x

Read bab2.pdf text version

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Natrium Klorida (NaCl) Natrium Klorida, yang juga dikenal sebagai garam meja, atau garam karang, merupakan senyawa ion dengan rumus NaCl. Natrium Klorida adalah garam yang paling berperan penting dalam salinitas laut dan dalam cairan ekstraselular dari banyak organisme multiselular. Garam sangat umum digunakan sebagai bumbu makanan dan pengawet. Natrium Klorida adalah garam yang berbentuk kristal atau bubuk berwarna putih. NaCl dapat larut dalam air tetapi tidak larut dalam alkohol. NaCl juga merupakan senyawa natrium yang berlimpah di alam. 2NaCl + 2H2O Cl2 + H2 + 2NaOH Natrium Klorida digunakan dalam proses kimia untuk skala besar produksi senyawa yang mengandung Sodium atau Khlor. Sejak akhir abad ke ­ 19, pada waktu proses elektrolisis secara besar ­ besaran diperkenalkan, telah dapat dibuat bermacam ­ macam senyawa dengan bahan baku NaCl, misalnya Natrium Hidroksida, Asam Klorida, Natrium Karbonat, Natrium Sulfite dan senyawa ­ senyawa lainnya. Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi Natrium Klorida 9,0 gram dengan osmolalitas 308 mOsm/l setara dengan ion ­ ion Na+ 154 mEq/l dan Cl 154 mEq/l (InETNA,2004:16 ; ISO Indonesia,2000:18).

9

Natrium Klorida 0,9% adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh, karena alasan ini, tidak ada reaksi hipersensitivitas dari natrium Klorida. Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley & Aucker,1999). Natrium Klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson, 1992). Natrium Klorida tersedia dalam beberapa konsentasi, yang paling sering digunakan Natrium Klorida 0,9%. Ini adalah konsentrasi normal dari Natrium Klorida dan untuk alasan ini Natrium Klorida disebut juga normal saline (Lilley & Aucker, 1999). Natrium Klorida 0,9% merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah. 2.1.1. Biological fungsi Pada manusia, intake garam dalam jumlah yang tinggi telah lama dikenal dapat meningkatkan tekanan darah, khususnya di beberapa individu. Terlebih baru-baru ini, garam telah menunjukkan dapat melemahkan produksi senyawa oksida. Kontribusi senyawa oksida (NO) ke keadaan homeostasis oleh inhibiting vascular berhubungan dengan kelancaran kontraksi otot dan pertumbuhan, agregasi platelet, dan adhesi leukosit ke endothelium. 2.1.2. Crystal struktur Setiap atom memiliki enam tetangga terdekat, dengan geometri bersegi delapan. Sodium chloride berbentuk kristal dengan wajah-

10

tengah kubik simetri. Semakin besar ion klorida, ditampilkan di sebelah kanan sebagai spheres hijau, dapat diatur dalam kubik menutup kumpulan, sementara ion klorida kecil, ditampilkan di sebelah kiri sebagai perak spheres, terdapat jarak di antara semua isi kubik. Setiap ion dikelilingi oleh enam ion dari jenis lainnya; sekitarnya ion berada di vektor yang sempurna berbentuk segi delapan.

Gambar. 1

Struktur kristal sodium chloride. Setiap atom memiliki enam tetangga terdekat, dengan geometri bersegi delapan.

Dasar struktur yang sama ini ditemui dalam banyak mineral dan umumnya dikenal sebagai garam karang atau batu-garam struktur kristal. Digambarkan sebagai wajah-tengah kubik (FCC) kisi-kisi dengan dua atom dasar. Atom pertama terletak di setiap titik kisi, dan yang kedua atom terletak setengah jalan antara kisi poin FCC unit di sepanjang tepi sel. Hal ini dibentuk bersama-sama dengan ionic bond dan desakan elektrostatik.

11

Gambar 1.1

Gambar garam kristal dan strukturnya

Tabel. 1. Nama IUPAC Garam, Kelarutan, Titik Didih, Tampilan dan Informasi lain Tentang Garam

Nama IUPAC Sodium Chloride Common 35,6 g/100 mL garam; garam (0 °C) karang; garam 35.9 g/100 meja, batu 39.1 g/100 mL yg tdk dpt di (100°C) HCl Titik didih 1465°C(1 738K) Koordinasi geometri Bersegi delapan (Na+) Bersegi delapan (Cl

-)

Nama lain

Kelarutan dalam air

Solubility

Bau

Refractive indeks (n D)

Larut dalam gliserin, ethylene glycol, mL(25°C) formic acid

Tanpa bau

1,5442 (589 nm)

garam

Flash point

Lainnya anions

Lainnya cations

Thermodynamic data Tahap sifat

Tidak terbakar

mudah

Sodium fluor Sodium bromida

Lithium khlorida Potassium chloride

Solid, liquid, gas

12

Sodium iodide

Rubidium khlorida Caesium chloride

Tampilan

Molecular formula

Molar mass

Kepadatan

Struktur kristal

Titik cair

Tak berwarna / Na Cl kristal putih solid

58,443 g / mol

2,165 g / cm

3

Kubik (lihat teks), cF8

801°C(1074K)

13

2.2. Konsep Dasar Pembedahan dan Post Operatif 2.2.1. Konsep Dasar Keperawatan Perioperatif Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah peristiwa kompleks yang menegangkan.

Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar operasi rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak memerlukan hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah ambulatori. Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan mencakup pula pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi anastesi lokal, regional atau umum. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang kian maju. Prosedur tindakan pembedahan pun mengalami kemajuan yang sagat pesat. Dimana perkembangan teknologi mutakhir telah mengarahkan kita pada penggunaan prosedur bedah yang lebih kompleks dengan

penggunaan teknik-teknik bedah mikro (micro surgery techniques) atau penggunaan laser, peralatan by Pass yang lebih canggih dan peralatan monitoring yang lebih sensitif. Kemajuan yang sama juga ditunjukkan dalam bidang farmasi terkait dengan penggunaan obat-obatan anestesi kerja singkat, sehingga pemulihan pasien akan berjalan lebih cepat. Kemajuan dalam bidang teknik pembedahan dan teknik anastesi tentunya harus diikuti oleh peningkatan kemampuan masing-masing personel (terkait dengan teknik dan juga komunikasi psikologis) sehingga hasil yang diharapkan dari pasien bisa tercapai. Perubahan tidak

14

hanya terkait dengan hal-hal tersebut diatas. Namun juga diikuti oleh perubahan pada pelayanan. Untuk pasien-pasien dengan kasus-kasus tertentu, misalnya : hernia. Pasien dapat mempersiapkan diri dengan menjalani pemeriksaan dignostik dan persiapan praoperatif lain sebelum masuk rumah sakit. Kemudian jika waktu pembedahannya telah tiba, maka pasien bisa langsung mendatangi rumah sakit untuk dilakukan prosedur pembedahan. Sehingga akan mempersingkat waktu perawatan pasien di rumah sakit. Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi dengan pengalaman keperawatan pasien. yang Istilah

berkaitan

pembedahan

perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu fase praoperatif, fase intraoperatif dan fase post operatif. Masing- masing fase dimulai pada waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan. Di samping perawat, kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang berkompeten dalam merawat pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan optimal.

15

2.2.2. Fase Pembedahan 1. Pra operatif Fase praoperatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan menyiapkan pembedahan. Keperawatan praoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif. Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini. Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu operasi. 2. Intraoperatif Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan infus, pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang pasien untuk anestesi yang diberikan dan

16

prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi anestesi, bertindak sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur posisi pasien di atas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh. 3. Post operatif Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktivitas keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anestesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan. 2.2.3 Indikasi dan Klasifikasi Pembedahan Tindakan pembedahan dilakukan dengan berbagai indikasi, diantaranya adalah : 1. Diagnostik : biopsi atau laparotomi eksplorasi 2. Kuratif : Eksisi tumor atau mengangkat apendiks yang

mengalami inflamasi 3. Reparatif : Memperbaiki luka multipel : mammoplasty, atau bedah plastik

4. Rekonstruktif/Kosmetik

17

5. Palliatif

: seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki

masalah, contoh : pemasangan selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkompensasi terhadap ketidakmampuan menelan makanan. Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan, yaitu : 1. Kedaruratan/Emergency Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa ditunda. Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sangat luas. 2. Urgen Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra. 3. Diperlukan Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan dalam beberapa minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.

18

4. Elektif Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi

pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka tidak terlalu membahayakan. Contoh : perbaikan Scar, hernia sederhana, perbaikan vaginal. 5. Pilihan Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. Contoh : bedah kosmetik. Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan di bagi menjadi : 1. Minor Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan yang minim. Contoh : insisi dan drainage kandung kemih, sirkumsisi. 2. Mayor Menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian sangat serius. Contoh : Total abdominal histerektomi, reseksi colon, dll. 2.2.4. Keperawatan Post Operatif Keperawatan post operatif adalah periode akhir dari

keperawatan perioperatif. Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan kondisi pasien pada keadaan

19

equlibrium fisiologis pasien, menghilangkan nyeri dan pencegahan komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu pasien kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman dan nyaman. Upaya yang dapat dilakukan diarahkan untuk mengantisipasi dan mencegah masalah yang kemungkinan mucul pada tahap ini. Pengkajian dan penanganan yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi yang memperlama perawatan di rumah sakit atau membahayakan diri pasien. Memperhatikan hal ini, asuhan keperawatan post operatif sama pentingnya dengan prosedur pembedahan itu sendiri. Perawatan post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya adalah : 1. Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anestesi (recovery room). Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan atau unit perawatan pasca anastesi (PACU: post anasthesia care unit) memerlukan pertimbangan ­ pertimbangan khusus. Pertimbangan itu diantaranya adalah letak insisi bedah, perubahan vaskuler dan pemajanan. Letak insisi bedah harus selalu dipertimbangkan setiap kali pasien pasca operatif dipindahkan. Banyak luka ditutup dengan tegangan yang cukup tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah regangan sutura lebih lanjut. Selain itu pasien diposisikan sehingga ia tidak

20

berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang drainase. Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu posisi ke posisi lainnya. Seperti posisi litotomi ke posisi horizontal atau dari posisi lateral ke posisi terlentang. Bahkan memindahkan pasien yang telah di anestesi ke brankard dapat menimbulkan masalah gangguan vaskuler juga. Untuk itu pasien harus dipindahkan secara perlahan dan cermat. Segera setelah pasien dipindahkan ke barankard atau tempat tidur, gaun pasien yang basah (karena darah atau cairan lainnnya) harus segera diganti dengan gaun yang kering untuk menghindari kontaminasi. Selama perjalanan transportasi tersebut pasien diselimuti dan diberikan pengikatan di atas lutut dan siku serta side rail harus dipasang untuk mencegah terjadi resiko injury. Selain hal tersebut di atas untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan pasien. Selang dan peralatan drainase harus ditangani dengan cermat agar dapat berfungsi dengan optimal. Pasien ditransportasikan dari kamar operasi ke ruang pemulihan. Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab perawat sirkuler dan perawat anestesi dengan koordinasi dari dokter anestesi yang bertanggung jawab. 2. Perawatan post anestesi di ruang pemulihan (recovery room) Setelah selesai tindakan pembedahan, pasien harus dirawat sementara di ruang pulih sadar (recovery room : RR) sampai

21

kondisi pasien stabil, tidak mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal perawatan). Alat monitoring yang terdapat di ruang ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kondisi pasien. Jenis peralatan yang ada diantaranya adalah alat bantu pernafasan : oksigen, laringoskop, set trakheostomi, peralatan bronkhial, kateter nasal, ventilator mekanik dan peralatan suction. Selain itu di ruang ini juga harus terdapat alat yang digunakan untuk memantau status hemodinamika dan alat-alat untuk mengatasi permasalahan hemodinamika, seperti : apparatus tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, set intravena, set pembuka jahitan, defibrilator, kateter vena, torniquet. Bahan-bahan balutan bedah, narkotika dan medikasi kegawatdaruratan, set kateterisasi dan peralatan drainase. Selain alat-alat tersebut di atas, pasien post operasi juga harus ditempatkan pada tempat tidur khusus yang nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien, seperti : pemindahan darurat. Dan dilengkapi dengan kelengkapan yang digunakan untuk mempermudah perawatan. Seperti tiang infus, side rail, tempat tidur beroda, dan rak penyimpanan catatan medis dan perawatan. Pasien tetap berada dalam PACU sampai pulih sepenuhnya dari pengaruh anestesi, yaitu tekanan darah stabil, fungsi pernafasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95% dan tingkat kesadaran yang baik.

22

Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk dikeluarkan dari PACU adalah : a. Fungsi pulmonal yang tidak terganggu b. Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat c. Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah

Orientasi pasien terhadap tempat, waktu dan orang d. Haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam e. Mual dan muntah dalam kontrol f. Nyeri minimal 3. Transportasi pasien ke ruang rawat Transportasi pasien bertujuan untuk mentransfer pasien menuju ruang rawat dengan mempertahankan kondisi tetap stabil. Waspadai hal-hal berikut : henti nafas, vomitus, aspirasi selama transportasi. Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat transportasi klien: a. Perencanaan Pemindahan klien merupakan prosedur yang

dipersiapkan semuanya dari sumber daya manusia sampai dengan peralatannya. b. Sumber daya manusia (ketenagaan) Orang yang boleh melakukan proses transfer pasien adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan

23

yang mungkin terjadi selama transportasi. Perhatikan juga perbandingan ukuran tubuh pasien dan perawat. Harus seimbang. c. Eguipment (peralatan) Peralatan yang dipersiapkan untuk keadaan darurat, misal : tabung oksigen, sampai selimut tambahan untuk mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan dalam kondisi siap pakai. d. Prosedur Untuk beberapa pasien setelah operasi harus ke bagian radiologi dulu dan sebagainya. Sehingga hendaknya sekali jalan saja. Prosedur-prosedur pemindahan pasien dan posisioning pasien harus benar-benar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan pasien. e. Passage (jalur lintasan) Hendaknya memilih jalan yang aman, nyaman dan yang paling singkat. Ekstra waspada terhadap kejadian lift yang macet dan sebagainya. 4. Perawatan di ruang rawat Ketika pasien sudah mencapai bangsal, maka hal yang harus kita lakukan, yaitu : a. Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage, tube/selang, dan komplikasi. Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor kondisinya. Pemerikasaan ini

24

merupakan pemmeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal setelah post operasi. b. Manajemen Luka Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan luka tidak mengalami perdarahan abnormal. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Manajemen luka meliputi perawatan luka sampai dengan pengangkatan jahitan. c. Mobilisasi dini Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM, nafas dalam dan juga batuk efektif yang penting untuk mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan

mengeluarkan sekret dan lendir. d. Rehabilitasi Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang diperlukan untuk

memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala. e. Discharge Planning Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan

kondisi/penyakitnya post operasi.

25

Ada 2 macam discharge planning : 1) Untuk perawat : berisi point-point discahrge planing yang diberikan kepada klien (sebagai dokumentasi) 2) Untuk pasien : dengan bahasa yang bisa dimengerti pasien dan lebih detail. Dalam merencanakan kepulangan pasien, kita harus mempertimbangkan 4 hal berikut: 1) Home care preparation Memodifikasi lingkungan rumah sehingga tidak mengganggu kondisi klien. Contoh : klien harus diatas kursi roda/pakai alat bantu jalan, buat agar lantai rumah tidak licin. Kita harus juga memastikan ada yang merawat klien di rumah. 2) Client/family education Berikan edukasi tentang kondisi klien. Cara merawat luka dan hal-hal yang harus dilakukan atau dihindari kepada keluarga klien, terutama orang yang merawat klien. 3) Psychososial preparation Tujuan dari persiapan ini adalah untuk memastikan hubungan interpersonal sosial dan aspek psikososial klien tetap terjaga.

26

4) Health care resources Pastikan bahwa klien atau keluarga mengetahui adanya pusat layanan kesehatan yang terdekat dari rumah klien, seperti rumah sakit, puskesmas dan lain-lain. Jadi jika dalam keadaan darurat bisa segera ada pertolongan. 2.2.5. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada saat pasca operasi : 1. Gangguan pertukaran gas b.d. efek residual anestesi 2. Tidak efektifnya bersihan jalan napas b.d. peningkatan sekret 3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d. insisi bedah dan posisi selama pembedahan 4. Gangguan integritas kulit b.d. luka bedah dan pemasangan drain 5. Potensial injuri b.d. efek anestesi, sedasi and immobilisasi 6. Defisit volume cairan b.d. kehilangan cairan selama pembedahan 7. Penurunan eliminasi urin b.d. agen anestesi dan immobilisasi 8. Defisit perawatan diri b.d. luka operasi, nyeri dan treatment regimen 9. Kurang pengetahuan b.d. kurang informasi tentang treatment regimen Intervensi keperawatan : Secara umum intervensi keperawatan yang diberikan kepada pasien post operasi meliputi hal-hal sebagai berikut : 1. Memastikan fungsi pernafasan yang optimal

27

2. Meningkatkan ekspansi paru 3. Memenuhi kebutuhan cairan 4. Menghilangkan ketidaknyamanan pasca operatif : nyeri 5. Menghilangkan kegelisahan 6. Menghilangkan mual dan muntah 7. Menghilangakan distensi abdomen 8. Mempertahankan suhu tubuh normal 9. Menghindari cedera 10. Mempertahankan status nutrisi yang normal 11. Meningkantkan fungsi urinarious yang normal 12. Meningkatkan eliminasi usus 13. Pengaturan posisi 14. Ambulasi 15. Melakukan perawatan luka operasi dengan teknik steril 16. Membantu pasien dalam memenuhi perawatan kebersihan diri 17. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan pasien post operatif. 2.2.6. Komplikasi Post Operatif 1. Syok Syok yang terjadi pada pasien bedah biasanya berupa syok hipovolemik, syok nerogenik jarang terjadi. Tanda-tanda syok secara klasik adalah sebagai berikut : Pucat, kulit dingin, basah, pernafasan cepat, sianosis pada bibir, gusi dan lidah, nadi cepat, lemah dan bergetar, penurunan

28

tekanan darah, urine pekat. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah kolaborasi dengan dokter terkait dengan pengobatan yang dilakukan seperti terapi obat, penggantian cairan per IV dan juga terapi pernafasan. Terapi obat yang diberikan meliputi obat-obatan kardiotonik (natrium sitroprusid), diuretik, vasodilator dan steroid. Cairan yang digunakan adalah cairan kristaloid sperti ringer laktat dan koloid seperti terapi komponen darah, albumin, plasma. Terapi pernafasan dilakukan dengan memantau gas darah arteri, fungsi pulmonal dan juga pemberian oksigen melalui intubasi atau nasal kanul. Intervensi mandiri keperawatan meliputi : dukungan psikologis, pembatasan penggunaan energi, pemantauan reaksi pasien terhadap

pengobatan, peningkatan periode istirahat, pencegahan hipotermi dengan menjaga tubuh pasien agar tetap hangat karena hipotermi mngurangi oksigenasi jaringan, melakukan perubahan posisi pasien tiap 2 jam dan mendorong pasien untuk melakukan nafas dalam untuk meningkatkan fungsi optimal paru, pencegahan komplikasi dengan memonitor pasien secara ketat selama 24 jam seperti edema perifer dan edema pulmonal. 2. Perdarahan Penatalaksanaan perdarahan seperti halnya pada pasien syok. Pasien diberikan posisi terlentang dengan posisi tungkai kaki membentuk sudut 20 derajat dari tempat tidur sementara lutut harus dijag tetap lurus. Penyebab perdarahan harus dikaji

29

dan diatasi. Luka bedah harus selalu diinspeksi terhadap perdarahan. Jika perdarahan terjadi, kassa steril dan balutan yang kuat dipasangkan dan tempat perdarahan ditinggikan pada posisi ketinggian jantung. Pergantian cairan koloid disesuaikan dengan kondisi pasien. 3. Trombosis vena profunda Trombosis vena profunda adalah trombosis yang terjadi pada pembuluh darah vena bagian dalam. Komplikasi serius yang bisa ditimbulkan adalah embolisme pulmonari dan sindrom pasca flebitis. 4. Retensi urin Retensi urine paling sering terjadi pada kasus-kasus pembedahan rektum, anus dan vagina. Atau juga setelah herniofari dan pembedahan pada daerah abdomen bawah. Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter kandung kemih. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan kateter untuk membatu mengeluarkan urine dari kandung kemih. 5. Infeksi luka operasi (dehisiensi, evicerasi, fistula, nekrose, abses) Infeksi luka post operasi seperti dehisiensi dan sebaginya dapat terjadi karena adanya kontaminasi luka operasi pada saat operasi maupun pada saat perawatan di ruang perawatan. Pencegahan infeksi penting dilakukan dengan pemberian antibiotik sesuai indikasi dan juga perawatan luka dengan prinsip steril.

30

6. Sepsis Sepsis merupakan komplikasi serius akibat infeksi dimana kuman berkembang biak. Sepsis dapat menyebabkan kematian bagi pasien karena dapat menyebabkan kegagalan multi organ. 7. Embolisme pulmonal Embolsime dapat terjadi karena benda asing (bekuan darah, udara dan lemak) yang terlepas dari tempat asalnya terbawa di sepanjang aliran darah. Embolus ini bisa menyumbat arteri pulmonal yang akan mengakibatkan pasien merasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan sesak nafas, cemas dan sianosis. Intervensi keperawatan seperti ambulatori pasca operatif dini dapat mengurangi resiko embolus pulmonal. 8. Komplikasi Gastrointestinal Komplikasi pada gastrointestinal paling sering terjadi pada pasien yang mengalami pembedahan abdomen dan pelvis. Komplikasinya meliputi obstruksi intestinal, nyeri dan juga distensi abdomen.

2.3

Konsep Luka 2.3.1 Pengertian Luka Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan (Mansjoer, 2000:396). Menurut InETNA, luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada

31

kontinuitas atau kesatuan

jaringan tubuh yang biasanya disertai

dengan kehilangan substansi jaringan. Luka adalah terganggunya integritas normal dari kulit dan jaringan dibawahnya. Trauma dapat terjadi secara tiba-tiba atau disengaja, luka dapat terbuka atau tertutup, bersih atau

terkontaminasi, superficial atau dalam. (Kozier, 1992). Luka dapat digambarkan sebagai gangguan dalam kontinuitas sel ­ sel, kemudian diikuti dengan penyembuhan luka yang merupakan pemulihan kontinuitas tersebut(Brunner&Suddarth,1984) Ketika terjadi luka, beragam efek dapat terjadi : 1. Kehilangan segera semua atau sebagian fungsi organ 2. Respon stress simpatis 3. Hemoragi dan pembekuan darah 4. Kontaminasi bakteri 5. Kematian sel 2.3.2 Penyebab Luka Mekanik 1) Benda Tajam 2) Benda Tumpul 3) Ledakan atau tembakan Non Mekanik 1) Bahan Kimia 2) Thermik 3) Radiasi

32

2.3.3

Klasifikasi Luka Luka dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis sesuai dengan mekanisme cedera dan tingkat kontaminasi luka pada saat pembedahan. (Brunner&Suddarth). 2.3.3.1 Mekanisme cedera, luka dapat digambarkan sebagai insisi, kontunisi, laserasi, atau tusuk. 1) dibuat dengan potongan bersih menggunakan instrument tajam sebagai contoh; luka yang dibuat oleh ahli bedah dalam setiap prosedur operasi. Luka bersih (luka yang dibuat secara aseptik) biasanya ditutup dengan jahitan setelah semua pembuluh darah diligasi dengan cermat. 2) dibuat dengan dorongan tumpul dan ditandai dengan cedera berat bagaian yang lunak, hemoragi, dan pembengkakan. 3) adalah luka dengan tepi yang bergerigi, tidak teratur, seperti luka yang dibuat oleh kaca atau goresan kawat 4) diakibatkan oleh bukaan kecil pada kulit, sebagai contoh luka yang dibuat oleh peluru atau tusukan tusukan pisau. 2.3.3.2 Tingkatan kontaminasi luka dapat digambarkan dengan luka bersih, kontaminasi bersih, terkontaminasi atau kotor atau terinfeksi. 1) Luka bersih adalah luka bedah tidak terinfeksi dimana tidak terdapat inflamasi. Saluran pernapasan, percernaan, genital atau saluran kemih yang tidak terinfeksi tidak

33

dimasuki. Luka bersih biasanya dijahit tertutup; jika diperlukaan dengan sistem drainase tertutup (mis, Jackson-pratt) dipasangkan. Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah 1% - 5%. 2) Luka kontaminasi-bersih adalah luka bedah dimana saluran pernapasan, pencernaan, genital, atau perkemihan dimasuki dibawah kondisi yang terkontrol; tidak terdapat kontaminasi yang tidak lazim. Kemungkinan relatif infeksi luka : 3%-11%. 3) Luka terkontaminasi mencakup luka kontaminasi, baru, luka akibat kecelakaan, dan prosedur bedah dengan pelanggaran dalam teknik asepsis atau semburan banyak dari gastrointestinal, termasuk dalam kategori ini adalah insisi dimana terdapat inflamasi akut, nonpurulen. Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah 10% - 17%. 4) Luka kotor atau terinfeksi adalah luka dimana organisme yang menyebabkan infeksi pascaoperatif terdapat lapang operatif sebelum pembedahan. Hal ini mencakup luka traumatic yang sudah lama dengan jarimngan yang terlupas tertahan dan luka yang melibatkan infeksi klinis yang sudah ada atau visera yang mengalami perforasi. Kemungkinan relatif dari infeksi luka adalah lebih dari 27%.

34

Adapun klasifikasi luka yang lain (menurut sumber : pmrmateri.blogspot.com/2008/11/materi-pp-macam2gangguan.html48k diakses pada tanggal 23 Juni 2009) adalah : 2.3.3.3. Berdasarkan penyebab Mekanik : 1) Ekskoriasi atau luka lecet 2) Vulnus scisum atau luka sayat, contoh : tersayat benda tajam 3) Vulnus Abrasio atau luka terkikis, luka hanya bagian luar kulit/ belum mengenai pembuluh darah. 4) Vulnus laseratum atau luka robek, contoh: jaringan yang rusak dengan luka agak dalam; tergilas mesin. 5) Vulnus punctum atau luka tusuk, contoh: luka bagian luar kecil tetapi luka bagian dalam besar; terkena benda runcing. 6) Vulnus morsum atau luka karena gigitan binatang 7) Vulnus Contusum atau luka memar, contoh : cedera pada jaringan bawah kulit, terbentur benda tumpul. 8) Vulnus combustio atau luka bakar 9) Vulnus Sclopetorum atau luka tembak, contoh: luka (pinggir) kehitam-hitaman, tembakan peluru. Non Mekanik : 1) Bahan Kimia, Terkena zat kimia misal: air raksa 2) Thermik, Terkena sengatan listrik

35

3) Radiasi, Pengaruh sinar radiasi, misal sinar "X" 2.3.3.4. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan 1) Ekskoriasi 2) Skin avulsion 3) Skin loss 2.3.4. Berdasarkan derajat kontaminasi 1) Luka bersih a) Luka sayat elektif b) Steril, potensial terinfeksi c) Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus

respiratorius,traktus elimentarius, traktus genitourinarius. 2) Luka bersih tercemar a) Luka sayat elektif b) Potensi terinfeksi : spillage minimal, flora normal c) Kontak dengan orofaring, respiratorius, elimentarius dan genitourinarius d) Proses penyembuhan lebih lama 3) Luka tercemar a) Potensi terinfeksi: spillage dari traktus elimentarius, kandung empedu, traktus genito urinarius, urine b) Luka trauma baru : laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi. 4) Luka kotor a) Akibat proses pembedahan yang sangat terkontaminasi b) Perforasi visera, abses, trauma lama.

36

2.3.5. Tipe Penyembuhan luka Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka, dimana pembagian ini dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang. 2.3.5.1. Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan. Luka dibuat secara aseptik, dengan pengerusakan jaringan minimum, dan penutupan dengan baik seperti dengan surture, sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intensif pertama. Ketika luka sembuh melalui intensif pertama, jaringan granulasi tidak tampak dan pembentukan jaringan parut minimal. 2.3.5.2. Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Proses

penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka. Pada luka dimana terjadi pembentukan pus

(supurasi) atau dimana tepi luka tidak saling merapat, proses pembaikan kurang sederhana dan membutuhkan waktu lama. Ketika akses di insisi akan terjadi kolaps sebagian, tetapi sel-sel yang sudah mati dan masih sekarat

37

yang membentuk dindingnya masih dilepaskan kedalam kavitas. Jaringan ini terdiri atas karifer yang sangat halus, berdinding tipis dan kuncup yang nantinya membentuk jaringan ikat. Kuncup ini disebut granulasi, membesar sampai mereka memenuhi area yang ditinggalkan oleh jaringan rusak. Sel-sel disekitar kapiler mengubah bentuk bulat mereka menjadi panjang tipis dan saling menindih satu sama lain untuk membentuk jaringan parut atau sikatrik. Penyembuhan menjadi lengkap bila sel-sel kulit (epitelium) tumbuh diatas granulasi ini. Metode perbaikan ini disebut penyembuhan melalui granulasi. 2.3.5.3. Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe

penyembuhan luka yang terakhir. Jika luka dalam baik yang belum di suture atau terlepas dan kemudian disuture kembali nantinya, dua permukaan granulasi yang

berlawanan disambungkan. Hal ini mengakibatkan jaringan parut yang lebih dalam dan lebih luas.

38

2.4.

Fisiologi Penyembuhan Luka Beragam proses seluler yang saling tumpang tindih dan terus menerus memberikan konstribusi terhadap pemulihan luka: regenerasi sel, proliferasi sel, dan pembentukan kolagen. Respons jaringan terhadap cedera melewati beberapa fase: inflamasi, proliferatif, dan maturasi. 2.4.1. Fase Inflamasi Respons vaskular dan selular terjadi ketika jaringan terpotong atau mengalami cedera. Vasokontriksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan. Reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh vasodilatasi venula. Mikrosirkulasi kehilangan kemampuan vasokontriksinya karena norepinefrin dirusak oleh enzim intraselular. Juga, histamin dilepaskan, yang meningkatkan permeabilitas kapiler. Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti antibodi, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus spasium vaskular selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri. Netrofil adalah leukosit pertama yang bergerak ke dalam jaringan yang rusak. Monosit yang berubah menjadi makrofag menelan debris dan memindahkannya dari area tesebut. Antigen-antibodi juga timbul. Sel-sel basal pada pinggir luka mengalami mitosis, dan menghasilkan sel-sel anak yang bermigrasi.

39

Dengan aktivitas ini, enzim protealitik disekresikan dan menghancurkan bagian dasar bekuan darah. Celah antara kedua sisi luka secara progresif terisi, dan sisinya pada akhirnya saling bertemu dalam 24 sampai 48 jam. Pada saat ini, migrasi sel ditingkatkan oleh aktivitas sumsum tulang hiperplastik. 2.4.2. Fase Proliferatif Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaring-jaring untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran luka; kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru. Kolagen adalah komponen utama dari jaringan ikat yang digantikan. Fibroblas melakukan sintesis kolagen dan

mukopolisakarida. Dalam periode 2 sampai 4 minggu, rantai asam amino membentuk serat-serat dengan panjang dan diameter yang meningkat; serat-serat ini menjadi kumpulan bundle dengan pola yang tersusun baik. Sintesis kolagen menyebabkan kapiler untuk menurun jumlahnya. Selain itu, sintesis kolagen menurun dalam upaya untuk menyeimbangkan jumlah kolagen yang rusak. Sintesis dan lisis seperti ini mengakibatkan peningkatan kekuatan. Setelah 2 minggu, luka hanya memiliki 3% sampai 5% dari kekuatan kulit aslinya. Sampai akhir bulan, hanya 35% sampai 59% kekuatan luka tercapai. Tidak akan lebih dari 70% sampai 80% kekuatan dicapai kembali. Banyak vitamin, terutama vitamin

40

C, membantu dalam proses metabolisme yang terlibat dalam penyembuhan luka. 2.4.3. Fase Maturasi Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblast mulai

meninggalkan luka. Jaringan parut tampak besar, sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat. Hal ini, sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka.

Tabel 1.2. Fisiologi penyembuhan luka

Fase

Inflamatori (juga disebut fase lag atau eksudatif)

Waktu

1 ­ 4 hari

Peristiwa

terbentuk bekuan darah luka menjadi edema debris dari jaringan yang rusak dan bekuan darah difagositosis

Proliferatif (juga disebut fase fibroblastik atau jaringan ikat) Maturasi (juga disebut fase diferensiasi,

5 ­ 20 hari

terbentuk kolagen terbentuk jaringan granulasi kekuatan tegangan luka meningkat

21 hari sampai sebulan atau bahkan tahunan

fibroblast meninggalkan luka kekuatan tegangan luka meningkat

41

resorptif, remodeling atau plateau)

serat- serat kolagen disusun kembali dan dikuatkan untuk mengurangi ukuran jaringan parut

2.5.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan dinamis karena merupakan suatu kegiatan bioseluler dan biokimia yang terjadi saling berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka, namun dipengaruhi pula oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik

(InETNA,2004:13). 2.5.1. Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi : usia, status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imunologi, dan penyakit penyerta (hipertensi, DM,

Arthereosclerosis). 2.5.2. Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi : pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma jaringan (InETNA,2004:13).

42

Tabel 1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka

Faktor

Rasional

Pengkajian / intervensi keperawatan

Usia pasien

Makin tua pasien, makin kurang lentur jaringan

Lakukan tindakan terhadap semua jaringan dengan hati ­ hati

Penanganan jaringan

Penanganan yang kasar menyebabkan cedera dan memperlambat penyembuhan luka

Lakukan terhadap jaringan dengan cermat dan menyeluruh

Hemoragi

1. Akumulasi darah menciptakan ruang rugi juga sel - sel mati yang harus disingkirkan 2. Area menjadi media pertumbuhan infeksi

1. Pantau tanda ­ tanda vital 2. Amati letak insisi terhadap defisit volume

Hipovolemi

Volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokontroksi dan penurunan oksigen dan nutrient yang tersedia untuk penyembuhan luka

1. Pantau terhadap defisit volume (kerusakan sirkulasi) 2. Perbaikan dengan penggantian cairan sesuai yang diresepkan Tinggikan bagian yang sakit, pasang kompres dingin Ikuti pedoman untuk teknik

Factor lokal edema

Penurunan suplai oksigen melalui tekanan interstisial pada pembuluh darah

Teknik pembalutan

1. Memungkinkan invasi

43

yang tidak adekuat 1.terlalu kecil

dan kontaminasi bakteri 2. Mengurangi suplai oksigen yang membawa

pembalutan yang tepat

2.terlalu kencang Defisit nutrisi

nutrient dan oksigen 1. Sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa darah meningkat 2. Dapat terjadi penipisan protein ­ kalori 1. Pantau kadar glukosa darah 2. Berikan suplemen vit.A dan C sesuai yang diresepkan 3. Perbaiki kekurangan: dapat membutuhkan terapi nutrisi parental

Benda asing

Benda asing memperlambat penyembuhan

Jaga agar luka bebas dari benang balutan, bedak tabur, dan bedak dari sarung tangan

Defisit oksigen, insufisien oksigenasi jaringan

Oksigen yang tidak memadai dapat diakibatkan tidak adekuatnya fungsi paru dan kardiovaskular, juga vasokontriksi setempat.

Berikan dorongan untuk napas dalam , berbalik, batuk terkontrol

Penumpukan drainase

Sekresi yang menumpuk mengganggu proses penyembuhan

1. Pantau sistem drainase portable atau tertutup lainnya terhadap ketepatan fungsi 2. Lakukan tindakan

44

untuk membuang sekresi yang menumpuk Medikasi steroid Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan mengganggu respon inflamasi normal Overaktif pasien 1. Menghambat perapatan luka 2. Mengganggu penyembuhan yang diingikan Waspadalah terhadap kerja atau efek medikasi yang diterima pasien 1. Gunakan tindakan untuk menjaga tepi luka merapat; memplester, membebat, membalut 2. Anjurkan pasien untuk istirahat Gangguan sistemik 1. Syok hemoragik 2. Asidosis 3. Hipoksia 4. Gagal ginjal 5. Penyakit hepar 6. Sepsis Ini merupakan depresan fungsi sel yang secara langsung mempengaruhi penyembuhan luka 1. Ketahui sifat dari gangguan spesifik 2. Berikan pengobatan yang diresepkan 3. Pemeriksaan kultur dapat diindikasi untuk menentukan antibiotik yang tepat Status imunosupresi Pasien lebih rentan terhadap invasi bakteri/virus, mekanisme pertahanan tubuh mengalami kerusakan 4. Berikan perlindungan maksimum untuk mencegah infeksi. Batasi pengunjung yang menderita

45

demam, lakukan kewajiban mencuci tangan staf Stersor luka 1. Muntah 2. Manuver valsava 3. Batuk kuat 4. Mengejan Menghasilkan tegangan pada luka, terutama forsio 1. Berikan dorongan untuk sering berbalik dan ambulasi, dan berikan meditasi antiemetik sesuai yang diresepkan 2. Bantu pasien dalam membebat insisi

2.6.

Komplikasi Penyembuhan Luka Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya infeksi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah: hematoma, nekrosis jaringan lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar dan juga infeksi luka (InETNA,2004:6).

2.6.1. Hematoma (Hemoragi)

46

Balutan diinspeksi terhadap hemoragi pada interval yang sering selama 24 jam setelah pembedahan. Setiap perdarahan dalam jumlah yang tidak semestinya dilaporkan. Pada waktunya, sedikit perdarahan terjadi pada luka, dibawah kulit. Hemoragi ini biasanya berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan

pembentukan bekuan di dalam luka. Jika bekuan kecil, maka akan terserap dan tidak harus ditangani. Ketika bekuannya besar, dan luka biasanya agak menonjol, dan penyembuhan akan terhambat kecuali bekuan ini dibuang. Setelah beberapa suture dilepas oleh dokter, bekuan dievakuasi dan luka ditutup dengan kasa. Proses penyembuhan biasanya dengan granulasi, atau penutupan sekunder dapat dilakukan. 2.6.2. Infeksi (Sepsis Luka) Infeksi luka bedah adalah infeksi nosokomial kedua terbanyak di Rumah Sakit. Bagian yang paling penting dari pencegahan terletak pada penatalaksanaan luka dan teknik bedah yang sangat cermat. Selain itu, kebersihan dan disinfeksi lingkungan juga penting. Staphylococcus aureus menyebabkan banyak ineksi luka pascaoperatif. Infeksi lainnya dapat terjadi akibat Escherichia coli, Proteus vulgaris, Aerobacter aerogenes, Pseudomonas aeruginosa, dan organisme lainnya.

47

Bila

terjadi

proses

inflammatory,

hal

ini

biasanya

menyebabkan gejala dalam 36 sampai 48 jam. Frekuensi nadi dan suhu tubuh pasien meningkat, jumlah SDP meningkat, dan luka biasanya menjadi membengkak, hangat dan nyeri tekan dengan nyeri insisional. Tanda-tanda lokal mungkin tidak terdapat ketika infeksi sudah mendalam. Ketika diagnosis infeksi luka pada luka pascaoperaitf telah ditegakkan, ahli bedah biasanya melepaskan satu suture atau lebih dan, dibawah kewaspadaan aseptik, memisahkan luka dengan gunting tumpul atau hemostat. Ketika insisi telah dibuka, maka dipasang drain. Contoh infeksi dapat berupa: 1) Selulitis Selulitis adalah infeksi bakteri yang menyebar kedalam bidang jaringan. Semua manifestasi inflamasi tampak dalam hal ini, streptokokus sering menjadi organisme penyebab. Antibiotik sistemik biasa menunjukkan hasil yang efektif. Jika ekstremitas merupakan tempat terjadinya infeksi, meninggikan ekstremitas tersebut dapat mengurangi edema dependen dan pemasangan kompres hangat dapat meningkatkan sirkulasi darah setempat. Istirahat dapat mengurangi kontraksi otot yang dapat menyebabkan masuknya organisme ke dalam sistem sirkulasi.

48

2) Abses Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan pengumpulan pus (bakteri, jaringan nekrotik, dan SDP). Biasanya "titik" tempatnya terjadi nyeri tekan. Karena area tersebut mendapat tekanan, maka terdapat kecenderungan bagi infeksi untuk menumbuhkan bakteri yang dapat menyerang jaringan sekitarnya (selulitis) atau spasiumm vascular

(baktereimia, sepsis). Pengobatannya adalah drainase bedah atau eksisi dan pemberian antibiotik. Kekambuhan dapat dicegah dengan membiarkan luka yang ditangani mengalir. Istirahat, meninggikan bagian yang sakit, dan pemanasan sangat membantu. 3) Limfangitis Limfangitis adalah penyebaran infeksi dari selulitis atau abses ke sistem limfatik. Hal ini diatasi dengan istirahat dan antibiotik. 2.6.3. Dehisens dan Eviserasi Komplikasi dehisens (gangguan insisi atau luka bedah) dan eviserasi (penonjolan isi luka) terutama serius bila melibatkan insisi atau luka abdomen. Komplikasi ini terjadi akibat jahitan yang terlepas, infeksi, dan yang lebih sering lagi, setelah batuk yang kuat atau mengejan. Komplikasi ini juga dapat terjadi karena usia yang lanjut, status nutrisi yang buruk atau penyakit kardiovaskular pada pasien yang menjalani pemmbedahan abdomen.

49

Ketika tepi luka memisah dengan lambat, intestine dapat menonjol secara bertahap, atau tidak sama sekali, dan tanda pertama dapat berupa cairan peritoneal yang keluar mengandung darah (serosanguinosa) dan luka. Bila ruptur luka terjadi secara mendadak, koil usus dapat terdorong keluar dari abdomen. Sering terjadi, pasien mengatakan "sesuatu keluar dari perut saya". Eviserasi menyebabkan nyeri dan dapat berkaitan dengan muntah.

2.7. Penatalaksanaan/Perawatan Luka 2.7.1. Pengkajian Luka Luka dapat dikaji berdasarkan pada: 1) Kondisi luka a) Warna dasar luka : Slough (yellow) Necrotic tissue (black) Infected tissue (green) Granulating tissue (red) Epithelialising (pink) b) Lokasi ukuran dan kedalaman luka c) Eksudat dan bau d) Tanda-tanda infeksi e) Keadaan kulit sekitar luka : warna dan kelembaban f) Hasil pemeriksaan laboratorium yang mendukung 2) Status nutrisi klien : BMI, kadar albumin

50

3) Status vascular : Hb, TcO2 4) Status imunitas: terapi kortikosteroid atau obat-obatan

immunosupresan yang lain 5) Penyakit yang mendasari : diabetes atau kelainan vaskularisasi lainnya

2.8.

Manajemen Perawatan Luka Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antibiotik dan pengangkatan jahitan. 2.8.1. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi). 2.8.2. Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan kulit. Untuk melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik seperti: 1) Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2 menit). 2) Halogen dan senyawanya a) Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat,

berspektrum luas dan dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3 jam b) Povidon Yodium (Betadine, septadine dan isodine), merupakan kompleks yodium dengan polyvinylpirrolidone

51

yang tidak merangsang, mudah dicuci karena larut dalam air dan stabil karena tidak menguap. c) Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya untuk antiseptik borok. d) Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan senyawa biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid, tidak berwarna, mudah larut dalam air, tidak merangsang kulit dam mukosa, dan baunya tidak menusuk hidung. 3) Oksidansia a) Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan fungisida agak lemah berdasarkan sifat oksidator. b) Perhidrol (Peroksida air, H2O2), berkhasiat untuk

mengeluarkan kotoran dari dalam luka dan membunuh kuman anaerob. 4) Logam berat dan garamnya a) Merkuri klorida (sublimat), berkhasiat menghambat

pertumbuhan bakteri dan jamur. b) Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%. Sifatnya bakteriostatik lemah, mempercepat keringnya luka dengan cara merangsang timbulnya kerak (korts) 5) Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%).

52

6) Derivat fenol a) Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai antiseptik wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi dan luka bakar. b) Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci tangan. 2.8.3. Pembersihan Luka Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan, memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka; menghindari terjadinya infeksi; membuang jaringan nekrosis dan debris (InETNA, 2004:16). Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian luka. Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan

menghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Pemilihan cairan dalam pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka. Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal Saline. Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9,0 g dengan osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-

53

ion Na+ 154 mEq/l dan Cl- 154 mEq/l (InETNA,2004:16 ; ISO Indonesia,2000:18). Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam

pembersihan luka yaitu : 1) Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang jaringan mati dan benda asing. 2) Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati. 3) Berikan antiseptic 4) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesi lokal 5) Bila perlu lakukan penutupan luka (Mansjoer,2000: 398;400) 2.8.4. Penjahitan luka Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh per sekundam atau per tertiam. 2.8.5. Pembalutan Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom.

54

2.8.6. Pemilihan Balutan Luka Balutan luka (wound dressings) secara khusus telah mengalami perkembangan yang sangat pesat selama hampir dua dekade ini. Revolusi dalam perawatan luka ini dimulai dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh Professor G.D Winter pada tahun 1962 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tentang keadaan lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka. Menurut Gitarja (2002), adapun alasan dari teori perawatan luka dengan suasana lembab ini antara lain: 1) Mempercepat fibrinolisis Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan lebih cepat oleh netrofil dan sel endotel dalam suasana lembab 2) Mempercepat angiogenesis Dalam keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang lebih pembentukan pembuluh darah dengan lebih cepat. 3) Menurunkan resiko infeksi Kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering. 4) Mempercepat pembentukan Growth factor Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum corneum dan angiogenesis, dimana produksi komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam lingkungan yang lembab.

55

5) Mempercepat terjadinya pembentukan sel aktif. Pada keadaan lembab, invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini. Pada dasarnya prinsip pemilihan balutan yang akan digunakan untuk membalut luka harus memenuhi kaidah-kaidah berikut ini: 1) Kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang

dikeluarkan oleh luka (absorbing) 2) Kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resiko terjadinya kontaminasi mikroorganisme (non viable tissue removal) 3) Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration) 4) Melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan 5) Kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke seluruh bagian luka (Hartmann, 1999; Ovington, 1999). Perawatan luka dengan menggunakan NaCl 0,9% pada luka bersih yang di insisi atau luka operasi adalah sebagai berikut : 1) Terdapat set perawatan luka yang terdiri dari : bak instrumen steril yang di dalamnya terdapat kom kecil, kassa steril, pinset anatomis, handscoon; gunting dan plester. 2) Cairan NaCl 0,9%.

56

3) Setelah semua alat siap, cairan NaCl 0,9% dituangkan ke dalam kom kecil. 4) Masukkan kassa steril ke dalam kom kecil yang berisi cairan NaCl 0,9% lalu peras. 5) Bersihkan luka post operasi pasien dengan kassa yang telah dibasahi dengan NaCl0,9%. 6) Ambil kassa lain yang telah dibasahi dengan NaCl 0,9% dan diperas lalu di lebarkan dan diletakkan di atas luka sesuai dengan lebar atau panjang luka. 7) Letakkan kembali kassa steril kering di atas kassa tersebut. 8) Plester sesuai dengan kebutuhan. Mekanisme NaCl 0,9% dapat berperan penting dalam

proses penyembuhan luka : 1) Cairan NaCl 0,9% sangat baik digunakan pada fase inflamatori dalam proses penyembuhan luka karena pada keadaan lembab invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit, dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini. 2) Suasana lembab yang diciptakan dari kompres NaCl 0,9% dalam merawat luka dapat mempercepat terbentuknya stratum corneum dan angiogenesis untuk proses penyembuhan luka 3) Pada fase proliferatif dalam fisiologi penyembuhan luka, cairan NaCl 0,9% yang digunakan untuk perawatan luka sangat membantu melindungi granulasi jaringan agar tetap lembab sehingga membantu proses penyembuhan luka.

57

4) Cairan NaCl 0,9% yang digunakan pada perawatan luka post operasi dapat melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering, sehingga dapat mempercepat kesembuhan 5) NaCl 0,9% pada perawatan luka post operasi dapat menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan 6) Luka post operasi yang diberikan balutan kompres cairan NaCl 0,9% dapat memperkecil terjadinya infeksi karena kejadian infeksi pada perawatan luka dengan suasana lembab relatif lebih kecil dibandingkan dengan perawatan kering. 7) NaCl 0,9% tidak menghambat pertumbuhan jaringan sehingga dapat membantu proses penyembuhan pada luka post operasi. 8) Cairan NaCl 0,9% merupakan larutan isotonis yang tidak berbahaya untuk perawatan luka post operasi 2.8.7. Pemberian Antibiotik Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik. Pengobatan, antibiotik propilatik diberikan ketika diduga terjadi kontamanasi, atau ketika alat prostetik dimasukkan kedalam luka yang bersih. Luka yang terinfeksi tidak ditutup sampai segala upaya telah dilakukan untuk membuang semua jaringan devitalis dan terinfeksi, prosedurnya disebut debridemen. Sering kali drain kecil dipasang sebelum luka dijahit untuk

58

mencegah pengumpulan limfe dan darah dan memperlambat proses penyembuhan. 2.8.8. Pengangkatan Jahitan Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi, jenis pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap penderita dan adanya infeksi (Mansjoer,2000:398 ; Walton, 1990:44). Tabel 1.4. Waktu Pengangkatan Jahitan No 1 2 3 4 5 6 Kelopak mata Pipi Hidung, dahi, leher Telinga,kulit kepala Lengan, tungkai, tangan,kaki Dada, punggung, abdomen Lokasi 3 hari 3-5 hari 5 hari 5-7 hari 7-10 hari 7-10 hari Sumber. Walton, 1990:44 Waktu

59

2.9. Asuhan Keperawatan Luka 2.9.1. Pengkajian 1) Aktivitas/Istirahat Tanda 2) Sirkulasi Tanda : Hipotensi : Keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit

3) Integritas Ego Tanda Gejala 4) Eliminasi Tanda : Penurunan bising usus : Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan : Ansietas, ketergantungan.

5) Makanan/Cairan 6) Tanda : Anoreksia

7) Nyeri/Kenyamanan Tanda : Berbagai nyeri

8) Pernapasan Tanda Gejala : Batuk, sulit mengeluarkan sekret : Tirah baring yang lama.

2.9.2. Diagnosa Keperawatan 1) Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan adanya luka invasive 2) Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan daerah yang di insisi

60

3) Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya sayatan /luka operasi. 2.9.3. Intervensi Keperawatan 1) Monitor kesadaran 2) Tanda-tanda vital 3) Intake dan output 4) Ajarkan pasien tentang menajemen nyeri dengan teknik nafas dalam atau pengalihan nyeri. 5) Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hatihati, jangan sampai drain tercabut. 6) Perawatan luka operasi secara steril. 2.9.4. Evaluasi 1) Tidak timbul komplikasi. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat. 2) Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan. 3) Luka insisi normal tanpa infeksi. 4) Luka operasi baik

2.10. Teori Penyakit 2.10.1. Appendisitis 1). Pengertian Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

61

Apendisitis

merupakan

peradangan

pada

usus

buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007). 2). Klasifikasi Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua. 3). Anatomi Fisiologis Appendiks Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak berfungsi) yang melekat sepertiga jari. Terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat. Panjang apendiks rata-rata 6 ­ 9 cm. Lebar 0,3 ­ 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin. 4). Etiologi Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada

62

lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007). 5). Patofisiologi Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus. 6). Manifestasi Klinik Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8° Celsius.

63

Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. (Anonim, Apendisitis, 2007). 7). Pemeriksaan Diagnostik Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya. Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut, tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. Jika sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney. Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.

64

Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. 8). Penatalaksanaan Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai

pembedahan dilakukan. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat

apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. 2.10.2. Ganglion 1). Pengertian Kista Ganglion atau biasa disebut Ganglion merupakan kista yang terbentuk dari kapsul suatu sendi atau sarung suatu tendo. Kista ini berisi cairan kental jernih yang mirip dengan jelly yang kaya protein. Kista merupakan tumor jaringan lunak yang paling sering didapatkan pada tangan. Ganglion biasanya melekat pada sarung tendon pada tangan atau pergelangan tangan atau

65

melekat pada suatu sendi; namun ada pula yang tidak memiliki hubungan dengan struktur apapun. Kista ini juga dapat ditemukan di kaki. Ukuran kista bervariasi, dapat bertambah besar atau mengecil seiring berjalannya waktu dan bahkan menghilang. Selain itu kadang dapat mengalami inflamasi jika teriritasi. Konsistensi dapat lunak hingga keras seperti batu akibat tekanan tinggi cairan yang mengisi kista sehingga kadang didiagnosis sebagai tonjolan tulang. Ganglion timbul pada tempat-tempat berikut ini: a). Pergelangan tangan ­ punggung tangan ("dorsal wrist ganglion"), pada telapak tangan ("volar wrist ganglion"), atau kadang pada daerah ibu jari. Kista ini berasal dari salah satu sendi pergelangan tangan, dan kadang diperberat oleh cedera pada pergelangan tangan. b). Telapak tangan pada dasar jari-jari ("flexor tendon sheath cyst"). Kista ini berasal dari saluran yang menjaga tendon jari pada tempatnya, dan kadang terjadi akibat iritasi pada tendon tendinitis. c). Bagian belakang tepi sendi jari ("mucous cyst"), terletak di sebelah dasar kuku. Kista ini dapat menyebabkan lekukan pada kuku, dan dapat menjadi terinfeksi dan menyebabkan infeksi sendi walaupun jarang. Hal ini biasanya disebabkan arthritis atau taji tulang pada sendi.

66

2). Etiologi Penyebab ganglion tidak sepenuhnya diketahui, namun ganglion dapat terjadi akibat robekan kecil pada ligamentum yang melewati selubung tendon atau kapsul sendi baik akibat cedera, proses degeneratif atau abnormalitas kecil yang tidak diketahui sebelumnya. 3). Patofisiologi Kista ganglion dapat berupa kista tunggal ataupun berlobus. Biasanya memiliki dinding yang mulus, jernih dan berwarna putih. Isi kista merupakan musin yang jernih dan terdiri dari asam hialuronik, albumin, globulin dan glukosamin. Dinding kista terbuat dari serat kolagen. Kista dengan banyak lobus dapat saling berhubungan melalui jaringan duktus. Normalnya, sendi dan tendon dilumasi oleh cairan khusus yang terkunci di dalam sebuah kompartemen kecil. Kadang, akibat arthritis, cedera atau tanpa sebab yang jelas, terjadi kebocoran dari kompartemen tersebut. Cairan tersebut kental seperti madu, dan jika kebocoran tersebut kecil maka akan seperti lubang jarum pada pasta gigi ­jika pasta gigi ditekan, walaupun lubangnya kecil dan pasta di dalamnya kental, maka akan mengalir keluar- dan begitu keluar, tidak dapat masuk kembali. Hal ini bekerja hampir seperti katup satu arah, dan akan mengisi ruang di luar area lubang. Ketika kita menggunakan tangan kita untuk bekerja, sendi akan meremas dan menyebabkan tekanan yang besar pada kompartemen yang

67

berisi cairan tersebut- ini dapat menyebabkan benjolan dengan tekanan yang besar sehingga sekeras tulang. Cairan pelumas mengandung protein khusus yang

menyebabkannya kental dan pekat dan menyulitkan tubuh untuk me-reabsorbsi jika terjadi kebocoran. Tubuh akan mencoba untuk menyerap kembali cairan tersebut, tapi hanya sanggup menyerap air yang terkandung di dalamnya sehingga membuatnya lebih kental lagi. Biasanya, pada saat benjolan cukup besar untuk dilihat, cairan tersebut telah menjadi sekental jelly. 4). Tanda dan Gejala Meskipun kista ganglion umumnya asimtomatik, gejala yang muncul dapat berupa keterbatasan gerak, parestesia dan kelemahan. Kista ganglion umumnya soliter, dan jarang

berdiameter di atas 2 cm. Dapat melibatkan hampir semua sendi pada tangan dan pergelangan tangan. Dorsal wrist, volar wrist, volar retinakular dan distal interfalangeal merupakan kista ganglion yang paling sering ditemukan pada tangan dan pergelangan tangan. Ganglion terbesar terletak di belakang lutut dan biasa disebut Kista Baker. Ganglion umumnya tidak nyeri, namun dapat menyebabkan nyeri ketika digerakkan atau menyebabkan masalah mekanis (terbatasnya ruang gerak) tergantung dari lokasi ganglion tersebut. Kista ganglion memiliki kecenderungan untuk membesar dan mengecil, kemungkinan karena cairan yang terdapat dalam kista

68

terserap kembali ke dalam sendi atau tendon untuk kemudian diproduksi kembali. Masalah terbesar dengan ganglion adalah ketakutan pasien bahwa benjolan tersebut merupakan sesuatu yang gawat. 5). Penatalaksanaan Terdapat tiga pilihan utama penatalaksanaan ganglion. Pertama, membiarkan ganglion tersebut jika tidak menimbulkan keluhan apapun. Setelah diagnosis ditegakkan dan pasien diyakinkan bahwa massa tersebut bukanlah kanker atau hal lain yang memerlukan pengobatan segera, pasien diminta untuk membiarkan dan menunggu saja. Jika ganglion menimbulkan gejala dan ketidaknyamanan ataupun masalah mekanis, terdapat dua pilihan penatalaksanaan: aspirasi (mengeluarkan isi kista dengan menggunakan jarum) dan pengangkatan kista secara bedah. Aspirasi melibatkan pemasukan jarum ke dalam kista dan mengeluarkan isinya setelah mematirasakan daerah sekitar kista dengan anestesi lokal. Karena diperkirakan bahwa inflamasi berperan dalam produksi dan akumulasi cairan di dalam kista, obat anti inflamasi (steroid) kadang diinjeksikan ke dalam kista sebagai usaha untuk mengurangi inflamasi serta mencegah kista tersebut terisi kembali oleh cairan kista. Jika kista rusak, menimbulkan nyeri, masalah mekanis dan komplikasi saraf (hilangnya fungsi motorik dan sensorik akibat tekanan ganglion pada saraf) atau timbul kembali setelah aspirasi,

69

maka eksisi bedah dianjurkan. Hal ini melibatkan insisi di atas kista, identifikasi kista, dan mengangkatnya bersama dengan sebagian selubung tendo atau kapsul sendi dari mana kista tersebut berasal. Lengan kemudian dibalut selama 7-10 hari. Eksisi kista ini biasanya merupakan prosedur minor, tapi dapat menjadi rumit tergantung pada lokasi kista dan apakah kista tersebut melekat pada struktur lain seperti pembuluh darah, saraf atau tendon. 2.10.3. FAM (Fibroadenoma Mammae) 1). Pengertian Fibroadenoma Mammae ( FAM ) adalah suatu kelainan struktur anatomis yang disebabkan oleh tumbuhnya jaringan, atau neoplasma jinak yang terutama pada wanita muda

(R.Sjamsuhidajat, 1998 : 541) FAM adalah tumor jinak dan berbatas tegas dengan konsistensi pengangkatan padat tumor dan kenyal, penanganannya specimen diperiksa dengan untuk

kemudian

mengetahui adanya keganasan ( Sylvia A. Price, 1995 : 1141 ). 2). Etiologi Penyebab FAM belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa yang mempengaruhi timbulnya tumor ini antara lain : a). Konstitusi genetika Adanya kecenderungan pada keluarga tertentu yang menderita kanker. b). Pada kembar monozigot terdapat kanker yang sama.

70

Terdapat kesamaan lateralis kanker payudara keluarga dekat dari penderita kanker payudara. c). Pengaruh hormone FAM umumnya pada wanita, biasanya ukuran akan meningkat pada saat menstruasi atau pada saat hamil karena produksi hormone estrogen meningkat. Pada laki-laki kemungkinannya sangat rendah. d). Pengobatan hormonal banyak yang memberikan hasil pada kanker. e). Makanan Makanan yang banyak mengandung lemak dan zat kimia. f). Radiasi daerah dada Radiasi dapat menyebabkan mutasi gen. 3). Patofisiologi Fibroadenoma mamae bukan merupakan satu-satunya penyakit pada payudara, namun insiden kasus tersebut tinggi, tergantung pada jaringan payudara yang terkena, estrogen dan usia permulaan. Tumor dapat terjadi karena mutasi dalam DNA sel. Penimbunan mutasi merupakan pemicu munculnya tumor. Penimbunan mutasi di jaringan fibrosa dan jaringan epitel dapat menyebabkan proliferasi sel yang abnormal sehingga akan tampak tumor yang membentuk lobus ­ lobus hal ini dikarenakan terjadi gangguan pada nukleus sel yang menyebabkan sel kehilangan fungsi deferensiasi yang disebut anaplasia. Dengan rangsangan

71

estrogen fibroadenoma mamae ukurannya akan lebih meningkat hal ini terlihat saat menstruasi dan hamil. Nyeri pada payudara disebabkan karena ukuran dan tempat pertumbuhan fibroadenoma mamae. Karena fibroadenoma mamae tumor jinak maka

pengobatan yang dilakukan adalah dengan mengangkat tumor tersebut, untuk mengetahui apakah tumor itu ganas atau tidak tumor yang sudah di ambil akan di bawa ke laboratorium patologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 4). Manifestasi Klinik Tanda gejala fibrosis mamae khas berupa daerah yang nyeri, lunak (terutama menjelang menstruasi), biasanya berbatas tegas dengan konsistensi yang meningkat. Sering kepadatan dan ketegangan berkurang setelah menstruasi, tidak terdapat tandatanda bahwa kelainan ini merupakan predisposisi kanker. Melalui pemeriksaan mikroskopi fibroadenoma mammae akan terlihat : a). Tampak jaringan tumor yang berasal dari masenkim (jaringan ikat fibrosa) dan berasal dari epitel (kelenjar epitel) yang berbentuk lobus-lobus. b). Lobuli terdiri dari jaringan ikat kolagen dan saluran kelenjar yang berbentuk bular (perikanalikuler) atau bercabang

(intrakanalikuler) c). Saluran tersebut dibatasi sel-sel yang berbentuk kuboid atau kolumnar pendek uniform.

72

5). Pemeriksaan penunjang a). Mammography Pemeriksaan mammografy terutama berperan pada payudara yang mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglanduler yang relatif sedikit. Pada mammografy, keganasan dapat memberi tanda-tanda primer dan skunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign (Stelata), adanya perbedaan yang nyata anatara ukuran klinis dan radiologis, adanya mikroklasifikasi, adanya spikulae, dan distensi pada struktur arsitektur payudara. Tanda skunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papila dan areola, adanya bridge of tumor, keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mamma, dan adanya metastasis ke kelenjar (gambaran ini tidak khas) (Mansjoer A, 2000:284). Mammografi di gunakan untuk mendiagnosis wanita dengan usia tua sekitar 60 tahun atau 70 tahun. b). Ultrasonography (USG) payudara Untuk mendeteksi luka- luka pada daerah- daerah padat pada payudara usia muda karena fibroadenoma pada wanita muda tebal, sehingga tidak terlihat dengan baik jika menggunakan mammografi.

73

Pemeriksaan ini hanya membedakan antara lesi atau tumor yang solid dan kistik. Pemeriksaan gabungan antara USG dan mammografi memberikan ketepatan diagnostik yang lebih tinggi (Mansjoer A, 2000:284). c). Aspirasi Mengambil kandungan breast yang menggunakan Fine Needle Aspiration Cytologi (FNAC). Pada FNAC akan diambil sel dari fibroadenoma mammae dengan menggunakan

penghisap berupa sebuah jarum yang dimasukkan pada suntikan. Dari alat tersebut akan diperoleh sel yang terdapat pada fibroadenoma dan hasil pengambilan akan di kirim ke laboratorium patologi untuk diperiksa dibawah mikroskop. d). Xeroradiography Sama dengan mammography kecuali adanya suatu plat aluminium dengan suatu pelapis selenium bermuatan listrik digunakan pada tempat dimana tempatkan film hitam putih sinar X mammography. e). Thermograpy Merupakan teknik mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal dari payudara dengan menggunakan sinar infra merah. f). Biopsi Payudara Merupakan suatu cara untuk meyakinkan apakah tumor jinak atau tidak, berbahaya atau tidak berbahaya dengan

74

mengambil jaringan dari penderita secara bedah untuk dilakukan pemeriksaan mikroskopik. 6). Penatalaksanaan a). Biopsi eksisi Dilaksanakan dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya bila tumor <5cm (Mansjoer A, 2000:284). Eksterfasi FAM adalah suatu tindakan pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat tumor mammae (Barbara C. Long, 1996:511). Terapi dari fibroadenoma mammae dengan operasi pengangkatan tumor ini tidak akan merubah bentuk payudara, tetapi hanya akan meninggalkan jaringan parut yang nanti akan diganti oleh jaringan normal secara perlahan. b). Biopsi insisi Dengan mengangkat sebagian jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat, dilakukan untuk tumor yang inoperabel atau lebih besar dari 5 cm (Mansjoer A, 2000:284). Tujuan dilakukan tindakan pembedahan ini adalah untuk menegakkan diagnosa, untuk memperkecil penyebaran tumor, untuk mengetahui apakah tumor ini ganas atau tidak dengan cara pemeriksaan Patologi Anatomi terlebih dahulu.

75

2.10.4.

Nevus 1). Pengertian Nevus adalah istilah umum yang menggambarkan adanya bercak berpigmen pada kulit. Nevus terdiri dari bermacam-macam jenis, antara lain yang disebut nevus melanositik dan giant hairy nevus. Nevus jenis ini merupakan kelainan yang jinak. Nevus melanositik oleh orang awam dikenal sebagai istilah "tahi lalat" (nevus pigmentosus). Giant hairy nevus menjadi penting karena sekitar 10-15% dapat berkembang menjadi ganas. 2). Penyebab Nevus adalah tumor yang paling sering dijumpai pada manusia, merupakan tumor yang berasal dari sel-sel melanosit. Nevus umumnya muncul saat lahir atau segera setelah lahir, terbanyak pada dewasa muda, dan menurun pada orang tua. 3). Gejala Pada dasarnya nevus tidak memberikan gejala apa-apa jika memang nevus itu jinak. Namun kita perlu mengenal tandatandanya jika nevus itu ganas antara lain: ulserasi (luka) dan perdarahan spontan, membesar dan warna lebih gelap, pigmen menyebar dari ke kulit sekitarnya, di sekitarnya ada lesi-lesi yang lebih kecil mengelilinginya, inflamasi tanpa didahului trauma, nyeri dan gatal.

76

4). Penatalaksanaan Nevus umumnya tidak memerlukan terapi kecuali bila pasien menginginkan nevus diangkat atau dokter mencurigai perubahan kearah keganasan. Terapi yang dipilih adalah eksisi sederhana Nevus yang dicurigai ganas harus dibiopsi dan sekalian diangkat/ dioperasi. 2.10.5. Hernia 1). Pengertian Secara umum hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga dari berbagai organ internal melalui pembukaan abnormal atau kelemahan pada otot yang mengelilinginya dan kelemahan pada jaringan ikat suatu organ tersebut (Griffith, 1994). Hernia inguinalis adalah penonjolan hernia yang terjadi pada kanalis inguinal (lipat paha). Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ dan tempatnya yang normal malalui sebuah defek konsenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246). 2). Klasifikasi a). Berdasarkan letaknya : Inguinal. Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi : indirek/lateralis dan direk/medialis. Hernia indirek/lateralis terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Ini umumnya terjadi pada pria daripada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan

77

anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut atau kelingsir atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Hernia direk/medialis, hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi ireponibilis. Femoral : Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria. Ini mulai

78

sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini. Umbilikal : Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena masalah pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem atau kegemukan. Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang lemah. b). Berdasarkan terjadinya : Hernia bawaan atau kongenital Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis (indirek): Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui

79

kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak menutup. Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita. Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat).

c). Menurut sifatnya, hernia dapat disebut : Hernia reponsibel/reducible, yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Hernia ireponsibel, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peri tonium kantong hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta (accretus =

80

perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus. Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio =

terperangkap, carcer = penjara), yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis "hernia inkarserata" lebih

dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai "hernia strangulata". Hernia strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera. 2.10.6. Struma 1) Pengertian Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme. 2) Anatomi Kelenjar tyroid mempunyai dua lobus, struktur yang kaya vaskularisasi, lobus terletak di sebelah lateral trakea tepat

81

dibawah laring dan dihubungkan dengan jembatan jaringan tiroid, yang disebut isthmus, yang terlentang pada permukaan anterior trakea. Secara mikroskopik, tiroid terutama terdiri atas folikel steroid, yang masing ­ masing menyimpan materi koloid dibagian pusatnya. Folikel memproduksi, menyimpan dan mensekresi kedua hormon utama T3 (triodotironin) dan T4 (tiroksin). Jika kelenjar secara aktif mengandung folikel yang besar, yang masing ­ masing mempunyai jumlah koloid yang disimpan dalam jumlah besar sel ­ selnya, sel ­ sel parafolikular mensekresi hormon kalsitonin. Hormon ini dan dua hormon lainnya mempengaruhi metabolisme kalsium. 3) Etiologi Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain : a) Defisiensi iodium Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan. b) Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid. c) Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang kedelai)

82

d) Penghambatan sintesa hormon oleh obat ­ obatan (misalnya thiocarbamide, sulfonylurea dan litium). 4) Patofisiologi Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin

membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan

hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid. 5) Manifestasi Klinik Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus

83

dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan 6) Penatalaksanaan a) Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di daerah endemik sedang dan berat. b) Edukasi Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium. c) Penyuntikan lipidol Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun diberi 0,2 cc ­ 0,8 cc. d) Tindakan operasi Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya : penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan yang pasti akan dicurigai.

84

2.10.7.

Fraktur 1) Pengertian Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddart, 2000) 2) Jenis fraktur g) Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. h) Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang. i) Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit. j) Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. k) Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang

patah,sedang sisi lainnya membengkak. l) Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang. m) Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen. n) Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam. o) Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang). p) Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

85

3) Etiologi a) Trauma b) Gerakan pintir mendadak c) Kontraksi otot ekstem d) Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma 4) Manifestasi Klinik a) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema. b) Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah. c) Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. d) Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. e) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit 5) Pemeriksaan Penunjang a) Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya. b) Pemeriksaan jumlah darah lengkap. c) Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai. d) Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal.

86

6) Penatalaksanaan a) Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula. Salah satu jenisnya adalah ORIF (open reduction internal fixation) apabila diartikan dari masing-masing kata adalah sebagai berikut; Open berasal dari bahasa Inggris yang berarti buka, membuka, terbuka, Reduction berasal dari bahasa Inggris yang berarti koreksi patah tulang, Internal berasal dari bahasa Inggris yang berarti dalam, Fixation berasal dari bahasa Inggris yang berarti keadaan ditetapkannya dalam satu kedudukan yang tidak dapat berubah. Jadi dapat disimpulkan sebagai koreksi patah tulang dengan jalan membuka dan memasang suatu alat yang dapat membuat fragmen tulang tidak dapat bergerak. b) Imobilisasi fraktur Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna c) Mempertahankan dan mengebalikan fungsi. Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri Status neurovaskuler (misal: peredaran darah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau

87

Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan peredaran darah atrofi disuse dan meningkatkan

7) Komplikasi a) Malunion : patah tulang telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. b) Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. c) Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

2.11. Indikator Mutu Klinik Indikator mutu klinik adalah pengukuran langsung dan tidak langsung suatu peristiwa atau kondisi mutu klinik di rumah sakit. Atau diartikan juga sebagai ukuran kuantitas sebagai pedoman untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas asuhan pasien dan berdampak terhadap pelayanan. Karakteristik indikator yang harus dipenuhi adalah : 1. Sahih (Valid) 2. Dapat dipercaya (Reliabel) 3. Peka (Sensitif) 4. Spesifik (Spesifik) 5. Berhubungan (Relevan)

88

Beberapa Indikator Mutu Klinik Keperawatan yang dilaunching oleh Direktorat Keperawatan pada tahun 2009 adalah : 1. Safety patient yang terdiri dari : kejadian pasien jatuh, infeksi nosokomial karena jarum infus dan luka operasi bersih, kesalahan pemberian obat dan angka dekubitus setelah pasien dirawat. 2. Kenyamanan dan kepuasan yang antara lain terdiri dari : privacy, ketidakbisingan, pelayanan yang memuaskan, dan kebersihan. 3. Kemandirian yang terdiri dari : mandi/menyikat gigi, berpakaian, melakukan aktifitas, makan per oral, minum per oral, eliminasi, memelihara fungsi pernafasan, manajemen nyeri. 4. Kecemasan yang terdiri dari : pemberian pendidikan kesehatan kepada pasien, pendidikan kesehatan dapat membantu menurunkan

kecemasan. Indikator ­ indikator itu dilaporkan oleh perawat di ruang perawatan setiap hari dengan blangko khusus indikator mutu klinik keperawatan. Setiap hari Perawat Supervisi mengumpulkan data-data itu, kemudian pada akhir bulan data itu ditabulasi dan dihitung, untuk kemudian dievaluasi kinerja pelayanan keperawatan berdasarkan indikator tersebut.

89

2.12. Penelitian Terkait Penelitian yang terkait dan berhubungan dengan penelitian yang akan diteliti oleh peneliti, yaitu : 1. Yasir Arifin dari Medan, Sumatera Utara dalam penelitiannya yang berjudul hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial terhadap cara perawatan luka pasien post operatif appendik di RSUD Sr. Djoelham Binjai. Dalam penelitian tersebut, variabel independennya adalah tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial, sedangkan variabel dependennya adalah cara perawatan luka post operatif appendik. Peneliti mengatakan tertarik dengan hal tersebut karena selama menjalani praktek di rumah sakit, masih banyak perawat yang mengabaikan teknik steril. Oleh karena itu diangkatlah masalah tersebut untuk dijadikan penelitian. Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial terhadap cara perawatan luka pasien post operatif appendik. 2. Nurul Istikomah dari Semarang, Jawa Tengah dalam penelitiannya yang berjudul perbedaan perawatan luka dengan menggunakan povodine iodine 10% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka pada pasien post operasi prostatektomi di ruang anggrek RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perawatan luka dengan menggunakan Povodine Iodine 10% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka pada pasien post operasi prostatektomi di Ruang Anggrek RSUD Tugurejo Semarang.

90

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra-eksperimen (Pre-experiment design) dengan rancangan Pretest­Postest yang dilaksanakan pada 10 pasien post operasi prostatektomi yang dirawat di Ruang Anggrek RSUD Tugurejo Semarang. Analisa data yang digunakan uji beda statistik parametrik yaitu Independent t-test untuk mengetahui perbedaan perawatan luka dengan menggunakan Povodine Iodine 10% dengan menggunakan NaCl 0,9% terhadap penyembuhan luka dengan memenuhi syarat kelayakannya yaitu p value dengan nilai 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan luka post operasi antara sebelum dan sesudah diberi betadine 10% ada perbedaan yang bermakna. Perawatan luka post operasi antara sebelum dan sesudah diberi NaCl 0,9% tidak ada perbedaan yang bermakna. Hasil independent t-test menunjukkan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan proses penyembuhan luka yang signifikan antara pasien post operasi prostatektomi yang diberikan perawatan luka dengan menggunakan betadine 10% dan NaCl 0,9% dengan p value 0,040. Maka betadine 10% lebih baik dari NaCl 0,9% didalam proses penyembuhan luka post operasi prostatektomi. Ada perbedaan proses penyembuhan antara luka post operasi prostatektomi yang dirawat dengan menggunakan Betadine 10% dan NaCl 0,9%. 3. Uli Rimadhani Masruroh dari Semarang, Jawa Tengah dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh penggunaan larutan NaCl 0,9% dengan larutan betadine 10% terhadap proses penyembuhan luka post operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Semarang.

91

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan larutan NaCl 0,9% dengan Betadine 10% terhadap proses

penyembuhan luka post operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa Semarang. Desain penelitian ini adalah Quasi Experiment dengan Cohort Prospektif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 40 responden yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu 20 responden dilakukan perawatan dengan Betadine 10% sebagai kelompok kontrol dan 20 responden dilakukan perawatan dengan NaCl 0,9% sebagai kelompok perlakuan. Data dikumpulkan melalui lembar observasi yang berisi 4 pertanyaan. Untuk mengetahui pengaruh antara peggunaan larutan Betadine 10% dan NaCl 0,9% terhadap proses penyembuhan luka digunakan analisis statistik dengan Uji-t

Independent. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap pengaruh penggunaan Larutan NaCl 0,9% dengan Betadine 10% setelah dilakukan intervensi pada luka post operasi yang ditunjukkan dengan nilai Sig (2-tailed) = 0,687 lebih besar dari #945; = 0,05. Kesimpulannya penyembuhan luka merupakan proses fisiologis yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : faktor sistemik, individu, dan lokal. Dalam perawatan luka post operasi, NaCl 0,9% memiliki pengaruh yang relatif sama dengan Betadine 10% sehingga NaCl 0,9% dapat digunakan sebagai larutan pengganti Betadine 10%. Dari hasil penelitian diharapkan ada penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan hasil penelitian dengan pengelompokan responden yang lebih baik.

Information

84 pages

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

301410

You might also be interested in

BETA
Microsoft Word - PENELITIAN finalbgt.doc
Pedoman OK.indd