Read Microsoft Word - SINAR TANI-APPO Badan Litbang Pertanian.doc text version

APPO Badan Litbang Pertanian Hasilkan Kompos Berkualitas dengan Biaya Minim

Oleh: Prasetyo Nugroho - BBP Mektan

(naskah ini disalin sesuai aslinya untuk kemudahan navigasi) (Sumber : SINAR TANI Edisi 22 ­ 28 September 2010)

untuk memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi leblh subur sekaligus melengkapi pupuk kimia yang saat ini harganya sangat mahal bagi petani. Ada dua metode pengolahan kompos yaitu secara aerobik dan anaerobik. Menurut Corbit (1998) terdapat 3 (tiga) metode/sistem pengkomposan secara aerobik, yaitu: sistem tumpukan (open windrow), sistem areasi mekanis dan sistem tunnel. Ketiga sistem pengkomposan secara aerobik ini dapat dilakukan dalam beberapa cara dari mulai penggunaan teknologi yang sederhana mengandalkan kondisi alam sebagai kontrol lingkungan sampai dengan pengkomposan secara mekanisasi penuh.

P

ada saat ini limbah pertanian seperti jerami, blotong jagung maupun rumput cukup banyak dan belum dimanfaatkan petani, padahal sangat berpotensi untuk dijadikan pupuk organik (kompos). Pupuk organik sangat diperlukan

limbah

masuk

McsinPcncacah Pupuk organik MesinPengemas

Tumpukan (MesinPembalik) MesinPengayak

(a) Aisin pengolah kompos komplit

(b)Alsin pencacah bahan organik (insitu)

Gambar 1. Perbandingan aplikasi alat mesin pengolah pupuk organik baik yang komplit proses dan sederhana (insitu)

Pengkomposan sistem open windrow merupakan sistem yang lebih murah biaya investasinya. Pada umumnya sistem pengkomposan dengan cara ini pada kapasitas keil dapat dilakukan oleh tenaga manusia dengan bantuan alat-alat

sederhana seperti cangkul, parang, plastik dll. Namun pada skala sedang/besar, kemungkinan introduksi alsin dibutuhkan. Secara umum, tahapan pengkomposan dengan sistem tumpukan dan kemungkinan aplikasi penggunaan alsin adalah sebagai berikut: (1) pemilahan bahan: bertujuan untuk memisahkan bahan organik dan non-organik. Pemisahan terbaik sebaiknya dilakukan pada tingkatan awal produksi sampah; (2) pengecilan ukuran: bertujuan untuk memperluas daerah kontak dengan enzim bahan perombak. Pada tahapan ini terjadi proses hidrolisa membuka dinding-dinding sel bahan organik. Setelah itu bahan-bahan tersebut dapat dihancurkan. Introduksi alsin pencacah/penghancur sampah dapat dilakukan; (3) membuat tumpukan dan membalik kompos: yaitu bahan hasil cacahan ditumpuk menggunung dan memanjang dengan ketinggian tumpukan 1,0-1,5 m dan panjang tumpukan dapat mencapai 4-5 m. Jarak antara tumpukan disesuaikan dengan kemudahan bergeraknya mesin atau pekerja. Pembalikan kompos dilakukan seminggu sekali sambil dilakukan pemindahan kompos ke alur berikutnya disesuaikan dengan umur kompos. Pada tahapan ini, dapat digunakan excavator, namun pada skala yang lebih kecil alsin pembalik kompos yang lebih sederhana dapat diintroduksikan; (4) pengeringan: dapat dilakukan untuk menurunkan kadar air. Mesin pengering tipe rotary (drum berputar) dengan pemanas matahari atau dengan tungku barangkali menjadi alternatif yang dapat digunakan; (5) pengayakan: kompos yang telah matang kemudian diayak untuk mendapatkan ukuran yang seragam dan memisahkan bahan-bahan yang kemungkinan terbawa pada saat pengkomposan seperti batu kerikil. Introduksi alsin pengayak dapat dilakukan, namun alsin untuk tahapan ini dapat menggunakan alsin penghancur sampah dengan cara mengganti konkaf screen yang terpasang pada drum pencacah bagian bawah; (6) pengepakan: kompos yang telah matang dapat langsung dikemas untuk memudahkan pemasaran atau pemindahan barang setelah menjadi kompos. Pengepakan dilakukan untuk menjaga mutu kompos agar tidak terjadi peningkatan kadar air dan penguapan bahan-bahan organik lainnya. lntroduksi alsin pengepak berupa kotak penimbang yang dilengkapi mesin pembungkus karung dapat dilakukan pada tahapan ini; (7) pembuatan granul: kompos dijual dalam bentuk granul dengan menambahkan bahan aditif lainnya untuk meningkatkan nilai tambah. lntroduksi alsin pembuat granul dapat diaplikasikan. Untuk pembuatan pupuk organik di tingkat petani, tidak semua peralatan tersebut diaplikasikan bahkan pembuatan pupuk organik di atas lahan pertanian (sawah petani) atau yang terkenal dengan pembuatan pupuk organik

secara in situ akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain: simple dan cukup sederhana untuk dilakukan; lebih efisien dan ekonomis karena tidak diperlukan transportasi bahan baku dan hasil komposnya; tidak memerlukan tempat khusus, karena bisa langsung di lahan petani. Adapun alat mesin yang biasa digunakan dalam proses pembuatan pupuk organik secara in situ adalah mesin pencacah (yang bersifat portable) atau yang sering disebut APPO (Alat Pengolah Pupuk Organik), keranjang sebagai bak fermentasi, mulsa penutup tumpukan dan cangkul sebagai alat pengaduk dan pembalik tumpukan. Oleh karena itu sebenarnya kebutuhan / dukungan alsintan untuk pengolahan pupuk organik in situ adalah cukup sederhana yaitu mesin pencacah bahan organik (chooper) saja berikut perlengkapannya seperti terlihat pada Gambar 2 (b).

Kinerja APPO Secara keseluruhan, dukungan alsintan dalam proses pengolahan limbah menjadi kompos, ditunjukkan oleh Gambar 3, yaitu: mesin pencacah bahan limbah organik (Gambar 3a), rumah kompos (Gambar 3b), mesin pengayak, penghancur dan pengemas sederhana (Gambar 3c). Dari kelima komponen alsin unit pengolahan limbah menjadi kompos, dua alsin yang merupakan komponen utama telah berfungsi seperti yang diharapkan. Mesin pencacah untuk pengecilan ukuran telah dapat digunakan untuk mencacah limbah pertanian jerami dengan kapasitas 1000 kg/jam, sedangkan rumah kompos juga telah berfungsi sebagai media fermentasi perombakan cacahan limbah pertanian menjadi kompos. Hal ini terbukti dengan telah terbentuknya hasil kompos dengan bantuan zat aktivator Biodeg atau M-Dec hasil penelitian dari Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan (BBLSDL), Badan Litbang

Pertanian atau zat Dectro (Sofian, 2006). Fungsi utama dari bioaktivator M-Dec adalah untuk mempercepat proses pengkomposan dan menekan penyakit tular tanah karena M-Dec ini mengandung zat inokulan perombak bahan organik. M-Dec mengandung komponen kimiawi seperti: Trichoderma sp., Aspergillus sp., dan Trametes sp. yang sangat diperlukan tanah untuk memperbaiki kesuburannya. Adapun cara penggunaan dari bahan bio-aktivator ini adalah dengan dosis 1 kg MDec untuk 1 ton bahan organik. Dengan bantuan bioaktivator ini masa (proses) pengkomposan dapat ditekan dengan hanya 2 (dua) minggu saja untuk menghasilkan kompos yang sudah matang.

Gambar 3. Dukungan alsin pengolah limbah menjadi pupuk organik

Karena proses pengkomposan dalam rumah kompos ini merupakan proses kimiawi maka diperlukan standar operasional (SOP) cara pembuatan kompos berbahan baku limbah pertanian jerami. Pembuatan kompos tanpa prosedur yang benar menurut SOP dapat menyebabkan kegagalan dalam pembuatan kompos, seperti: kondisi suhu dan kelembaban tumpukan kompos, cara pencampuran bioaktivator dan lain-lain. SOP dari pengolahan limbah jerami menjadi kompos harus dijadikan acuan dalam proses kimia pembuatan kompos dari bahan baku jerami. Analisa Mutu Kompos Mutu kompos hasil fermentasi dari proses pengkomposan dengan APPO yang telah direkayasa oleh BBP Mekanisasi Pertanian, Serpong adalah telah memenuhi standar yang ada yaitu: kadar air kurang dari 12% dimana hasil ini masuk dalam kriteria SNI NO 19-7030-2004. Kandungan C-organik juga relatif lebih rendah pada kisaran 5,77 - 6,61 % dibanding dengan metode biasa pada kisaran 21,65%. Namun

demikian nisbah C/N kompos hasil penelitian ini cukup besar yakni sekitar 17 -18 dan telah sesuai dengan standar SNI (10 - 20) maupun Permentan (10 - 25). Oleh karena itu mutu kompos yang dihasilkan berdasarkan hasil penelitian dengan mengaplikasikan alsin ini telah memenuhi standar SNI maupun Permentan yang ada. Berdasarkan unsur makro yang dikandung, hasil analisa laboratorium menunjukkan bahwa kualitas kompos dari bak fermentasi hanya C/N Ratio saja yang telah memenuhi kriteria SNI sedangkan kadar air, kadar C, N, P dan K masih di bawah standar. Dengan demikian suhu dan kelembaban merupakan dua faktor penting yang mempengaruhi kualitas kompos. Analisa Ekonomi Analisa ekonomi digunakan untuk menilai seberapa jauh biaya pokok pengolahan kompos dalam Rp per kg bahan limbah pertanian yang akan dijadikan kompos/pupuk organik. Biaya pokok pembuatan pupuk organik dengan APPO adalah sebesar Rp. 128,-/kg. Di dalam aplikasinya di lapangan bagi petani atau kelompok tani, penggunaan mesin pencacah berikut SOP pembuatan kompos dengan bantuan bio-aktivator M-Dec merupakan kebutuhan alsin minimum dalam proses pengkomposan (teknologi paling sederhana). Dengan tambahan biaya pokok pengoperasian alsin sebesar Rp. 95,-/kg dan harga jual kompos antara Rp. 400 500,-/kg, maka penggunaan alsin pencacah masih layak untuk digunakan secara ekonomi teknik. Bahkan dengan mengaplikasikan semua komponen alsin pada proses pengkomposannya, besarnya biaya pokok alsin sebesar Rp. 128,-/kg dibanding dengan harga jual kompos di atas, maka kelayakan penggunaan alsin ini masih dirasa cukup diterima. Dari perhitungan untung/ rugi yang dihitung berdasarkan nilai cash flow biaya produksi dan nilai pendapatan diperoleh bahwa hampir setiap skenario penggunaan alsin 1) hingga 5) memiliki B/C ratio >1. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pembuatan kompos dengan menggunakan alsin composting masih cukup layak untuk dilaksanakan. Hanya saja nilai B/C ratio masih cukup rendah meskipun di atas nilai 1,0 yaitu antara 1,01 hingga 1,14. Nilai B/C ratio tertinggi terdapat pada skenario 5) yakni penggunaan seluruh komponen alat mesin pengolah kompos.

Rekomendasi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong telah mengembangkan prototipe alat mesin (alsin) unit pengolah limbah pertanian menjadi kompos dengan kapasltas output 285 kg kompos per hari atau kapasitas input 500 kg/hari. Rumah kompos sederhana dan anyaman bambu lebih efisien, efektif dan praktis bagi petani padi dalam pembuatan kompos berbahan baku jerami di lahan pertanian mereka dari pada dengan rumah kompos yang permanen di satu tempat. Penggunaan rumah kompos lebih efektif apabila didukung oleh alsin pendukung lainnya seperti mesin pengayak, penepung dan alat pengemas sederhana. Dari segi kualitas, mutu kompos yang dihasilkan dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria (persyaratan minimum) dari mutu kompos yang telah ditetapkan dalam SNI maupun Permentan, yaitu: kadar air < 50%, kandungan C-organik yang cukup maupun nisbah C/N di atas 20. Kandungan unsur makro (N, P, K) juga di atas niIai minimum yang ditentukan oleh SNI. Dari hasiI analisa ekonomi teknik, dengan tambahan biaya pokok pengoperasian alsin sebesar Rp. 95,-/kg dan harga jual kompos antara Rp. 400 500,-/kg, maka penggunaan alsin pencacah masih layak untuk digunakan. Bahkan dengan mengaplikasikan semua komponen alsin pada proses pengkomposannya, besarnya biaya pokok alsin sebesar Rp. 128,-/kg dibanding dengan harga jual kompos di atas, maka kelayakan penggunaan alsin ini masih dirasa cukup diterima.

Information

Microsoft Word - SINAR TANI-APPO Badan Litbang Pertanian.doc

6 pages

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

268594


You might also be interested in

BETA
00 Cover NK RAPBN 2009.pmd
Microsoft Word - SINAR TANI-APPO Badan Litbang Pertanian.doc