Read Microsoft Word - Kelas IV.doc text version

Ekosistem Pesisir dan Laut

Standar Kompetensi: Mengenal berbagai macam ekosistem pesisir dan laut

Ekosistem pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dengan ekosistem laut, dimana organisme penghuninya berbaur antara organisme dari darat dan dari laut. Organisme tersebut berkumpul dalam suatu tempat untuk saling berinteraksi, seperti pada daerah estuari, pantai berbatu, pantai berpasir, hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Ekosistem laut meliputi beberapa ekosistem khas seperti padang lamun, terumbu karang, laut dalam dan samudera, dimana seluruh jenis organisme penghuninya saling berinteraksi dalam media air. Namun demikian, antara ekosistem pesisir dan ekosistem laut seringkali saling berhubungan karena keterkaitan ekosistemnya.

I.

Kompetensi Dasar: Ciri-ciri lingkungan laut

Indikator kompetensi: Laut mengandung Kadar garam mineral yang jumlahnya

1.1.

sumber-sumber

berlimpah. Air laut sendiri banyak mengandung zat-zat yang terkandung di dalamnya yang merupakan sumber dari beberapa zat kimia. Salah satu diantaranya adalah Natrium Klorida (NaCl) atau garam laut dan menjadi penyebab air laut menjadi asin. yang

2

Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat sangat berdaya guna yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah yang lebih besar daripada zat cair lainnya. Sifat ini terlihat dari banyaknya unsur-unsur pokok yang yang terdapat dalam air laut. Diperkirakan hampir sebesar 50 trilliun metrik ton garam yang larut dalam air laut.

1.2.

Indikator kompetensi:

Gelombang dan arus

Gelombang Hampir tak pernah kita melihat permukaan laut dalam keadaan tenang sempurna. Selalu saja dapat kita saksikan adanya gelombang, yang dapat berupa riak kecil atau acapkali juga berupa gelombang yang besar. Umumnya gelombang yang kita alami di laut disebabkan oleh

hembusan angin. Ada tiga faktor yang menentukan besarnya gelombang yang disebabkan oleh angin, yakni kuatnya hembusan, lamanya hembusan dan jarak tempuh angin. Gelombang timbul ketika ada angin yang bertiup di atas permukaan laut. Hembusan angin sepoipun dapat menyebabkan terjadi gelombang.

Sumber : http://deborahdonnelly.org

Gambar 1. Gelombang

3

Sumber : http:/www.kolaie.net

Gambar 2. Gambar ombak

Arus Arus merupakan gerakan air yang terutama disebabkan oleh angin. Arus dapat menyebabkan orang yang berenang di pantai dapat terseret ke tengah lautan. Arus itu bisa berbahaya bagi orang yang berenang di laut. Misalnya "Kala-kala" yang merupakan jenis arus yang arahnya tidak dapat diperkirakan. Biasanya arus seperti ini sangat berhubungan dengan topografi atau kondisi dasar perairan. Misalnya banyak taka sehingga arah arus terpencar-pencar karena terbentur pada taka tersebut. Walupaun begitu, arus itu mempunyai peranan atau fungsi yang sangat penting karena arus dapat memindahkan telur-telur ikan dari tempat yang satu ke tempat lain. .

Sumber : http://io.ppi-jepang.org

Gambar 3. Arus yang melintas wilayah Indonesia (warna oranje)

4

1.3.

Indikator Kompetensi:

Pasang surut

Kamu pasti pernah lihat bahwa pada saat tertentu, biasanya pada siang hari, air laut turun sehingga kamu dapat mencari kerang-kerang di laut. Sedangkan pada malam hari, air laut biasanya naik. Nah, air laut yang turun disebut dengan surut atau dalam bahasa Selayar di sebut atti', dan air laut yang naik permukaannya disebut pasang atau boso'. Terjadinya air pasang surut karena adanya gaya tarik menarik

antara dua tenaga yang terjadi di lautan yang disebabkan oleh perputaran bumi pada sumbunya dan gaya gravitasi yang berasal dari bulan. Umumnya pasang surut terjadi dua kali setiap hari.

1.4.

Indikator Kompetensi:

Musim

Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun disebut sebagai daerah tropis. Salah satu negara yang berada di daerah tropis adalah negara kita, Indonesia. Pada daerah tropis, dikenal dua macam musim yaitu: musim hujan dan musim kemarau. Musim ini dipengaruhi oleh proses siklus air seperti penguapan dan curah hujan. Umumnya penguapan dan curah hujan disebabkan karena adanya perbedaan suhu, angin dan kelembaban. Pada bulan Juni ­ Agustus, terjadi lebih banyak penguapan di Laut Jawa dibandingkan dengan curah hujan yang diterima dan dikenal sebagai musim kemarau atau musim timur. Sedangkan pada bulan Desember ­ Pebruari curah hujan lebih besar daripada penguapan dan dikenal sebagai musim hujan atau musim barat.

Kegiatan: Menceritakan pengalaman waktu berada di laut (berenang atau ikut menangkap ikan)

5

II. Kompetensi Dasar: Ekosistem mangrove

2.1.

Indikator Kompetensi: Ciri-ciri ekosistem mangrove Ekosistem Mangrove merupakan komunitas tumbuhan pantai tropis

maupun subtropis yang telah beradaptasi sehingga mampu tumbuh dan berkembang di daerah pasang surut di tanah berlumpur, berlempung atau berpasir.

Gambar 4. Ekosistem Mangrove

Daerah ditemukannya mangrove adalah daerah yang tergenang air laut secara berkala, menerima pasokan air yang cukup dari daratan, terlindung dari gelombang besar dan arus pasang yang kuat. Dengan

demikian, mangrove ditemukan misalnya di pantai berlumpur, dekat sungai.

Gambar 5. Daun, bunga, buah dan akar tumbuhan bakau 6

Gambar 6. Daun, bunga, buah dan akar Prapat atau pedada atau bogem atau biropa

Gambar 7. Daun, bunga dan buah Nipah atau buyuk

7

Di Kabupaten Selayar, kalian dapat menemukan ekosistem mangrove di pulau-pulau: Jampea, Tambolongan, Kampung Barang-barang, dan Pulau Gusung/Pasi.

2.2.

Indikator Kompetensi: ekosistem mangrove

Biota

yang

sering

dijumpai

di

Di sekitar pohon mangrove itu dapat ditemui beragam kelompok fauna atau hewan, baik yang langsung berhubungan dan memanfaatkan pohon mangrove, maupun yang berada di sekitar pohon. Kelompok fauna terbagi atas hewan yang tidak bertulang belakang dan yang bertulang belakang. belakang meliputi: Jenis serangga, seperti laba-laba dan sikada (sejenis Hewan-hewan yang tidak bertulang

kumbang).

laba-laba

cikada

-

Jenis krustase seperti udang, kepiting dan teritip.

udang kepiting

teritip

8

-

Jenis moluska, seperti siput, tiram dan kerang.

tiram siput

siput dan kerang

-

Beberapa jenis cacing, seperti cacing halus, cacing bersegmen dan cacing pipih.

cacing halus

cacing bersegmen

cacing pipih

Sedangkan hewan yang bertulang belakang antara lain beberapa jenis ikan seperti: ikan blodok dan ikan sumpit, beberapa jenis burung, ular dan buaya, kelelawar, dan beberapa jenis primata (monyet dan kera).

9

ikan blodok

ikan sumpit

burung

Beberapa jenis hewan yang biasa diambil untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan antara lain adalah ikan titang dan kepiting bakau.

ikan titang

kepiting bakau

Sumber: Dok Divisi Kelautan Unhas, 2005

Gambar 8. Beberapa jenis fauna di ekosistem hutan mangrove.

10

2.3.

Indikator kompetensi: Manfaat ekosistem mangrove

Ekosistem mangrove banyak manfaatnya bagi manusia. Manfaat yang langsung adalah bahwa dari pohonnya dapat dijadikan sebagai kayu bakar, papan rumah, dan tiang; sedangkan kulit batangnya dapat digunakan sebagai pewarna. Selain itu, ada juga yang bisa membuat anyaman tikar, atap dan dinding rumah dari daunnya. Ada pula manfaat yang tidak langsung dirasakan oleh manusia. Ekosistem mangrove menjadi tempat bertelur dan tempat mencari makan bagi ikan dan udang, melindungi pantai dari gelombang, badai, abrasi dan dapat menahan air laut yang dari pantai agar tidak masuk ke daratan sehingga air sumur tidak menjadi asin. Semua manfaat tersebut disebut sebagai manfaat secara ekologi ekosistem mangrove.

Kegiatan: Anak didik diajar untuk menyari artikel tentang ekosistem mangrove (kondisi, hewan dan tumbuhan mangrove, atau manfaat mangrove)

11

III.

Kompetensi Dasar: Ekosistem padang lamun

3.1.

Indikator Kompetensi: Ciri-ciri ekosistem padang lamun

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini memiliki dari akar, batang menjalar (rhizoma), daun, bunga dan biji. Di Selayar, lamun dikenal dengan nama pama' atau nambo'. Tumbuhan lamun hanya dapat ditemukan pada pantai yang berpasir, dangkal, dan terlindungi dari gerakan air yang kuat.

Lamun berujung bulat

Lamun Bergerigi

Lamun Tropika, pama langkasa

Lamun Serabut

12

Lamun Sendok, pama kukku

Lamun Sendok Keci, pama kukku l

Lamun Jarum Suntik

Lamun Dugong/Duyung

Gambar 14. Berbagai jenis lamun

13

3.2.

Indikator Kompetensi: ekosistem padang lamun

Biota yang sering dijumpai di

Pada ekosistem lamun dapat dijumpai berbagai jenis biota pemakan daun lamun atau disebut hewan herbivor, seperti: ikan baronang, penyu, dugong, lola dan udang. Ada juga biota pemakan hewan atau daging yang biasa disebut karnivor seperti: ikan sunu dan tedong-tedong. Sedangkan teripang dan bulu babi memakan tumbuhan yang mati sehingga disebut sebagai detrivor. Hewan lain yang dapat kita temui di lamun adalah: kampakkampak, kerang hijau dan kima yang mengambil makanannya dengan cara menyaring air laut.

3.3.

Indikator kompetensi: Manfaat ekosistem padang lamun

Ekosistem padang lamun sangat bermanfaat bagi kehidupan biota laut. Tumbuhan lamun berfungsi sebagai produsen atau penghasil makanan dalam piramida makanan. Oleh karena itu, maka ekosistem padang lamun merupakan tempat mencari makan, berlindung, bertelur, memijah, membesarkan anak bagi biota laut. Selain itu, tumbuhan lamun mempunyai akar yang disebut rizhoma yang berfungsi untuk menstabilkan substrat (dasar laut), mencegah abrasi/erosi, mengurangi kekeruhan,, menjebak zat hara, nutrien dan sedimen. Bagi manusia ekosistem padang lamun juga banyak manfaatnya. Misalnya buah pama langkasa dapat dimakan atau dibuat sayur. Daunnya bisa dibuat sebagai atap rumah, makanan ternak, anyaman, dan kasur. Selain itu, ekosistem padang lamun dapat menjadi tempat mengambil tietie' yang bisa dimakan oleh manusia, atau tempat mencari kuda laut, ikan sunu atau kerang-kerangan.

14

Kegiatan: 1. Murid diajak pergi ke daerah lamun untuk mengamati jenis-jenis lamun dan hewan yang ada di sekitar lamun 2. Menggambar tumbuhan lamun dan hewan yang dijumpai di ekosistem lamun

IV.

Kompetensi Dasar: Ekosistem terumbu karang

4.1.

Indikator Kompetensi: karang

Ciri-ciri ekosistem terumbu

Terumbu karang adalah bangunan kapur raksasa yang dibentuk dan dihasilkan oleh binatang karang dan organisme berkapur lainnya sehingga menyediakan rumah, atau habitat bagi biota-biota laut lainnya. Terumbu karang umumnya ditemukan pada perairan yang relatif dangkal dan jernih serta bersuhu hangat (lebih dari 220 C) dan memiliki kadar karbonat yang tinggi. Selain itu, binatang karang hidup dengan baik pada perairan yang jernih karena cahaya matahari harus dapat menembus hingga dasar perairan. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis; sedangkan kadar kapur yang tinggi diperlukan untuk membentuk kerangka hewan penyusun karang dan biota lainnya Sebagian besar karang hidup pada kedalaman hingga 30 meter. Semua karang yang bersimbiosis dengan alga zooxanthella hanya bisa hidup di tempat yang tembus sinar matahari. Keragaman karang tertinggi biasanya terdapat pada kedalaman 5 meter hingga 15 meter. Namun demikian, ada juga karang yang tidak memerlukan sinar matahari untuk hidup, atau dapat hidup ditempat yang gelap.

15

4.2.

Indikator Kompetensi: Biota yang sering dijumpai di ekosistem terumbu karang

Terumbu karang merupakan rumah bagi banyak mahluk hidup di laut. Menurut penelitian para ahli, jumlah jenis biota yang menghuni

ekosistem terumbu karang di laut lebih banyak dibanding dengan penghuni ekosistem hutan hujan tropis di darat. Jenis biota yang seluruh waktunya hidup di daerah terumbu karang adalah: beberapa jenis ikan sunu, napoleon (langkoe), kerapu, kepe-kepe (tapi-tapi), dan berbagai kerang. Sedangkan ikan hiu dan ikan kuwe

hanya menggunakan terumbu karang sebagai tempat mencari makan. 4.3. Indikator kompetensi: karang Manfaat ekosistem terumbu

Ekosistem terumbu karang menjadi rumah bagi berbagai macam biota laut. Sehingga dengan demikian ekosistem terumbu karang berfungsi sebagai tempat berlindung, mencari makan, bertelur/beranak dan hidup bagi berbagai hewan-hewan laut. Terumbu karang dimanfaatkan manusia sebagai tempat mencari ikan karang. Apabila terumbu karangnya bagus, ikan yang ditangkap juga lebih banyak. Selain itu, banyak orang yang suka menyelam untuk melihat keindahan terumbu karang sehingga dapat dijadikan lokasi pariwisata. Para peneliti juga memanfaatkan terumbu karang sebagai tempat untuk melakukan penelitan, misalnya meneliti hewan-hewan atau tumbuhan yang bisa dijadikan obat. Tetapi ada juga manusia yang mengambil batu karang untuk dijadikan pondasi rumah, sebagai tempat membuang jangkar perahu dan mengambil kapur.

16

4.4.

Indikator kompetensi: Penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang mudah

Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang

terganggu. Hewan karang yang merupakan penyusun utama ekosistem ini sangat mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan, baik yang disebabkan karena faktor alami maupun oleh aktivitas manusia. Penyebab kerusakan terumbu karang secara alami adalah tsunami, badai, topan, suhu bumi yang tinggi (El-nino), dan bintang laut berduri (Acanthaster planci). Sedangkan kerusakan terumbu karang yang disebabkan karena akibat aktivitas manusia adalah sedimentasi,

pencemaran dan pembuangan limbah/sampah. Ada pula kerusakan yang langsung dilakukan oleh manusia seperti pemboman ikan-ikan yang hidup di terumbu karang, pemakaian bius saat menangkap ikan karang, pemakaian bubu, penjangkaran perahu, penginjakkan karang saat mengambil biota laut, saat berenang maupun menyelam, hingga pengambilan karang sebagai bahan bangunan.

Kegiatan: 1. Menggambar terumbu karang 2. Menceritakan apa yang bisa dilihat/ditemui di daerah terumbu karang

17

DAFTAR PUSTAKA

Ali, S.A dan Huasain, A. A. 1996. Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Laut . Makalah disajikan pada Pelatihan Ekologi Perikanan di Ujung Pandang. Kerjasama PSDAL Unhas dengan Bakosurtanal. Ujung Pandang Maret ­ April 1996. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional ­ BAPPENAS. 2004. Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di Indonesia. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. Balai Taman Nasional Taka Bonerate. 2004. Keanekaragaman Hayati, (online), http://www.takabonerate.go.id/potensi_biotik.htm. (diakses 05 September 2006). Beatly, et.al. 2002. An Instruduction to Coastal Zone Management. dalam Bengen, D. G. 2004. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. PKSPL - IPB. Bogor. Beller, et.al. 1990. Suiastainable Development and Enviromental Management of Small Island. dalam : Bengen, D. G. 2004. Ragam Pemikiran Menuju Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan Berbasis Eko-Sosiositem. P4L. Bogor. Charles, A. 2000. Suistainable Fisheries System. dalam : Bengen, D. G. 2004. Ragam Pemikiran Menuju Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan Berbasis Eko-Sosiositem. P4L. Bogor. Cincin ­ Sain, B. et. al. 1998 . Integrated Coastal and Ocean Management : Concepts and Practice. dalam : Bengen, D. G. 2004. Ragam Pemikiran Menuju Pembangunan Pesisir dan Laut Berkelanjutan Berbasis EkoSosiositem. P4L. Bogor Dahuri, R., dkk. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta. Divisi Kelautan Unhas. 2005. Modul Muatan Lokal Tingkat SD. Divisi Kelautan Unhas bekerjasama dengan Mitra Pesisir. Makassar. Jompa, J. 2005. Ekosistem Terumbu Karang . Makalah disajikan pada Pelatihan ICZM di Gorontalo. Bappedalda Gorontalo. Gorontalo 16 Agustus 2005. Kasim, M. 2005. Lingkungan Ekosistem Pesisir, http:/maruf.wordpress.com/2005/12/27/lingkungan ekosistem (diakses 05 September 2006). (online), pesisir/,

Montgomery, W. L. 1990. Zoogeography, behavior and ecology of coral-reef fishes. In: Coral Reefs (ed. Z. Dubinsky). Elsevier, Amsterdam ­ Tokyo. Pp. 329­364.

18

Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta. Nybakken, J. W. 1988. Marine Biology, an Ecological Approach. Harper and Row Publishers, New York. Odum, E.P. Phidelphia. 1988. Fundamental of Ecology. W.B. Sounders Company.

Yanuarita, D. 2005. Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau ­ pulau dan Pengembangan Wisata Bahari. Makalah disajikan pada Pelatihan ICZM di Gorontalo. Bappedalda Gorontalo. Gorontalo 16 Agustus 2005

19

Information

Microsoft Word - Kelas IV.doc

19 pages

Find more like this

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

890951


You might also be interested in

BETA
Pesisir & Lautan Vol. 1, No. 2, 1998