung di lokasi yang terdapat pengunjung, dan para pengelola Tahura WAR. Masing-masing sampel sebanyak 35 responden untuk pengunjung dan 60 responden untuk pengelola, sehingga total ada 95 orang responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner yang terdiri dari dua jenis kuisioner, satu untuk pengunjung (terhadap level kepuasan pengunjung) dan satu untuk para pengelola Tahura WAR (terhadap praktikpraktik TQM). Masing-masing responden memberikan penilaian terhadap 192

kuisioner dengan tujuh Skala Likert terhadap indikator-indikator variabel (Tabel 2). Penilaian terhadap praktik-praktik TQM dan level kepuasan pengunjung menggunakan tujuh skala penilaian yaitu :1 = sangat tidak setuju, 2 = tidak setuju, 3 = agak tidak setuju, 4 = netral, 5 = agak setuju, 6 = setuju dan 7= sangat setuju. Tabel 2. Indikator Praktik-Praktik TQM dan Performance

NAMA VARIABEL Komitmen manajemen puncak INDIKATOR 1. Mempertimbangkan kualitas ekowisata Tahura WAR sebagai salah satu tujuan organisasi. 2. Membangun kualitas sebagai suatu isu strategi organisasi 3. Evaluasi kinerja dari manajer berdasarkan kualitas ekowisata Tahura WAR 1. Visi, komitmen dan suasana yang dibawa pengunjung 2. Tersedianya kotak usul dan saran terhadap pihak pengelola Tahura 3. Tingkat umpan balik pengunjung untuk memperbaiki kualitas ekowisata Tahura 4. Memanfaatkan informasi dari pengunjung Tahura 1. Memperhatikan standar pelayanan dan proses dari industri jasa pesaing yang bergerak dibidang yang sama. 2. Mempertimbangkan keefektifan benchmarking dalam perbaikan kualitas Tahura WAR 3. Keefektifan dari benchmarking dalam menurunkan biaya pelayanan 4. Keinginan organisasi terhadap benchmark di masa mendatang 1. Ketersediaan karyawan untuk mengikuti pelatihan kualitas 2. Frekuensi diadakannya pelatihan-pelatihan kualitas dalam setahun 3. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan pada sesi pelatihan yang sama 4. kepuasan karyawan terhadap keseluruhan kegiatan pelatihan 1. Menyediakan insentif keuangan kelompok 2. Menyediakan program-program profit-sharing 1. 2. 3. 1. 2. 3. 4. 5. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Keterlibatan dalam pemberian usul dan saran. Tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan Tingkat kesadaran kualitas ekowisata Tahura WAR. Keinginan dan kesiapan karyawan (respon) yang cepat terhadap permintaan pengunjung Membangun fasilitas wisata yang dapat memuaskan pengunjung Antisipasi dan tanggung jawab terhadap kebutuhan, keluhan dan keinginan pengunjung Memahami kebutuhan pengunjung Komunikasi, mempertahankan pengunjung dalam bahasa yang baik termasuk pada saat memberikan informasi tentang Tahura WAR Reliabilitas, artinya Tahura WAR tersebut menyediakan obyek wisata yang tepat dan di tempat yang tepat. Akses, kedekatan dan kemudahan untuk dijangkau Kesopanan, respek, dan keramahan dari pihak pengelola Tahura Keamanan dan kebebasan dari bahaya, gangguan dan risiko serta kenyamanan berwisata Kredibel, artinya menimbulkan minat, kepercayaan, keyakinan dan kejujuran di hati pengunjung terhadap ekowisata Tahura WAR Kompetensi, artinya memiliki keahlian, ketrampilan dan pengetahuan dari pihak pengelola tentang Tahura WAR KET

Fokus pengunjung

Pelatihan Fokus Kesejahteraan Karyawan Fokus Partisipasi Karyawan

Service performance

Level Kepuasan Pengunjung

Kepuasan pengunjung

Praktik TQM

Benchmarking (standar)

193

VIII. Hasil Analisa Dan Pembahasan 1. Hasil Uji Reliabilitas Uji reabilitas menurut Simamora (2004) digunakan untuk menguji tingkat kehandalan kuesioner. Untuk menilai reliabilitas dalam penelitian ini digunakan nilai Cronbach Alpha. Jika nilai alpha yang diperoleh lebih besar dari 0,5 maka dapat disimpulkan bahwa indikator yang digunakan reliabel. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan Cronbach Alpha diperoleh nilai tertinggi untuk variabel Benchmarking 0,885, Fokus Pengunjung 0,857, Komitmen Manajemen 0,786, Pelatihan Karyawan 0,794 dan Fokus Karyawan 0,561. Nilai Cronbach Alpha untuk variabel Fokus Karyawan berada di bawah 0,7, hal ini mungkin disebabkan karena posisi karyawan yang menyebar tidak hanya di lapangan atau lokasi Tahura tetapi juga di kantor pelayanan dan pusat. Keberagaman lokasi menyebabkan semakin heterogennya pengalaman yang telah dialami oleh setiap karyawan. Oleh karenanya, nilai Cronbach Alpha untuk variabel Fokus Karyawan masih dapat ditolerir untuk rentang yang luas. Karena hasil uji semua item adalah realibel berarti instrumen penelitian layak digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian. Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas dengan Cronbach Alpha

Variabel Komitmen Manajemen Fokus Pengunjung Benchmarking Pelatihan Karyawan Fokus Karyawan FinalItems 3 4 4 4 5 Reliability 0,786 0,857 0,885 0,794 0,561

2. Analisa Korelasi Pengujian dengan Korelasi Spearman menunjukkan bahwa variabel Komitmen mempunyai korelasi positif yang cenderung lemah sebesar 0,378 dengan variabel Fokus Pengunjung. Dari tabel 4 terlihat bahwa hubungan antara variabel Benchmarking dan Fokus Pengunjung memiliki keeratan positif yang cukup tinggi. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa jika pihak manajemen melakukan perbaikan pada benchmark Tahura maka aktivitas fokus pada pengunjung pun harus dilakukan karena keduanya memiliki hubungan yang erat dan positif. Tabel 4. Hasil Uji Korelasi dengan Spearman Corellation 194

Correlations KOMITMENPELANGGANBENCHMARK TRAINING SEJAHTERAPARTISIPASI Pearson Correlation 1 .378* .057 .002 -.116 -.227 Sig. (2-tailed) .025 .745 .989 .508 .190 N 35 35 35 35 35 35 PELANGGAN Pearson Correlation .378* 1 .578** .002 .195 .258 Sig. (2-tailed) .025 .000 .992 .261 .135 N 35 35 35 35 35 35 BENCHMARK Pearson Correlation .057 .578** 1 .042 -.112 .291 Sig. (2-tailed) .745 .000 .811 .524 .090 N 35 35 35 35 35 35 TRAINING Pearson Correlation .002 .002 .042 1 .286 -.390* Sig. (2-tailed) .989 .992 .811 .096 .021 N 35 35 35 35 35 35 SEJAHTERA Pearson Correlation -.116 .195 -.112 .286 1 .000 Sig. (2-tailed) .508 .261 .524 .096 1.000 N 35 35 35 35 35 35 PARTISIPASI Pearson Correlation -.227 .258 .291 -.390* .000 1 Sig. (2-tailed) .190 .135 .090 .021 1.000 N 35 35 35 35 35 35 KOMITMEN *. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed). **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

3.

Analisa Faktor

Pengujian statistika dengan analisa faktor menemukan bahwa variabel fokus pada karyawan dan variabel kepuasan pengunjung terbagi menjadi 2 faktor yang berbeda. Hal in dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5. Uji KMO dan Bartlett

KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square df Sig. .500 61.638 10 .000

Dari tabel di atas terlihat angka KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) adalah sebesar 0,5. Oleh karena angka tersebut lebih besar sama dengan 0,5 maka kumpulan variabel dapat diproses lebih lanjut.

195

Tabel 6. Total Variance Explained

Total Variance Explained Initial Eigenvalues % of Variance Cumulative % 39.302 39.302 35.956 75.258 15.034 90.293 6.362 96.654 3.346 100.000 Rotation Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 1.959 39.189 39.189 1.803 36.070 75.258

Component 1 2 3 4 5

Total 1.965 1.798 .752 .318 .167

Extraction Method: Principal Component Analysis.

Dari tabel di atas terlihat bahwa terbentuk dua buah faktor yang menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan, dimana faktor 1 dapat menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan sebesar 39,302 persen dan faktor 2 dapat menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan sebesar 35,956 persen. Tabel 7. Rotated Component Matrix

Rotated Component Matrix Component 1 EMPLOY1 EMPLOY2 EMPLOY3 EMPLOY4 EMPLOY5 .513 -.097 -.031 .887 .948 2 .468 .901 .869 -.114 -.058

a

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations.

Dari tabel di atas terlihat bahwa variabel Employ1, Employ 4 dan Employ 5 membentuk Faktor 1 sedangkan variabel Employ 2 dan Employ 3 membentuk Faktor 2. Kemudian dari tabel operasionalisasi variabel Faktor 1 dinamakan Faktor Kesejahteraan Karyawan dan Faktor 2 dinamakan Faktor Partisipasi Karyawan. Selanjutnya dari hasil pengujian dengan analisa faktor ditemukan bahwa variabel Kepuasan Pengunjung membentuk dua faktor. Hasil pengujian dengan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) pada Tabel 8 menunjukkan nilai 0,645 sehingga variabel dapat diproses lebih lanjut.

196

Tabel 8. Uji KMO dan Bartlett 2 Faktor

KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Bartlett's Test of Sphericity Approx. Chi-Square df Sig. .645 114.153 15 .000

Lalu dari Tabel 9 terlihat bahwa faktor 1 dapat menjelaskan variabel Kepuasan Pengunjung sebesar 47,701 persen sedangkan faktor 2 dapat menjelaskan varaiabel Kepuasan Pengunjung sebesar 19,750 persen. Tabel 9. Total Variance Explained 2 Faktor

Total Variance Explained Initial Eigenvalues action Sums of Squared Loadiation Sums of Squared Loadin t Compone Total% of Variancumulative %Total% of Variancumulative %Total% of Variancumulative % 1 2.862 47.701 47.701 2.862 47.701 47.701 2.094 34.898 34.898 2 1.185 19.750 67.450 1.185 19.750 67.450 1.953 32.553 67.450 3 .783 13.057 80.508 4 .578 9.629 90.137 5 .343 5.714 95.851 6 .249 4.149 100.000 Extraction Method: Principal Component Analysis.

Dari Tabel 10 terlihat bahwa variabel Service1, Service5 dan Service6 termasuk dalam Faktor 1 dan variabel Service2, Service3 dan Service4 termasuk dalam Faktor 2. Dari tabel operasionalisasi variabel, Faktor 1 dinamakan Faktor Kualitas Pelayanan dan Faktor 2 disebut Faktor Instrumen Pelayanan. Tabel 10. Rotated Component Matrix 2 Faktor

Rotated Component Matrix Component 1 SERVICE1 SERVICE2 SERVICE3 SERVICE4 SERVICE5 SERVICE6 .876 -.065 .275 .496 .820 .573 2 .002 .866 .798 .607 .163 .414

a

Extraction Method: Principal Component Analysis. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. a. Rotation converged in 3 iterations.

197

4.

Analisa Regresi

Dari Tabel 11 terlihat bahwa nilai R square adalah sebesar 0,703, hal ini berarti sekitar 70,3 persen TQM dipengaruhi oleh variabel komitmen manajemen, fokus pada pengunjung, benchmark, pelatihan karyawan dan fokus pada karyawan. Tabel 11. Hasil Analisa Regresi

b Model Summary

Mode 1

Change Statistics AdjustedStd. Error of Square R R R SquareR Squarehe EstimateChangeF Change df1 df2 ig. F Change .703a .494 .385 .653 .494 4.549 6 28 .002

a.Predictors: (Constant), mdemploy2, mdemploy1, mdtopmgt, mdbench, mdtrain, mdcust b.Dependent Variable: TQM

Dari Tabel 12 terlihat bahwa F hitung memiliki nilai sebesar 4,549 dengan tingkat signifikansi 0,002. Oleh karenanya, kelima variabel dalam penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi TQM pada Tahura WAR. Tabel 12. Hasil Analisa Regresi

ANOVAb Model 1 Sum of Squares 11.649 11.951 23.600 df 6 28 34 Mean Square 1.942 .427 F 4.549 Sig. .002a

Regression Residual Total

a. Predictors: (Constant), mdemploy2, mdemploy1, mdtopmgt, mdbench, mdtrain, mdcust b. Dependent Variable: TQM

Hasil pengujian statistik dengan menggunakan SPSS 13.00 menemukan bahwa komitmen manajemen puncak mempunyai korelasi positif yang lemah terhadap variabel TQM, yaitu sebesar 0,084 dan pengaruhnya terhadap variabel TQM juga tidak signifikan. Hipotesis H1 yang diujikan ternyata tidak mempunyai data yang cukup untuk mendukung hipotesis tersebut (Tabel 13). Selanjutnya, variabel fokus pada pelanggan memiliki hubungan negatif yang lemah dengan variabel TQM Hal ini berarti fokus pada pelanggan ditingkatkan maka komitmen pada manajemen puncak malah menurun dan sebaliknya. 198

Korelasi yang lemah ini menyebabkan variabel fokus pelanggan ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel TQM. Dengan kata lain, hipotesis H2 tidak mempunyai cukup data yang mendukung untuk diterima. Dari hasil pengujian dengan analisa regresi ditemukan bahwa variabel benchmark mempunyai korelasi negatif sebesar 0,064 dengan variabel TQM. Hal ini menyebabkan variabel benchmark tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel TQM. Oleh karena itu hipotesis H3 tidak mempunyai data yang mendukung untuk diterima. Pengujian dengan Pearson Correlations antara variabel pelatihan karyawan dengan variabel TQM menemukan adanya korelasi positif yang cukup kuat, yaitu sebesar 0,340. Hal ini menyebabkan variabel pelatihan karyawan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap variabel TQM. Tabel 13. Hasil Uji Pearson

Correlations Pearson Correlation TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM 1.000 .084 -.024 -.064 .340 .502 .127 . .316 .446 .357 .023 .001 .233 35 35 35 35 35 35 35 mdtopmgt .084 1.000 .378 .057 .002 -.116 -.227 .316 . .013 .373 .494 .254 .095 35 35 35 35 35 35 35 mdcust -.024 .378 1.000 .578 .002 .195 .258 .446 .013 . .000 .496 .131 .067 35 35 35 35 35 35 35 mdbench -.064 .057 .578 1.000 .042 -.112 .291 .357 .373 .000 . .406 .262 .045 35 35 35 35 35 35 35 mdtrain .340 .002 .002 .042 1.000 .286 -.390 .023 .494 .496 .406 . .048 .010 35 35 35 35 35 35 35 mdemploy1 .502 -.116 .195 -.112 .286 1.000 .000 .001 .254 .131 .262 .048 . .500 35 35 35 35 35 35 35 mdemploy2 .127 -.227 .258 .291 -.390 .000 1.000 .233 .095 .067 .045 .010 .500 . 35 35 35 35 35 35 35

Sig. (1-tailed)

N

Variabel fokus pada karyawan memiliki korelasi positif yang cukup kuat terhadap variabel TQM. Artinya, jika fokus pada karyawan ditingkatkan baik secara kesejahteraan maupun partisipasi dalam pengambikan keputusan maka TQM akan meningkat pula. Dalam hal ini hipotesis H5 ternyata memiliki data yang cukup mendukung untuk diterima. Selanjutnya pada pengujian tentang pengaruh kinerja jasa terhadap kinerja secara keseluruhan diperoleh korelasi positif yang kuat antara kinerja jasa 199

terhadap kinerja secara keseluruhan sebesar 0,617, dengan tingkat sigifikansi yang lebih kecil dari 0,05. Dengan perkataan lain, hipotesis H6 ternyata memiliki data yang cukup mendukung untuk diterima. Demikian pula hubungan yang terjadi antara variabel kualitas jasa dan kinerja secara keseluruhan memiliki korelasi positif yang cukup kuat sebesar 0,575 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05. Karena tingkat signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 berarti hipotesis H7 diterima. Pengujian hubungan antara variabel Kepuasan Pengunjung dengan kinerja secara keseluruhan memiliki angka korelasi sebesar 0,439 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,05. Hal ini berarti hipotesis H8 dapat diterima. Sedangkan hubungan yang terjadi antara variabel TQM dan Kinerja secara Keseluruhan ternyata memiliki korelasi negatif sebesar 0,218 dengan tingkat signifikansi di atas 0,05. Korelasi yang negatif ini menjelaskan bahwa apabila kinerja secara keseluruhan meningkat maka TQM malah menurun dan sebaliknya. Tingkat signifikansi yang cenderung di atas 0,05 menyebabkan hipotesis H9 tidak mempunyai data yang cukup mendukung untuk dapat diterima. IX. Kesimpulan Dari data yang telah dikumpulkan dan diolah dan dianalisis dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Terdapat korelasi positif yang cukup kuat antara variabel fokus pada karyawan dengan TQM, variabel pelatihan karyawan dengan TQM dan variabel partisipasi karyawan dengan TQM. Korelasi antara variabel komitmen manajemen puncak dengan TQM, variabel fokus pada pengunjung dengan TQM, benchmark dengan TQM dan fokus pada partisipasi karyawan dengan TQM bersifat negatif dan lemah. Korelasi yang terjadi antara variabel TQM dan Kinerja secara Keseluruhan ternyata memiliki korelasi negatif. Variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap variabel TQM adalah variabel fokus pada kesejahteraan karyawan.

2.

3. 4.

200

X. Saran dan Rekomendasi Berdasarkan temuan yang diperoleh peneliti dapat memberikan beberapa saran dan rekomendasi sebagai berikut : 1. Variabel TQM yang telah menunjukkan kinerja cukup baik dalam meningkatkan kinerja pada Tahura WAR adalah Fokus pada karyawan dan pelatihan karyawan, sedangkan yang lainnya dapat dikatakan belum memiliki kinerja yang cukup baik. Oleh sebab itu, evaluasi kinerja dapat dilakukan khususnya pada variabel komitmen manajemen puncak, fokus pengunjung dan benchmarking. Masalah komitmen bukan melulu pemikiran manajemen puncak saja akan tetapi akan lebih baik kalau semua pihak pengelola (stakeholders) dari tingkat manajer hingga tukang tukang sapu bersama-sama berkomitmen untuk merawat dan mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan kinerja Tahura WAR. Proses yang tidak kalah pentingnya adalah benchmarking Tahura WAR itu sendiri. Dengan adanya standarisasi pada setiap rangkaian pelayanan pada Tahura WAR maka semua kinerja dapat dievaluasi. Sehingga untuk kedepannya, akan lebih mudah memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kinerja pelayanan pada Tahura WAR. Dari sisi pengunjung ternyata ditemukan bahwa pengunjung belum merasa puas akan kinerja dan pelayanan yang diterima. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh karena kesiapan dan respon karyawan relatif lambat terhadap permintaan pengunjung, beragam fasilitas yang kurang memadai seperti minimnya fasilitas MCK, serta komunikasi satu arah yang dialami pengunjung. Berdasarkan temuan tersebut hendaknya segenap pengelola Tahura WAR dari semua level pekerjaan harus mau berbenah dan introspeksi diri demi mewujudkan tempat wisata yang berkualitas dan memiliki citra diri yang positif.

2.

3.

4.

Daftar Pustaka Agus. A, 2004. TQM as a focus for improving overall service performance and customer satisfaction: an empirical study on a public service sector in Malaysia. Taylor &Francis. Vol.15, pp. 615-628. Ceballos-Lascurain, H. 1996. Tourism, Ecotourism, and Protected Areas. Gland, Switzerland: IUCN.

201

Fandeli, C. 2000. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata. Di dalam : Fandeli, C., dan Mukhlison, Editor. Pengusahaan Ekowisata. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM, Unit KSDA DIY, Pustaka Pelajar. Groonroos, C. 2000. Service management and Marketing: a customer relationship management Approach. Second edition. John Wiley and Sons, ltd, Baffins Lane, Chicester, West Sussex PO19 IUD, England. Kaynak, H. 2003. The relationship between total quality management practices and their effect on firm performance. Journal of operation management 21, pp. 405-435. Marion, J.L., and T.A. Farrel. 1996. Managing Ecotourism Visitation in Protected Areas. Di dalam : Ecotourism. A Guide for Planners and Managers. Vol. 2. Edited : Lindberg K., M. Epler Wood and D. Engeldrum. North Bennington : The Ecotourism Society. Orams M.B. 1995. Towards a More Desirable form of Ecotourism. Tourism Management 16 (1995) 3-8. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Pedersen, A. 1991. Issues, Problem, and Lesson Learned from Ecotourism Planning Projects. Di dalam : Ross, S., and G. Wall. 1999. Ecotourism : towards congruence between theory and practice. Tourism Management 20 (1999) 123-132. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Render, B., and Heizer, J. 2005. Operation Management : flexible version. Seventh edition. Pearson education,Inc,. Upper Saddle River, New Jersey. Ross, S., and G. Wall. 1999. Ecotourism : towards congruence between theory and practice. Tourism Management 20 (1999) 123-132. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Samson. D& Terziovski,1999. The relation between total quality management practices and operational performance. Journal of operation management 17, pp. 393-409. Santoso, Singgih & Tjiptono, Fandy, 2002. Riset Pemasaran : Konsep dan Aplikasi dengan SPSS, Elex Media Komputindo, Jakarta. Sarwono, Jonathan,. 2005. Teori dan Praktik Riset Pemasaran dengan SPSS, Andi Yogyakarta, Yogyakarta Setiawan, I. 2000. Nilai Ekonomi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Propinsi Lampung. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Simamora, Bilson.2004. Riset Pemasaran : Falsafah, Teori dan Aplikasi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

202

Singarimbun, M., dan S. Effendi. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES. UPTD Tahura WAR. 2000. Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman. Bandar Lampung : UPTD Tahura WAR. UPTD Tahura WAR. 2002. Rencana Pengelolaan Tahunan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Propinsi Lampung T.A. 2003. Bandar Lampung : UPTD Tahura WAR. www.depdiknas.go.id/jurnal/25/abbas gozali.htm

203

PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA

Ernie Hendrawaty, S.E., M.Si.5

ABSTRACT Stock split is one of corporate action that executed by a public company which aim to increase number of shares. This action is s ussually took if stock price is very high, therefore reduce the marketability. This reasearch will use stock split announcement at Bursa Efek Jakarta during year 2005 until 2006 as the event. Number of companies that announce the stock split were 12 companies. By using run test and event study, this reasearch will test whether Bursa Efek Jakarta is weakly efficient and and or semi strongly efficient. The result of reasearch, first that stock price change randomly, cause the investor find difficulties to predict stock price movement to get an abnormal return. It imply that BEJ is weakly efficient. Second, t test shows that 30 days before and 30 days after stock split announcement, there were not an abnormal return It indicate that BEJ has already efficient semi strongly efficient because investor doesn't have any strategy to use any available information at the market. Keywords : Abnormal Retun, Stock split, Market Efficiency

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar modal sangat bermanfaat bagi para investor dan dunia usaha pada umumnya. Pasar modal berperan sebagai sumber dana yang bersifat jangka panjang, alternatif investasi, wahana untuk melakukan restrukturisasi permodalan perusahaan, dan media untuk melakukan divestasi. Manfaat pasar modal bagi investor adalah memberikan kesempatan atau hak kepada masyarakat untuk memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai prospek yang baik dimasa depan, dan merupakan alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang bisa diperhitungkan. Sedangkan manfaat pasar modal bagi dunia usaha adalah membina iklim keterbukaan bagi

5

Dosen Jurusan Manajemen, fakultas Ekonomi Unila

dunia usaha serta memberikan akses kontrol sosial bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya, mendorong pemanfaatan manajemen profesional dalam pengelolaan perusahaan, wahana untuk melakukan investasi dalam jangka pendek (likuiditas) maupun jangka panjang (growth), dan merupakan sumber pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan. Terdapat dua tujuan investor dalam berinvestasi di pasar modal, yaitu dividen dan keuntungan modal (capital gain). Keduanya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan tingkat pendapatan yang diharapkan. Agar harga sahamsaham yang tercatat di pasar modal menunjukkan nilai yang sebenarnya, dibutuhkan suatu kondisi pasar modal yang efisien. Kondisi pasar modal yang efisien diantaranya berkaitan dengan kesadaran dari para emiten untuk menerbitkan informasi yang berkualitas, baik dari sisi keanekaragaman, kecepatan, frekuensi, kebenaran serta ketepatan informasi. Pada pasar modal, informasi merupakan kebutuhan utama para investor dan traders, karena informasi tersebut digunakan oleh mereka untuk mengambil keputusan invetasi. Tingkat kecepatan pasar modal dalam merespon atau menyerap informasi baru telah lama menjadi perhatian para ahli ekonomi keuangan di seluruh dunia. Mereka sepakat bahwa tingkat kecepatan pasar dalam merefleksikan informasi baru ke dalam perubahan nilai sekuritas merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi. Semakin cepat pasar modal melakukan reaksi terhadap informasi baru, maka pasar tersebut semakin efisien. Konsekuensi dari pasar modal yang efisien adalah sangat sulit (atau bahkan hampir tidak mungkin) bagi para investor untuk memperoleh tingkat keuntungan abnormal (tingkat keuntungan yang direalisir lebih tinggi dari tingkat keuntungan yang diharapkan) secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di bursa efek. Kunci utama untuk mengukur pasar modal adalah hubungan antara harga sekuritas dengan informasi (Jogiyanto, 2003:hal 370). Pasar dikatakan efisien apabila memenuhi dua kriteria, yaitu harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan saat itu dan karena informasi menyebar secara merata maka reaksi harga terhadap informasi baru terjadi seketika karena semua pemain di pasar telah memiliki antisipasi cukup. Efisiensi pasar berdasarkan informasi dibagi menjadi: (1) Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form) (2) Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form) dan (3) Efisiensi pasar bentuk kuat Salah satu informasi yang signifikan terhadap harga sekuritas adalah pengumuman stock split. Stock split merupakan salah satu bentuk corporate action (tindakan yang dilakukan perusahaan yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan) yang dilakukan emiten, dengan cara memecah sahamnya (split) menjadi lebih banyak dan harga per lembar saham berubah menjadi lebih kecil 206

dari harga sebelum pemecahan. Pemecahan saham telah menjadi alat yang digunakan untuk membentuk harga pasar saham perusahaan. Tujuan dilakukannya stock split antara lain agar saham lebih menarik dimata investor, karena secara psikologis investor lebih tertarik membeli saham yang murah. Lebih banyaknya investor yang tertarik pada saham tersebut maka kemungkinan harga naik akan lebih besar. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang diatas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: a. Apakah harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006 ? Apakah terjadi tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006 ?

b.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Penulisan a. Untuk mengetahui pergerakan harga saham sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta tahun 2005-2006. Untuk mengetahui tingkat abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta tahun 2005-2006.

b.

1.3.2. Manfaat penelitian a. Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi para investor sebagai pertimbangan sebelum berinvestasi di pasar modal dan pihak yang terkait dengan pasar modal. Untuk memberikan melakukan stock split bahan pertimbangan kepada emiten sebelum

b.

c.

Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya

207

1.4. 1.4.1.

Landasan Teori Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai stock split sudah sering dilakukan. Hasil dari penelitian terdahulu diantaranya dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini: Tabel 1. Penelitian-penelitian empiris tentang efisiensi pasar modal di Bursa Efek Jakarta Peneliti Sri Fatmawati dan Marwan Asri Rianty Setyawasih Tahun 1999 Tujuan Mengetahui adakah pengaruh stock split tehadap harga saham,likuiditas dan spread Mengetahui pengaruh stock split terhadap abnormal return Mengetahui kandungan informasi stock split dan likuiditas saham Pembahasan Stock split berpengaruh terhadap ketiga variabel tersebut Tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return Terdapat kandungan informasi dan penurunan likuisditas saham Simpulan Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat Pasar modal efisien bentuk setengah kuat Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat

2000

Indah Kurniawaty

2003

Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa para peneliti menemukan bahwa pasar modal di Indonesia belum efisien bentuk setengah kuat. 1.4.2. Landasan Teori

1.4.2.1. Pemecahan Saham (Stock split) A. Pengertian pemecahan saham (Stock split) Pemecahan saham (stock split) merupakan aksi emiten yang dilakukan dengan cara memecah nilai nominal saham menjadi nominal yang lebih kecil sesuai dengan rasio stock split yang ditentukan. Perubahan nilai nominal tersebut hanya mengakibatkan penambahan jumlah lembar saham, tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor (paid in capital). Dengan kata lain, aksi pemecahan saham tidak akan mengurangi atau menambah nilai investasi dari pemegang saham/investor.

208

B. Motivasi stock split Beberapa pelaku pasar khususnya emiten mempunyai pendapat bahwa stock split mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah: 1. Harga saham yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar sehingga mengubah investor odd lot menjadi investor round lot. Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi. Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan lebih likuid. Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja perusahaan bagus dan memiliki prospek yang bagus.

2. 3. 4.

Sementara itu ada beberapa pihak yang mempunyai pendapat yang bertentangan dengan hal diatas yaitu: 1. 2. Tingkat harga saat ini belum dapat menjamin keberhasilan stock split karena ketidakpastian lingkungan bisnis. Tingkat harga sesudah stock split akan mengubah posisi perusahaan pada kelompok yang memiliki nilai saham rendah sehingga mengakibatkan kepercayaan investor terhadap saham tersebut menurun. Peningkatan jumlah pemegang saham akan pelayanan (servicing cost) bagi pemegang saham. meningkatkan biaya

3.

1.4.2.2. Konsep Pasar Yang Efisien Konsep pasar modal yang efisien (efficient capital markets) merupakan tema yang dominan di kalangan akademisi sejak tahun 1960an. Menurut Blake (1990: 243) istilah pasar modal yang efisien memiliki beberapa konsep yang berbeda yaitu : (1) Efisiensi secara alokasi (allocatively efficient); (2) Efisiensi secara operasional (operationally efficient) dan (3) Efisiensi secara informasi (informationally efficient) yaitu suatu pasar dikatakan efisien secara informasi jika harga pasar saat ini segera dan sepenuhnya merefleksikan semua informasi yang tersedia. Walaupun terdapat beberapa konsep pasar efisien, istilah pasar efisien pada umumnya hanya dikaitkan dengan salah satu dari tiga konsep tersebut, yaitu efisiensi secara informasi (informationally efficient).

209

A. Hipotesis Pasar Efisien Hipotesis pasar efisien menurut Blake (1991:243) adalah "... that market prices instanteously and fully reflect all relevant available information is known as efficient markets hypothesis". Dari definisi tersebut terdapat tiga hal yang penting untuk dipahami, yaitu : a. Fully Reflect Investor akan mengolah semua informasi yang relevan kedalam harga saham pada saat akan membuat keputusan menjual atau membeli saham. Harga sekarang yang terjadi mencerminkan semua informasi yang tersedia. b. All Relevant Available Information / All Known Information Informasi yang direfleksikan pada harga saham berasal dari informasi perubahan harga saham di masa lalu (historical price information), informasi yang tersedia di publik (public information) dan semua informasi dan infromasi yang tidak tersedia di publik (inside information). c. Instanteously / Quickly and Accurately Harga keseimbangan yang terbentuk di pasar modal tidak akan berubah selama tidak ada informasi baru yang dapat merubah kekuatan permintaan dan penawaran. Pada saat suatu informasi baru yang relevan masuk ke pasar modal, kekuatan permintaan dan penawaran atas satu atau beberapa saham akan bereaksi, sehingga akan terbentuk harga keseimbangan yang baru. Semakin cepat informasi diserap dan diproses oleh pasar, maka pasar modal tersebut akan semakin efisien. Jika hipotesis pasar efisien tersebut terbukti, maka pasar dalam keadaan continous stochastic equilibrium, yang berarti harga pasar saham akan selalu sama dengan nilai fundamental saham tersebut. Nilai fundamental suatu saham tidak akan berubah selama tidak ada informasi baru mengenai saham tersebut. Informasi baru atau berita pada umumnya tidak dapat diprediksi, Implikasinya adalah harga saham masa lalu tidak dapat dipakai untuk memprediksi harga saham di masa yang akan datang. Dengan kata lain menurut hipotesis pasar efisien, harga pasar suatu asset akan mengikuti langkah acak (random-walk). B. Kondisi dan Mekanisme Pasar Modal Yang Efisien Pasar modal yang efisien merupakan suatu bentuk pasar yang terdiri dari banyak penjual dan pembeli yang saling berinteraksi di dalamnya dan memiliki 210

karakter yang bersifat bebas (free market), di mana cukup mudah bagi para investor baru untuk masuk dan mengadakan transaksi dan sebaliknya, juga cukup mudah bagi lainnya untuk meninggalkan pasar setiap saat. Beberapa aspek tambahan lainnya yang merupakan syarat utama terbentuknya suatu pasar modal yang efisien adalah aspek-aspek : a. Ketersediaan dan penyebaran informasi Informasi tersedia bagi masyarakat secara bebas dan relatif tanpa biaya. Pentingnya ketersediaan dan penyebaran informasi ini disebabkan oleh investor membutuhkan informasi terkait secara cepat dan terus menerus untuk melakukan penilaian harga saham, sehingga informasi tersebut dapat dengan segera tercermin pada harga saham. b. Harga saham berfluktuasi bebas Harga saham tidak dapat dikendalikan oleh penjual dan pembeli di pasar modal. Investor individu tidak cukup kuat untuk mempengaruhi pergerakan harga saham. Ada beberapa investor institusi yang cukup kuat mempengaruhi harga. Investor ini dikendalikan melalui peraturan pasar modal sehingga tidak dapat melakukan manipulasi harga c. Terdapat analis investasi dalam jumlah besar di pasar modal Dikenal adanya dua tipe analis investasi yang membantu terjadinya perubahan harga saham secara acak di pasar modal Pertama, para analis fundamental berusaha mempelajari kondisi perekonomian secara umum. Kedua, para analis teknikal yang berusaha mempelajari pergerakan harga saham di masa lalu dan mencari suatu pola-pola tertentu dari perubahan harga di masa lalu tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa semakin banyak analis investasi dan maraknya persaingan antar mereka akan membuat pasar modal setiap saat menunjukkan harga saham yang mencerminkan semua informasi yang relevan. C. Tingkatan Efisiensi Pasar Haugen (1993 : 634) menyatakan bahwa "The market is neither strictly efficient nor strictly inefficient. The question is one of degree. Just how efficient is the market ?". Bowman dan Buckanan (1995) juga menyatakan "Markets are not simply either efficient or inefficient. Market efficiency can be viewed as a continuum running from the perfect market to the grossly inefficient market where excess earning opportunities abound". Berdasarkan kedua pernyataan tersebut diperoleh suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya pasar tidak ada 211

yang secara sempurna efisien atau sepenuhnya tidak efisien. Semuanya adalah efisien dengan tingkat atau derajat tertentu Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara sekuritas dengan informasi. Tiga bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk dari informasi, yaitu efisiensi bentuk lemah (weak form), efisiensi bentuk setengah kuat (semistrong form) dan efisiensi bentuk kuat (strong form). 1. Efisiensi Bentuk Lemah (Weak form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga-harga saham saat ini telah mencerminkan secara penuh semua informasi harga saham di masa lalu. Jones (1993 : 629) menyatakan bahwa hipotesis efisiensi pasar bentuk lemah berkaitan namun tidak identik dengan hipotesis langkah acak (random walk hypothesis). Jika harga mengikuti langkah acak, perubahan harga sepanjang waktu bersifat acak (independen). Perubahan harga hari ini tidak berkaitan dengan perubahan harga kemarin atau hari-hari lainnya. Dengan kata lain, harga masa lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang dan tidak dapat dipergunakan untuk memprediksi pergerakan harga. Salah satu cara untuk menguji efisiensi pasar bentuk lemah adalah dengan menguji independensi perubahan harga secara statistik, yaitu menggunakan serial correlation test. Serial correlation test mengukur korelasi perubahan harga pada bermacam-macam time lags, seperti satu hari, dua hari dan seterusnya. Pembuktian independensi harga saham secara statistik selama ini pada umumnya menunjukkan suatu korelasi positif yang signifikan dalam jangka pendek, namun tingkat korelasinya rendah, antara 0.1 - 0.2. Secara ekonomis (setelah mempertimbangkan biaya transaksi), adanya dependensi yang rendah tersebut tidak cukup kuat untuk menghasilkan strategi perdagangan yang menguntungkan. Dengan demikian, walaupun pengujian independensi harga secara statistik menyimpang dari teori langkah acak, namun penyimpangannya tidak cukup untuk mendapatkan tingkat pendapatan abnormal, sehingga tidak dianggap berlawanan dengan efisiensi pasar. 2. Efisiensi Bentuk Setengah Kuat (Semi-Strong form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga saham mencerminkan secara penuh semua informasi yang dipublikasikan termasuk informasi yang berada di laporan-laporan keuangan perusahaan emiten. Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor atau grup dari investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan untuk mendapatkan keuntungan abnormal dalam jangka waktu yang lama.

212

Pengujian tentang bentuk efisiensi setengah kuat menggunakan event study test. Event study merupakan metode yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa. Studi ini melakukan pengamatan terhadap perilaku harga saham secara cermat untuk mengetahui bagaimana saham bereaksi. Jika terdapat penundaan dalam penyesuaian harga dan investor dapat memanfaatkan penundaan ini untuk memperoleh keuntungan abnormal maka pasar modal tersebut tidak efisien dalam bentuk setengah kuat. 3. Efisiensi Bentuk Kuat (Strong form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Jika pasar efisien dalam bentuk kuat, maka tidak ada individual investor atau institutional investor yang dapat memperoleh keuntungan abnormal karena mempunyai informasi privat. Cara untuk menguji efisiensi bentuk kuat adalah meneliti kinerja kelompok yang diperkirakan memiliki akses informasi yang tidak dipublikasikan, yaitu para corporate insiders dan para portofolio managers. Jika kelompok ini terbukti memperoleh tingkat pendapatan di atas rata-rata maka pasar dikatakan tidak efisien dalam bentuk kuat. 4. Hubungan Antar Tiga Tingkat Efisiensi Pasar Hubungan bentuk efisiensi pasar dengan ketersediaan informasi digambarkan pada gambar 1.

Market Related Data

213

Sumber : Jones (1993 : 628) Gambar 1 Informasi dan tingkat efisiensi Gambar tersebut menunjukkan bahwa jika ada sangkalan terhadap efisiensi pasar bentuk lemah, maka sangkalan berlaku bagi efisiensi pasar bentuk setengah kuat dan kuat. Jika pasar tidak efisien dalam bentuk lemah maka otomatis pasar juga tidak efisien dalam bentuk setengah kuat dan bentuk kuat. Sebaliknya bila pasar efisien dalam bentuk kuat maka pasar pasti dalam bentuk setengah kuat dan bentuk lemah. 1.5. 1.5.1. Kerangka Penelitian dan Hipotesis Kerangka Penelitian

Berdasarkan penelitian terdahulu dan hasil tunjauan pustaka, maka kerangka dari penelitian ini adalah : Periode sebelum pengumuman stock split (t = -30) Pengumuman stock split t=0 Periode sesudah pengumuman stock split (t = +30)

Harga saham bergerak random

Harga saham bergerak tidak random

Ada tingkat pendapatan abnormal

Tidak ada pendapatan abnormal

Pasar modal tidak efisien bentuk lemah

Pasar modal efisien bentuk lemah

Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat

Pasar modal efisien bentuk setengah kuat

Gambar 2 : Kerangka Pikir Penelitian 1.5.2. 1. Hipotesis

Harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006.

214

2.

Tidak terdapat tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006. Metode Penelitian

1.6.

A. Jenis Dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dengan menlakukan teknik dokumentasi. Data-data meliputi : · Data tanggal pengumuman stock split perusahaan sampel. Data tersebut digunakan untuk menentukan harga saham di sekitar tanggal stock split. Harga saham harian (closing price) perusahaan sampel dalam periode pengamatan ( windows period). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode pengamatan yang tediri data harga saham harian selama periode pengamatan.

·

·

B. Populasi Populasi penelitian ini diambil emiten di Bursa Efek Jakarta yang melakukan pengumuman stock split pada tahun 2005 sampai dengan Juli 2006. Emiten yang melakukan pengumuman stock split pada periode tahun 2005 sampai dengan 2006 tercatat 15 emiten. Selanjutnya adalah menyeleksi emiten-emiten tersebut yang memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Selama periode penelitian perusahaan tidak melakukan corporate action lain yang secara langsung berpengaruh pada volume perdagangan (stock dividen, cash dividen, Right issue, dan bonus share) agar tidak dapat menimbulkan compounding effect (faktor pengganggu) yang dapat mempengaruhi reaksi pasar terhadap informasi ini

b. Data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan lengkap dan diketahui secara jelas. Berdasarkan kriteria populasi diatas maka diperoleh sampel seperti tersaji pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Daftar sampel penelitian No Kode emiten No Kode emiten 215

1. SMAR 2. TGKA 3. HEXA 4. CTRS 5. PRAS 6. HITS Sumber : www.jsx.co.id

7. 8. 9. 10. 11. 12.

JRPT TMAS PJAA LPKR BBLD EKAD

C. Definisi Operasional Variabel Definisi opersional variabel dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Tingkat pendapatan abnormal sebelum stock split adalah tingkat pendapatan abnormal 30 hari sebelum peristiwa pengumuman stock split, yaitu selisih dari tingkat pendapatan pada hari t dengan tingkat pendapatan pasar, dihitung dengan rumus : AR i,t-30 = R i,t-30 ­ E (R i,t-30) Keterangan : AR i,t-30 R i,t-30 E(R i,t-30 = = = Tingkat pendapatan abnormal saham i pada hari t-30 Tingkat pendapatan sesungguhnya saham i pada hari t-30 Tingkat pendapatan yang diharapkan pada saham i hari t-30

2.

Tingkat pendapatn abnormal sesudah stock split adalah tingkat pendapatan abnormal 30 hari sesudah peristiwa pengumuman stock split yaitu selisih dari tingkat pendapatan pada hari t dengan tingkat pendapatan pasar, dihitung dengan rumus : AR i,t+30 = R i,t+30 ­ E (R i,t+30) Keterangan : AR i,t R i,t E(R i,t) = = = Tingkat pendapatan abnormal saham i pada hari t+30 Tingkat pendapatan sesungguhnya saham i pada hari t+30 Tingkat pendapatan yang diharapkan pada saham i hari t+30

216

D. Alat Analisis 1. Run Test ( uji runtun ) Run Test digunakan untuk mengetahui pergerakan harga saham secara random atau tidak random yang dapat diformulasikan sebagai berikut: c. Hipotesis : Ha 1 : 0, Harga saham bergerak secara random pada periode jendela Ho 1: = 0, Harga saham bergerak secara tidak random pada periode jendela d. Menghitung Run Test dengan rumus

Z=

r-µ r

Keterangan: r = Jumlah runtun µ = Jumlah runtun ekspetasi r = Standar deviasi jumlah runtun e. Kriteria Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Ho diterima atau Ha ditolak apabila ­z hitung z hitung z tabel. Ha diterima atau Ho ditolak apabila ­z tabel > z hitung. Ditarik kesimpulan berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95 % atau = 5 %. 2. Uji t ( T ­test ) Uji t adalah alat yang digunakan untuk mengetahui signifikansi abnormal return yang ada pada periode jendela. Signifikansi abnormal return digunakan untuk melihat secara statistik signifikan tidak sama dengan nol (positif untuk kabar baik dan negatif untuk kabar buruk). Pengujian 217

statistik ini dilakukan dengan cara standarisasi dari abnormal return dengan cara membagi abnormal return dengan kesalahan standar estimasinya. c. Hipotesis : H0 : ARt-30 s.d T+30 0 (terdapat AR) Ha : ARt-3 s.d t+30 = 0 (tidak terdapat AR) d. Menghitung t statistik dengan rumus:

t statistik =

3. Kriteria penerimaan/penolakan

ARt -30 s.dt +30 SD / n

Ho diterima atau Ha ditolak apabila ­t hitung t hitung t tabel. Ha diterima atau Ho ditolak apabila ­t tabel > t hitung atau t hitung >tabel Ditarik kesimpulan berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95 % atau = 5 %.

1.7.1.

Pengujian Pergerakan Harga Saham

Hasil Run Test dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 2. Hasil Run Test dengan tingkat keyakinan 95% Kode saham SMAR TGKA HEXA CTRS PRAS HITS JRPT TMAS 218 Z-hitung -3.682 0 -1.073 -0.74 -0.429 -4.345 -1.353 1.746 Probabilita 0 0 0.283 0.459 0.668 0 0.176 0.081 Z-tabel ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 Hasil Tidak Random Tidak Random Random Random Random Tidak Random Random Random

Kode saham Z-hitung PJAA -0.077 LPKR -2.193 EKAD -0.702 BBLD -4.676 Sumber: Data diolah

Probabilita 0.939 0.028 0.483 0

Z-tabel ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96 ± 1.96

Hasil Random Tidak Random Random Tidak Random

Tabel 2 menunjukan bahwa harga saham HEXA, CTRS, PRAS, JRPT, TMAS, PJAA dan EKAD bergerak random diperkuat dengan nilai probabilita yang lebih besar dari 0.05. Sedangkan harga saham SMAR, TKGA, HITS, LPKR dan BBLD bergerak tidak random diperkuat dengan nilai probabilita yang lebih kecil dari 0,05. Rata-rata pergerakan saham yang random menyebabkan para investor sulit untuk memprediksi harga saham sehingga abnormal return sulit didapatkan. Berdasarkan analisis, penelitian ini mendukung hipotesis harga saham bergerak secara random pada sebelum dan setelah stock split. Pergerakan harga saham yang random membuktikan bahwa pasar modal Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah. 1.7.2. Pengujian Abnormal Return Pada Periode Pengamatan (t-30 s.d t+30)

Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3. Hasil perhitungan uji t secara cross section pada = 5% dan d.f = 11

Hari ke -30 -29 -28 -27 -26 -25 -24 -23 -22 -21 -20 -19 -18 -17 -16 -15 -14 -13 -12 AAR 0 0.005555 0.011059 0.014057 0.003525 0.018546 -0.011914 -0.010362 0.012945 -0.009920 -0.007805 -0.012475 0.019896 -0.000384 -0.016574 0.008358 -0.005144 0.010541 0.012697 CAAR 0 0.005555 0.005504 0.002998 -0.010532 0.015021 -0.030460 0.001552 0.023307 -0.022865 0.002115 -0.004670 0.032370 -0.020280 -0.016189 0.024932 -0.013502 0.015686 0.002156 thitung 0 0.647 1.145 1.241 0.234 1.421 -1.396 -1.283 1.033 -1.687 -1.075 -0.922 1.261 -0.082 -0.842 0.708 -0.871 2.261 1.634 probabilita 0 0.531 0.276 0.24 0.819 0.183 0.19 0.226 0.324 0.12 0.306 0.376 0.233 0.936 0.418 0.494 0.402 0.045 0.131 t - tabel ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 Hasil Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan

219

Hari ke -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

AAR -0.000539 -0.022267 -0.000551 0.007047 0.010468 -0.009180 0.010354 -0.008371 0.002543 0.014487 -0.010433 0.026483 -0.004810 -0.021565 -0.002689 -0.000402 0.022212 0.032410 -0.009369 -0.003266 -0.022639 -0.016481 -0.008676 0.004508 -0.002971 0.015703 0.000857 -0.009645 -0.016015 0.012127 -0.001037 -0.010916 0.000180 -0.001378 -0.020157 -0.008802 0.350298 -0.079308 0.010168 -0.002102 0.004798 0.007274

CAAR -0.013236 -0.021728 0.021716 0.007599 0.003420 -0.019647 0.019534 -0.018725 0.010913 0.011944 -0.024920 0.036916 0.021673 -0.026375 -0.024254 -0.003091 0.021810 0.054622 0.023041 -0.012634 -0.025905 -0.039120 -0.025157 -0.004168 0.001537 0.012733 0.016561 -0.008787 -0.025659 -0.003888 0.011089 -0.011953 -0.010735 -0.001197 -0.021535 -0.028959 0.341496 0.270990 -0.069140 0.008066 0.002696 0.012071

thitung -0.085 -2.159 -0.192 0.907 0.626 -1.197 0.736 -0.577 0.786 1.658 -1.145 1.973 -0.224 -1.936 -0.234 -0.046 1.354 1.111 -2.094 -0.403 -0.648 -1.839 -1.276 0.381 -0.931 1.457 0.037 -0.781 -2.177 0.663 -0.194 -1.225 0.028 -0.245 -1.003 -0.725 1.019 -1.239 1.267 -0.229 0.647 0.551

probabilita 0.934 0.054 0.851 0.384 0.544 0.256 0.477 0.575 0.448 0.126 0.277 0.074 0.827 0.079 0.819 0.964 0.203 0.29 0.06 0.694 0.53 0.093 0.228 0.711 0.372 0.173 0.971 0.451 0.052 0.521 0.85 0.246 0.978 0.811 0.337 0.483 0.33 0.241 0.231 0.823 0.531 0.593

t - tabel ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.201

Hasil Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan

Sumber: Data diolah dari lampiran 4 dan lampiran 7 Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa abnormal return pada periode hari sebelum dan sesudah pengumuman cenderung fluktuatif. AAR berkisar antara 220

-0.079308 sampai 0.350298. Rata-rata return tidak signifikan. Hal ini berarti hasil peneltian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapatnya abnormal return yang signifikan. Tidak adanya abnormal return yang dapat diperoleh investor pada saat pengumuman stock split membuktikan bahwa pasar modal di Indonesia sudah efsien dalam bentuk setengah kuat. Berdasarkan hasil perhitungan nilai probabilita, secara keseluruhan lebih besar dari 0,05 berarti hipotesis diterima. Bila probabilita lebih kecil dari 0,05 berarti hipotesis diterima, yaitu tidak terdapat abnormal return positif signifikan pada periode pengamatan. Hasil tersebut mendukung hasil penelitian Setyawasih (2000) yang tidak menemukan adanya abnormal return positif signifikan pada hari sekitar pengumuman stock split. Pergerakan AAR dan terdapat pada

0.4 0.35 0.3 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0

-8 -6 -4 -2 0 2 4 6 -30 -28 -26 -24 -22 -20 -18 -16 -14 -12 -10 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28

-0.05 -0.1 -0.15

AAR

Gambar 3. Grafik AAR Sumber: Data di olah dari lampiran 4 Dari Gambar 3 dapat dilihat pergerakan AAR 3. Pergerakan fluktuatif yang ekstrim terjadi sekitar hari +25, +26 dan +27namun tidak signifikan. 1.8. 1.8.1. 1. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN

Harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode

30

221

2002-2006. Pergerakan harga saham yang random membuktikan bahwa pasar modal Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah. 2. Tidak terjadi tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2002-2006. Tidak adanya abnormal return yang dapat diperoleh investor pada saat pengumuman stock split membuktikan bahwa pasar modal di Indonesia sudah efsien dalam bentuk setengah kuat. SARAN

1.8.2.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. Bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal agar tidak menjadikan informasi pengumuman stock split sebagai satu-satunya tolak ukur untuk mendapatkan return tidak normal. Bagi emiten yang melakukan stock split hendaklah memperhatikan kondisi pasar modal, karena secara teoritis stock split hanya meningkatkan lembar saham yang beredar dan tidak secara langsung mempengaruhi cashflow perusahaan walaupun dalam praktiknya berbeda. Bagi penelitian selanjutnya agar dapat mengambil periode penelitian yang lebih panjang dan menggunakan metode perhitungan ekspektasi yang lain agar reaksi pasar terhadap pengumuman stock split terlihat lebih jelas.

2.

3.

DAFTAR PUSTAKA Anoraga, Pandji dan Piji Pakarti. 2001. Pengantar Pasar Modal. PT Rineka Cipta. Jakarta Blake, David, 1990. Financial Market Analysis, Mc. Graw-Hill Book Company Bodie, Zvi, Alex Kane dan Alan J. Marcus, 1998. Essentials of Invesments, Third Edition, Irwin Mc. Graw-Hill Companies Inc. Darmadji, Tjiptono dan Fakhrudin, Hendy M. 2001. Pasar Modal di Indonesia. Jakarta. Salemba Empat Fama, Eugene F., 1970. Efficient Capital Markets : A review of theory and empirical work. Journal of Finance, 25, 383-417.

222

Fischer, Donald E. dan Ronald J. Jordan, 1991. Security Analysis and Portofolio Management, Fifth Edition, Englewood Cliffs. Foster, G., 1986, Financial Statement Analysis, Second Edition, New Jersey, Prentice Hall Inc. Francis, Jack Clark. 1992. Invesments Analysis and Management, Fourth Edition, Mc. Graw-Hill Company. Haugen, Robert A., 1993. Modern Invesments Theory, Fourth edition, Prentice Hall Hartono, Jogyanto. 2003 . Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi ketiga. BPFE. Yogyakarta Jones, Charles P., 1996. Invesments : Analysis and Management, Fifth Edition, John Wiley & Sons. Kurniati,Indah.2003. Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham :Studi Empiris Pada Non-synchronous trading',Jurnal Riset Akuntansi Indonesia . September,hal 264-775 Marwata. 1999. Kinerja Keuangan, Harga Saham dan Pemecahan Saham. Seminar Nasional Akuntansi, hal 751-770 Sutrisno,Wang.Francisca Yuniarti dan Soffy Susilowaty.2000.Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan return Saham di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan,hal 1- 13 http://www.jsx.co.id/ http://www.ksei.co.id/ http://www.trimegah.co.id/ http://Finance.Yahoo.com/

223

PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI

Agrianti Komalasari 6

ABSTRAK

Virtual organizing menekankan pada peningkatan nilai dari jaringan antara perusahaan, pemasok dan pelanggan, pelanggan merupakan fokus utama dalam virtual organizing. Teknologi informasi memungkinkan perusahaan yang mengadopsinya memiliki keunggulan kompetitif. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi membuat peran teknologi informasi mempengaruhi cara kerja, perubahan integrasi fungsi organisaasi maupun hubungan dengan pemasok, sampai perubahan transformasi organisasi. Keywords: Virtual organizing, peran, fungsi

PENDAHULUAN Asean free trade area (AFTA) merupakan salah satu pemicu meningkatnya penerapan teknologi informasi di sektor pertelekomunikasian di Indonesia. Menurut Gartner Data Quest dan International Data Corporation, 2001, diperkirakan akan terjadi peningkatan volume bisnis m-commerce di AsiaPasifik dari US$ 2 milliar pada tahun 2001 menjadi US$ 36 milliar pada tahun 2004 (Warta Ekonomi, 2001). Teknologi komunikasi memungkinkan adanya pertukaran informasi, transaksi jual beli melalui jaringan internet PC, bila ditambah dengan faktor mobilitas yang ada dalam perangkat bergerak seperti ponsel, seseorang akan mendapatkan mobile commerce atau m-commerce yang memudahkan dalam melakukan transaksi antara konsumen, penjual dan jasa keuangan hubungan ini merupakan suatu jejaring kerja atau networks yang bersifat virtual. Survei yang dilakukan oleh Goslar dan Grover (1993) terhadap 154 buah perusahaan mengenai faktor-faktor yang memungkinkan perusahaan melakukan inisiatif, adopsi, serta implementasi teknologi komunikasi menghasilkan kesimpulan bahwa ketidakpastian lingkungan mempunyai hubungan yang signifikan dengan penggunaan teknologi komunikasi.

6

Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung

Teknologi informasi memberikan peluang bagi perusahaan global untuk meningkatkan koordinasi dan pengendalian, atau juga untuk mendapatkan daya saing di pasar dunia (Johnston dan Carrico, 1988, dkk dalam Arifin, 2001). Menurut Wilkinson (2001) fasilitas perusahaan biasanya terletak lebih dari satu lokasi, maka diperlukan suatu sistem komunikasi data antar lokasi tersebut. Suatu jaringan komputer merupakan suatu sistem komunikasi data yang memungkinkan perusahaan untuk menyebarkan informasi dan program dengan menghubungkan komputer dengan fasilitas lain. Networks adalah suatu hubungan personal yang lebih dari sekedar kebutuhan terhadap struktur organisasi, hubungan komersial dan lainnya tetapi lebih berfokus pada bagaimana terjadinya pembagian informasi, dengan tujuan untuk keuntungan bersama (Hastings, Mindel dan Young, 1989). Internal networking pada dasarnya adalah usaha yang sinergi untuk pencapaian tujuan perusahaan. External networking berasal dari pelanggan, pemasok, pemerintah, lembaga penelitian, dan setiap pesaing yang mampu merubah lingkungan yang dapat dimonitor secara efektif Richard Hall, (1992). Suatu organisasi memiliki kebebasan untuk menciptakan kerjasama dengan organisasi lain demi meningkatkan value dan meminimalkan investasi. Virtual organization berbeda dengan bentuk organisasi seperti fungsional, divisional atau matrix, tetapi sesungguhnya merupakan karakteristik strategik yang dapat diterapkan pada setiap organisasi Venkatraman (1998). Karimi dan kawan-kawan (1996) dan Darmawati dan Indriantoro (1999) telah membuat model penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam melakukan respon terhadap globalisasi yang dicerminkan dengan adanya penambahan investasi oleh perusahaan dalam teknologi informasi.. Faktor-faktor tersebut adalah tipologi strategi kompetitif, kematangan teknologi informasi, dan ukuran perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel kematangan teknologi informasi yang mempunyai hubungan dengan respon strategik. Arifin (2001) melakukan penelitian kembali terhadap model penelitian Karmini, et al. (1996). Johan (2001) mencoba menghilangkan kemungkinan adanya efek industri yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, dengan subyek satu jenis industri yaitu perbankan di Indonesia.

226

Motivasi penulisan adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan respon strategik pada perusahaan pertelekomunikasian terhadap globalisasi, dan pengembangan investasi dalam teknologi informasi dan pengaruhnya terhadap desain organisasi khususnya networks sebagai intangible resources perusahaan. PERUMUSAN MASALAH Permasalahan yang diangkat adalah sebagai berikut: apakah tipologi strategi kompetitif, kematangan teknologi, desain organisasi berhubungan dengan keinginan perusahaan telekomunikasi untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara strategi kompetitif, kematangan teknologi, dan desain organisasi dengan keinginan perusahaan untuk melakuakn penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. Manfaat yang dapat diberikan oleh paper ini adalah didapatnya suatu dasar untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara strategi kompetitif, kematangan teknologi, dan desain organisasi dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. TINJAUAN LITERATUR 1. Tipologi Strategi Kompetitif Miles dan Snow mengidentifikasikan tiga tipe konfigirasi strategi-struktur yang konsisten dan stabil yaitu: a. Defender, memiliki bagian yang relatif sempit, kestabilan domain domain operasi yang meliputi range yang terbatas dari barang-barang dan jasa. Prospector, mengikuti strategi gerakan yang cepat dalam suatu domain organisasi yang luas. Analyzer, mengikuti suatu strategi menengah yang mengkombinasikan aspek strategi defender dan prospector. Reactor, suatu organisasi dengan konfigurasi strategi struktur yang tidak konsisten dengan mengikuti strategi prospector dan struktur defender. (Bedeian dan Zammuto, 1991). 227

b.

c.

d.

Model tipologi ini didokumentasikan dalam berbagai studi empiris untuk menentukan hubungan antara strategi perusahaan dengan strategi unit bisnis yang lain sebagai respon lingkungan Govindrajan (1988), dan Karimi et. Al (1996), Darmawati dan Indriantoro (1999) dan Arifin, Johan (2001). Miles dan Snow (1978) mengungkapkan bahwa pemilihan tipologi strategi berdasarkan pada adptive cycle, yaitu pemilihan tipologi strategi berdasarkan siklus adaptasi lingkungan. Oleh karenanya stategi organisasional yang dipilih oleh perusahaan dapat saja berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya dengan pemilihan tipologi startegi perusahaan yang on going process. Bentuk strategi yang stabil menurut Miles dan Snow adalah tipe defender, prosfector dan analyzer jika manajemen memilihsalah satu diantara tiga tipe tipologi tersebut maka kemungkinan perusahaan akan menjadi pesaing dalam industrinya pada periode tertentu. 2. Kematangan Teknologi Informasi Tingkat kematangan informasi dicerminkan dalam formulasi aspek perencanaan, pengendalian, organisasi, dan integritasnya dalam suatu fungsi sistem informasi perusahaan Karmini et al. (1996). Konsep kematangan teknologi informasi diungkapkan oleh Churchill et al. (1969) untuk menentukan sejauh mana manajer menggunakan sistem informasi berdasarkan komputer. Perbedaan infrastruktur teknologi informasi dapat memperlancar atau menghambat pergerakan strategik perusahaan melalui operasi yang bereaksi cepat, koordinasi interorganisasional, serta fleksibilitas organisasional yang merupakan konsep penting dalam menghadapi kondisi ketidakpastian. Menurut Hill dan Jones (1995) ada empat faktor yang dapat dilakukan untuk aplikasi teknologi informasi seperti efisiensi, kualitas, inovasi, serta daya respon terhadap konsumen. 3. Networks Networks adalah suatu hubungan personal yang lebih dari sekedar kebutuhan terhadap struktur organisasi, hubungan komersial dan lainnya tetapi lebih berfokus pada bagaimana terjadinya pembagian informasi, dengan tujuan untuk keuntungan bersama (Hastings, Mindel dan Young, 1989). Venkatraman (1998) menyajikan suatu bentuk model bisnis abad 21 yang merupakan perluasan dari networks, terdapat tiga vektor yang independen dalam virtual organization yaitu virtual encounter, virtual sourcing dan virtual expertise.

228

Virtual encounter merupakan gabungan antara tantangan baru dan kesempatan interaksi perusahaan dan pelanggannya. Teknologi informasi mengikuti keinginan pelanggan yangdinamik, hal ini mengakibatkan peningkatan hubungan dengan komunitas pelanggan. Virtual sourcing adalah perhatian produsen untuk meningkatkan integrasi nyata dari jaringan bisnis ditekankan pada model integrasi vertikal pada ekonomi industri dengan menggunakan internet untuk transaksi bisnisnya. Virtual expertise adalah perhatian kepada kesempatan untuk meningkatkan perbedaan sumber daya baik dari dalam pperusahaan maupun dari luar. Trend sekarang adalah mengarahkan kemampuan tenaga kerja perusahaan untuk memperoleh kemampuan kerja yang lebih baik sehingga meningkatkan kualitas kerja perusahaan. Virtual organization yang merupakan konsep yang berfokus pada pentingnya pemahaman dan kemampuan untuk meningkatkan value. Wide area network (WAN) Suatu sistem komunikasi data yang memungkinkan perusahaan membagi informasi dengan perusahaan lain yang saling berhubungan dan terpisah oleh letak geografis yang jauh, pada saat terjadinya kerusakan satelit, provider ataupun alat komunikasi lain yang tergantung pada lingkungan alam maka hal ini bisa mengganggu kelangsungan komunikasi antar tim. Model Struktur adaptif (Desaanctis and Poole 1984) Struktural teknologi sifat dan semangat Tugas dan lingkungan organisasi Struktur internal grup Munculnya sumber daya Pada struktur Perpindahan bantuan dan ketidakpercayaan Proses keputusan

Keluaran Keputusan

Struktur sosial baru

Model ini menjelaskan menjelaskan tiga sumber struktur sebagai kondisi awal keberadaan yang membentuk arti teknologi yang diimplementasi sebagai efek yang tepat, yang menghasilkan proses keputusan dan keluarannya. Struktur 229

teknologi termasuk tindakan yang membatasi, canggih, dan sempurna sebagai sebagai teknologi terkini yang memberi dorongan secara umum untuk mencapai tujuan dan meningkatkan nilai. Tugas dan lingkungan organisasi merujuk pada sifat dari tugas seperti kelengkapan dan kebebasan dan susunan organisasi seperti hirarki, informasi perusahaan, dan budaya. Struktur grup termasuk pola interaksi dan proses pengambilan keputusannya. Misalignment Model (Leonard-Barton 1988) Siklus

Teknologi

Ketidaksesuaian - Teknologi - Sistem pengiriman - Kriteria Kinerja

Kesesuaian

Lingkungan pemakai

Perbedaan model kontinyu menduga ketepatan dalam proses adaptasi. Leonard-Barton's mengusulkan model yang mengadaptasi ketepatan secara kontinyu dalam merespon ketidaksesuaian, yang akhirnya mengarahkan kesesuaian sehingga sukses. Dalam model ini CT (Collaborative Technologies) yang digunakan "internet notebook" ketika anggota mempunyai kesulitan untuk memulai maka disediakan fasilitas untuk mendesain tekhnik kolaborasi yang rumit dengan kecanggihan yang disediakan oleh notebook. Virtual team juga diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatannya kepada pimpinan melalui network. 4. Respon Strategik Perusahaan terhadap Globalisasi Merupakan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. Mahmood dan Mann (1993) melakukan penelitian tentang hubungan antara investasi dalam teknologi informasi dengan strategik organisasional dan kinerja ekonomi.

230

Penelitian sejenis pernah dilakukan oleh Arifin (2001), yang diperoleh dengan mengirimkan daftar pertanyaan kepada para pimpinnan dari 291 perusahaan perbankan di Indonesia. Kuesioner yang kembali sebanyak 71 buah atau 24,4 % dari total kuesioner. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:tidak ada hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan perbankan melakukan tambahan investasi dalam teknologi informasi. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Karimi et aal. (1996) yang menyatakan bahwa tipologi starategi kompetitif berhubungan dengan keinginan untuk penambahan investasi teknologi informasi. Ada hubungan antara variabel kematangan teknologi Informasi dengan keinginan perusahaan perbankan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. Hasil penelitian Arifin (2001) mendukung penelitian yang dilakukan Karimi et al. (1996) yang membuktikan bahwa kematangan teknologi informasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi teknologi informasi. Hasil ini juga mendukung pernyataan bahwa kemampuan perusahaan untuk menggunakan teknologi informasi sebagai kekuatan yang terintegrasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan dalam menghadapi globalisasi. KESIMPULAN Dari hasil analisis penelitian yang menjadi acuan, dapat disimpulkan bahwa, terdapat hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan telekomunikasi untuk melakukan tambahan investasi dalam teknologi informasi. Paper ini mendukung penelitian Karimi et al. (1996) yang menyatakan bahwa tipologi starategi kompetitif berhubungan dengan keinginan untuk penambahan investasi teknologi informasi. Terdapat hubungan antara variabel kematangan teknologi Informasi dengan keinginan perusahaan perbankan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. Studi ini mendukung penelitian yang dilakukan Karimi et al. (1996), Arifin (2001) yang membuktikan bahwa kematangan teknologi informasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi teknologi informasi. Virtual organizing menekankan pada peningkatan nilai dari jaringan antara perusahaan, pemasok dan pelanggan,, pelanggan merupakan fokus utama dalam virtual organizing. Pada perusahaan telekomunikasi ada hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan untuk melakuakn penambahan investasi dalam teknologi informasi, karena perusahaan teknologi informasi merupakan perusahaan yang termasuk 231

prospector yang memiliki kecenderung untuk menerapkan desain strategi kompetitif yang agresif untuk menghadapi persaingan global. DAFTAR REFERENSI Arifin, Johan, (2001). Hubungan Antara Tipologi Stategi Kompetitif, Kematangan Teknologi Informasi, dan Ukuran Perusahaan Perbankan dengan Respon Strategik dalam Menghadapi Global;isasi, Thesis S2 UGM.

Bedeian, Arthur G., Raymond F. Zammuto, (1991), Organizations Theory and Design, The Dryden Press. Hitt, L. M., dan Brynjolfsson E., (1997), Information Technology and Internal Firm Organization: An Explatory Analysis, Journal of Management Information System, Volume 14, No. 2. Hall, Richard, 1992, The Strategic Analysis of Intangible Resources, Strategic Management Journal, Vol. 13, 135-144. Garrison, Ray H., Eric W. Noreen, Managerial Accounting, (2000), McGraw-Hill Companies, Inc. Jones, Gareth R., George, Jennifer M., and Hill, Charles W. L., (2000), Contemporary Management, Edisi ke 2, Irwin McGraw Hill. Luthan F., (1995), Organizational Behavior, McGraw Hill Book, Inc., Singapore. Pitt, L. F., Watson, R. T., dan Kavan, C., B., (1995), Service Quality: A Measure of Information Effectiveness, MIS Quarterly, Volume 21, Iss:2, June. Venkatraman, N., Jhon C. Henderson, Real Strategies For Virtual Organizing, (1998), Sloan Management Review. Wilkinson, Cerullo, Raval, Wong-On-Wing, (2001), Accounting Information System-Essential Concepts and Applications, Jhon Whiley and Sons.

232

Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung

Ribhan7

ABSTRAK Telah disadari bahwa peran perempuan dalam sektor ekonomi, terutama di bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tidaklah kecil, dan disadari oleh banyak pihak bahwa UMKM, memainkan peran penting dalam menunjang ekonomi nasional. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented), Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki, perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai "pemain yang mencari aman" (self player). Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode strattified sampling dan metode acak sederhana ( random sampling). Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin, usia, status, modal awal, modal saat ini, pekerjaan orang tua dan lingkungan dimasa kecil. Dari 119 kuesioner yang di input terdiri dari 56 kuesioner dari pengusaha pria dan 63 pengusaha wanita. Hasil Perhitungan dengan menggunakan Program AMOS diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat berbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan pria mempunyai perbedaan tetapi tidak signifikan antara keduanya, didukung. Kata Kunci : Entrepreneurship, kemandirian, berani mengambil resiko, orientasi kemasa depan dan toleransi pada suatu hal yang belum tentu. 1. Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Salah satu ciri negara berkembang adalah masalah tenaga kerja dan mutu sumber daya manusia. Masalah Tenaga kerja tidak terlepas dari banyaknya

7

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Unila

lapangan usaha yang tersedia. Dengan terbatasnya lapangan kerja disektor pegawai negeri sipil di Indonesia, mengharuskan kita beralih lebih ke sektor swasta. Namun yang terjadi adalah penyerapan tenaga kerja di sektor swasta sangat sedikit sekali, ini di sebabkan mutu sumber daya manusia yang masih rendah dan belum sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan. Untuk itu maka salah satu solusinya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan baru atau berwiraswasta. Usaha kecil idealnya memang membutuhkan peran (campur tangan) pemerintah dalam peningkatan kemampuan bersaing dan peningkatan usahanya. Namun tidak selamanya usaha kecil harus terganung pada pemerintah akan tetapi mereka juga hendaknya mempunyai kemampuan berwirausaha dan keyakinan diri mereka terhadap perkembangan usahanya. Menurut Hellriegel dan Slocum (1992; dalam Yusuf, 1996) seorang wirausahawan memiliki karatreristik: berkeinginan untuk naju, tidak ingin bekerja pada orang lain, percaya diri, orientasi kedepan, mengharapkan penghasilan yang besar, berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum pasti. Pengusaha kecil dan menengah di Bandar Lampung pada tahun 1998 berjumlah ± 1.500 usaha kecil, ini merupakan 3,98 % dari jumlah pengusaha kecil di Indonesia ( Kopperindag, 1998). Usaha kecil di Lampung yang terbesar adalah disektor pertanian dan sektor perdangan / hotel dan restoran masing-masing adalah 70 % dan 18,35 %. Banyaknya usaha kecil di Bandar Lampung belum dapat memberdayakan potensi yang ada di wilayah tersebut. Pemerintah tidak saja harus membina kemampuan usaha kecil dalam menghitung modal optimum yang diperlukan, kemampuan menyusun suatu proposal pendanaan ke lembaga-lembaga pemberi modal serta mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang lebih memihak pada usaha kecil, karena pertimbangan efisiensi skala usaha, akan tetapi pemerintah juga harus mengetahui kemampuan wirausaha (entrepreneurship) dari sudut pandang gender. Wirausaha yang tanguh adalah wirausaha yang menyukai mengambil resiko realistik karena mereka ingin berhasil. Menurut Meredith (2002) pengambilan resiko berkaitan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Semakin besar keyakinan wirausaha pada kemuampuan sendiri, semakin besar keyakinan wirausaha akan kesanggupan untuk mempengaruhi hasil keputusan dan semakin besar kemungkinan kebarhasilan. Penelitian kewirausahaan yang dilakukan selama ini banyak terfokus pada pengusaha laki-laki. Hal ini disebabkan jumlah perempuan pengusaha lebih sedikit dan mayoritas bergerak dalam bisnis skala kecil atau temporer (Drucker, 1988 ). Namun semanjak tahun 80-an jumlah wanita karir dan wanita pengusaha 234

telah meningkat tajam dan sejak itu perempuan bekerja mulai menjadi topik penelitian menarik. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented), Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki, perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai "pemain yang mencari aman" (self player). Selain itu, pengusaha perempuan cenderung mengutamakan keamanan keluarga dan kontrol diri mereka. Penelitian ini, menganalisis perbandingan kemampuan entrepreneurship antara pengusaha wanita dan pria dengan menggunakan teknik analisa jalur dengan bantuan perhitungan regresi pada pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan personal atribut yang terdapat pada wirausawan dalam kelompok usaha kecil (Usaha Kecil dan Menengah). 2. Perumusan Masalah Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa perempuan pengusaha lebih bertanggung jawab dan lebih dapat dipercaya dalam masalah pengelolaan keuangan usaha, dan perempuan cenderung lebih peka terhadap kebutuhan pasar sehingga membuka peluang usaha baru dibanding dengan wirausaha pria. Peneliti merumuskan masalah : bagaimanakah perbandingan kemampuan entrepreneurship pengusaha wanita dan pria pada usaha kecil dan menengah di Bandar Lampung. 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: menganalisis perbandingan kemampuan wirausaha (entrepreneursip ) pengusaha wanita dan pria pada kecil dan menengah di Bandar Lampung. Sealian itu dirumuskan pula manfaat dari penelitian ini, yaitu untuk informasi dan pengetahuan atau masukan bagi pemerintah daerah dalam kebijakan-kebijakan usaha kecil dan mikro berdasarkan aspek gender. II. Tinjauan Pustaka Dan Hipotesis Perkembangan usaha kecil di negara kita berkembang sangat pesat setelah terjadi krisis ekonomi (pasca krisis). Hal ini dikarenakan perhatian pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat lebih banyak pada sektor usaha kecil, dengan alasan bahwa usaha kecil adalah merupakan usaha kerakyatan yang dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat disekitar usaha tersebut. Disis lain penelitian-penelitian mengenai usaha kecil masih sangat

235

sedikit, sehingga pemerintah mengalami kesulitan dalam memahami usaha kecil terutama atribut persolan yang ada pada wirausaha. Wirausaha (entrepreneur) adalah seorang pembuat keputusan yang membangtu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas. Sebagian besar pendorong perubahan, inovasi, dan kemajuan di perekonomian kita akan datang dari para wirausaha; orang yang memiliki kemempuan untuk mengambil resiko dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. 2.1 Pengertian Wirausaha (Entrepreneurship) Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, entrepreneurial, dan entrepreneur. 1. intrapreneurship, dan

Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk enjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur. Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar. Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru. Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.

2.

3.

4.

Inventor dan Entrepreneur Berikut ini beberapa perbedaan antara inventor dan entrepreneur. Inventor didefinisikan sebagai seseorang yang bekerja untuk mengkreasikan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya, ia termotivasi dengan ide dan pekerjaannya. Inventor pada umumnya memiliki pendidikan dan motivasi berprestasi yang tinggi. Menurutnya, standar kesuksesan bukanlah dari moneter semata tetapi dari hak paten yang didapatnya.

236

Sedangkan wirausaha atau entrepreneur lebih menyukai berorganisasi daripada menemukan sesuatu. Ia mengatur dan memastikan agar organisasinya berkembang dan bertahan. Entrepreneur berupaya mengimplementasikan penemuannya sehingga disukai publik namun inventor lebih menyukai menemukan atau menciptakan sesuatu. Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi: 1. 2. Pengambilan inisiatif, Mengorganisasi dan mengorganisasi kembali mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan.

3.

Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbul pengertian baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung, fisik, dan resiko sosial, dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal. Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan yakni : 1. Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut. Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan. Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan. Memperkirakan resiko yang mungkin timbul. Dalam hal ini resiko yang mungkin terjadi berkisar pada resiko keuangan, fisik dan resiko sosial. Memperoleh reward. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Sedangkan reward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya. 237

2.

3. 5.

Pengambilan Keputusan untuk Berwirausaha Setiap orang memiliki ide untuk berkreasi namun hanya sedikit orang yang tertarik untuk terus melanjutkan sebagai seorang wirausahawan. Berikut ini beberapa paparan yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk berwirausaha: 1. mengubah gaya hidup atau meninggalkan karir yang telah dirintis. Hal ini biasanya dipicu oleh keinginan untuk mengubah keadaan yang statis ataupun mengubah gaya hidupnya karena adanya suatu hal negatif yang menimbulkan gangguan. Adanya keinginan untuk membentuk usaha baru. Faktor yang mendukung keinginan ini antara lain adalah budaya juga dukungan dari lingkungan sebaya, keluarga, dan partner kerja. Dalam budaya Amerika dimana menjadi bos bagi diri sendiri lebih dihargai daripada bekerja dengan orang lain. Hal ini lebih memacu seseorang untuk lebih mengembangkan usaha daripada bekerja untuk orang lain. Selain itu, dukungan pemerintah juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Dukungan ini dapat terlihat melalui pembangunan infrastruktur, regulasi yang mendukung pembentukan usaha baru, stabilitas ekonomi dan kelancaran komunikasi. Faktor selanjutnya adalah pemahaman terhadap pasar. Tentu saja hal ini menjadi penting terutama dalam meluncurkan produk baru ke pasaran. Selanjutnya adalah peranan dari model yang akan mempengaruhi dan juga memotivasi seorang wirausahawan. Faktor yang terakhir adalah ketersediaan finansial yang akan menunjang usaha.

2.

Peranan Wirausahawan dalam Perkembangan Ekonomi Peranan wirausaha tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis. Dalam hal ini pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial. Wirausaha merupakan istilah yang diterjemahkan dari kata entrepreneur. Dalam bahasa Indonesia mempunyai arti berdiri diatas kekuatan sendiri. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi wirausaha, dan entrepnereurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan (Kamus Manajemen ­ LPPM). Wirausaha mempunyai arti seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha (Longenecker et.al, 2000).

238

Banyak para ahli mendefinisikan wirausaha dengan versinya masing-masing. Menurut Say yang dikutip Muhandri (2002) wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi, organisasi dan pengawasan. Seorang wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha, mengelola sejumlah modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan. Sedangkan Sutrisno (2002) wirausaha (entrepneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Dari definisi-definisi tersebut mengandung asumsi bahwa setiap orang mempunyai kemampuan normal, dapat menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Di lain pihak bisnis (business) diartikan sebagai suatu organisasi yang sifatnya mencari profit dengan mengusahakan barang dan jasa yang diinginkan konsumen. Griffin dan Ebert (1986) mendefinisikan wirausaha/ wirausahawan adalah orang yang mengorganisir dan memenej sumber-sumber daya, dimana orang tersebut juga akan menanggung resiko kegagalan. Sedangkan Drucker (1985) mengatakan bahwa untuk dapat dikatakan wirausaha seseorang harus dapat menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda, mengubah atau mentransfer nilai. Entrepneurship merupakan suatu proses dari pengorganisasioan, pengoperasian dan pengambilan resiko yang berhubungan dengan bisnis baru atau pendekatan baru yang berbeda (Luthan dan Hotgetts, 1989). Dari berbagai definisi tersebut penulis mendefinisikan wirausaha sebagai seorang yang mampu memulai atau menjalankan usahanya dengan mengkoordinasikan dan mengoperasikan serta memenej sumber-sumber alam serta mampu mentransfer nilai menjadi sesuatu yang baru atau mengubah yang sudah ada dan berani menanggung resiko kegagalan. Definisi ini mendukung pendapat Yusuf (1996) yang mengemukakan bahwa wirausaha merupakan pengambilan resiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan bisnis baru atau dengan pendekatan yang berbeda sehingga bisnis yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan. Dunia entrepneur merupakan dunia tersendiri yang unik. Itu sebabnya, mengapa entrepneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dengan kreatifitasnya, tidak mustahil akan terbukti bahwa ia betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang karena mengaguminya dan selanjutnya akan mengikutinya.

239

2.2 Karateristik Wirausawan (Entrepneurship) Wirausawan yang sukses memiliki mutu yang membedakan mereka dari orang lain pada umumnya. Menurut Harper (1991; dalam Yusuf, 1996) mutu tersebut meliputi suka mencari peluang, berorientasi ke depan, marker-driven dan berorientasi konsumen, realistik, tidak mudah bosan dan ulet atau pantang menyerah. Menjadi wirausaha profesional harus memenuhi kriteria keungulan (Sutrisno, 2002). Adapun ciri dari kriteria tersebut adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. Berani mengambil resiko serta mampu memperhitungkannya. Selalu berusaha mencapai dan menghasilkan karya yang lebih baik untuk customers, masyarakat, bangsa dan negara. Antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar dan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi diberbagai bidang.

Sementara itu menurut G.Meredith, et.al (1996; dalam Sutrisno, 2002) mengemukakan bahwa para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan yang ada; mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna. Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan, dan bermotivasi tinggi yang mengambil risiko dalam mencapai tujuannya. Ciri-ciri tersebut adalah : a. Berorientasi tugas dan hasil, seperti : kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad, kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik, dan inisiatif. Pengambil resiko, seperti: kemampuan mengambil resiko, suka pada tantangan. Kepemimpinan, seperti: bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain, menerima saran-saran dan kritik.

b. c.

240

d. e.

Keorisinilan, seperti: inovatif dan kretif, fleksibel. Berorientasi ke masa depan, seperti: perspektif dan mempunyai pandangan kedepan.

Sedangkan menurut Hellriegel dan Slocum (1992; dalam Yusuf, 1996) seorang wirausaha yang sukses juga memiliki karateristik (personal atribut) seperti: keinginan untuk maju, ingin independen, tidak ingin bekerja pada orang lain, percaya diri (self eficacy), orientasi ke masa depan, mengharapkan penghasilan yang besar, berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum menentu. Menurut Longenecker et.al (2000), karateristik entrepneur adalah: a. Kebutuhan akan keberhasilan; orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dengan standar keunggulan dan memiliki untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan kepadanya. Wirausaha adalah peraih keberhasilan tingkat tinggi. Dorongan untuk keberhasilan tersebut tampak dalam pribadi yang ambisius yang memulai usaha barunya dan kemudian mengemabangkan usaha tersebut pada orang-orang tertentu.

b. Keinginan untuk mengambil resiko; resiko yang diambil oleh entrepneur didalam memulai dan atau menjalankan usahanya berbeda-beda. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya, meninggalkan pekerjaannya, dan mempertaruhkan karirnya. Tantanagan dan waktu yang dibutuhkan untuk memulai dan menjalankan usahanya juga mendatangkan resiko bagi keluarganya. Wirausaha yang mengidentifikasikan secara teliti kegiatan usahanya , menerima resiko fisik sebagaimana mereka menghadapi kemungkinan terjadinya kegagalan. McClelland (dalam Longenecker et.al , 2000) menemukan bahwa orang cenderung dengan kebutuhan yang tinggi akan keberhasilan juga memiliki kecenderungan untuk mengambil resiko yang moderat. Para ahli menemukan bahwa para wirausaha terdapat keinginan yang lebih besar mengambil resiko dari pada manajer profesional c. Percaya diri; orang yang percaya pada dirinya sendiri, yang mengakui adanya masalah didalam pembauatan usaha baru, tapi mempercayai kemampuan dirinya untuk mengatasi masalah tersebut.

d. Keinginan yang kuat untuk berusaha; seorang wirausaha mempeerhatikan tingkat keingintahuannya atau keinginan yang kuat untu berusaha dengan tujuan apapun, menciptakan ketabahan dan kemauan untuk bekerja keras.

241

Ciri-ciri Intrapreneurship (menurut Moko, 2005) a. Menginginkan adanya akses ke seluruh resource perusahaan.

b. Berorientasi pada pencapaian Tujuan c. Motivasi kerja yang Tinggi

d. Responsif terhadap reward yang diberikan. e. f. Berpikir jauh ke depan Bekerja secara terencana,terstruktur, dan sistematik

g. Bersedia bekerja susah h. Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan i. j. Memiliki self-esteem dan self eficacy yang tinggi Berani Mengambil resiko

k. Berkemampuan menjual ide atau gagasan pada pihak lain. l. Memiliki intuisi bisnis yang tinggi

m. Sensitif terhadap situasi dan kondisi internal dan eksternal perusahaan. n. Berkemampuan bersosialisasi pada stakeholders o. Cermat, Sabar dan cukup Kompromis

Penelitian kewirausahaan yang dilakukan selama ini banyak terfokus pada pengusaha laki-laki. Hal ini disebabkan jumlah perempuan pengusaha lebih sedikit dan mayoritas bergerak dalam bisnis skala kecil atau temporer (Drucker, 1988 ). Namun semanjak tahun 80-an jumlah wanita karir dan wanita pengusaha telah meningkat tajam dan sejak itu perempuan bekerja mulai menjadi topik penelitian menarik. Sebagaimana pendapat Stain (1989 :240), Bahwa dibanding laki-laki , perempuan cenderung lebih menonjol dalam pergaulan (people oriented). Bahwa eksekutip perempuan memiliki hubungan interpersonal yang lebih intens dengan mitra kerja atau karyawan dibanding dengan laki-laki. Perempuan lebih 242

lunak di dalam menghadapi kesalahan atau masalah pribadi mitra kerja atau karyawan, lebih mudah memaafkan dan bersikap fleksibel terhadap masalah di kantor dibanding laki-laki. Menurut Langan-Fox (1991) pengusaha perempuan cenderung memperlakukan orang lain lebih liberal. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented), Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki, perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai "pemain yang mencari aman" (self player). Selain itu, pengusaha perempuan cenderung mengutamakan keamanan keluarga dan kontrol diri mereka. Perbedaan jenis kelamin bukanlah hal yang unik, namun memiliki bakat alam yang memotivasi mereka menekuni MLM dan berjuang melawan arus perbedaan gender. 2.3. Wirausaha Perempuan Banyak pihak memahami bahwa kesempatan berkarya bagi perempuan lebih terbatas dibandingkan dengan laki-laki. Data sejak tahun 2004 memperlihatkan bahwa jumlah perempuan yang aktif dalam bidang usaha masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki.Teknologi dapat membuka kesempatan bagi perempuan untuk meningkatkan peranannya di bidang usaha, selain sebagai salah satu faktor penentu dalam persaingan juga memungkinkan perempuan untuk bekerja dan berusaha di rumah, memperluas jaringan usaha atau meringankan beban kerjanya. Namun disadari bahwa pemakaian teknologi juga terkendala oleh berbagai faktor. Di satu sisi, perempuan sangat berpotensi untuk mengembangkan usaha. Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa perempuan pengusaha lebih bertanggung jawab dan lebih dapat dipercaya dalam masalah pengelolaan keuangan usaha, dan perempuan cenderung lebih peka terhadap kebutuhan pasar sehingga membuka peluang usaha baru. Di sisi lain, berbagai hal seperti kemudahan pembiayaan dan perijinan, perlindungan HKI, akses pemasaran, masih merupakan tantangan yang besar.Upaya untuk meningkatkan peranan perempuan dalam pengembangan wirausaha, terutama melalui iptek, sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah, swasta, organisasi perempuan dan institusi terkait lainnya. Berbagai kebijakan dan tindakan telah dicanangkan namun kesemuanya masih belum menghasilkan dampak yang diharapkan.

243

2.4. Hipotesis Hipotesisi dalam penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan wirausaha pria di Kota Bandar Lampung. Pengaruh kemandirian, berani mengambil resiko, orientasi ke masa depan dan toleransi pada sesuatu yang belum menentu antara wirausaha wanita dan pria berbada secara signifikan. III. Metodologi Penelitian Bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi populasi dan sampel, metode pengumpulan data dan pengukuran dan definisi operasional variabel. Disamping itu dibahas pengukuran variabel penelitian, uji validitas dan reliabilitas serta teknik analisis data. Seorang wirausaha yang sukses memiliki karateristik (personal atribut) seperti: keinginan untuk maju, ingin independen, tidak ingin bekerja pada orang lain, orientasi ke masa depan, mengharapkan penghasilan yang besar, berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum menentu. Sedangkan entrepreneurship seseorang wirausaha (entrepreneur) mempunyai sifat-sifat, seperti : ketidak ketergantungan, individualitas dan optimisme. Kemampuan seorang wirausaha yang sukses adalah orang yang mempunyai kemampuan diri terhadap usahanya seperti ketidak ketergantungan, berani mengambil resiko, berpandangan ke depan dan toleransi pada sesuatu hal yang belum menentu.

Ingin Independen / kemandirian Entrepneurship Pengambilan resiko Orientasi ke masa depan Toleran pada sesuatu yang belum menentu.

Gambar 1. Identifikasi Kemampuan Entrepreneurship

244

3.1 Populasi Dan Sempel Dalam suatu penelitian, populasi yang dipilih mempunyai hubungan yang erat dengan masalah yang diteliti. Populasi merupakan jumlah keseluruhan unit analisis yang ciri-cirinya akan diperkirakan (Cooper & Emory, 1995). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh pengusaha kecil (usaha yang memiliki omset kurang dari Rp 200 juta dan jumlah tenaga kerja kurang dari 25 orang) yang berada di Bandar Lampung. Jumlah populasi yang ada di Bandar Lampung diperkirakan sebanyak 15 ribu usaha kecil (Kopperindag, 2003). Sampel merupakan bagian dari elemen-elemen populasi yang hendak diteliti. Ide dasar pengambilan sampel adalah bahwa dengan menyeleksi bagian dari elemen-elemen populasi, kesimpulan tentang keseluruhan populasi diharapkan dapat diperoleh (Cooper & Emory, 1995). Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode strattified sampling dan random sampling. Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode acak sederhana (random sampling). Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin, usia, status perkawinan, modal awal, modal saat ini, pekerjaan orang tua, lingkungan diwaktu kecil dan pengalaman berwirausaha. Kuesioner penelitian diberikan langsung pada perusahaan yang terpilih. Agar kuesioner terisi dengan lengkap dan dapat kembali kepada peneliti sebanyak mungkin maka diberikan waktu khusus untuk pengisian keasioner tersebut. 3.2 Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer dan skunder yang diperoleh melalui: a. Survey, dilakukan guna memperoleh data primer melalui pemberian kuesioner kepada responden. Data primer ini meliputi data-data tentang variabel penelitian yaitu : kewirausahaan (entrepneurship). Studi pustaka, dilakukan guna memperoleh data skunder yang berkaitan dengan tinjauan pustaka, hasil-hasil penelitian dan data-data tentang pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung.

b.

3.3 Definisi Operasionel Dan Pengukuran Variabel Kewirausahaan (Entrepneurship), seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha (Longenecker et.al, 2000). Karateristik entrepneurship adalah keinginan untuk independen dan mandiri, keinginan untuk mengambil resiko, berorientasi kemasa depan dan toleransi terhadap sesuatu yang belum 245

tentu serta berani berkorban. Pengukuran variabel diukur dengan menggunakan skala likert 5 ­ point (sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju). Kuesioner entrepneurship ini terdiri dari 16 item yang menilai kemandirian, kerja keras, pengambilan resiko, tujuan dan cita-cita, dan berorientasi ke masa depan, toleransi pada sesuatu yang belum tentu seperti: bagi saya, apa yang saya capai atau peroleh saat ini sudah cukup (sangat tidak setuju (1) ------------------ sangat setuju (5) ). 3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas. Uji Validitas Uji validitas dimaksudkan untuk memastikan seberapa baik suatu instrumen mengukur konsep yang seharusnya diukur. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukurnya secara tepat dan benar. Dengan mempergunakan instrumen penelitian yang memiliki validitas tinggi, hasil penelitian mampu menjelaskan masalah penelitiannya sesuai dengan keadaan atau kejadian yang sebenarnya. Dalam penelitian ini, item-item pertanyaan yang digunakan sudah standardized dalam artian sudah digunakan dalam peneliti-peneliti sebelumnya (ribhan, 2006), sehingga tidak perlu melakukan lagi uji validitas. Uji Reliabilitas. Reliabilitas instrumen adalah kejituan atau ketepatan instrumen pengukur (Kerlinger, 1986). Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan ketepatan pengukuran, bila pengukuran dilakukan pada objek yang sama berulang kali dengan instrumen yang sama. Pengujian reliabilitas ditunjukkan oleh koefisien cronbach alpha. Semakin mendekati 1,00 maka semakin tinggi konsistensi jawaban skor butir-butir pertanyaan atau makin dapat dipercaya, reliabilitas yang kurang dari 0,6 adalah kurang baik, 0,7 dapat diterima dan diatas 0,8 adalah baik (Sekaran, 1992). Dalam penelitian ini, item-item pertanyaan yang digunakan diuji validitasnya, sedangkan uji reliabilitas menggunakan cronbach alpha pada = 0,6 3.5 Teknik Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis serta menghasilkan suatu model yang fit, metode analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM) dengan dibantu program aplikasi AMOS yang merupakan teknik multivariate dengan mengkombinasikan aspek-aspek multiple regression. Analysis of Moment Structure (AMOS) merupakan salah satu program untuk mengolah model-model yang multidimensi dan berjenjang. Menurut Hair, Anderson, Tatham, dan Black 246

(1998) Structural Equation Modelling (SEM) atau Analysis of Moment Structure (AMOS) digunakan untuk mengestimasi serangkaian persamaan regresi berganda yang berpisah, tapi saling berhubungan secara bersamaan (simultaneously). Structural Equation Modelling (SEM) bias terdapat beberapa variabel endogenous (dependen) dan variabel endogenous ini bias menjadi variabel exogenous (independen) bagi varaibel endogenous yang lain. Langkahlangkah dalam Structural Equation Modelling (SEM) adalah: a. b. Mengembangkan teori-teori yang mendasari model penelitian yang akan digunakan. Membuat diagram path, yaitu dengan menetapkan variabel exogenous dan variabel endogenous yang dikembangkan dalam sebuah diagram path. Asumsi yang mendasari dalam penyusunan diagram path adalah (a) semua hubungan causal ditunjukkan dengan didasari oleh teori-teori yang ada. Hal ini sangat penting untuk membenarkan hubungan antara dua variabel. (b) hubungan causal haruslah atau diasumsikan sebagai hubungan yang linier. Memasukan diagram path kedalam serangkaian struktur model dan pengukuruan model. Setelah mengembangkan model yang didasari teoriteori atau penelitian sebelumnya, kemudian mengembangkan model tersebut kedalam bentuk yang lebih formal yaitu dengan cara: (a) structural model, dengan mentransfer diagram path kedalam serangkaian structural equations yang jelas, (b) measurement model, dan (c) mengkorelasikan antara konstruk-konstruk dan indikator-indikator yang ada.

c.

Model persamaam struktural yang baik dengan menggunakan analysis of moment structure (AMOS) adalah ditandai dengan pertimbangan kriteria-kriteria (Arbuckle, 1997; pada Ferdinand, 2000): 1. 2. Degree of freedom (DF) harus positif. Chi-square ­ Significance Probability yang disyaratkan adalah lebih besar atau sama dengan 0,05 ( 0,05 ). Incremental fit untuk GFI (Goodness of Fit Index), AGFI (Ajusted Goodness of Fit Index) lebih besar atau sama dengan 0,90 ( 0,90 ); Tucker-Lewis Index (TLI) lebih besar atau sama dengan 0,95 dan Normed Fit Index (NFI) lebih besar atau sama dengan 0,94.

3.

247

4.

Nilai Root Mean Square Residual (RMR) dan Root Mean Square Error of Approximation ( RMSEA) yang rendah, lebih kecil atau sama dengan 0,08 ( 0,08 ).

IV. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Bab ini membahas analisis data dan hasil perhitungan serta pembahasan tentang perbandingan kemampuan entrepneurship antara pengusaha wanita dan pria. Pembahasan mencakup deskripsi responden, uji validitas, uji reliabilitas dan korelasi antara variabel, serta hasil pengujian hipotesis dan pembahasannya. 4.1. Analisis Deskripsi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha kecil (usaha yang memiliki omset kurang dari Rp 200 juta dan jumlah tenaga kerja kurang dari 25 orang) yang berada di Bandar Lampung. Jumlah populasi yang ada di Bandar Lampung diperkirakan sebanyak 15 ribu usaha kecil (Kopperindag, 2003). Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode strattified sampling dan metode acak sederhana ( random sampling). Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin, usia, status, modal awal, modal saat ini, pekerjaan orang tua dan lingkungan dimasa kecil. Kuesioner penelitian diberikan langsung pada perusahaan yang terpilih. Agar kuesioner terisi dengan lengkap dan dapat kembali kepada peneliti sebanyak mungkin maka diberikan waktu khusus untuk pengisian keasioner tersebut. Dari 150 kuesioner yang diisi responden yang dikembalikan adalah sebanyak 119 kuesioener (respon rate 79%). Dari 119 kuesioner yang di input terdiri dari 56 kuesioner dari pengusaha pria dan 63 pengusaha wanita. Dari hasil pengumpulan kuesioner diskripsi responden secara rinci dapat terlihat dalam tabel 1 berikut: Tabel 1. Deskripsi Responden Keterangan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 248 Jumlah 56 63 Persentase (%) 47% 53%

Keterangan Usia 20 ­ 30 tahun 31 -40 tahun lebih dari 40 tahun Status Perkawinan Kawin Belum Kawin

Jumlah 18 56 45

Persentase (%) 15% 47% 38%

99 20

83% 17%

4.2.

Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji Validitas Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang pernah digunakan oleh peneliti-peneliti terdahulu (ribhan, 2006). Sehingga dalam penelitian ini tidak dilakukan uji validitas terhadap item-item kuesioner penelitian, dengan kata lain peneliti berasumsi bahwa item-item pada kuesioner penelitian ini telah dilakukan validitas item . Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan terhadap data yang sudah terkumpul. Uji reliabilitas ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui seberapa jauh sebenarnya item-item pertanyaan tersebut memiliki konsistensi. Pada uji reliabilitas ini dapat terjadi penghapusan beberapa item-item pertanyaan, dengan membandingkan antara cronbach alpha total dan alpha if item deleted sehingga dapat meningkatkan nilai cronbach alpha. Pengujian Reliabilitas item-item Entrepneurship Pengujian reliabilitas untuk item-item variabel entrepreneurship menghasilkan nilai cronbach alpha tertinggi sebesar 0,5105 (standardized item alpha sebasar 0,5105) dengan empat kali pengujian. Sehingga item-item yang reliabel adalah: 3,5,11,13,14. Secara rinci, hasil pengujian reliabilitas masing-masing variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.

249

Tebel 2. Ringkasan Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Penelitian No 2 Nama Variabel Entrepneurship Awal Cronbach Jumlah Alpha item 16 -0,0694 Jumlah item 5 Akhir Cronbach Alpha 0,5105

4.3. Analisis Data Evaluasi atas Dipenuhinya Ukuran Sampel Jumlah sampel total yang digunakan dalam pengujian ini adalah 119 sampel. Jumlah sampel ini telah lebih dari jumlah sampel minimum yang diperlukan dalam pengujian structural equation model. Menurut Hair et al.,(1998) ukuran sampel yang sesuai adalah antara 100 ­ 200. Oleh karena itu pengujian model keseluruhan dengan SEM dapat dilakukan. Evaluasi atas Dipenuhinya Asumsi Normalitas Menurut Hair et al. (1998), SEM bila diestimasi dengan menggunakan maximum likelihood estimation technique, mensyaratkan pengujian asumsi normalitas. Untuk menguji normalitas distribusi data yang digunakan dalam analisis bisa digunakan dengan mengamati mulitivativariate kurtosis value. Apabila nilai kritisnya (CR) lebih besar dari ± 2,58 berarti kita dapat menolak asumsi mengenai normalitas pada probability level 0,01 (Hair et al., 1998). Hasil uji normalitas untuk sampel wirausaha pria disajikan dalam tabel 3. Tabel 3. Assessment of normality Wirausaha Pria Assessment of normality (Group number 1) Variable tol md res dep Multivariate min 12.000 9.000 12.000 11.000 max 18.000 17.000 18.000 16.000 skew -.294 .124 .047 .604 c.r. -.899 .378 .144 1.845 kurtosis -.446 1.067 -1.135 -.065 2.556 c.r. -.681 1.630 -1.734 -.099 1.380

Sedangkan hasil uji normalitas untuk sampel wirausaha Wanita disajikan dalam tabel 4 berikut.

250

Tabel 4. Assessment of normality Wirausaha Perempuan, Assessment of normality (Group number 1) Variable tol md res dep Multivariate min 10.000 9.000 11.000 10.000 max 20.000 17.000 19.000 17.000 skew .177 -.400 -.006 .230 c.r. .574 -1.296 -.018 .745 kurtosis .179 -.022 -.579 -.236 2.888 c.r. .290 -.035 -.938 -.382 1.655

Dari tabel 3 dan 4 dapat dilihat bahwa nilai CR untuk multivariete menunjukkan angka 1,380 dan 1,655, nilai tersebut lebih kecil dari nilai batas ± 2,58. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada pengujian data SEM, baik secara multivariate tidak ada bukti bahwa data yang digunakan berdistribusi tidak normal, sehingga asumsi normalitas terpenuhi. 4.4. Perbandingan Model Path antara Wirausaha Pria dan Wanita Hasil Perhitungan dengan menggunakan Program AMOS diperoleh gambar analisa jalur antara pria dan wanita sebagai berikut:

e1

.10

dep e2

.38

.32

res e3

.22 -.47

.61

wirausaha

md e4

.26

.51

tol

251

Gambar 2. Wirausaha ­ Laki-laki (Pria) Sedangkan untuk gambar path atau analisa jalur diperoleh sebagai berikut: Gambar 3. Model Path Wirausaha ­ Perempuan (Wanita)

e1

.00

dep e2

2.37

-.02

res e3

.014 .12

1.54

wirausaha

md

.06

e4

.004

tol

4.4. Pengujian Hipotesis dan Pembahsan Nilai-nilai koefisien path dan critical ratio (CR) hasil analisis hubungan kausalitas antara variabel-variabvel penelitian dengan menggunakan program AMOS 5 dapat dilihat pada tabel 5 Tabel 5. Nilai Koefisien Path Wirausaha Pria dan Wanita Path wirausaha wirausaha wirausaha wirausaha Pria .322 .613 -.467 .512 Wanita -.020 1.538 .119 .063

dep res md tol

<--<--<--<---

252

Penilaian terhadap pengaruh dari masing-masing indikator, menurut Hair, et al., (1998) dilihat dari nilai koefisien path-nya dan nilai critical ratio (CR) yang lebih besar atau sama dengan 1,96, diinterpretasikan signifikan secara statistik pada tingkat 0,05 (p<0,05). Berdasarkan pengujian tersebut bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat berbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan pria mempunyai perbedaan tetapi tidak signifikan antara keduanya, didukung. Ingin Independen atau Kemandirian, hasil perhitungan dengan AMOS menunjukkan bahwa besarnya pengaruh indikator kemandirian antara wirausaha wanita dan pria berbeda. Pengaruh kemandirian pria (0,322) lebih besar dibandingkan dengan indikator kemandirian pada wirausaha perempuan yaitu sebesar -0, 020. Hal ini menunjukkan bahwa wirausaha pria lebih mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan, dibandingkan dengan wirausaha wanita. Wirausaha pria lebih memiliki citra kemandirian dalam menjalankan usahanya. Berani mengambil resiko, hasil temuan dalam peneltian ini menunjukkan bahwa wirausaha wanita (1,538) lebih baik dalam pengambilan resiko dalam menjalankan usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria (0,613). Temuan ini menandakan bahwa wirausaha wanita lebih berani mengambil resiko dan suka pada tantangan atas usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya, meninggalkan pekerjaannya, dan mempertaruhkan karirnya. Orientasi kemasa depan, temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa pengaruh indikator orientasi kemasa depan wirausaha pria mempunyai pengaruh yang relatif kecil (0,119) dan tidak signifikan, hal ini menandakan bahwa wirausaha pria di Bandar Lampung mempunyai kemampuan mengembangkan kemajuan usahanya masih sangat rendah. Hal ini berkemungkinan disebabkan masalah-masalah permodalan dan pengembangan pasar produk mereka. Temuan ini berbeda dengan pendapat para ahli (Longenecker et.al, 2000) yang mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dengan standar keunggulan dan memiliki untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan kepadanya. Wirausaha adalah peraih keberhasilan tingkat tinggi. Dorongan untuk keberhasilan tersebut tampak dalam pribadi yang ambisius yang memulai usaha barunya dan kemudian mengemabangkan usaha tersebut pada orang-orang tertentu. Sedangakan untuk wirausaha wanita memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan yaitu -0,467. temuan ini menunjukkan bahwa wirausaha wanita di 253

Bandar Lampung tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan usahanya kemasa depan. Hal ini mengindikasikan bahwa wirausaha wanita berkemungkinan, orientasi mereka dalam menjalan usahanya hanya sekedar membantu pasangan mereka dalam memenuhi kebutuhan rumahtangganya. Perbedaan kemampuan orientasi kemasa depan antara wirausaha pria lebih tinggi dibanding dengan wirausaha wanita. Toleransi pada sesuatu yang belum menentu, seorang wirausaha memperhatikan tingkat keingintahuannya atau keinginan yang kuat untu berusaha dengan tujuan apapun, menciptakan ketabahan dan kemauan untuk bekerja keras, serta fleksibel. Seorang wirausaha mempunyai kemampuan antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan. Toleransi ambiguitas yakni kemampuan untuk berhubungan dengan yang tidak tersetruktur dan tidak bisa diprediksi sehingga menuntut kreatifitas seseorang. Hasil temuan menunjukkan bawa wirausaha pria lebih fleksibel dan antisipasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan (0,512), sehingga dapat diprediksi bahwa kreatifitas wirausaha pria lebih baik dibanding dengan wirausaha wanita. Sedangkan wirausaha wanita indikator ini memiliki pengaruh yang sangat kecil (0,063), hal ini menandakan bawa wirausaha wanita hapir tidak memiliki toleransi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi dan akan terjadi dan kurang kreatifitasnya. V. Simpulan, Implikasi, Keterbatasan Dan Saran Penelitian Mendatang 5.1. Kesimpulan Seratus sembilan belas data yang diperoleh dari para wirausaha UKM dan UMKM di Bandar Lampung dianalisis dengan menggunakan analisis model persamaan structural (structural equation modeling) dan program apliklasi AMOS. Penelitian ini menguji perbandingan pengaruh kemampuan entrepneurship Wanita dan Pria pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Hasil pengujian menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kemampuan wirausaha antara wanita dan pria di Bandar Lampung serta terdapat perbedaan pengaruh antara indikator-indikator kemampuan wirausaha wanita dan pria pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung, didukung. Hasil pengolahan dengan menggunakan AMOS pengaruh indikator-indikator kemampuan wirausaha wanita dan pria semuanya tidak signifikan. Hal ini dikarenakan setelah pengolahan dipisahkan antara wanita dan pria maka 254

sampel masing-masing gender tidak memenuhi standar pengolahan, yaitu antara 100 -200 responden. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan analisa menghasilkan temuan yang mendukung hipotesis yang diajukan peneliti. jalur

Ingin Independen atau Kemandirian, menunjukkan bahwa wirausaha pria lebih mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan, dibandingkan dengan wirausaha wanita. Wirausaha pria lebih memiliki citra kemandirian dalam menjalankan usahanya. Berani mengambil resiko, wirausaha wanita lebih berani mengambil resiko dan suka pada tantangan atas usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya, meninggalkan pekerjaannya, dan mempertaruhkan karirnya. Orientasi kemasa depan, perbedaan kemampuan orientasi kemasa depan antara wirausaha pria lebih tinggi dibanding dengan wirausaha wanita. Toleransi pada sesuatu yang belum menentu, hasil temuan menunjukkan bawa wirausaha pria lebih fleksibel dan antisipasi terhadap perubahanperubahan lingkungan, sehingga dapat diprediksi bahwa kreatifitas wirausaha pria lebih baik dibanding dengan wirausaha wanita. 5.2. Implikasi Hasil Penelitian Temuan-temuan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan indikator-indikator wirausaha para wirausaha UKM dan UMKM di Bandar Lampung berbeda antara wanita dan pria dalam hal ingin independent (kemandirian) atau kemandirian, pengambilan resiko, orientasi ke masa depan, serta toleransi terhadap sesuatu yang belum menentu. Wirausaha pria lebih mandiri, berorientasi kemasa depan, dan kreatifitas dibandingkan dengan wirausaha wanita. Sedangkan dalam hal keberanian mengambil resiko, wirausaha wanita lebih berani dibanding dengan wirausaha pria. Untuk itu diperlukan peranan berbagai pihak (pemerintah, professional, akademisi serta masyarakat) dalam memberikan bimbigan terhadap usaha entrepneurship terutama dalam wirausaha wanita, sehingga mereka akan lebih mandiri, berorientasi kemasa depan dan kreatifitas. Dengan demikian wirausaha wanita dalam menjalankan usahanya tidak semata-mata usaha sambilan atau sementara. Hasil temuan ini menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan entrepneurship dari persepteif gender di Bandar Lampung. Temuan ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi stakeholder dalam memberdayakan kemampuan wirausaha, terutama dalam wirausaha wanita. 255

Dengan demikian bantuan yang bersifat materi dan non materi masih terus ditingkatkan untuk memotivasi dan kepercayaan diri mereka dalam menjalankan usahanya. 5.3. Keterbatasan dan Saran Penelitian Mendatang Penelitian ini masih banyak kekurangan-kekurangan yang dialami. Model yang di tunjukkan belum menunjukkan suatu model yang fit (sesuai), hal ini disebabkan terdapatnya bias atau halo efek dalam kuesioner, karena besarnya pengambilan responden setelah dibedakan antara pria dan wanita besarnya tidak mengikuti aturan yang ditetapkan dalam pengolahan data dengan menggunakan AMOS. Keterbatasan lainnya besarnya responden masih sangat kurang dari yang seharusnya, hal ini karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh peneliti. Dimana perbandingan antara besarnya responden (sample) dan populasi tidak sesuai. Oleh karenanya peneliti menyarankan bagi penelitian yang akan datang sebagai berikut: 1. Diharapkan menggunakan sampel yang terspesifikasi dan berbeda dengan penelitian ini dengan maksud untuk lebih menguatkan temuan peneliti. 2. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada pengaruh indikator-indikator entrepneurship, seperti kemadirian, pengambilan resiko, orientasi kemasa depan dan toleransi terhadap sesuatu yang belum menentu. Penelitian yang akan datang diharapkan mengikutsertakan faktor-faktor yang lebih kompleks dalam penelitian. Kuesioner yang digunakan peneliti bersifat self-report atau self rating scale. Kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya bias respon akibat adanya kecenderungan para responden mengukur lebih tinggi dari kondisi sesungguhnya. Hal ini berkemungkinan karena seluruh item-item pertanyaan yang diajukan, diisi responden dalam satu paket kuesioner.

DAFTAR PUSTAKA Astamoen, Moko P. 2005. Entrepreneurship (dalam Perspektif Kondisi Bangsa Indonesia). Bandung: Alfabeta Cooper, R.D., & Emory,W.C. 1995. Business Research Methods (5th edition). London: Richard D.Irwin, Inc. 256

Don Hellriegel dan John W.Slocum, Jr.1992. Management, Addison-Wesley Publishing Co., Massacussets. Ferdinan, Augusty. 2000. Structural Equation Modeling Dalam Penelitian Manajemen. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Fred Luthan dan Richard M.Hotgetts. 1989. Business, The Dryden Pres Chicago. Hair, JR. Joseph F., Anderson, Rolph E., Tatham, Ronald.L., & Black, William.C. 1998. Multivariate Data Analysis (Fifth Edition). Prentice-Hall International Inc. Joko Sutrisno.2002. Pengembangan pendidikan Berwawasan Kewirausahaan Sejak Usia Dini, http://rudict.topcities.com. Kerlinger, N. Fred. (Penerjemah: Simatupang Ladung R) 1998. Asas-asas Penelitian Behavioral (edisi Indonesia). Gadjah Mada University Press. Longenecker, JustinG;CarlosW.Moore, J.William Petty. 2000. Small Business Management, An Entrepneurial Emphasis 11th Ed. Thomson Learning. Muhandri, Tjahya. 2002. Strategi Penciptaan Wirausaha (Pengusaha) Kecil Menengah yang Tangguh, http://rudict.tripod.com. Nasrullah Yusuf.1996. Wirausaha dan Bisnis Kecil, Isu Dan Kecenderungan Ekonomi, Pemikiran dalam Rangka Lustrum ke 6 FE UNILA. Peter F.Drucker.1985. Innovation and Entrepreneurship; Pranctise and Principles, Harper & Row , New York. Purdi E. Chandra. 2003. Entrepneur Kreatif, Entrepneur Indonesia Edisi 2 / Tahun I / Agsutus. Ricky E.Griffin dan Ronald J.Ebert,1989. Business, Prentice Hall, New Jersey. Ribhan. 2006. Pengaruh Keyakinan Diri (Self Eficacay) dalam Kemampuan Entrepreneurship Pengusaha Kecil dan Mikro di Propinsi Lampung. Sekaran, U. 1992. Research Methods for Business, Second Edition, New York: John Wiley & Son, Inc. Yuni Pristiawati. 2005. Pengembangan Usaha Kecil Untuk Penguatan Perempuan. Media Informasi BPR, Edisi V bulan Juni. 257

Information

Microsoft Word - JBM-Januari KOMPLIT-.doc

132 pages

Find more like this

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

332947


You might also be interested in

BETA
Bank Syariah Mandiri_Billingual_31_Des_2009_Released.doc