Read Microsoft Word - BAB III PK Final.doc text version

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

BAB I I I USULAN PROGRAM

3.1. PROGRAM DIVERSIFIKASI BUDIDAYA PERTANIAN 3.1.1. AGRIBISNIS PADI ORGANIK

A. Isu Strategis B. Judul Program C. Latar Belakang : : : Pengembangan Agribisnis untuk meningkatkan perekonomian rakyat Diversifikasi Budidaya Pertanian

Penggunaan pupuk anorganik yang secara terus menerus selain berakibat adanya kelangkaan pupuk, ternyata juga berakibat tidak menguntungkan terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Keseimbangan organisme yang menyebabkan tanah subur dan produktif menjadi rusak karena pengaruh negatif bahan kimia dari pupuk anorganik, sehingga makro dan mikro organisme tanah tidak berfungsi sebagaimana mestinya serta tanah menjadi keras. Kerusakan tanah harus dikembalikan lagi ke kondisi semula melalui sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan atau disebut juga pertanian organik. Pertanian organik didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanaman yang berazaskan daur ulang hara secara hayati (Sutanto, 2002). Berdasarkan definisi tersebut pertanian ramah lingkungan pertanian organik merupakan hukum pengembalian (low of return) yang berarti suatu sistem yang berusaha untuk mengembalikan semua jenis bahan organik ke dalam tanah, baik dalam bentuk residu dan limbah pertanian maupun ternak yang selanjutnya bertujuan untuk memenuhi makanan pada tanah yang mampu memperbaiki status kesuburan dan struktur tanah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pertanian organik akan banyak memberikan keuntungan ditinjau dari aspek peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan produksi tanaman maupun ternak, serta aspek lingkungan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. Disamping itu, dari aspek ekonomi akan lebih menghemat devisa negara untuk mengimpor pupuk, bahan kimia pertanian, serta memberi banyak kesempatan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani. Sistem pertanian organik yang diterapkan dalam agribisnis padi sawah yaitu melalui System of Rice Intensification (SRI). System of Rice Intensification merupakan salah satu sistem pertanian organik, yaitu cara budidaya tanaman padi yang intensif dan efisien dengan proses managemen sistem perakaran dengan berbasis pada pengelolaan tanah, air dan tanaman. Pada SRI ini, petani diarahkan untuk memberikan masukan pada usahataninya dengan menggunakan potensi alam. Penggunaan pupuk misalnya, digunakan pupuk kandang dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan sistem ini diharapkan kegiatan makroorganisme dan mikroorganisme di dalam tanah berfungsi secara optimal sehingga tanah menjadi lebih sarang dan kesuburan tanah meningkat. Adanya tanah yang sarang maka udara, air III - 1

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

dan sinar matahari mampu menembus tanah lebih dalam sehingga terjadi keseimbangan lengas dan temperatur yang baik. Pertumbuhan tanaman dengan media yang kaya bahan organik memperoleh perlindungan dari pestisida alami seperti kencing sapi, tembakau dan lain-lain. Dengan SRI diharapkan kondisi alami tanah akan kembali seperti semula dan petani tidak tergantung pada pupuk anorganik. D. Rasional Program diversifikasi budidaya pertanian digulirkan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan menurunkan angka kemiskinan terutama di Wilayah perluasan (BACILE) dengan merubah prilaku pola usaha tani yang lebih memiliki daya jual dan daya saing tinggi di pasar lokal, regional dan nasional. Program dan kegiatan-kegiatan diversifikasi yang direncanakan dalam proposal ini akan dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi saat ini, dengan komitmen bersama secara fokus, suistenable dan terintegrasi. Kegiatankegiatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut : 1. Kegiatan Agribisnis padi organik Kebiasaan petani dalam melakukan kegiatan pertanian padi sawah di Kota Sukabumi selama ini khususnya dalam penggunaan pupuk, masih menggunakan pupuk anorganik berupa : No. 1 2 3 Jenis Pupuk Urea SP-36 KCl Dosis (kg/ha) 300 100 tidak digunakan

Sumber: Dinas Pertanian Kota Sukabumi (2005)

Varietas padi yang paling banyak ditanam oleh petani adalah varietas Ciherang dan Cilosari. Jarak tanam yang digunakan adalah 25 x 25 cm. Dalam pengolahan tanah masih banyak menggunakan tenaga ternak, hanya sedikit yang menggunakan traktor. Hasil produksi budidaya tanaman padi di Kota Sukabumi rata-rata baru mencapai 5,4 ton/ ha gabah kering panen. Sampai sejauh ini penanganan panen masih dilakukan secara tradisional oleh petani. Sistem pemasaran hasil masih langsung dijual ke tengkulak pengumpul dengan cara ditimbang di sawah. Dalam hal ini harga biasanya mengikuti harga yang ditentukan oleh tengkulak. Kegiatan usahatani yang sudah dilakukan oleh petani di Kota Sukabumi telah memberikan kontribusi terhadap penyediaan bahan pangan untuk kebutuhan penduduk Kota Sukabumi. Jika dilihat dari kebutuhan beras maka produksi yang dihasilkan oleh petani Kota Sukabumi masih mengalami kekurangan. Tabel 3.1. menunjukkan gambaran kondisi produksi dan kebutuhan beras di Kota Sukabumi pada tahun 2004. III - 2

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Berdasarkan kondisi produksi padi (GKG) dan kebutuhan beras di Kota Sukabumi tahun 2004, maka dapat dikatakan bahwa produksi padi di Kota Sukabumi harus ditingkatkan agar kekurangan kebutuhan beras sebesar 14.451,72 Ton dapat terpenuhi.

Tabel 3.1. Kondisi Produksi Padi (GKG) dan Kebutuhan Beras di Kota Sukabumi Tahun 2004

No.

I

Uraian

1. Produksi (GKG) 2. Susut Bibit (6%) 3. Produksi Kotor (GKG) 4. Produksi Beras (65%) 5. Susut (3%) Produksi Beras (Bersih) Jumlah Penduduk Kebutuhan /kapita/tahun Kebutuhan Beras/tahun Surplus /Minus (II-III)

Satuan

Ton Ton Ton Ton Ton Ton Jiwa kg Ton Ton

Jumlah

26.876,00 1.613,00 25.266,00 16.423,00 493,00 15.930,00 253.181,00 120,00 30.381,72 -14.451,72 (-)

(-)

II

III IV

Sumber: Dinas Pertanian Kota Sukabumi tahun 2004

Teknik budidaya petani padi Kota Sukabumi saat ini masih menggunakan teknik konvensional dengan menggunakan masukan bahan anorganik yang cukup tinggi. Pengendalian hama dan penyakit tanaman misalnya, masih menggunakan pestisida anorganik. Penggunaan pestisida anorganik ini seringkali menimbulkan pencemaran lingkungan, terbunuhnya jasad bukan pengganggu serta resurgensi hama, akibatnya muncul hama baru yang sudah tahan terhadap pestisida tersebut. Kondisi demikian mengharuskan petani membeli pestisida jenis baru, yang berarti penambahan biaya produksi. Pemupukan juga masih mengandalkan pupuk anorganik yang menambah biaya produksi, sedangkan produksi padinya rata-rata hanya 5,4 ton/ ha. Hal ini sangat berbeda sekali dengan prinsip pertanian organik. Filosofi yang mendasari pertanian organik adalah mengembangkan prinsip-prinsip memberi makanan pada tanah selanjutnya tanah menyediakan makanan untuk tanaman (feeding the soil that feeds the plant), dan bukan memberikan makanan langsung ke tanaman. Dengan istilah lain membangun kesuburan tanah. Strateginya adalah memindahkan hara secepatnya dari sisa tanaman, kompos, dan pupuk kandang menjadi biomassa tanah yang selanjutnya setelah mengalami proses mineralisasi akan menjadi hara dalam larutan tanah. Hal ini berbeda dengan pertanian konvensional yang memberikan unsur hara secara cepat dan langsung dalam bentuk larutan kepada tanaman. Akibatnya selain menambah biaya produksi, juga menurunkan fungsi mokroorganisme dalam tanah. Keadaan ini menyebabkan suplai nutrisi III - 3

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

dari tanah sangat berkurang, akibatnya tanaman selalu menunggu suplai makanan dari luar berupa pupuk anorganik. Berdasarkan pengalaman petani, tanaman padi sebenarnya mempunyai potensi besar untuk menghasilkan produksi yang tinggi. Potensi produksi tinggi akan tercapai jika tanaman memperoleh kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhannya. Kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman dapat ciptakan melalui pengelolaan tanah, air, dan tanaman serta unsur agro ekosistem lainnya dengan managemen yang baik. Berdasarkan hasil kajian di Kelompok Studi Petani (KSP) Tirtabumi Desa Budiasih Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat yang menanam padi dengan pola System Of Rice Intensification dapat menghasilkan produksi padi mencapai 7,36 sampai 12,6 ton / ha. Hal ini didukung dengan pertumbuhan tanaman padi dengan jumlah tunas produkstif perumpun paling rendah 33 yang berasal dari satu bibit tanaman padi. Secara ekonomi petani juga mendapat keuntungan lebih dari tujuh juta rupiah untuk satu kali musim tanam. Keuntungan ini jauh lebih baik dibandingkan dengan cara konvensional yang hanya berkisar dua juta rupiah. Namun demikian hal ini tidak menjadi patokan keberhasilan System Of Rice Intensification di tempat lain, karena dipengaruhi oleh kondisi tanah dan perlakuan budidaya yang diberikan. Oleh karena itu pola System Of Rice Intensification bukan pola rekomendasi tetapi petani menerapkan pola System Of Rice Intensification atas kesadaran dan pengalamannya sendiri. Petani yang telah menerapkan dengan sendirinya mengerti dan memahami pentingnya pengelolaan ekologi tanah dan pola System Of Rice Intensification pada teknik budidaya padinya sehingga diperoleh hasil produksi dan hasil ekonomi yang meningkat, serta lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Adanya pertanian organik dengan melalui System Of Rice Intensification di Kota Sukabumi bertujuan: 1) Memperbaiki sumberdaya lahan pertanian di Kota Sukabumi 2) Sosialisasi pertanian ramah lingkungan berkelanjutan dengan sistem System Of Rice Intensification 3) Meningkatkan produksi dan pendapatan petani 4) Meningkatkan pengetahuan petani dalam memanfaatkan sumberdaya alam untuk usahataninya 5) Merubah pola pikir, sikap dan perilaku petani tentang teknik budiaya pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan 6) Menyediakan bahan pangan yang bebas residu bahan kimia berbahaya Jika pertanian ramah lingkungan dengan pola System of Rice Intensification sudah dikenal masyarakat Kota Sukabumi maka III - 4

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

diharapkan dapat memberikan manfaat bagi petani dalam menjalankan usahataninya agar lebih efisien, efektif dan menguntungkan serta ramah lingkungan dan berkelanjutan. Setelah mengenal diharapkan petani dapat mengerti, memahami, mempratekkan, dan meyakini serta menyebarluaskan sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pada tabel 3.1. di atas terlihat bahwa kekurangan kebutuhan pangan khususnya beras di Kota Sukabumi mencapai 14.451,72 Ton. Kekurangan kebutuhan beras tersebut dapat dipenuhi dengan memperbaiki teknik budidaya padi, khusunya padi sawah melalui System of Rice Intensification. Budidaya tanaman padi dengan pola System Of Rice Intensification meliputi tahapan sebagai berikut: 1). Pembelajaran ekologi tanah Pembelajaran ekologi tanah dilakukan dengan harapan petani memahami ekologi tanah, terutama sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Dengan mengetahui ekologi tanah, petani akan dapat dengan sendirinya mengerti tentang tekstur dan struktur tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman, khususnya padi. 2). Pupuk Organik Pupuk organik yang akan digunakan dapat diperoleh dari produsen pupuk organik atau berasal dari limbah organik, misalnya kotoran ternak, sampah rumah tangga, limbah pertanian. Dalam pelaksanaan System Of Rice Intensification petani akan dilatih cara pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan potensi alam. 3). Pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) Mikro organisme yang berperanan dalam kesuburan tanah dan pengendalian alami hama sesungguhnya dapat menggunakan potensi alam. Pembuatan MOL dalam System Of Rice Intensification memanfaatkan sumberdaya alam, misalnya bonggol pisang, keong mas dan lain-lain. Dengan penambahan bahan campuran berupa gula dan air akan dihasilkan MOL yang akan berguna dalam mendukung pertumbuhan tanaman. 4). Aplikasi dilapangan Aplikasi pelaksanaan System Of Rice Intensification dilapangan secara umum menerapkan kaidah pertanian ramah lingkungan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kebiasaan-kebiasan baik yang diterapkan oleh petani. Pelaksanaan System Of Rice Intensification meliputi prinsip-prinsip dasar yaitu: Membuat tanah sehat, Penggunaan benih bermutu dan berlabel, Benih ditanam muda (7-10 hari setelah sebar), Benih ditanam dangkal, III - 5

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Benih ditanam tunggal, Jarak tanam lebar, Penyiangan dilakukan empat kali (10 hst, 20 hst, 30 hst, & 40 hst), Tidak digenangi, Tidak menggunakan bahan anorganik, Kota Sukabumi sangat potensial untuk mengembangkan pertanian organik melalui pola System of Rice Intensification. Dukungan kelompok tani yang handal merupakan modal yang sangat berharga dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan. Dengan melihat prakiraan perkembangan jumlah penduduk sampai tahun 2009, maka percepatan untuk pengembangan teknologi budidaya dengan pola SRI mutlak diperlukan. Hal ini juga didukung oleh potensi alam yang sangat subur. Dengan memanfaatka semua yang tersedia di alam, maka diharapkan tidak ada lagi keluhan-keluhan petani tentang dampak kenaikan harga pupuk, kelangkaan pupuk, dan lain-lain. Melalui budidaya padi pola SRI memungkinkan kebersihan lingkungan sekitar akan selalu terjaga. Hal ini karena sampah-sampah organik akan dapat termanfaatkan untuk budidaya padi. Peran serta masyarakat serta aparatur pemerintah, sangat mendukung keberhasilan pertanian ramah lingkungan dengan pola SRI. Dengan hasil budidaya padi SRI akan diperoleh kualitas pangan yang bebas dari residu pestisida dan bahan-bahan kimia lain. Ini berarti masyarakat akan mengkonsumsi pangan yang sehat. Adanya pangan yang sehat akan melahirkan generasi-generasi penerus yang berkualitas. 5). Rice Processing Complex (RPC) Rice Processing complex (RPC) adalah suatu kawasan sistem pengolahan padi yang terdiri dari sub sistem pengeringan, sub sistem penyimpanan, sub sistem penggilingan dan sub sistem pengemasan yang terintegrasi dalam satu lini proses menggunakan mesin modern Konsep RPC sebenarnya adalah penyempurnaan dari sistem RMU yang dilengkapi dengan sistem pengeringan, penyimpanan dan pengemasan. Konsep ini sebetulnya dikembangkan dalam rangka mengontrol seluruh alur proses pengolahan padi dalam suatu sistem terintegrasi, sehingga mutu produk dapat terjaga keseragamannya serta secara nyata mengurangi susut bobot. Penggunaan sistem RPC ini secara umum diproyeksikan untuk dapat meningkatkan daya saing beras yang dihasilkan melalui mutu dan harga. Hal tersebut dapat dicapai karena RPC dapat memperbaiki efisiensi pengolahan padi melalui :

III - 6

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

1. Perbaikan mutu beras Dengan mengontrol bahan baku yang masuk dan pengontrolan secara ketat selama proses pengolahan maka akan dapat diproduksi beras dengan mutu prima. Tentu ini masih tergantung dari kualitas bahan baku padi yang diolah, sehingga penerapan RPC juga harus diikuti oleh perbaikan sistem budidaya dan pemilihan varietas padi yang baik 2. Peningkatan rendemen pengolahan Dengan sistem pengolahan menggunakan mesin modern, maka semua bagian/ sub sistem dapat dikontrol dengan baik sehingga dapat mengurangi susut secara signifikan. 3. Peningkatan pendapatan petani Terbentuknya imej konsumen terhadap produk dengan kualitas yang lebih baik akan meningkatkan harga beras, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan pendapatan petani. Pada penerapan RPC ini petani dapat menjual gabahnya dalam bentuk GKP sehingga resiko penurunan mutu gabah akibat keterlambatan pengeringan tidak dialami oleh petani. 4. Manfaat sampingan penggunaan RPC memperbaiki produksi dan distribusi pasca panen adalah

a. Pengembangan beras mutu tinggi karena diproduksi dengan menggunakan mesin pengolahan kontinu dari panen hingga penggilingan dan pengemasan. b. Pengembangan beras lokal dengan mutu yang baik melalui local brand, melalui tenologi benih superior, pertanian organik dan pengolahan lahan secara terpadu. c. Pengembangan sistem Contract Farming untuk menjamin pemasaran bagi petani dengan jaminan harga dan jumlah pesanan. d. Meningkatkan sistem distribusi melalui : Jaminan mutu oleh pengusaha RPC Kepuasan pelanggan karena memproduksi berbagai variasi beras dan kemasan yang menarik. Pengembangan Brand image Transaksi langsung antara RPC dan konsumen. 3.1.2 KEGIATAN BUDIDAYA PERIKANAN DARAT Pengembangan perikanan darat akan diarahkan pada Usaha Pembenihan Rakyat (UPR) yang akan dilakukan oleh masyarakat baik di kolam terbuka maupun di kolam dalam ruangan. Usaha Pembenihan Rakyat yang akan dilakukan didalam ruangan adalah pembenihan jenis ikan patin dan Bawal sedangkan untuk pendederan yaitu untuk pendederan ikan lele dumbo dan patin. Pengembangan UPR diarahkan memakai sistem ruangan (Sistem Indoor) yang dilakukan secara III - 7

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

bertahap, hal ini mengingat potensi lahan kolam Kota Sukabumi dengan luas 107 Ha dengan perkembangan jasa perdagangan dan industri semakin meningkat sehingga lahan kolam mengalami penurunan. Sistem budidaya yang dilakukan di dalam ruangan memiliki beberapa keunggulan yaitu lahan yang digunakan tidak terlalu luas, perkembangan ikan lebih terkontrol dengan produksi sebanding dengan kolam yang lebih luas. Komoditas ikan yang dapat dilakukan dengan menggunakan sistem ruangan yaitu ikan lele dumbo, patin, bawal dan ikan gurame. Sedangkan kegiatan pembenihan dan pendederan ikan Nila dan Baster serta pembesaran Lele dumbo akan dilakukan di kolam terbuka. Kota Sukabumi yang terkenal sebagai sentra benih memiliki peluang yang besar untuk memproduksi benih untuk memasok ke kota lain bahkan sampai lintas provinsi.Balai Benih Ikan yang dibangun pada tahun anggaran 2005 merupakan pendukung dalam membina dan menjalin kemitraan dengan pembudidaya ikan sehingga benih yang dihasilkan akan lebih terkontrol dalam kualitas dan kuantitasnya.

3.1.3 KEGIATAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGRO WISATA Kawasan Agribisnis di Cikundul yang sudah terbangun merupakan dasar bagi Pengembangan Kawasan Argo Cikundul. Faktor geografis di Cikundul melalui proses alamiah menyediakan sumber daya alam yang memungkinkan untuk dikembangan menjadi suatu Kawasan Agro. Dengan memperhatikan Kawasan Agro sebagai pendekatan yang utuh terhadap pengembangan pertanian dan sebagai titik berat pengembangan akan dapat diwujudkan melalui pengembangan berbagai kluster pendukung suatu usahatani dengan sistem agribisnis. Kawasan Agro sebagai pusat pengembangan pertanian akan berbasis pada komoditi unggulan baik tanaman, ternak maupun perikanan sebagai obyek untuk meningkatkan kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat. Program-program yang dikembangkan akan bertumpu pada pengembangan komoditas tersebut. Oleh karena itu kawasan Agro sebagai sebuah lingkup kajian ruang dan waktu dari suatu masyarakat dan penduduknya merupakan sebuah kajian yang kompleks meskipun tetap bertumpu pada pengembangan komoditas pertanian dalam arti luas. Pada pengembangan Kawasan Agro Cikundul , dari bidang pertanian akan dimaksimalkan fungsi dari green house yang sudah ada dan membangun 3 (tiga) unit green house baru. Pengembangan green house ini akan dimanfaatkan untuk pengembangan berbagai macam floriculture yang menunjang kegiatan di masyarakat. Kegiatan tersebut misalnya P2WKSS, TOGA baik di lingkungan sekolah maupun di setiap kelurahan. Selain pengembangan floriculture, di green house juga akan dimanfaatkan untuk pengkajian teknologi terapan budidaya berbagai komoditas pertanian. Hasil pengkajian di green house serta dipadukan dengan informasi dari berbagai sumber, diharapkan dari manfaat green house akan berkembang Pusat Informasi Tekonologi Terapan Pertanian yang dapat langsung dialihkan ke petani. Dengan kemampuan dalam pengkajian dan pusat informasi teknologi terapan budidaya pertanian di Kawasan Agro, diharapkan akan menjadi pusat pelatihan, diklat, serta magang bagi peminat pertanian dari III - 8

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

berbagai kalangan, baik pelajar maupun masyarakat umum dari dalam dan luar Kota Sukabumi. Bidang peternakan di Kawasan Agro akan memaksimalkan pengemukan ternak sapi dan domba. Pada proses pengemukan sapi dan domba akan dikaji tentang teknologi pakan sehingga akan dihasilkan penambahan berat ternak yang cepat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selain pengkajian teknologi pakan, juga akan dilakukan pengkajian tentang teknologi pemanfaatan limbah ternak, antara lain untuk pengomposan dan biogas. Hasil pengkajian ini akan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat, terutama yang telah tergabung dalam kelompok petani peternak sapi dan domba. Bidang Perikanan pada pengembangan Kawasan Agro akan menitikberatkan pada pengembangan wisata perikanan dan teknik budidaya perikanan. Pada teknik budidaya perikanan juga akan dikaji tentang teknik budidaya perikanan yang memungkinkan dikembangkan di Kota Sukabumi. Pengembangan Kawasan Agro Cikundul ini akan melibatkan petani yang merupakan anggota KTNA Kota Sukabumi, sehingga akan memudahkan transfer teknologi ke petani. Selain itu dengan keterlibatan KTNA pengembangan Kawasan Agro Cikundul akan lebih terfokus kepada upaya untuk menghasilkan teknologi terapan yang berguna unutk meningkatkan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan. Pengembangan Kawasan Agro Cikundul selain dapat menghasilkan teknologiteknologi yang bermanfaat bagi petani, diharapkan juga akan mendorong tumbuhnya sentra usaha pertanian lain di sekitar Kawasan Agro yang mendukung pengembangan kawasan agro, misalnya usaha-usaha nursery tanaman hias. Kawasan Agro Cikundul juga akan difungsikan sebagai pendukung program life skill pertanian pada bidang pendidikan. Pengembangan Kawasan Agro Cikundul jangka panjang diarahkan untuk menjadi suatu Kawasan Agrowisata yang mendukung pengembangan pertanian. Kawasan Agrowisata pada prinsipnya merupakan bagian dari objek wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) untuk mempeluas pengetahuan, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha dibidang pertanian yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan lahan. Pengembangan Agrowisata Cikundul disesuaikan dengan kapasitas, tipologi, dan fungsi ekologis lahan diharapkan dapat melestarikan sumber daya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Hal ini karena pengembangan agrowisata pada akhirnya akan menciptakan lapangan pekerjaan dengan adanya unit-unit usaha disekitar wilayah agrowisata yang mendukung pengembangan Kawasan Agrowisata. Adanya Kawasan Agro Cikundul selain berkembang menjadi kawasan Agrowisata dalam jangka panjang juga menjadi kawasan wisata ekologi (eco-turism) yaitu kegiatan perjalanan dialam terbuka tanpa mencemari alam dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam, hewan atau tanaman sebagai sarana pendidikan.

III - 9

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

3.1.4 KEGIATAN AGRIBISNIS PETERNAKAN 3.1.4.1 AGRIBISNIS PENGGEMUKAN SAPI POTONG Usaha penggemukan sapi potong yang sudah ada di Kota Sukabumi saat ini baru mampu memenuhi 4 % dari kebutuhan pasar sapi potong lokal yang berkisar 2535 ekor sapi potong/ hari. Dilihat dari daya dukung lahan dan potensi limbah pertanian serta limbah industri yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak sapi potong, maka volume usaha penggemukan sapi potong di Kota Sukabumi secara bertahap dapat ditingkatkan menjadi sekitar 1.380 ekor pada tahun 2010. Pada tahun 2006, dengan penambahan populasi sapi potong sebanyak 250 ekor disertai perbaikan manajemen dan penguatan modal usaha penggemukannya maka kemampuan Kota Sukabumi untuk memenuhi kebutuhan sapi potong per hari meningkat menjadi sekitar 16 %. Dengan asumsi setiap tahun hingga tahun 2010, ada penambahan populasi sapi sebanyak 250 ekor maka pada tahun 2010, Kota Sukabumi dapat berswasembada daging sapi dan sapi kurban artinya 100 % kebutuhan sapi potong tidak lagi tergantung pada suplai dari luar Kota Sukabumi. Pengembangan usaha penggemukan sapi potong ini sangat menunjang program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah sebagaimana tertuang dalam program Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabinet Indonesia Bersatu. Kelebihan lain dari pengembangan usaha penggemukan sapi potong adalah adanya keterkaitan yang sangat erat dengan pemanfaatan limbah pertanian, penyediaan pupuk organik, dan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian.

3.1.4.2 AGRIBISNIS TERNAK SAPI PERAH Agribisnis ternak sapi perah dapat dikatakan menghasilkan 4 (empat) jenis emas yaitu emas putih (susu segar), emas merah (daging), emas hitam (pupuk kandang), dan emas cair (kencing sebagai pupuk). Pertimbangan lainnya yang mendukung pengembangan usaha sapi perah adalah : 1) Tingkat besarnya laba tidak fluktuatif, tetapi cenderung naik. 2) Harga susu sapi perah cenderung selalu naik 3) Produk sampingan dari usaha sapi perah memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan usaha lainnya. 4) Resiko penyakit relatif kecil 5) Resiko keamanan relatif kecil 6) Mendorong tumbuhnya industri ikutannya yaitu pengolahan susu sterilisasi, susu pasteurisasi, yohurt, ice cream, bahan cosmetic, mentega, keju, dan sebagainya.

III - 10

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Kebutuhan susu sapi perah secara nasional per tahun diperkirakan sekitar 1.450.000 ton dan dari jumlah tersebut baru mampu dipasok 30 % nya dari susu dalam negeri, sisanya disuplai dari luar negeri. Namun dengan adanya kenyataan nilai Dollar AS masih jauh lebih tinggi terhadap Rupiah, maka para IPS (Industri Pengolahan Susu) mulai serius menggarap potensi produksi susu dalam negeri. (Doddy H., 2004). Peluang pasar lokal Kota Sukabumi juga sangat terbuka, sebagai gambaran kebutuhan IPS Indolacto, Cicurug, Kab. Sukabumi membutuhkan susu segar 180 ton / hari (kapasitas pabrik 300 ton/hari), sedangkan kemampuan peternakan sapiu perah di sekitar wilayah Sukabumi untuk memenuhinya baru sekitar 11 ton/ hari, sisanya disuplai dari luar Sukabumi dan luar Jawa Barat.

3.1.4.3 AGRIBISNIS TERNAK DOMBA Agribisnis ternak domba sangat potensial dikembangkan di Kota Sukabumi karena adanya beberapa faktor pendukung yaitu ; 1) Kesesuaian agroklimat dengan karakteristik ternak domba 2) Tradisi beternak domba sudah membudaya di masyarakat petani peternak 3) Tersedianya kelembagaan usaha baik berupa Kelompok dan Koperasi peternak domba 4) Peluang pasar sangat besar karena adanya kecenderungan peningkatan konsumsi daging termasuk daging domba 5) Tersedianya pasar hewan (domba/kambing) yang cukup memadai. Bagi masyarakat petani peternak, agribisnis ternak domba selain sebagai sumber pendapatan keluarga juga berfungsi sebagai; sumber protein hewani, tabungan petani peternak, penghasil pupuk kandang, penghasil kulit, hewan pembersih gulma, hewan kesayangan, dan hewan kurban bagi umat Islam. Potensi pasar kebutuhan domba di Kota Sukabumi saat ini sekitar 1.230 ekor per bulan. Berdasarkan informasi pedagang domba dan pemotong domba, sekitar 33 % dari kebutuhan tersebut disuplai oleh petani peternak Kota Sukabumi sedangkan sisanya (67 %) dipasok dari luar Kota Sukabumi (Kabupaten Sukabumi dan Cianjur). Kondisi ini menunjukkan bahwa populasi ternak domba masih sangat prospektif untuk ditingkatkan. E. mekanisme dan indikator program Tabel Dalam lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam lampiran G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran III - 11

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

H. keberlanjutan

Program diversifikasi budidaya pertanian pada akhir program PPK akan meningkatkan kemampuan petani melalui pelatihan sesuai dengan masingmasing kegiatan. Petani yang telah terlatih diarahkan mampu menerapkan pada usahataninya dan mampu memberikan transfer pada petani lainnya yang akan melaksanakan program diversifikasi budidaya pertanian. Proses pelaksanaan pendanaan program dari masing-masing kegiatan menggunakan sistem revolving (dana bergulir), sehingga petani tetap melaksanakan usahatani dan meningkatkan usahataninya setelah program PPK berakhir. Sistem ini dilakukan dengan cara petani yang tergabung dalam kelompok tani mengajukan proposal pembiayaan usaha tani yang dapat dibiayai dari dana PPK. Dana yang diajukan tersebut akan direalisasikan setelah mendapat persetujuan dari Tim Satlak PPK Kota Sukabumi. Pengelolaan dana yang sudah diberikan dilakukan oleh masingmasing kelompok tani di bawah pengawasan dan bimbingan petugas teknis dari Dinas Pertanian dan Tim Satlak. Pengembalian pinjaman dilakukan setelah petani memperoleh hasil produksinya dan dapat mengajukan pinjaman kembali. Hasil produksi petani dikelola oleh unit pengolah hasil dengan menggunakan dana talangan. Hasil produk tersebut ada yang dipasarkan langsung dan ada yang diproses menjadi produk yang mempunyai nilai tambah ekonomi. Pemasaran produk-produk tersebut dilakukan melalui Jejaring usaha yang mendapatkan pembinaan langsung dari Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi Kota Sukabumi, sehingga harga dan pemasaran akan terjamin. Program Diversifikasi Budidaya Pertanian setelah program PPK selesai tetap akan dikembangkan dengan perluasan areal kegiatan. Sasarannya adalah wilayah BACILE dan CICIGUWA yang belum melaksanakan Program Diversifikasi Budidaya Pertanian. Sistem pelaksanannya sama dengan pelaksanaan program PPK.

I. penanggungjawab program

Penanggung jawab program terletak pada unsur satlak yang menangani aspek program utama dimana didalamnya terdiri dari unsur-unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan stakeholders yang berkecimpung dalam kegiatan pertanian (Ir. Agus Wahyudin)

III - 12

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

3.2.

PROGRAM PENGEMBANGAN PASCA PANEN A. Isu Strategis B. Judul Program C. Latar Belakang : Pemenuhan kebutuhan pakan ternak melalui pemanfaatan limbah pasca panen : Pengembangan Pasca Panen :

Ruang penampungan sampah organik dan anorganik yang terbatas sedangkan volume sampah semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk, sangat perlu adanya upaya efisiensi lahan melalui daur ulang sampah organik. D. Rasional Program pengembangan pasca panen merupakan kegiatan yang mengolah residu dari kegiatan pertanian untuk dijadikan pakan ternak, kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu : 3.2.1 KEGIATAN PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN 3.2.1.1 PEMBUATAN JERAMI FERMENTASI DAN SILASE Jerami padi merupakan alternatif pakan ternak yang potensial di antara limbah pertanian lainnya karena produksi cukup melimpah dan tersedia setiap waktu. Namun, jerami padi memiliki kelemahan yaitu kandungan nutrisi (protein) rendah, serat kasar tinggi, daya cerna rendah, dan palatabilitas rendah. Untuk meningkatkan kualitas jerami padi dapat ditempuh dengan beberapa cara diantaranya adalah melalui bio-proses fermentasi (enzimatis) terbuka selama 21 hari. Tujuan pengolahan ini adalah mengubah struktur fisik oleh enzim deliginifikasi (menghilangkan peranan lignin) dengan cara memutuskan ikatan lignoselulosa dan meningkatkan gizi jerami padi. Jerami padi fermentasi dapat diberikan sebagai pakan ternak ruminansia (sapi potong, sapi perah, domba dan kambing) sebagai substitusi rumput segar. Dengan cara demikian, pemanfaatan hijaun pakan ternak dalam bentuk jerami padi akan dapat dilakukan sepanjang tahun dan lebih efisien dalam pemanfaatan waktu dan tenaga peternak. Nilai nutrisi jerami padi, jerami padi fermentasi dan rumput gajah (Pannissetum purpureum) dengan sebagai berikut :

III - 13

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Tabel 3.2. Nilai Nutrisi Jerami Padi, Jerami Padi Fermentasi Dan Rumput Gajah

jerami Padi Fermenta si ,089 ,700

No.

parameter

jerami padi segar

Rumput Gajah

1. 2.

Protein Kasar (%) Serat Kasar (%)

,002 7,300

,1 3,5 1

3. DN (%) 5,0 0,0 Sumber : Eriawan Bekti dan Sri Murtiani, BPTP, 2003

Produksi jerami padi segar mencapai 12 15 ton/ ha/musim panen atau berkisar 4-5 ton jerami fermentasi/ ha/ musim atau 8-10 ton/ ha/ tahun. Di Kota Sukabumi tersedia lahan pertanian produktif yang memproduksi limbah jerami padi 27.606 ton/ tahun. Jika diasumsikan 40 % dari jerami tersebut diolah menjadi jerami padi fermentasi maka tersedia stok pakan ternak 3.680 ton/ tahun. Apabila seekor sapi dewasa rata-rata membutuhkan 2 ton jerami padi fermentasi maka potensi jerami padi di Kota Sukabumi mampu mendukung kebutuhan pakan dari sekitar 1.800 ekor sapi sepanjang tahun. 3.2.1.2 PEMBUATAN KONSENTRAT Konsentrat adalah jenis pakan ternak yang terdiri dari satu atau lebih bahan pakan dengan kandungan protein yang tinggi. Konsentrat sangat diperlukan untuk melengkapi kebutuhan nutrisi ternak disamping pakan jenis hijauan. Bahan baku pembuatan konsentrat dipilih berdasarkan pertimbangan : kandungan nutrisi, kemudahan memperoleh, kontinyuitas ketersediaan, dan harga. Sebagai pendukung kegiatan agrobisnis secara umum, bahan baku konsentrat diutamakan dari limbah industri pertanian yang mengandung protein yang cukup tinggi dan tidak berkompetisi dengan komoditas lainnya,misalnya dedak, ampas kecap, ampas bir, garam, onggok, ampas tahu, kulit coklat, bungkil kopi, bungkil kelapa, dan tetes tebu. Ketersediaan konsentrat untuk pakan ternak sebagai pendukung pengembangan agribisnis mutlak dilakukan. Kualitas, kuantitas dan kontinyuitas penyediaan konsentrat, sangat berpengaruh pada tingkat produktifitas ternak.

III - 14

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

3.2.2

KEGI ATAN REVI TALI SASI RUMAH POTONG DAN LABORATORI UM PENDUKUNG 3.2.2.1.PENGEMBANGAN RPH ( PENI NGKATAN SARANA DAN PRASARANA FISIK) Pengembangan Rumah Potong Hewan dalam bentuk peningkatan sarana dan prasarna fisik RPH dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa dalam hal pemotongan hewan yang halal, aman, utuh, dan sehat. Dengan adanya peningkatan sarana dan prasarana fisik RPH, kita dapat mengoptimalkan kapasitas pemotongan menjadi sekitar 25 - 30 ekor per hari. Dampak lainnya adalah mendorong berkembangnya bisnis pemotongan sapi potong, yang pada akhirnya diharapkan mampu memperluas peluang pasar untuk menampung hasil produksi penggemukan sapi potong masyarakat Kota Sukabumi dan sekitarnya. Optimalisasi fungsi dan kapasitas RPH memerlukan dukungan kegiatan lainnya yaitu penegakan hukum yang tegas bagi pemotong illegal. Pemotongan ternak di RPH, akan memenuhi tuntutan adanya perlindungan dan kepastian konsumen untuk memperoleh produk daging yang memenuhi standar kualitas, serta akan mengoptimalkan potensi pendapatan daerah yang bersumber dari retribusi pemotongan legal. 3.2.2.2.PENGEMBANGAN LABORATORI UM PENGAWASAN PRODUK PETERNAKAN PENGUJI AN DAN

Pengembangan laboratorium pengujian dan pengawasan produk peternakan, difungsikan untuk melakukan pemeriksaan dan penyeleksian terhadap produk peternakan (daging dan susu) sebelum diedarkan di masyarakat/ konsumen. Tujuan pokoknya adalah memastikan bahwa konsumen benar-benar mendapatkan produk yang memenuhi kriteria HAUS (halal, aman, utuh, dan sehat), serta mencegah terjadinya penyebaran penyakit hewan yang membahayakan kesehatan ternak maupun kesehatan manusia. Pengujian dan pengawasan produk peternakan harus semakin intensif dilakukan, seiring dengan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap ketersedian bahan pangan sumber protein hewani yang berkualitas, akibat perubahan pola pikir dan pola konsumsi karena peningkatan latar belakang pendidikan dan kesejahteraan. Disamping itu, pengembangan laboratorium pengujian dan pengawasan produk peternakan akan membuat produksi peternakan (susu dan daging) akan semakin kompetitif dan bernilai jual ekonomis tinggi.

III - 15

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

3.2.3 COMPOSTING COMMUNAL 3.2.3.1 TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah terpadu merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan (persampahan) juga untuk memperpanjang usia TPSA dengan melakukan proses Reduksi, Recycle dan Reuse (3R) sampah kota sampai dengan 75%. Sampah Kota yang sudah melalui pemilahan yaitu sampah organik akan diproses untuk bahan setengah jadi kompos dan sampah anorganik yang sudah tidak dapat di recycle dan ruse akan dipadatkan untuk kemudian dibuang ketempat TPSA Cikundul. Dalam kegiatan Pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ini Pola kemitraan dengan masyarakat setempat sebagai wujud nyata partisipasi masyarakat dalam pembangunan sangat diharapkan karena dari mulai tenaga kerja yang terserap sampai dengan proses akhir dikerjakan oleh masyarakat setempat. 3.2.3.2. REVITALISASI TPSA CIKUNDUL Revitalisasi TPSA Cikundul dilakukan untuk melengkapi sarana dan prasarana didalam membuat pupuk kompos granula, mulai darai pembangunan bangunan proses granula, pengadaan mesin pencacah sampai dengan pengadaan mesin pengemas. Hasli dari proses komposting ini (+ 30 ton/ hari) nantinya akan disiapkan untuk mendukung agribisnis padi organik 1.000 Ha, sehingga diharapkan dari semua ini akan merupakan satu siklus yang berkelanjutan dan berkesinambungan. E. mekanisme dan indikator program Tabel Dalam lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam lampiran G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran H. keberlanjutan Program pasca panen merupakan program pendukung bagi kegiatan utama pertanian, pada dasarnya program ini memanfaatkan bahan-bahan sisa pertanian untuk diolah kembali menjadi pakan ternak dan pupuk organik, selama kegiatan pertanian tetap berjalan, program pasca panen akan terus berjalan. Pengelolaan pada tahap selanjutnya dilakukan oleh kelompok tani itu sendiri.

III - 16

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

I. penanggungjawab program Penanggung jawab program terletak pada unsur satlak yang menangani aspek program utama dimana didalamnya terdiri dari unsur-unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan stakeholders yang berkecimpung dalam kegiatan pertanian (Ir. Agus Wahyudi) 3.3. PENGEMBANGAN JEJARING USAHA A. Isu Strategis : Pemberdayaan dan perluasan pasar usaha menengah disegala bidang perlu penanganan akses pemasaran yang terintegrasi. B. Judul Program : Pengembangan Jejaring Usaha C. Latar Belakang : Para pelaku usaha di Kota Sukabumi saat ini sudah melakukan hubungan kemitraan yang dijalin melalui jaringan pemasaran. Tetapi jaringan pemasaran yang ada masih belum terintegrasi dan dilakukan sendiri sendiri sehingga dampak dan manfaat dari aktifitas tersebut belum optimal baik terhadap para pelaku usaha dan masyarakat. Untuk mengintegrasikan kegiatan tersebut dalam rencana program akan dikembangkan sistem jejaring usaha yang terkoordinasi dengan baik. Produk-produk yang sudah mempunyai jaringan pemasaran diantaranya: Tabel 3.3. KOMODITI, NEGARA TUJUAN DAN NILAI EKSPORT

NO KOMODITI Kayu Olahan The Hijau Natural Ziolit Powder Pakaian Jadi Peralatan Rumah Tangga Garment Peralatan Dapur / RT Komponen furniture NEGARA TUJUAN Jepang Jerman Belgia USA Korea Inggris Perancis Yunani NILAI EKSPOR RATARATA/TAHUN Rp. 1.384.426,38 JUMLAH EKSPORTIR eksportir Kota Sukabumi antara lain : - PT. Tunas Aroma Murni - CV. Arengga Rahman - CV. Yasmin Art

Sumber : Dinas Perindagkop Kota Sukabumi, 2005

III - 17

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Tabel 3.4. DAFTAR EKSPORTIR KOTA SUKABUMI No

1 2 3 4

Produk

Kayu Olahan, Furniture Peralatan Rumah Tangga Dan Rumput Laut Kayu Olahan Natural Ziolit

Nama Perusahaan

PT. Tunas Aroma Murni PT. Tunggal Perkasa CV. Fajar Lestari Pabrikasi PT. Cikidang Prima Mineral

Alamat

Jl. Jend. Sudirman No. 57 Sukabumi Jl. Raya Baros, Nangela, kp. Ciwalen No.100 Sukabumi Jl. Ciwalen No. 99 Baros, Sukabumi Jl. Cikole Dalam Sukabumi

Sumber : Dinas Perindagkop Kota Sukabumi, 2005

D. Rasional

Program Jejaring Usaha dikembangkan dengan tujuan untuk mendistribusikan hasil produksi kawasan agropolitan dan hasil komoditas lainnya melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 3.3.1. RI NTI SAN TRADI NG HOUSE CI KONDANG Rencana rintisan Trading House akan dilaksanakan dengan menggunakan tenaga ahli profesional dalam wadah lembaga yang berfungsi sebagai intermediasi antara produsen dengan konsumen untuk memperkenalkan dan meningkatkan serta mendistribusikan hasil produk-produk KUKM dan hasil produksi agropolitan dengan mengembangkan akses pasar dalam skala lokal, regional serta Nasional dengan persyaratan standarisasi kualitas yang ditentukan. Komoditi yang akan dipasarkan dalam rintisan Trading House ini dikategorikan dalam : 1. Sentra Produktivitas agropolitan, antara lain 1) Padi organik yang dilakukan secara bertahap 2) Jenis ikan Leledumbo, Patin, Bawal, Baster, Nila. 3) Ternak Sapi potong, Sapi perah dan Domba. 2. Produktivitas KUKM, antara lain a) KUKM Off Farm agropolitan - Makanan dan Minuman - Cenderamata dan assesoris - Industri Pengemasan - Pakan ternak - Pupuk Organik (Granular) b) KUKM pengembangan - Industri Pengolahan kayu

III - 18

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

c) KUKM daerah hinterland - Teh hijau - Natural Ziolit powder - Produksi logam 3.3.2. CALL CENTRE (PROMOSI DAN INFORMASI PELUANG PASAR); Call Centre dibangun sebagai software yang bertujuan untuk memperluas peluang dan informasi pasar produk-produk agropolitan dan KUKM serta menunjang sektor-sektor lain (pendidikan, kesehatan, pariwisata dan potensi daerah) yang diorientasikan untuk percepatan pencapaian targettarget yang ditentukan baik skala lokal, regional dan global melalui penggunaan teknologi informasi. Dalam pelaksanaannya call centre dirancang dengan menggunakan 2 (Dua) komponen IT : 1. Call centre kerjasama dengan PT. Telkom, melalui penyediaan nomor telepon tertentu yang bebas pulsa. Penggunaan telepon selluler (HP) dan rumah tangga (lokal) sudah merupakan sesuatu hal yang wajar, dengan adanya nomor telepon bebas pulsa dengan cakupan pelayanan informasi yang lengkap dapat memberikan pelayanan dan kemudahan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan yang akan diberikan bukan saja kepada seluruh jaringan dalam pelaksanaan kegiatan promosi dan informasi peluang pasar tetapi digunakan untuk seluruh kegiatan dalam pengembangan kawasan Agropolitan di kota sukabumi. Call Center dibangun sebagai pusat pengolahan dan penyediaan informasi yang akan mencakup seluruh informasi di Kota Sukabumi yang melibatkan semua komponen yang yang akan mendukung penyediaan data informasi seperti rumah sakit negeri dan swasta, hotel, perguruan tinggi dan sektor publik lainnya. 2. Pembangunan Website Indagagro Sukabumi, Melalui pemanfaatan jalur konektifitas layanan internet. Pembangunan website ini dimaksudkan untuk sarana informasi dan kolektifitas data informasi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin maju akan memberikan kemudahan pada sektor publik untuk mengakses informasi secara cepat dan tepat. 3.3.3. RINTISAN SENTRA-SENTRA PRODUK UNGGULAN DAERAH Rintisan centra produk unggulan daerah ini dimaksud untuk membentuk sentra baru selain sentra-sentra yang sudah ada dan berjalan di masyarakat. Produk-produk unggulan daerah yang akan dikembangkan

III - 19

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

adalah berupa industri alat-alat pertanian, kerajinan batu aji, industri pengolahan kayu. E. mekanisme dan indikator program Tabel Dalam lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam lampiran G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran H. keberlanjutan Biaya pemeliharaan dari aset-aset program jejaring usaha menjadi tanggungan APBD Kota Sukabumi dan pelaku usaha yang memanfaatkan fasilitas aset-aset tersebut. Kesepakatan antara pemerintah daerah dan para pelaku usaha akan dituangkan dalam MOU yang saling menguntungkan. I. penanggungjawab program Penanggung jawab program terletak pada unsur satlak yang menangani aspek program utama dimana didalamnya terdiri dari unsur-unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan stakeholders yang berkecimpung dalam kegiatan perdagangan, industri dan koperasi.

3.4. ONE STOP SERVICES KUKM A. Isu Strategis : Pemberdayaan KUKM disegala bidang dan Fasilitasi perkuatan permodalan.

B. Judul Program : One Stop Services KUKM C. Latar Belakang : Selama ini pembinaan dan pemberdayaan terhadap KUKM masih belum menyeluruh dan berkelanjutan serta belum menyentuh seluruh aspek permasalahan yang dihadapi para pengusaha. Permasalahan tersebut antara lain: Jiwa kewirausahaan, pengetahuan dan ketrampilan KUKM kondisi saat ini masih banyak yang belum optimal dalam melakukan produktivitas hasil usaha, hal ini mengakibatkan tingkat pendapatan pelaku usaha masih rendah;

III - 20

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Dari segi pengelolaan manajemen antar pelaku usaha masih bersifat partial yang berakibat daya tawar (bargaining) dari KUKM belum kompetitif dibanding dengan usaha lain yang berskala besar; Keterbatasan informasi peluang untuk memperoleh kemudahan akan permodalan merupakan kendala sebagian besar KUKM dalam mengembangkan usaha untuk peningkatan produktivitas dan kualitas barang; Kebijakan ataupun program pemberian kredit mikro dari perbankan yang bertujuan untuk pengembangan KUKM belum dapat terserap secara luas atau disalurkan untuk dimanfaatkan oleh pelaku usaha, yang dikarenakan belum adanya lembaga atau wadah yang menjamin kegiatan usaha KUKM. Dalam program one stop service KUKM ini, para pengusaha akan dibina secara menyeluruh dari mulai menumbuhkan motivasi (AMT), manajemen teknis, perkuatan permodalan, promosi dan informasi pasar, pemasaran (interusi pasar) sampai ke perlindungan dan penyelesaian sengketa konsumen. D. Rasional Program One Stop Services KUKM dikembangkan dengan tujuan untuk meningkatkan, pengetahuan dan ketrampilan jiwa kewirausaan pelaku usaha untuk pengembangan usaha. Program ini akan dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut : 3.4.1. PENATAAN KUKM Penataan KUKM dilakukan untuk mengetahui dan menggali potensi 13.597 KUKM yang sudah ada serta pengembangan KUKM baru, dengan melihat potensi dari produk agropolitan (on farm) sesuai dengan kegiatan-kegiatan dalam diversifikasi pertanian antara lain padi sri, peternakan maupun perikanan serta produk-produk industri baik yang berasal dari dalam maupun dari hinterland dan regional. Pengembangan KUKM dalam kegiatan penataan KUKM dilakukan pada 160 KUKM baik yang eksisting maupun baru sesuai dengan potensi tersebut di atas. Dalam kegiatan ini dapat diketahui kebutuhan-kebutuhan prioritas untuk pengembangan KUKM baik yang bersifat enterpreneurship manajerial, ketrampilan teknis maupun permodalan.

III - 21

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

3.4.2. HUMAN RESAURCE DEVELOPMENT DAN EMPOWERING KUKM Peningkatan ketrampilan dan pemberdayaan kewirausahaan KUKM dilaksanakan melalui beberapa kegiatan sesuai dengan hasil penataan KUKM, antara lain: Peningkatan jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) melalui pendekatan achievment motivation training (AMT); Peningkatan pengetahuan manajemen dan ketrampilan teknis; 3.4.3. FASILITASI PERMODALAN Dana bantuan bergulir (revolving fund) pada prinsipnya disalurkan utuk peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengentasan kemiskinan yang dilakukan khususnya untuk mengembangkan usaha kecil dan mikro. Pada tingkat operasionalnya program ini sekaligus berfungsi sebagai bantuan dana perkuatan kepada KUKM yang dianggap layak dan memenuhi syarat. Pengelola selanjutnya akan menyalurkan dana tersebut kepada usaha kecil dan mikro. Masing-masing sebesar jumlah tertentu berdasarkan sistem dan kriteria penilaian yang ditetapkan, dengan tetap berpedoman pada pagu maksimal. Selain dari Dana PPK fasilitasi kemudahan untuk memperoleh permodalan bagi KUKM lainnya dengan melibatkan stakeholder multi perbankan antara lain Bank BRI, Bank Danamon, Bank Panin, Bank Mandiri, Bank BNI 46 dan Koperasi Simpan Pinjam. Dalam Kegiatan ini regulasi kebijakan diserahkan pada mekanisme masing-masing perbankan dengan memberikan fasilitas kemudahan prosedur dan keringanan suku bunga pinjaman (kredit lunak) yang disepakati dalam program ini maupun fasilitas kemudahan lain yang dimungkinkan sebagai hasil kesepakatan. E. mekanisme dan indikator program Tabel Dalam lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam lampiran G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran H. keberlanjutan Dana yang digulirkan dalaml Program One Stop Services memungkinkan berkembangnya KUKM.pengembalian modal relatif lebih terjamin karena sejak awal sudah terlibat dalam proses pembinaan KUKM, sehingga

III - 22

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

program ini dapat berlanjut dengan baik dan dana dapat bergulir terhadap kegiatan KUKM lainya. I. penanggungjawab program Penanggung jawab program terletak pada unsur satlak yang menangani aspek program utama dimana didalamnya terdiri dari unsur-unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan stakeholders yang berkecimpung dalam kegiatan perdagangan, industri dan koperasi. (Hj. Dadah Djauhar, SE)

3.5. KELURAHAN SIAGA 3.5.1. AKSELERASI KELURAHAN SIAGA A. Isu Strategis : - Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI). - Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana air bersih bagi masyarakat miskin B. Judul Program: Akselerasi Kelurahan siaga C. Latar Belakang: Dalam rangka peningkatan Index Pembangunan Manusia Kota Sukabumi menjadi 80 pada tahun 2008, pembangunan kesehatan mempunyai tantangan yang berat karena beberapa indikator penentu IPM yaitu Umur Harapan Hidup (UHH) yang ditentukan oleh Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Anak Balita (AKABA) serta Angka Kematian kasar ( AKK ), sementara itu AKB dan AKI di Kota Sukabumi bula mengacu pada AKI Nasional yaitu 307/ 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002) dan AKB 43,83/ 1.000 kelahiran hidup ( BPS Jabar 2003 ). Untuk Kota Sukabumi tahun 2004 bila dikonversikan dalam AKB yaitu 16,2 / 1000 kelahiran hidup dan AKI 112 / 100.000 kelahiran hidup ( 8 / 5894 KH ), sekalipun Kota Sukabumi AKI & AKB relatif rendah dibandingkan dengan angka nasional, namun masih dibutuhkan akselerasi penurunan AKI & AKB. Penyebab mendasar tingginya kematian ibu yaitu perdarahan, eklamsi, infeksi dan penyebab lain sedangkan penyebab kematian bayi secara berturut-turut disebabkan karena asfiksia, Tetanus Neonatorum, Infeksi dan prematuritas.

III - 23

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Penyebab tingginya AKI & AKB secara tidak langsung disebabkan karena masih tingginya 3 terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat mengirimkan / merujuk dan terlambat penanganan di fasilitas kesehatan, dan juga masih tingginya 4 terlalu ( terlalu muda usia ibu , terlalu tua usia ibu, terlalu dekat jarang kehamilan dan terlalu banyak anak ) GSI di Kota Sukabumi belum optimal khususnya di wilayah bacile, sehingga belum adanya fasilitator kelurahan, ambulance kelurahan (kendaraan ibu bersalin), Kelompok donor darah kelurahan, sumber dana untuk biaya pemeriksaan ibu (ANC), persalinan dan PNC, untuk mengatasi kondisi demikian dibutuhkan kelurahan siaga. sarana bidang kesehatan di wilayah tertentu di kawasan BACILE antara lain sanitasi (MCK) dan pemenuhan akan kebutuhan air bersih (water supply). Masih sangat rendah serta Pemberdayaan masyarakat dimulai dari perencanaan pelaksanaan serta pengelolaan sarana dan prasarana air bersih untuk mensejahterakan masyarakat di wilayah kelurahan rencana D. Rasional Program Kelurahan siaga dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ( kesiagaan semua unsur ) yaitu Masyarakat, swasta dan Pemerintah, khususnya dalam upaya penurunan kematian Ibu dan penurunan kematian bayi melalui beberapa kegiatan yang relevan antara lain : 1. Masyarakat Siaga Merupakan kondisi yang memungkinkan kesiagaan semua unsur masyarakat baik tingkat kecamatan / kelurahan maupun RW dalam menangani kegawatdaruratan dalam penanganan kesehatan ibu dan bayi melalui upaya upaya sebagai berikut : a. b. c. d. Pembiayaan : Tabulin/Dasolin/Arlin dll Sarana Transportasi : Ambulans desa/ Anglin tandu persalinan dll Ketersediaan darah : Bank Darah Desa, Donor Darah Desa Notifikasi dan pemetaan Ibu hamil : stiker, bendera

2. Pelayanan Kesehatan Siaga Yaitu kondisi sedemikian rupa sehingga sarana pelayanan dalam kondisi siaga dengan tetap mengacu terhadap standar pelayanan dalam penanganan kegawatan ibu dan bayi baik di pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan dengan kegiatan sebagai berikut :

III - 24

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

a. Bidan mampu APN dan PPGDON ( Bidan Siaga ) b. Puskesmas Mampu PONED / Puskesmas dgn tempat persalinan dan PPGDON c. RS mampu PONEK d. UTDC 3.5.2. LOCAL WATER SUPPLY MANAGEMENT Pemenuhan kebutuhan akan air bersih sebagai salah satu kebutuhan dasar diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan memberikan manfaat melalui pemberdayaan masyarakat setempat untuk keberlanjutan dengan pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang bertanggung jawab terhadap maintenance dan operasional local water supply. Rencana kegiatan penyediaan air bersih akan dilaksanakan melalui pembangunan sumur bor dalam (Deep Well ) pada wilayah rawan air bersih dan tidak terjangkau oleh pelayanan PDAM, untuk dapat memberikan pelayanan air bersih bagi 150 Kepala Keluarga. Selain pemenuhan kebutuhan air bersih juga diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat melalui KSM serta memberikan multipllier effect untuk sektor-sektor lain.Melalui kegitan ini, masyarakat diberikan tanggung jawab atas prasarana terbangun agar dapat mengelola secara mandiri serta dapat mengembangkan wilayah pelayanan dari hasil jasa pengelolaannya. E. mekanisme dan indikator program Tabel Dalam lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam lampiran G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran H. keberlanjutan Kegiatan Kelurahan siaga yang terdiri dari masyarakat siaga dan Pelayanan kesehatan siaga memungkinkan untuk terus terbentuknya pola perilaku ( brand image ) terhadap kondisi kesiagaan masyarakat dan sarana kesehatan ( Pemerintah ) serta stakeholder dalam upaya penurunan AKI & AKB, komitmen yang sudah terpola dalam perilaku masyarakat kelurahan siaga menjadikan semua pihak akan mendukungnya baik SDM, Kebijakan maupun termasuk kebutuhan keuangan baik dengan dukungan APBD, swadaya dan sponsorship yang berkaitan dengan kelurahan siaga.

III - 25

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Kegiatan Local Water Supply Management diarahkan untuk memberdayakan masyarakat dalam hal perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pemeliharaan serta pengelolaan atas suatu hasil kegiatan terbangun. Keterbatasan penghasilan masyarakat, pengangguran dilokasi kegiatan, dan tidak terjangkaunya pelayanan air bersih dapat diatasi melalui Local Water Supply Management , hal ini karena penentuan tarif pemakian air bersih berdasarkan kesepakatan masyarakat setempat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dengan sistim subsidi silang antar masyarakat mampu dan masyarakat kurang mampu, pekerja pengelola berasal dari masyarakat setempat yang tidak memiliki pekerjaan sehingga sebagian pengangguran dapat ditampung sebagai pekerja/ pengelola. Jasa hasil pengelolaan pelayanan air bersih dipergunakan untuk membayar honorarium personil KSM, biaya operasional, serta kewajiban untuk tabungan kas KSM dengan maksud agar dapat mengembangkan wilayah pelayanannya secara bertahap. I. penanggungjawab program Penanggung jawab program terletak pada unsur satlak yang menangani aspek program utama dimana didalamnya terdiri dari unsur-unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan stakeholders yang berkecimpung dalam kegiatan kesehatan (Drs. H.M. Hanafie Zein, Msi) 3.6. DETEKSI DINI KERAWANAN SOSIAL A. Isu Strategis : Peningkatan Kualitas Kesehatan Remaja Putri, Balita dan Bumil Risti

B. Judul Program : Deteksi Dini Kerawanan Sosial C. Latar Belakang : Prevalensi Remaja Putri (Rematri) yang mengalami Anemia Gizi Besi (AGB) masih tinggi, yaitu 50,74% (2002) dan 29,1% (2004). Hal ini berkaitan dengan masalah yang terjadi pada remaja putri (Rematri) sebagai subjek yang harus dipersiapkan menjadi ibu. Hal ini belum ditangani dengan optimal. Tingginya risiko kematian akibat kehamilan pada remaja umur 15 19 tahun. Hal ini 2x lebih tinggi dari perempuan usia 20 24 tahun. Dalam hal ini bayi yang dilahirkan cenderung lahir prematur dan menderita gangguan pertumbuhan, sehingga risiko kematian bayi juga lebih tinggi.

III - 26

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Masih tingginya prevalensi Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK), yaitu 32% dan Bumil (AGB) 55,07% (Pemetaan Bumil KEK & AGB, 2002). Sampai Juni 2005 tercatat 83 kasus Bumil KEK dan 116 kasus Bumil AGB. Hal ini terjadi karena rendahnya pengetahuan gizi bumil, rendahnya konsumsi, baik kuantitas maupun kualitasnya (masih sangat rendah konsumsi protein hewani). Bila dibiarkan berlanjut akan menjadi hal yang serius karena bisa berakibat pada kematian ibu dan bayi, yang berujung dengan meningkatnya AKI dan AKB. Tingginya prevalensi Bumil KEK dan Bumil AGB bisa berdampak pada bayi yang dilahirkan mempunyai Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Angka BBLR di negara berkembang empat kali lebih besar dibanding negara maju, angka ini meningkat 6,6 kali pada kasus BBLR yang dilahirkan cukup bulan. Di Kota Sukabumi Angka BBLR sebesar 30,87% (208 kasus dari 6421 kelahiran). Tingginya prevalensi balita gizi buruk Kota Sukabumi, yaitu sebesar 1.71% (Puslitbang Gizi Bogor, 2004). Hal ini berakibat pada rendahnya kualitas SDM. Rendahnya konsumsi dalam waktu yang lama akan berakibat munculnya kasus gizi buruk tingkat berat berupa kasus marasmus, kwashiorkor dan busung lapar (marasmuskwashiorkor). Kekurangan gizi pada anak mulai janin sampai anak berumur 2 tahun berpotensi akan menurunkan IQ 5 15 point, sehingga terganggu pertumbuhan fisik, mental dan intelektualnya. Maka suatu saat akan terdapat generasi yang tingkat kecerdasannya menurun, bahkan bisa kehilangan satu generasi (lost generation). Masih rendahnya keluarga mandiri sadar gizi di Kota Sukabumi, yaitu 65,61% (2004). Kondisi ini berkaitan dengan masih rendahnya pengetahuan gizi, rendahnya daya beli masyarakat, & rendahnya konsumsi aneka ragam makanan (makanan seimbang, baik kuantitas maupun kualitasnya). D. Rasional Program Deteksi Kerawanan Sosial dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya masalah gizi masyarakat pada kelompok rawan gizi. Kegiatan ini pada akhirnya juga akan menurunkan AKI dan AKB. Program ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang relevan antara lain : 1. Penanganan Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia Gizi Besi Kaitannya dengan Berat Badan Lahir (BBL) Bayi. Dalam program ini dilakukan pemberian PMT-Pemulihan berupa makanan olahan pada Bumil KEK dan atau AGB. Hal ini bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan kalori ibu hamil sebesar 2900 Kkal (WKNPG,

III - 27

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

1998), sehingga meningkatkan status gizi bumil, menurunnya kasus AGB dan menurunkan Angka BBLR. 2. Penanganan Terpadu Balita Gizi Buruk Keluarga Miskin di Kota Sukabumi. Dilakukan penanganan secara terpadu, baik secara biologis, psiko-sosial, dan spritual. 3. Pengembangan Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Dalam kegiatan ini dilakukan penilaian terhadap 5 indikator, yaitu keluarga biasa mengkonsumsi aneka ragam makanan, Keluarga memantau kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan dengan cara menimbang BB secara rutin, Keluarga menggunakan garam beryodium, Ibu hanya memberikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan, dan Keluarga biasa makan pagi. Selanjutnya dilakukan konseling gizi pada keluarga-keluarga yang belum mampu melaksanakan indikator tersebut. 4. Penanganan Remaja Putri Anemia Gizi Besi (AGB). Dilakukan pemeriksaan kadar haemoglobin (Hb) darah, pemberian PMTPemulihan dan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada rematri selama 16 minggu. Dilakukan juga recall konsumsi pangan minimal 2 x 24 jam. Diharapkan seluruh rematri meningkat status gizinya dan bebas dari AGB. E. Mekanisme Tabel dalam lampiran F. Indikator Kinerja Tabel dalam lampiran G. Keberlanjutan Penurunan prevalensi bumil KEK & AGB, penurunan prevalensi balita gizi buruk, penurunan prevalensi Rematri AGB, dan peningkatan keluarga mandiri sadar gizi diharapkan di dalamnya sudah tercakup peningkatan pengetahuan gizi (baik pada bumil, rematri, ibu/keluarga balita gizi buruk), peningkatan status gizi ibu hamil, meningkatnya keluarga yang sadar gizi. Harapan ini bisa terwujud dengan adanya dukungan dari semua pihak, SDM, Kebijakan, maupun kebutuhan keuangan, baik APBD, swadaya, dan sponsorship. I. penanggungjawab program Drs. H.M. Hanafie Zein, MSi

III - 28

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

3.7. PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN 3.7.1. PEMANGGILAN ANAK USIA 16 18 TAHUN PUTUS SEKOLAH A. isu strategis : Peningkatan Kualitas Pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat sesuai dengan kebutuhan pasar kerja

B. judul program : Peningkatan Kualitas Pendidikan C. latar belakang : Kesempatan memperoleh pelayanan pendidikan merupakan salah satu hak dasar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Namun demikian, secara empirik di Kota Sukabumi masih terdapat lulusan SMP atau yang sederajat tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi atau yang drop out pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan sederajat terutama karena ketidakmampuan secara ekonomi. Hasil pendataan pada tahun 2004 terdapat 134 anak usia 16-18 Tahun di Kota Sukabumi yang tidak dapat melanjutkan pendidikan lebih tinggi atau yang terpaksa drop out pada jenjang Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat karena ketidakmampuan secara ekonomi. D. rasional : Program Pemanggilan Anak usia 16 18 Tahun Putus Sekolah merupakan langkah tepat dalam memberi kesempatan kepada para siswa yang tidak mampu secara ekonomi untuk dapat melanjutkan pendidikan. Hal ini amat penting dalam rangka memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat dari berbagai strata sosial ekonomi dalam meningkatkan kualitas diri untuk mempersiapkan masa depannya secara lebih baik. Selain itu, program ini akan berpengaruh secara positif pada keberhasilan Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun yang telah dicanangkan di Kota Sukabumi sejak tanggal 2 Mei 2005. Keberhasilan Program Pemanggilan Anak usia 16 18 Tahun Putus Sekolah akan meningkatkan angka Rata-rata Lama Sekolah sebagai salah satu indikator bidang pendidikan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). E. mekanisme program Tabel Dalam lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam lampiran

III - 29

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran H. keberlanjutan Program Pemanggilan Anak usia 16 18 Tahun Putus Sekolah merupakan salah satu strategi dari Pemerintah Kota Sukabumi dalam pemerataan dan peningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk mendukung program ini, maka dibutuhkan dukungan dana baik bersumberkan dari APBN, APBD Propinsi maupun APBD Kota Sukabumi melalui program . Namun demikian, di masa mendatang diharapkan secara bertahap akan terbentuk perilaku masyarakat untuk menjadikan pendidikan sebagai sebuah kebutuhan, sehingga akhirnya program semacam ini tidak diperlukan lagi. I. penanggungjawab program Drs. H.M. Hanafie Zein, MSi

3.7.2.

LIFESKILLS (KERAGAMAN MULOK) : Peningkatan Kualitas Pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat sesuai dengan kebutuhan pasar kerja : Peningkatan Kualitas Pendidikan

A. isu strategis

B. judul program C. latar belakang

Konsekuensi logis yang tak dapat dihindari pada era globalisasi saat ini adalah pentingnya ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas yang memiliki kemampuan bersaing di berbagai bidang terutama dalam menghadapi persaingan kerja yang semakin kompetitif. Namun demikian, mayoritas lulusan pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat belum mampu menjawab tantangan di era global, yang disebabkan oleh beberapa sebab antara lain : Lulusan pendidikan jenjang Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat masih memerlukan kesesuaian kompetensi dengan tuntutan kebutuhan pasar kerja; o Belum optimalnya jalinan kerjasama antara dunia pendidikan dengan dunia usaha/ industri, baik pada tingkat lokal, regional, nasional maupun global; o

III - 30

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

o Belum meratanya sertifikasi kompetensi lulusan (ISO) pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan sederajat untuk bersaing pada dunia usaha/industri secara global.

D. rasional : Berdasarkan data tahun 2004, pengangguran terbuka/ pencari kerja di Kota Sukabumi sebesar 26.553 orang atau 23,60 % dari jumlah penduduk. Laju pengangguran/ pencari kerja setiap tahun tidak sebanding dengan penyerapan oleh lapangan kerja yang tersedia, dan salah satu faktor penyebab antara lain karena lemah dan tidak sesuainya kompetensi pencari kerja. Oleh karena itu penting sekali sejak dini para siswa, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat dibekali dengan program lifeskills (keragaman mulok), kecakapan hidup dan penanaman perilaku kewirausahaan. Dengan program ini maka diharapkan para lulusan Sekolah Menengah Atas atau sederajat (Tahun 2004= 3.557 lulusan) yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi dapat bersaing dalam merebut peluang kerja atau mampu berwirausaha. E. mekanisme program Tabel Dalam Lampiran F. indikator kinerja utama Tabel Dalam Lampiran G. sumber dan nilai anggaran yang dibutuhkan Tabel Dalam Lampiran H. keberlanjutan Program Lifeskills (Keragaman Mulok) dalam implementasinya bisa terintegrasi dalam intra maupun ekstra kurikuler. Pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) program ini telah terintegrasi dalam intra kurikuler, bahkan didukung juga dengan berbagai program lainnya seperti Praktek Kerja Industri dan IHT (In House Trainning). Pada Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Madrasah Aliyah (MA) program Lifeskills (Keragaman Mulok) umumnya berada pada ekstra kurikuler, sehingga pada tahap awal dibutuhkan dukungan ketersediaan sumber daya manusia pengajar, sarana prasarana dan hubungan kerjasama dengan dunia usaha/ industri. Dengan demikian, maka pembiayaan untuk keberlanjutannya Program Lifeskills (Keragaman Mulok) dapat masuk dalam Rencana Anggaran Biaya Sekolah, atau dengan dukungan dari mitra dunia usaha/industri.

III - 31

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

I.

penanggungjawab program Drs. H.M. Hanafie Zein, MSi

3.7.3.

BEA SISWA A. isu strategis : Peningkatan Kualitas Pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas dan yang sederajat sesuai dengan kebutuhan pasar kerja

B. C.

judul program : Peningkatan Kualitas Pendidikan latar belakang : Upaya peningkatan kualitas pendidikan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata masih menghadapi berbagai kendala antara lain dengan masih lemahnya kemampuan ekonomi sebagian masyarakat untuk membiayai pendidikan. Indikasi di lapangan menunjukan fakta, bahwa saat ini masih terdapat siswa Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat di Kota Sukabumi yang terancam drop out sehingga perlu untuk segera dibantu bea siswa agar mereka tidak sampai kehilangan kesempatan dalam mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan yang penuh persaingan. Ada 3 (tiga) jenis bantuan kepada siswa, yaitu : bea siswa prestasi, bea siswa bagi yang tidak mampu secara ekonomi dan Bantuan Khusus Murid (BKM). Data tahun 2004 terdapat 390 siswa SMA/ SMK di Kota Sukabumi yang mendapat bantuan bea siswa berasal dari dana dekontrasi, baik bea siswa prestasi maupun bea siswa yang diberikan kepada para siswa yang tidak mampu. Jumlah ini sebenarnya masih kurang, mengingat data yang digunakan didasarkan kepada hasil pendataan Kantor Statistik terbatas pada siswa warga Kota Sukabumi, sedangkan siswa pada jenjang SMA dan sederajat yang bersekolah di Kota Sukabumi lebih dari 40 % berasal dari Kabupaten Sukabumi.

D.

rasional : Program Peningkatan Kualitas Pendidikan pada jenjang Sekolah Menengah Atas atau sederajat yang dilaksanakan melalui program bantuan beasiswa, bertujuan agar setiap siswa dapat bertahan mengikuti proses pembelajaran sehingga mampu menyiapkan diri untuk bersaing dengan pihak lain dalam memasuki tuntutan pasar kerja global. Secara kuantitatif program ini akan berdampak pula kepada :

III - 32

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

1. Upaya peningkatan angka Rata-rata Lama Sekolah sebagai salah satu indikator bidang pendidikan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM); 2. Upaya pencapaian keberhasilan pelaksanaan Program Wajib Belajar Pendidikan 12 Tahun di Kota Sukabumi. E. mekanisme program Tabel Dalam Lampiran F. indikator kinerja Tabel Dalam Lampiran G. keberlanjutan Selama masih terdapat indeks kemiskinan di Kota Sukabumi, maka program bantuan bea siswa harus tetap berlanjut , baik bea siswa prestasi, bea siswa untuk membantu siswa yang tidak mampu secara ekonomi maupun melalui program Bantuan Khusus Murid (BKM) yang berasal dari PKPS BBM. Keberlanjutan program akan diupayakan dengan jumlah alokasi yang memadai sesuai kebutuhan, sehingga mampu menyelamatkan para siswa terancam drop out untuk tetap bertahan mengikuti pendidikan. I. penanggungjawab program Drs. H.M. Hanafie Zein, MSi 3.8. INFRASTRUKTUR PENUNJANG A. Isu Strategis : Penyediaan prasarana dan sarana wilayah fasilitasi peningkatan produktifitas serta akselerasi untuk menarik investor

B. Judul Program : Infrastruktur Penunjang C. Latar Belakang : Kurangnya investor menanamkan modal di Kota Sukabumi sampai dengan saat ini merupakan salah satu penyebab terbatasnya penyaluran tenaga kerja, sehingga penurunan jumlah pengangguran sangat sulit diturunkan. Kurangnya investasi ini disebabkan oleh terbatasnya infrastruktur penunjang aksesbilitas menuju dan ke sukabumi. Keterbatasan sumber daya air pada musim kemarau sangat berpengaruh terhadap hasil produksi padi, pada saat kapasitas sumber air menurun diperlukan usaha penanganan saluran-saluran irigasi agar

III - 33

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

kapasitas dan kontinuitas pasokan air ke lokasi pertanian tetap dapat mengairi lahan pertanian. Namun usaha yang dilakukan masih tetap belum maksimal karena masih terjadi penggiliran pengaliran air sehingga pada beberapa lokasi pertanian tidak dapat terlayani air irigasi. Kondisi geografis Kota Sukabumi sangat mempengaruhi terjadinya kerusakan pada saluran irigasi semi teknis, hal ini karena kemiringan saluran irigasi mempunyai gradient kemiringan yang cukup tinggi. Kerusakan saluran mengakibatkan kebocoran air irigasi ehingga kapasitas air untuk irigasi tidak mencukupi terutama pada misim kemarau. Keberlangsungan dari Produktifitas agro yang akan dikembangkan terutama padi organik dan perikanan sangat tergantung dengan continuitas pengairan untuk kegiatan tersebut. D. Rasional Pembangunan infrastuktur jalan sampai dengan saat ini belum menampakan perkembangan yang dapat mengatasi permasalahan transportasi menuju dan dari Kota Sukabumi, karena perhatian pemerintah pusat belum optimal terhadap pembangunan jalan utama terlebih prasarana transportasi yang ada di Kota Sukabumi seperti transportasi kereta api sudah tidak berfungsi. Pemerintah kota Sukabumi tidak dapat berbuat banyak atas kondisi ini karena keterbatasan dana pembangunan, sedangkan kebutuhan pembangunan perekonomian kota sangat terpengaruh oleh adanya kedatangan penanaman modal dari pihak investor. Dengan adanya Program Pengembangan Kawasan Agropolitan Terdepan maka sangat diperlukan lanjutan pembangunan jalan lingkar yang pendanaannya berasal dari APBN. Dengan adanya kawasan kawasan agribisnis yang akan dikembangkan di Kota Sukabumi, maka diperlukan jalan-jalan feeder dari pusat kota menuju kawasan agribisnis maupun jalan feeder dari kawasan agribisnis menuju ke wilayah hinterland. Rencana pembangunan jalan-jalan penghubung berupa peningkatan ruas jalan secara bertahap sesuai dengan pembangunan tahapan wilayah pengembangan kawasan agribisnis, yaitu peningkatan ruas jalan Tata Nugraha (1920 m), Jln.Merdeka (1000 m), Jln.Cipanengah girang(830 m) ,Jln Kapitan dan Jln Sindang Sari (1439 m). Dengan terbangunnya jalan-jalan tersebut diharapakan pergerakan barang hasil agribisnis dapat dilayani dengan cepat dan aman, serta konsumen dan produsen dapat melakukan pengembangan usahanya sesuai target. Kegiatan utama dalam mengungkit daya beli di Kota Sukabumi antara lain adalah pengembangan agraria melalui Program diversifikasi pertanian dan

III - 34

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

Program Pengembangan Pasca Panen, hal ini tentunya harus dibarengi dengan penyediaan prasarana irigasi yang memadai untuk melayani pengembangan lahan persawahan seluas 1000 Ha secara bertahap. Rencana penyempurnaan saluaran-saluran irigasi dimaksudkan untuk meningkatkan saluran irigasi non teknis menjadi saluran semi teknis maupun saluran teknis,selain itu pula direncanakan untuk perbaikan bendung yang tidak optimal sehingga pada musim kemarau lahan pertanian dapat dilayani secara optimal. Rencana penyempurnaan prasarana irigasi yang didanai dari sumber dana PPK akan dilakukan pada saluran irigasi nonteknis yang kondisinya saat ini memerlukan penanganan prioritas. Volume perbaikan saluran ± 2.500 meter dan penyempurnaan 1 unit bendung, tentunya volume perbaikan ini masih kurang dibandingkan dengan target perbaikan yang harus dilakukan untuk melayani rencana penggunaan lahan persawahan seluas 1000 Ha, karena prosentasi alokasi dana untuk investasi dari dana PPK sangat terbatasi. Namun pemerintah Kota Sukabumi perlu menambah anggaran rutin perbaikan prasarana irigasi pada setiap tahun anggaran serta secara koordinatif mengadakan kerja sama dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air yang ada di Kota Sukabumi. E. Mekanisme Tabel Dalam Lampiran F. Indikator Kinerja

Indikator Utama 1.Irigasi semi teknis ( M ) 2.Irigasi nonteknis (M) 3.Bendung air ( Unit ) Awal 500 2500 1 Target Tengah 1500 1000 1 Target Akhir 2000 500 1

G. Keberlanjutan Kewajiban pemerintah Kota Sukabumi terhadap infrastruktur jalan terbangun adalah memelihara jalan bahkan mengembangkan pada aksesakses jalan potensial dengan menggunakan dana anggaran pembangunan kota dan beserta para pelaku usaha yang menggunakan jasa angkutan mengadakan kesepakatan dalam menjamin kelancaran dan keamanan transportasi serta kesepakatan partisipasi sharing biaya pemeliharaan. Terealisasikannya pembangunan lanjutan jalan lingkar, akan memberikan harapan besar dalam keberlanjutan dan keberhasilan pengembangan kawasan agropolitan karena akan tumbuhnya sentra-sentra bisnis di wilayah BACILE. Pembinaan terhadap kelompok Mitra Cai yang ada di kawasan terbangun akan dilakukan secara intensif melalui fasilitasi pelatihan pengelolaan sumber daya air dan pemberian tanggung jawab

III - 35

PROPOSAL KOMPREHENSIF (PK) AKSELERASI PENCAPAIAN IPM 80 JABAR MELALUI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN TERDEPAN

KOTA SUKABUMI

pemeliharaan pada prasarana irigasi. Pelaksanaan koordinasi dengan pemerintah Kabupaten yang sebagian besar merupakan daerah hulu jaringan irigasi perlu ditingkatkan, fokus dalam pelaksanaan program Gerakan Lahan Kritis yang digulirkan serta antisipasi terhadap bencana alam, merupakan faktor prioritas yang akan diintegrasikan sehingga prasarana irigasi dapat berfungsi sepanjang musim. I. penanggungjawab program Drs. H.M. Hanafie Zein, MSi

III - 36

This document was created with Win2PDF available at http://www.win2pdf.com. The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.

Information

Microsoft Word - BAB III PK Final.doc

37 pages

Report File (DMCA)

Our content is added by our users. We aim to remove reported files within 1 working day. Please use this link to notify us:

Report this file as copyright or inappropriate

268104


You might also be interested in

BETA
untitled
LampiranSurat 283.xls
Microsoft Word - BAB III PK Final.doc